Berkah Cinta

Berkah Cinta
Drama Kembali


__ADS_3

Juan merasa lega karena akhirnya Stefani dibawa pergi ke rumah sakit jiwa, ia pun menceritakan apa yang terjadi pada Stefani tadi pada kedua orang tuanya, Minanti dan Bram tentu saja merasa senang karena Stefani sudah ada pada tempat yang seharusnya dia berada saat ini, namun sejujurnya Bram masih ragu apakah Stefani masih dapat berkeliaran di luar sana padahal ia sudah dimasukan ke dalam rumah sakit jiwa.


“Kenapa Papa berpikiran begitu?”


“Stefani itu licik, dia dapat menggunakan berbagai siasat untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.”


“Aku yakin bahwa saat ini dia tidak akan dapat melakukan itu.”


“Semoga saja, Nak.”


Kini Juan sedang bersantai di kamarnya, ia ingin menikmati hari-harinya tanpa kehadiran sosok Stefani di rumah ini, namun waktu ketika waktunya bersantai, ia malah dibuat terkejut dengan Stefani yang kembali lagi ke rumah padahal seharusnya wanita itu ada di rumah sakit jiwa saat ini.


“Kenapa kamu ada di sini lagi dan bukannya di rumah sakit jiwa?!” seru Juan.


“Kenapa? Tentu saja karena aku tidak seperti yang kamu pikirkan Juan, aku masih waras!”


*****


Juan nampak menggelengkan kepalanya tanda tidak percaya dengan semua ini, bagaimana mungkin wanita ini bisa kembali lagi ke sini dan tidak ada di rumah sakit jiwa? Juan berusaha menghubungi rumah sakit jiwa untuk menanyakan kenapa mereka membiarkan wanita ini kembali ke rumah dan bukannya mendapatkan perawatan di rumah sakit jiwa.


“Kenapa kalian membiarkan pasien ini pulang dan bukannya dirawat di sana?”


“Maaf Tuan, kami sudah melakukan pemeriksaan terhadap pasien namun pasien sama sekali tidak seperti yang anda katakan pada kami.”


“Apa? Apakah kalian bercanda?”


“Maaf Tuan, namun seperti itulah hasil pemeriksaan kami.”


Juan nampak tidak percaya dan terima begitu saja dengan semua ini, bagaimana mungkin dokter membiarkan wanita ini bebas berkeliaran di luar sana padahal jelas-jelas wanita ini berbahaya dan harus dirawat di rumah sakit jiwa? Sementara itu Stefani nampak menyeringai puas dengan reaksi yang diberikan oleh Juan, pria itu nampak gusar sekali karena niatnya untuk membuat Stefani masuk rumah sakit jiwa tidak dapat terlaksana dengan baik


saat ini.


“Ada apa denganmu sayang? Sepertinya kamu tidak menyukai kalau aku kembali ke rumah?”


“Diam kamu!” seru Juan.


“Kamu tahu Juan, apa pun yang coba kamu lakukan untuk menghentikanku itu semua tidak akan berhasil.”

__ADS_1


*****


Minanti dan Bram tidak banyak berkata-kata ketika keesokan paginya mereka semua pergi sarapan bersama, Juan sendiri juga tidak banyak berkata-kata dan ia bahkan tidak menyentuh sarapannya, Juan memutuskan untuk segera pergi dari rumah ini dan menuju kantornya.


“Aku berangkat ke kantor dulu.”


“Kamu bahkan belum menghabiskan sarapanmu,” ujar Minanti.


“Tidak apa, aku sudah kenyang,” ujar Juan yang kemudian berlalu tanpa memandang ke arah Stefani.


Selepas Juan pergi, kini Minanti bertanya pada Stefani mengenai apa yang kemarin dia lakukan sampai-sampai dapat dipulangkan dari rumah sakit jiwa.


“Aku hanya diperiksa oleh dokter dan dokter itu mengatakan bahwa aku sama sekali tidak seperti yang Juan sangkakan padaku.”


“Benarkah seperti itu?”


“Tentu saja seperti itu, kenapa Mama sepertinya tidak percaya padaku?”


