
Maya berusaha mempertahankan ponselnya yang hendak direbut oleh penjambret ini, namun penjambret ini tetap menarik paksa ponsel Maya dan membuat wanita itu terseret beberapa meter dari lokasi kejadian, orang-orang yang mendengar teriakan meminta tolong Maya sekaligus meyaksikan itu tentu saja langsung membantu wanita itu.
“Cepat panggil ambulance!”
Maka kemudian warga pun memanggil ambulance untuk membawa Maya ke rumah sakit akibat luka yang ia derita cukup parah, saat itu Tania menerima telepon dari sebuah nomor yang mengatakan bahwa Maya mengalami
kecelakaan dan kini ia dibawa ke rumah sakit. Tania tentu saja panik dan kemudian ia bergegas menuju rumah sakit untuk mengetahui bagaimana kondisi Maya.
“Di mana ruang IGD?”
“Di sebelah sana.”
Tania pun segera menuju ruang IGD rumah sakit itu, ia menunggu di sana sampai akhirnya dokter pun keluar dari ruangan tersebut.
“Dokter bagaimana kondisinya saat ini?”
“Kondisi pasien sudah membaik, hanya saja ada beberapa luka di bagian tangan.”
“Baiklah, terima kasih.”
Maya dipindahkan ke ruang inap biasa, namun wanita itu belum siuman, ketika Maya sudah dipindahkan ke ruang inap biasa, seorang warga datang ke ruang inap dan memberikan ponsel Maya yang tadi sempat dirampas oleh
jambret.
*****
Sementara itu Stefani nampak terkejut ketika Juan datang ke apartemennya dengan membawa sebuah koper besar, Juan tidak mengatakan apa pun padanya dan langsung menerobos masuk ke dalam begitu saja.
“Juan, apa yang terjadi? Kenapa kamu bawa koper besar seperti itu?”
“Apakah kamu tidak suka?”
“Tidak, maksudku kamu belum mengatakan apa maksud dan tujuanmu datang ke sini, aku tentu saja ingin tahu kenapa kamu datang dengan membawa koper besar ini.”
“Aku memutuskan untuk pergi.”
“Maksudnya?”
“Aku ingin tinggal bersamamu di sini.”
“Lalu bagaimana dengan keluargamu? Apakah mereka sudah tahu kalau kamu akan tinggal di sini?”
“Tidak, mereka tidak tahu.”
“Kalau begitu maka cepat atau lambat, mereka juga pasti akan tahu dengan sendirinya.”
“Kamu tak perlu memikirkan soal itu, pokoknya saat ini aku ingin memulai lembaran hidup yang baru bersamamu.”
“Apakah kamu yakin, Juan?”
“Tentu saja Stefani, aku sangat yakin dengan keputusanku ini.”
“Apakah kamu tidak akan menyesali keputusanmu saat ini?”
“Tidak, aku tidak akan menyesalinya.”
__ADS_1
Stefani mengulas sebuah senyum dan kemudian wanita itu memeluk Juan dengan erat, tidak lama kemudian ia mempersilakan Juan untuk masuk ke dalam kamar untuk menaruh kopernya.
“Sepertinya ini akan semakin menarik saja.”
****
Felli mengemasi barang-barangnya dari lemari dan memasukannya ke dalam koper, Minanti berusaha menenangkan Felli yang sedang sedih itu, Felli mengatakan bahwa rumah tangganya dengan Juan sudah berakhir,
ia lebih baik pulang kembali ke rumah orang tuanya.
“Felli, tolong jangan seperti ini, Nak.”
“Ma, sudah tidak ada harapan lagi dalam rumah tanggaku dan Juan.”
“Felli, Mama minta maaf karena Juan sudah melakukan ini padamu.”
“Tidak, Mama tak perlu meminta maaf, aku akan berusaha ikhlas dan menerima semua ini walaupun berat.”
Felli pun berpamitan pada Minanti dan keluar dari dalam kamar, Minanti sudah berusaha menahan Felli dan meyakinkan bahwa masih ada harapan dalam rumah tangganya dengan Juan, namun Felli lebih memilih untuk
menyerah, ia sudah tidak ingin berjuang lagi untuk rumah tangganya karena Juan sudah menorehkan luka yang teramat dalam pada dirinya.
