
Namun rupanya ketika perdebatan antara Handi dan Ester terjadi, sesuatu hal yang tidak terduga terjadi, seseorang yang tidak lain adalah Tania berjalan menghampiri mereka, Ester nampak terkejut dan tidak menyangka melihat sosok Tania yang berubah penampilannya semenjak terakhir kali mereka bertemu.
“Apakah anda mencari saya?”
“Tania, lebih baik kamu masuk ke dalam saja, tidak perlu bertemu dengan wanita ini.”
Ester sendiri masih terkejut dan tidak menyangka bahwa sosok wanita yang berdiri di depannya adalah Tania, ia berdiri dan memperhatikan Tania dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Apakah ada masalah?” tanya Tania.
“Apakah kamu ini Tania?” tanya Ester.
“Iya, tentu saja, memangnya ada apa?”
“Kenapa kamu begitu berbeda? Maksudku… bukan hanya soal penampilan, namun gaya bicaramu, gaya berjalanmu, sungguh sangat berubah.”
“Terima kasih atas pujiannya.”
“Apa katamu? Pujian? Apakah kamu menganggap apa yang aku katakan barusan adalah sebuah pujian?”
“Iya tentu saja, bukankah barusan anda memuji saya?”
“Kamu terlalu percaya diri sekali, siapa juga yang memuji kamu, dan satu hal lagi Tania, jangan pikir kamu dapat merebut apa yang telah aku miliki.”
“Lebih baik anda tidak perlu terlalu percaya diri dulu.”
****
Ester mendatangi rumah putrinya untuk memberitahu apa yang sudah ia lihat sebelumnya di rumah Handi, Jihan nampak terkejut ketika melihat Ester datang tanpa memberitahunya terlebih dahulu, untung saja saat ini Jihan sedang tidak pergi ke mana-mana.
“Kenapa Mama tidak memberitahuku kalau mau datang? Untung aku sedang ada di rumah.”
“Mama ingin memberitahumu tentang satu hal.”
“Memangnya apa yang ingin Mama katakan padaku?”
“Mama baru saja datang dari tempat papamu dan Mama bertemu dengan Tania.”
“Benarkah? Lalu apakah yang aku katakan pada Mama sudah Mama buktikan sendiri?”
“Iya, Mama sudah membuktikan semua ucapanmu, dan kamu memang benar, dia terlihat berbeda sekali dengan Tania yang dulu.”
__ADS_1
“Aku merasa dia lebih angkuh dari sebelumnya, entah kenapa Tania yang sekarang terlihat lebih menyebalkan dari pada Tania yang dulu.”
“Mama jadi penasaran, kira-kira kenapa dia bisa mengatakan itu.”
“Apakah yang sedang Mama maksud adalah mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik keluarganya?”
“Iya, tentu saja tentang itu.”
“Firasatku mengatakan pasti orang itu adalah orang yang memiliki kuasa lebih hingga Tania bisa merasa nyaman dan aman untuk melakukan apa yang ia inginkan.”
“Kamu tidak perlu khawatir sayang, Mama akan mencari tahu semuanya, siapa kira-kira yang membuat Tania menjadi seperti ini.”
****
Handi tengah berbicara dengan Tania mengenai apa yang tadi terjadi di antara mereka dan Ester, Handi meminta penjelasan pada Tania kenapa Ester mengatakan hal tersebut, namun Tania seolah masih enggan mengatakan apa pun pada Handi.
“Tania, Om mau minta maaf padamu.”
“Kenapa Om?”
“Sebenarnya… Om tahu siapa orang yang telah membuat kedua orang tuamu meninggal dunia, maksud Om adalah dalang dibalik kejadian buruk itu.”
Handi yang mendengar ucapan Tania barusan terkejut bukan main, jadi Tania sudah tahu bahwa Ester adalah dalang dari kematian kedua orang tuanya?
“Dan aku juga tahu bahwa Om sebenarnya ingin sekali membuat orang itu dipenjara atas apa yang telah ia lakukan pada kedua orang tuaku, namun langkah Om terjegal olehnya, bukan?”
“Tania, bagaimana bisa kamu mengetahui hal tersebut?”
