Berkah Cinta

Berkah Cinta
Menolong Pria Malang


__ADS_3

Tania tidak menyangka bahwa kedatangannya ke proyek pembangunan hotel dan resort ini akan membawa petaka baginya, ketika ia menghindari serbuan pertanyaan dari wartawan, seseorang berlari ke arahnya dengan membawa sebuah benda seperti sebuah senjata tajam.


“Mati kamu!”


Namun untungnya saja banyak pegawai keamanan yang menghalangi aksi itu, orang tersebut dapat segera diamankan begitu pula Tania yang nampak masih begitu shock dengan yang terjadi padanya barusan. Rupanya


berita mengenai kejadian ketika Tania hendak ditusuk oleh seseorang tak dikenal menjadi viral di media sosial, Olaf yang sedang berselancar di dunia maya pun menjadi khawatir setelah melihat berita mengenai Tania, pria itu segera menghubungi Tania untuk menanyakan bagaimana kabar Tania terkini saat ini.


“Bagaimana kabarmu?”


“Aku baik-baik saja, memangnya kenapa?”


“Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa, tadi aku baca berita bahwa ada seseorang yang hendak menyerangmu dengan menggunakan senjata tajam.”


“Kamu tidak perlu khawatir karena aku baik-baik saja.”


*****


Tania baru mengetahui bahwa orang yang hendak melukainya itu adalah Ester yang selama ini dicari karena ia kabur dari rumah sakit jiwa, kini Ester sudah dibawa kembali ke rumah sakit jiwa untuk menjalani pengobatan lanjutan yang sempat terhenti karena ia kabur dari rumah sakit jiwa.


“Bagaimana keadaannya dokter?”


“Dia belum sadarkan diri setelah kami memberikannya obat penenang.”


“Ya Tuhan.”


“Namun untung saja dia belum sempat melukai anda tadi.”


“Iya begitulah, kira-kira kapan aku dapat berbicara padanya?”


“Kalau soal itu saya pun belum dapat memastikannya karena kami harus memeriksa kondisi pasien apakah memungkinkan diajak komunikasi tanpa adanya gejala menyerang dan membahayakan lawan bicara.”


“Baiklah, tolong segera kabari aku bagaimana kondisi dia.”


“Tentu saja Nyonya, anda tidak perlu khawatir.”


Maka Tania pun pergi dari rumah sakit jiwa dan alangkah terkejutnya ketika di pintu keluar ia menemukan Olaf di sana yang sedang menunggunya, tanpa banyak bicara pria itu berjalan mendekati Tania dan memeluknya tanpa mempedulikan banyak sekali orang yang ada di sekitar mereka.


“Syukurlah kalau kamu baik-baik saja.”


“Bukankah aku sudah mengatakan padamu tadi kalau aku baik-baik saja?”

__ADS_1


*****


Minanti yang mendengar berita bahwa Tania nyaris saja dilukai oleh Ester tentu saja panik dan khawatir, namun seketika kepanikan dan kekhawatriannya teratasi setelah Olaf menelpon dan mengatakan bahwa Tania baik-baik saja dan ia sama sekali tidak terluka sedikit pun akibat serangan gagal Ester tadi.


“Syukurlah dia baik-baik saja,” ujar Minanti setelah ia mematikan sambungan teleponnya.


“Orang yang menyerang Tania adalah mamanya Jihan?” tanya Juan.


“Iya dia adalah mamanya Jihan, dia sudah cukup lama dirawat di rumah sakit jiwa namun entah kenapa dia bisa melarikan diri dari tempat itu,” jawab Minanti.


“Dia tidak mungkin melarikan diri sendiri, dia pasti dibantu oleh orang dalam.”


“Mama tahu, namun sampai saat ini orang dalam yang membantu wanita itu kabur dari rumah sakit jiwa belum juga diketahui.”


“Kalau Mama ingin menemui Tania, Mama bisa pergi, aku akan baik-baik saja sendirian di sini.”


“Apakah kamu pikir Mama dapat meninggalkan kamu sendirian di sini tanpa pengawasan? Bagaimana kalau Stefani tiba-tiba datang ke sini?”


