Berkah Cinta

Berkah Cinta
Diusir Dari Rumah Sendiri


__ADS_3

Ester nampak tidak terima ketika suaminya menawarkan Tania untuk membersihkan semua kekacauan yang dibuat oleh Jihan, namun Handi mengatakan pada Ester bahwa ia akan tetap melakukannya.


“Itu bukan tugasmu.”


“Kalau kamu memang tidak mau membantu, lebih baik pergi saja dari sini.”


Ester menatap tajam Tania, ia seolah-olah mengatakan pada Tania untuk menghentikan apa yang ingin Handi lakukan, Tania yang dapat dengan cepat menerima sinyal dari Ester itu pun meminta agar Handi tidak perlu


repot-repot membersihkan semua kekacauan ini.


“Om tidak perlu melakukan semua ini, aku bisa melakukannya sendiri.”


“Sudahlah Tania, pekerjaan akan lebih mudah dan cepat kalau dikerjakan bersama-sama bukan?”


“Tapi Om ....”


“Sudahlah Tania kamu tidak perlu merasa tidak enak begitu pada Om, biarkan Om melakukan semua ini, kamu bisa istirahat saja di kamarmu.”


“Handi, Tania sudah ingin membersihkan semua ini, kenapa jadi kamu yang harus turun tangan, ini bukanlah pekerjaanmu.”


“Sudah aku katakan padamu Ester, kalau kamu tidak ingin membantuku, maka lebih baik jangan berisik dan pergi saja dari sini.”


****


Rupanya kejadian tadi malam berbuntut panjang, Ester merasa tidak terima suaminya diperlakukan layaknya seorang pembantu, maka pada pagi ini ia memarahi habis-habisan Tania, gadis itu hanya dapat menundukan


kepalanya dan meminta maaf karena semalam ia tidak bisa mencegah Handi melakukan semua ini.


“Kamu selalu saja meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, namun nyatanya apa?! Kamu selalu saja mengulanginya lagi dan lagi!”


“Saya minta maaf Nyonya.”


“Sudahlah Tania, kesabaranku sudah habis sampai di sini, kamu boleh kemasi barang-barangmu dan tinggalkan rumah ini.”


“Tapi kalau saya pergi dari rumah ini, saya akan tinggal di mana, Nyonya?”


“Itu sama sekali bukan urusanku, silakan kamu pergi dari rumah sebelum kesabaranku benar-benar habis!”


Tania merasa sedih ketika ia harus diusir dari rumahnya sendiri, namun apa boleh buat, ia tidak dapat melawan Ester, ia pun mengemasi barang-barangnya namun ia jadi teringat percakapan antara Ester dan orang lain soal meninggalnya kedua orang tuanya, Tania berpendapat bahwa sebelum ia pergi dari rumah ini sebaiknya ia harus menanyakan perihal hal tersebut pada Ester agar ia tidak lagi dihantui oleh rasa penasaran yang tinggi.


“Nona Tania.”

__ADS_1


Rupanya saat ini asisten rumah tangga yang sudah bekerja padanya selama puluhan tahun masuk ke dalam kamarnya, asisten rumah tangga itu nampak tidak kuasa untuk membendung air matanya, ia memeluk Tania


yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri saat ini.


“Nona Tania tidak perlu pergi dari sini.”


“Tapi Nyonya Ester sudah memintaku untuk pergi, aku tidak bisa melawannya, Bi.”


****


Akhirnya sebelum pergi dari rumah ini dan didampingi oleh asisten rumah tangga yang sudah mengabdi untuk keluarga mendiang Bima, Tania pergi menemui Ester yang tengah duduk di ruang tengah sambil membaca


sebuah majalah.


“Nyonya Ester, saya pamit.”


“Kamu tidak perlu pamit padaku, kamu bisa pergi sekarang juga karena aku sudah muak melihat wajahmu.”


“Namun sebelum pergi, saya ingin menanyakan sesuatu pada Nyonya.”


“Memangnya kamu ingin menanyakan apa padaku?” tanya Ester yang masih acuh dan sama sekali tidak menatap Tania.