“Om tidak perlu tahu aku tahu dari mana, namun satu hal yang jelas Om, aku akan mengambil apa yang sudah seharusnya menjadi hakku, tidak akan aku biarkan siapa pun mencurinya.”
“Aku mengerti Tania, maafkan Om karena sudah berdiam diri terlalu lama, Om sangat menyesalinya.”
“Sudahlah Om, lagi pula semua kejadian itu sudah berlalu, yang jelas saat ini aku tidak akan mundur sampai mendapatkan apa yang aku inginkan, apakah Om akan ada di pihakku?”
“Iya, tentu saja, Om akan ada di pihakmu, Nak.”
****
Stefani merasa kesal karena Minanti mengatakan bahwa ia tidak bisa memaksakan Olaf untuk mencintainya, Stefani tidak habis pikir kenapa Minanti bisa mengatakan hal tersebut, apakah mungkin ini semua karena Olaf? Apakah Olaf sudah mengatakan hal tersebut pada Minanti?
“Olaf, apakah dia yang sudah memberitahu mamanya?”
__ADS_1
Stefani tidak akan tinggal diam, ia harus mencari di mana Olaf berada saat ini untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sudah dikatakan oleh pria tersebut pada mamanya, Stefani berusaha mencoba menghubungi nomor telepon Olaf namun pria itu sama sekali tidak menjawab telepon darinya.
“Kenapa dia tidak mau menjawab telepon dariku?!”
Stefani begitu kesal dengan yang Olaf lakukan ini, namun ia tidak akan menyerah begitu saja, Stefani melajukan kendaraannya menuju kantor Olaf dengan harapan ia dapat bertemu dengan pria itu saat ini, namun ketika ia hendak masuk ke dalam kantor itu, seorang satpam mencegahnya memasuki area kantor.
“Ada apa ini?”
“Maaf, namun ada dilarang masuk ke dalam.”
“Apa-apaan kamu ini? Apakah kamu tidak tahu siapa
aku?”
“Saya sudah tahu siapa anda, namun saya hanya menjalankan perintah, anda tidak diizinkan masuk ke dalam oleh Tuan Olaf.”
Jawaban dari satpam itu membuat Stefani terkejut, Olaf melarangnya masuk ke dalam kantor? Stefani tidak terima dengan ini semua, ia berusaha menerobos masuk ke dalam kantor namun satpam itu tetap saja menghalaunya agar bisa masuk ke dalam.
****
Juan yang melihat kejadian di depan kantor itu pun segera menghampiri mereka, nampak aksi Stefani itu sudah menjadi tontonan beberapa karyawan yang melintas di depan pintu utama, Juan meminta semua karyawan yang melihat aksi itu untuk membubarkan diri, setelah semua karyawan membubarkan diri kini Juan bertanya pada satpam ini apa yang sebenarnya terjadi.
“Tuan Olaf melarang saya mengizinkan dia masuk ke dalam kantor ini.”
“Apakah menurutmu masuk akal dengan yang dikatakan olehnya?” tanya Stefani kesal yang tak terima karena tidak diizinkan masuk ke dalam kantor.
“Apakah Bapak serius Tuan Olaf yang meminta anda melakukan ini semua?” tanya Juan memastikan.
“Iya Tuan, saya diminta langsung oleh Tuan Olaf agar melarang wanita ini masuk ke dalam kantor,” terang satpam.
“Ini tidak masuk akal Juan, mana mungkin Olaf melarangku untuk masuk ke dalam, pasti ada sabotase di sini,” ujar Stefani.
“Sepertinya aku perlu bicara dengan Kak Olaf,” ujar Juan.
“Iya kamu benar, agar kita dapat membuktikan siapa sebenarnya yang berbohong di sini,” ujar Stefani bersemangat.
“Saya tidak takut, silakan saja buktikan sendiri apakah saya berbohong atau tidak, saya hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuan Olaf pada saya, itu saja.”
Juan mencoba menelpon Olaf, namun ponsel pria itu tidak aktif, Stefani sendiri nampak penuh harap pada Juan, ia harap Juan dapat segera menelpon Olaf dan membuktikan bahwa apa yang satpam ini katakan adalah tidak benar.
“Ada apa ini?” tanya Olaf yang baru saja turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri Juan dan Stefani yang ada di depan pintu lobi kantor.
__ADS_1