“Mama tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja, aku tahu bahwa pasti saat ini Mama sangat ingin sekali bertemu dengan Tania, maka segera temui dia sekarang, aku baik-baik saja, kok.”


“Namun Mama tetap tidak bisa meninggalkanmu, Juan, Mama tidak bisa,” ujar Minanti.


*****


“Felli, Mama masuk, ya?”


Tidak lama kemudian akhirnya sang mama pun masuk ke dalam kamarnya, sang mama kemudian berjalan menghampirinya dan bertanya apa yang terjadi pada putrinya ini.


“Sayang, apa yang terjadi padamu?”


“Bukan apa-apa.”


“Kamu habis bertemu siapa?”


“Ricky.”


“Pemuda itu? Apa yang pemuda itu katakan padamu?”


“Mama tidak perlu tahu.”


“Nak, sejujurnya Mama bukannya tidak suka kalau kamu dan pemuda itu menjalin hubungan hanya saja Mama minta agar kamu memikirkan lagi keputusanmu ini, dia lebih muda darimu dan juga dia berasal dari keluarga

__ADS_1


yang kurang berada-”


“Jadi Mama ingin mengatakan kalau Ricky itu adalah pria materialistis begitu?”


“Tidak, bukan seperti itu hanya saja tidak ada salahnya kalau kita berjaga-jaga, siapa tahu dia punya niat buruk padamu.”


“Ma, sampai berapa kali aku harus katakan pada Mama bahwa aku dan Ricky tidak punya hubungan spesial selain kami hanya berteman, ok?”


“Baguslah kalau memang sampai saat ini kalian hanya berteman, Mama tidak akan melarangmu berteman dengan pemuda itu namun kalau kalian ingin menjalin hubungan, Mama akan keberatan.”


“Apakah menurut Mama aku harus kembali pada Juan?”


*****


Minanti sedang berada di dalam mobil dan saat ini wanita itu sedang dalam perjalanan menuju apartemen Tania, ia bisa meninggalkan Juan karena sudah ada suaminya yang berjaga di sana. Juan sebenarnya sudah sejak tadi meminta agar Minanti pergi saja menemui Tania di apartemennya, namun tentu saja Minanti tidak dapat melakukan itu, ia tidak ingin kalau sesuatu hal yang buruk terjadi pada Juan kalau dia meninggalkan anaknya itu sendiri. Di


luar sana hujan turun dengan derasnya dan saat ini Minanti sedang menatap ke luar jendela mobil, kedua matanya memicing ketika melihat ada sosok pemuda yang tengah berjalan seorang diri di trotoar jalanan tanpa menggunakan payung hingga membuat pakaian yang ia kenakan jadi basah kuyup.


“Pak, tolong menepi sebentar.”


“Baik Nyonya.”


Ketika mobil menepi, Minanti kemudian turun dari dalam mobilnya menggunakan payung dan menghampiri pemuda itu yang dari dalam mobil nampak begitu familiar dan benar saja ia tidak salah dalam megenali orang.


“Kenapa kamu hujan-hujanan begini? Tidak bawa payung?”


“Iya, saya tidak bawa payung.”


“Setidaknya kalau kamu tidak bawa payung kamu bisa berteduh dulu di suatu tempat bukannya hujan-hujanan begini.”


“Saya tidak apa-apa, rumah saya sudah dekat kok.”


“Benarkah? Kalau begitu masuklah ke dalam mobil, saya akan antarkan.”


“Tidak perlu Nyonya.”


“Masuklah.”


“Namun saya basah.”


“Sudahlah, masuk saja.”

__ADS_1


Minanti memaksa pemuda itu masuk ke dalam mobil walaupun pemuda itu basah kuyup, Minanti bertanya di mana alamat rumah pemuda yang tak lain adalah Ricky ini dan pemuda itu pun menjawabnya.


“Dekat katamu? Itu masih satu setengah kilometer lagi dari tempat ini dan hujan sangat lebat.”


__ADS_2