
Tania nampak terkejut ketika Ferdian kembali masuk ke dalam apartemennya karena tadi pria itu sudah berpamitan padanya untuk pergi ke kantor, Tania buru-buru menyembunyikan pakaian yang semalam dikenakan oleh Olaf
namun tentu saja semuanya sudah terlambat karena Ferdian sudah terlebih dahulu melihatnya.
“Tania, pakaian siapa itu?”
“Itu pakaianku.”
“Kenapa kamu memeluk pakaianmu?”
“Memangnya salah kalau aku memeluk pakaianku sendiri?”
“Aku merasa kalau saat ini kamu tengah menyembunyikan sesuatu.”
“Kenapa kamu kembali lagi ke sini? Bukannya tadi kamu mengatakan akan pergi ke kantor?”
“Aku kembali karena aku khawatir padamu, tadi aku melihatmu nampak begitu sedih makanya aku jadi tidak berangkat ke kantor.”
“Kamu tidak perlu mencemaskanku.”
“Tania, kamu menyembunyikan sesuatu dariku, bukan? Pasti ada seseorang yang menginap bersamamu semalam?”
“Ferdian, kalau kamu masih saja menanyakan hal itu, lebih baik keluar sekarang juga!”
“Kenapa kamu marah? Apakah yang aku katakan itu benar?!”
****
Olaf sudah nampak lebih segar setelah ia tidur, Minanti nampak tersenyum pada putranya itu dan menyodorkan sebuah teh hangat padanya, Minanti nampak memperhatikan putranya itu dengan seksama, seolah mengerti apa yang Minanti maksudkan maka Olaf pun buka suara.
“Mama pasti mengkhawatirkanku kemarin.”
“Benar, Mama sangat khawatir padamu, kemana saja kamu seharian kemarin?”
“Aku pergi menemui Tania.”
“Tania? Kenapa dengan dia?”
“Dia hendak bunuh diri.”
Minanti nampak terkejut ketika mendengar ucapan Olaf barusan, ia tak menyangka bahwa Tania hendak melakukan hal seperti itu namun untungnya saja Olaf cepat datang dan menggagalkan rencana Tania untuk bunuh diri.
“Syukurlah kalau kamu datang tepat pada waktunya.”
“Iya, aku bersyukur karena bisa masuk ke dalam tepat pada waktunya sebelum dia melompat dari apartemennya.”
__ADS_1
“Namun… kenapa dia sampai hendak melakukan hal itu?”
“Dia mengatakan bahwa dia tertekan dengan semua ini, dia tidak bermaksud untuk membuat dirinya hamil anaknya Ferdian, namun pria itu sudah melakukan hal yang tidak pantas padanya.”
Minanti menghela napasnya panjang, ia mengusap lengan putranya, kini pikiran Minanti tertuju pada Tania, apakah saat ini wanita itu sudah tidak memiliki pikiran untuk mengakhiri hidupnya lagi.
“Tenang saja, aku sudah bicara dengannya dan emosinya sudah jauh lebih stabil saat ini,” ujar Olaf yang seolah dapat membaca apa yang Minanti pikirkan saat ini.
****
Ferdian memilih untuk menurunkan egonya dan tidak lagi mengungkit soal semalam Tania tidur dengan siapa, ia melakukan ini semua demi keselamatan bayi yang ada di dalam perut Tania, ia ingin bayi itu bisa lahir dengan selamat ke dunia ini. Ketika Ferdian dan Tania tengah menikmati makan siang, pintu bel apartemen berbunyi, Ferdian mengatakan bahwa ia akan pergi untuk melihat siapa yang datang. Ferdian pun membukakan pintu dan ia menemukan sosok Minanti berdiri di depan sana, Minanti nampak tidak terkejut ketika melihat adanya Ferdian di sini.
“Apakah aku boleh masuk?”
“Silakan.”
Minanti pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen Tania, di sana Tania yang masih duduk di kursi meja makan nampak terkejut dengan kedatangan Minanti. Tania hendak menghampiri Minanti namun wanita itu memberikan isyarat bahwa Tania tidak perlu mendekatinya dan Minanti yang menghampirinya.
