
Juan akhirnya menemui Stefani di taman seperti yang diinginkan oleh wanita itu, ketika ia tiba di taman nampak Stefani tengah duduk seorang diri di kursi taman, Juan berjalan perlahan menghampiri wanita itu dan setelah mendengar ada langkah kaki mendekat ke arahnya Stefani pun menoleh ke arah sumber suara dan menemukan Juan sudah berdiri di sana.
“Kenapa lama sekali?”
“Aku minta maaf, namun sekarang kan aku sudah berdiri di depanmu.”
Stefani hanya diam dan menatap tajam Juan, pria itu duduk di sebelah Stefani dan kemudian bertanya kenapa malam-malam begini dirinya ingin bertemu dengannya.
“Kenapa katamu? Kamu bertanya kenapa? Tentu saja aku khawatir padamu!”
“Terima kasih karena kamu sudah mengkhawatirkanku, namun seperti yang dapat kamu lihat sendiri aku baik-baik saja saat ini.”
“Juan, apakah kamu benar-benar mencintaiku?”
“Kenapa kamu menanyakan hal itu?”
“Lihat? Kamu saja balik bertanya saat aku mengajukan pertanyaan itu.”
“Bisakah kita tidak usah berdebat untuk hal seperti itu? Hari sudah malam, Stefani.”
“Kenapa aku bertanya begitu pun ada sebabnya, aku merasa sikapmu jauh berubah belakangan ini setelah Felli mengatakan bahwa dia sudah berkorban banyak padamu, kamu sepertinya jadi lebih bersimpati pada wanita itu, bahkan dengan mudahnya kamu mengatakan ingin rujuk dengannya tanpa memikirkan bagaimana perasaanku.”
*****
Juan pulang ke rumah dengan memikirkan perdebatannya dengan Stefani tadi, ia tahu bahwa memang dirinya agak bimbang ketika Felli menceritakan semua pengorbanan yang ia lalui agar Juan bahagia, bahkan sampai saat ini pun ia masih bimbang apakah ia benar-benar mencintai Stefani atau itu hanya nafsu sesaat saja? Juan akhirnya tiba di rumah dan ia memberikan uang yang dijanjikan olehnya tadi pada satpam, namun satpam itu menolaknya, Juan berkeras agar satpam itu menerima uang yang disodorkannya hingga akhirnya saat ini ia pun sudah masuk ke dalam rumah dan hendak naik menuju kamarnya yang ada di lantai dua, namun ia terkejut ketika melihat Olaf tengah duduk di ruang tengah dan ketika melihatnya pulang, ia langsung berdiri dan berjalan menghampirinya.
“Dari mana saja kamu malam-malam begini?”
“Apakah papa dan mama sudah tidur?”
“Sepertinya begitu, kamu belum menjawab pertanyaanku tadi.”
“Aku dari luar, mencari udara segar.”
“Malam-malam begini?”
__ADS_1
“Kak, aku mau pergi ke kamarku dulu.”
“Kita belum selesai bicara Juan, katakan padaku yang sebenarnya, kamu menemui Stefani tadi, kan?”
“Kalau aku iya, memangnya kenapa, Kak?”
*****
Keesokan harinya Stefani kembali mendatangi rumah keluarga Olaf, ia berharap kalau hari ini dirinya diizinkan untuk masuk ke dalam rumah itu dan ternyata dirinya memang diizinkan masuk ke dalam, walaupun ia merasa bingung namun di sisi lain ia nampak bahagia karena akhirnya ia dapat diizinkan masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Juan, ketika ia tiba di dalam rumah nampak Minanti yang tengah duduk di ruang tengah.
“Selamat siang Tante.”
“Mau apa kamu ke sini?”
“Saya mau bertemu dengan Juan.”
“Stefani, jangan kamu pikir ketika saya mengizinkan kamu masuk ke dalam rumah ini maka sikap saya pada kamu akan berubah, saya tetap akan memasang mata pada setiap apa yang kamu lakukan, ingat itu baik-baik.”