“Felli, kamu mau pergi ke mana?” tanya Bram.
“Pa, aku akan pulang ke rumah orang tuaku,” jawab Felli.
“Tapi kenapa, Nak?”
“Karena sudah tidak ada harapan lagi dalam rumah tanggaku dan Juan.”
“Tidak, Pa, aku sudah tidak akan mau memperjuangkan rumah tangga kami, aku lebih memilih untuk mundur, terima kasih karena Papa dan Mama sudah memperlakukanku dengan baik selama di sini, aku juga ingin meminta
maaf pada kalian kalau aku belum bisa menjadi menantu yang baik.”
*****
Maya perlahan membuka kedua matanya, orang pertama yang ia lihat adalah Tania, Maya berusaha bangkit dari tempat tidur dengan dibantu oleh Tania. Tania pun segera bertanya pada Maya kenapa sampai Maya bisa
sampai seperti ini.
“Barusan ponselku nyaris dijambret.”
“Ya Tuhan.”
“Ponselku….”
“Ponsel anda sudah kembali.”
Maya kemudian melirik ke arah ponselnya yang ada di atas nakas, ia nampak lega karena perjuangannya tidak sia-sia dalam mempertahankan ponselnya walaupun ia harus mengalami luka akibat diseret oleh jambret itu.
“Orang yang tadi membawakan ponsel itu tidak mengatakan apa pun padaku, aku jadi tidak tahu kejadian yang sebenarnya.”
“Tania, sebenarnya aku tadi ingin menelponmu untuk mengatakan sesuatu.”
“Benarkah? Apa yang ingin anda katakan padaku?”
__ADS_1
“Ini menyangkut anakku yang saat ini sedang berada di balik jeruji besi.”
“Oh, iya ada apa dengannya?”
“Apakah kamu tidak mau menjenguknya di penjara? Tidak lama lagi dia akan menghadapi sidang pertamanya sebagai terdakwa.”
“Apakah dia yang menyuruh anda mengatakan ini padaku?”
“Iya, dia memintaku mengatakan itu, dia memintamu untuk menjenguknya.”
Tania nampak terdiam beberapa saat, Maya kemudian meraih tangan Tania dan ia pun meminta pada Tania untuk mengabulkan permintaan Ferdian itu.
“Aku mohon Tania, tolong kamu kabulkan permintaan Ferdian itu.”
****
Olaf mendatangi apartemen Stefani untuk mencari di mana keberadaan Juan, ia menggedor pintu apartemen Stefani hingga akhirnya wanita itu pun membukakan pintu apartemennya untuk Olaf.
“Mau apa kamu datang ke sini?”
“Katakan di mana Juan.”
“Aku tidak tahu dia ada di mana.”
“Kamu pasti berbohong, aku tahu pasti kamu menyembunyikannya di dalam.”
“Olaf, aku sudah mengatakan bahwa aku tidak tahu dia ada di mana.”
“Kamu pikir dapat menipuku?!”
Olaf pun merangsek masuk ke dalam apartemen Stefani, ia mencari di mana keberadaan Juan, namun ia tidak menemukan sosok adiknya itu di apartemen Stefani.
“Sudah aku katakan bahwa dia tidak ada di sini, kenapa kamu bersikeras mengatakan kalau aku berbohong.”
“Aku tahu dia pasti ada di sini, kamu pasti sengaja menyembunyikannya.”
“Olaf, aku tak mengerti apa yang kamu katakan itu, memangnya Juan ada di mana?”
“Stefani, katakan di mana Juan!”
“Olaf, aku sudah mengatakan bahwa aku tidak tahu di mana Juan!”
Olaf pun kemudian memutuskan untuk pergi dari apartemen Stefani, namun sebelum Olaf pergi, wanita itu menarik lengan Olaf.
“Lepaskan tanganmu!”
“Bagaimana menurutmu kalau aku akan jadi adik iparmu?”
Olaf pun menghempaskan tangan Stefani dengan kasar, Olaf mengatakan bahwa lebih baik Stefani tak perlu bermimpi tinggi seperti itu.
“Aku yakin bahwa hal itu akan segera terwujud, mengingat ada anak Juan di dalam perutku ini.”
“Apakah kamu memang benar-benar hamil?”
“Kenapa? Kamu meragukanku?”
__ADS_1