“Bagaimana kabarmu hari ini, Nak?”
“Sudah jauh lebih baik, Nyonya.”
“Aku dengar kemarin kamu ingin bunuh diri, ya?”
“Nyonya ….”
“Sudahlah, aku datang ke sini karena aku mengkhawatirkanmu namun sepertinya dia sudah datang untuk menjagamu di sini.”
****
Minanti sudah pulang beberapa saat yang lalu namun tidak dengan Ferdian yang masih bertahan di apartemen Tania padahal Tania sudah menyuruh untuk Ferdian pulang namun pria itu berkeras untuk bertahan di sini.
Ferdian tentu saja penasaran dengan kenapa Minanti sampai tahu bahwa kemarin Tania hendak melakukan bunuh diri, sejak tadi Tania tidak mau menjawab pertanyaannya dan hal tersebut membuat pria itu jengkel.
“Tania, tidak bisakah kamu jujur padaku? Aku ini kekasihmu.”
“Tidak semua hal dapat aku bagi denganmu, aku butuh privasi, mengerti?”
“Katakan padaku, kenapa Nyonya Minanti tahu bahwa kemarin kamu ingin bunuh diri? Apakah semalam Olaf datang dan menginap di sini?”
“Itu bukan urusanmu.”
“Jadi benar pria itu semalam datang ke sini dan tidur bersamamu?!”
“Ferdian, kamu jangan bicara sembarangan, ya!”
__ADS_1
“Kenapa?! Apakah yang aku katakan itu salah?!”
Tania merasa perutnya mendadak sakit dan sontak ia mengaduh kesakitan sambil memegangi perutnya, Ferdian pun panik melihat itu, ia kemudian segera membawa Tania ke klinik yang ada di lantai bawah apartemen.
Selagi menanti Tania diperiksa oleh dokter, Ferdian menunggu di luar dengan raut wajah gelisah, ia takut kalau anak yang ada di dalam perut Tania kenapa-kenapa. Tidak lama kemudian dokter mengatakan bahwa Ferdian bisa
menjenguk Tania, Ferdian merasa lega karena akhirnya ia diizinkan masuk dan bertemu dengan Tania, namun tentu saja Ferdian mendapatkan wejangan dari dokter mengenai jangan membuat Tania stres dan tertekan karena hal tersebut dapat berpengaruh buruk pada anak yang tengah dikandungnya.
“Saya tinggal dulu, ya.”
“Baik dokter, terima kasih.”
****
Ester mengunjungi Jihan dipenjara, seperti biasa Jihan merasa malas jika tahu yang datang menjenguknya saat ini adalah Ester, ia mengatakan pada Ester untuk segera mengatakan sesuatu padanya karena ia tidak mau berlama-lama bertemu dengan Ester.
“Jihan, aku ini adalah orang tuamu, bagaimana bisa kamu memperlakukanku begini?”
“Ma, bisakah Mama katakan saja apa yang sebenarnya Mama inginkan?”
“Jihan, kenapa sikapmu jadi berubah begini?”
“Kalau memang tidak ada pembicaraan yang penting, maka lebih baik aku pergi saja sekarang.”
“Tunggu dulu.”
“Kalau begitu, ayo katakan.”
“Mama akan membuat pria itu hilang dari muka bumi ini.”
“Siapa yang Mama maksud?”
“Tentu saja pria miskin itu!”
“Mama rupanya tidak berubah juga, mau sampai kapan Mama akan berbuat kejahatan seperti ini? Apakah Mama tidak takut kalau nanti Mama akan mempertanggung jawabkan semua perbuatan Mama pada Tuhan?”
“Bagus sekali kamu, rupanya sudah berani menceramahi Mama.”
“Aku hanya mengingatkan Mama saja, ingat Ma, Tuhan tidak tidur dan dia melihat semua tindakan keji Mama selama ini, dia pasti akan membalas Mama.”
“Jihan!”
“Aku mohon jangan sakiti lebih banyak orang lain lagi, renungkan seberapa jahat diri Mama selama ini, aku harap Tuhan membukakan pintu hati Mama segera.”
“Jihan!”
__ADS_1