“Bi, saya mau bicara empat mata dulu dengan Nyonya Ester,” ujar Tania.


“Apakah Nyonya tahu sesuatu mengenai kematian kedua orang tuaku?”


“Kamu kenapa menanyakan hal itu padaku?”


“Saya hanya ingin bertanya saja, apakah Nyonya tahu mengenai hal itu?”


“Aku sama sekali tidak tahu.”


“Benarkah?”


“Iya! Itu benar, kenapa kamu lama sekali di sini? Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu bahwa aku sudah muak melihat wajahmu di rumah ini, jadi lebih baik sekarang juga kamu pergi dari rumah ini!”


****


Tania tidak tahu ia harus pergi ke mana saat ini, ia tidak memiliki cukup uang untuk menyewa sebuah rumah kontarakan, maka saat ini ia duduk di depan sebuah ruko yang tutup dan melihat jalanan di depannya, ia


jadi berpikir mungkin saja ia harus bermalam di ruko ini sampai ia mendapatkan pekerjaan dan mendapatkan uang untuk menyewa sebuah rumah kontarakan. Namun sebuah mobil yang ia cukup kenali berhenti tepat di depannya dan orang itu turun dari mobil itu, Tania nampak tidak terkejut melihat orang itu namun orang itu sepertinya terlihat terkejut ketika melihat Tania ada di tempat ini.

__ADS_1


“Tania, kenapa kamu ada di sini?”


“Saya diusir dari rumah.”


“Apa?! Lalu sekarang kamu akan tinggal di mana?”


“Saya tidak tahu, saya tidak tahu akan tinggal di mana nantinya, bahkan sampai saat ini saya belum mendapatkan pekerjaan.”


“Kalau begitu, kamu bisa ikut denganku ke rumah, kamu bisa bekerja di rumahku.”


“Apa?”


“Sudahlah, kamu tidak perlu merasa sungkan atau menolaknya, aku yakin kalau kamu butuh pekerjaan sekaligus rumah tinggal kan?”


Tania nampak berpikir sejenak, apa yang dikatakan oleh Olaf memang benar, namun apakah ia harus mengambil tawaran yang menggiurkan ini?


*****


Ester mondar-mandir di ruang tengah, percakapannya dengan Tania siang tadi membuat dirinya jadi tidak tenang, ia jadi berpikir bahwa mungkin saja Tania sudah mengetahui bahwa dirinya adalah dalang dari kematian kedua orang tuanya, namun Ester menggelengkan kepalanya keras-keras, ia yakin bahwa barusan Tania hanya sekedar bertanya saja dan hal tersebut bukan berarti bahwa Tania mengetahui apa yang sudah ia lakukan pada Bima dan Hanum.


“Tidak, dia pasti tidak tahu kalau aku adalah dalang kematian Bima dan Hanum,” lirih Ester.


Rupanya saat ini Jihan sudah turun dari lantai dua dan melihat mamanya bertingkah aneh, sejak tadi ia perhatikan Ester mondar-mandir seperti gelisah memikirkan sesuatu hingga ia tidak menyadari bahwa dirinya sudah berdiri tidak jauh darinya.


“Kenapa Mama mondar-mandir begini?”


Seperti dugaan Jihan, Ester terkejut karena ia tidak menyadari kalau Jihan sudah berdiri tepat di belakangnya, Ester mengelus dada sambil mengatakan bahwa tidak ada apa-apa.


“Di mana gadis itu?”


“Siapa maksudmu?”


“Tentu saja Tania, memangnya siapa lagi?”


“Oh, dia sudah pergi.”


“Sudah pergi? Kenapa dia pergi?”


“Tentu saja Mama mengusirnya dari rumah ini.”


“Mama mengusirnya?! Bagaimana kalau papa sampai tahu mengenai hal ini?”

__ADS_1


“Apa maksudmu?”


Baru saja Jihan mengatakan itu, Handi sudah tiba di rumah dan secara tidak sengaja ia mendengarkan percakapan antara Jihan dan Ester barusan yang mengatakan bahwa saat ini Tania sudah diusir dari rumah ini.


__ADS_2