Setelah mengatakan itu Minanti pergi meninggalkan Stefani yang masih terdiam di tempatnya, Stefani nampak menghela napasnya, ia sama sekali tidak peduli dengan apa yang Minanti katakan barusan, ia datang ke sini untuk bertemu dengan Juan dan bukannya mendengarkan ocehan wanita itu.
Stefani menatap ke arah sumber suara dan nampak Juan yang sedang menuruni anak tangga terkejut ketika melihat Stefani bisa masuk ke dalam rumahnya.
“Bagaimana bisa kamu masuk ke dalam rumah?” tanyanya heran.
“Kamu pasti heran, kan? Aku pun juga, tadi satpam sama sekali tidak menghalangiku di depan dan malah mengizinkanku masuk ke sini,” jawab Stefani bahagia.
*****
Felli nampak masih mengurung dirinya di dalam kamar, hari ini adalah sidang putusan pengadilan dalam gugatan kasus perceraian antara dirinya dan Juan, sampai saat ini Felli masih menyimpan semua foto kebersamaannya dengan Juan dan karena melihat foto-foto itu membuatnya sedih dan menitikan air mata, ia sama sekali tidak menyangka bahwa semua kisah manis yang sudah mereka lalui selama ini harus berakhir dalam perceraian, ketika
Felli tengah menatap foto-foto masa lalunya dengan Juan, ia mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya namun ia sama sekali tidak mengatakan apa pun dan membiarkan orang yang mengetuk pintu itu membuka pintu kamarnya, rupanya orang yang mengetuk pintu itu adalah adiknya, dia berjalan menghampiri Felli yang sedang
duduk di tepi tempat tidur sambil menatap foto dirinya dan Juan di masa lalu.
“Mau sampai kapan kamu seperti ini?”
__ADS_1
“Apa maksudmu?”
“Foto-foto ini dan semua barang yang mengingatkanmu padanya, itu semua akan membuatmu jadi sulit melupakan Juan, Kak.
Apa yang dikatakan oleh Azka memang benar, kalau Felli tidak memusnahkan semua barang-barang yang berhubungan dengan masa lalunya dengan Juan, maka selamanya dirinya akan terjebak dalam masa lalu.
“Sejujurnya aku sudah bertekad untuk melupakannya, namun untuk membuang semua barang yang ia berikan padaku dan foto-foto ini, entah kenapa rasanya berat sekali untukku melakukannya.”
*****
Tania masih mendapatkan tekanan dari berbagai pihak dalam internal perusahaannya agar dirinya mau melindungi orang-orang yang menggerogoti perusahaan ini sejak lama, Tania masih saja dilema padahal Olaf sudah berdiri di belakangnya dan mereka sudah menyepakati rencana untuk bersih-bersih perusahaan dari orang-orang lama yang membuat hancur perusahaan. Namun tentu saja dalam praktiknya membutuhkan nyali yang besar untuk mendepak
orang-orang itu dari posisi jabatan mereka saat ini. Tania menjadi tidak fokus bekerja karena saham perusahaan terus turun sejak beberapa hari lalu mengingat kejaksaan tengah mengusut kasus lahan bermasalah dan segudang kasus yang baru belakangan ini terkuak hingga citra perusahaan jatuh dan membuat harga saham mereka pun ikut jatuh.
“Apa yang harus aku lakukan?” lirih Tania.
Ketika ia tengah bingung, ponselnya berdering dan tertera nama Olaf di sana, ia segera menjawab telepon dari kekasihnya itu.
“Ada apa kamu menelpon?”
“Aku ingin kita pergi ke butik untuk mencoba pakaian pernikahan kita.”
“Siang ini?”
“Tentu saja, memangnya kapan lagi?”
“Tapi Olaf aku ….”
“Tidak ada tapi-tapian, aku akan kirimkan alamatnya padamu, cepat datang, ya?”
TUT
Tidak lama kemudian Olaf mengirimkan alamat di mana butik itu berada, Tania kemudian segera bergegas pergi dari ruangan kerjanya untuk pergi ke tempat tersebut. Ketika ia tiba di butik itu nampak Olaf sudah datang terlebih dahulu dan ia tengah berbincang dengan pemilik butik ini.
“Maaf aku terlambat.”
__ADS_1