“Bukannya aku tidak percaya padamu, hanya saja aku ragu dengan kebenaran ucapanmu.”


“Bukankah itu sama saja? Mama tidak percaya dengan apa yang aku katakan barusan?”


Selepas sarapan, Stefani pergi ke kamar sementara itu Bram dan Minanti membicarakan perihal menantu mereka tersebut.


“Aku yakin bahwa ada sesuatu yang salah di sini.”


“Iya, aku pun merasa demikian, entah kenapa aku merasa bahwa Stefani sudah mengetahui rencana Juan yang ingin memasukannya ke rumah sakit jiwa.”


*****


Stefani memarkirkan mobilnya di tempat yang agak jauh dari café tempat di mana Ricky berada, ia meraih ponselnya dan nampak menelpon seseorang saat ini, ia nampak memerintahkan agar orang tersebut agar segera


melakukan rencana yang sudah mereka susun saat ini.


“Kita lihat saja apa yang akan terjadi tidak lama lagi.”


Tidak lama kemudian seseorang merangsek masuk ke dalam café dengan menodongkan senjata api pada seluruh pengunjung yang ada di sana, sontak saja semua pengunjung panik dan ketakutan, orang tersebut kini mengarahkan senjata itu pada Ricky.

__ADS_1


“Ikut denganku atau mereka semua akan aku tembak saat ini,” ancam orang itu pada Ricky.


Ricky yang tidak ingin membahayakan pengunjung pun akhirnya mau ikut dengan orang itu, namun Nanda menahan agar Ricky tidak perlu ikut dengan orang asing ini.


“Berani sekali kamu!” seru orang itu yang hendak menembak Nanda namun Ricky menahannya agar jangan sampai Nanda terluka.


“Ricky, jangan lakukan ini.”


“Aku tidak dapat membahayakan orang lain, bos.”


“Sudahlah jangan banyak drama, masuk!”


Orang itu menarik dengan kasar Ricky untuk keluar dari dalam café dan masuk ke dalam mobil, sementara itu Nanda begitu khawatir dengan keselamatan Ricky saat ini, ia pun meraih ponselnya dan mencoba menelpon


seseorang untuk memberitahu apa yang baru saja terjadi di tempat ini.


*****


Olaf menghela napasnya berat ketika tahu Stefani dapat dengan mudahnya pergi dari rumah sakit jiwa, Olaf sebenarnya sudah menduganya bahwa wanita itu pasti akan melakukan segala cara untuk dapat melarikan diri


dan rencana yang sudah Juan susun kini berantakan akibat wanita itu. Olaf melirik ke arah ponselnya dan tertera nama Tania di sana, ia segera meraih ponsel tersebut dan segera menjawab telepon dari Tania.


“Ada apa?”


“Olaf, di depan kantorku ada sekelompok orang yang berunjuk rasa hingga aku tidak dapat pergi makan siang denganmu.”


“Sekelompok orang? Siapa mereka?”


“Mereka mengatasnamakan diri mereka sebagai perwakilan masyrarakat yang menjadi korban penggusuran proyek hotel yang sedang perusahaan garap.”


“Baiklah kalau begitu, jaga dirimu baik-baik, kalau suasananya mulai tidak kondusif, maka kamu segera kabari aku, ya?”


“Baiklah, sampai jumpa.”


TUT


Olaf menghela napasnya berat, setelah mendapatkan telepon dari Tania itu, ia hanya dapat berdoa semoga saja Tania baik-baik saja saat ini dan tidak terjadi sesuatu hal yang buruk padanya. Namun baru saja Olaf hendak kembali fokus pada pekerjaannya, ponselnya kembali berdering dan ia melirik sebuah nama yang tertera di layarnya, nama Stefani yang muncul di sana, Olaf nampak mengacuhkan panggilan dari wanita itu. Namun

__ADS_1


sepertinya Stefani tidak pantang menyerah hingga berulang kali ia mencoba menghubungi Olaf namun karena jengah dengan yang dilakukan oleh Stefani ini, maka Olaf memutuskan untuk menon aktifikan ponselnya.


__ADS_2