
Olaf menatap Ferdian dengan tatapan tidak suka, sementara Ferdian sendiri menatap penuh tanda tanya pada Olaf, dirinya menunggu apa jawaban yang akan Olaf berikan atas pertanyaannya barusan.
“Kenapa hanya diam? Apakah pertanyaanku itu sangat sulit untuk dapat kamu jawab?”
“Apa alasanmu menanyakan hal itu padaku?”
“Kenapa? Apakah kamu tidak nyaman dengan pertanyaan yang aku berikan?”
“Sejujurnya iya, aku tidak nyaman dengan pertanyaan itu, dan aku tidak suka seseorang menanyakan masalah pribadi padaku, aku permisi.”
Olaf pun segera pergi dari café itu meninggalkan Ferdian yang masih ada di sana, pria itu nampak membuang napasnya kasar saat melihat perangai Olaf yang membuatnya jengkel.
“Kenapa dia tidak mau menjawab pertanyaanku?”
Ferdian kemudian memutuskan untuk ikut pergi dari café itu setelah ia membayar pesananannya dan Olaf, ia masuk ke dalam mobil dan baru saja ia masuk ke dalam mobil, ponselnya berdering. Ferdian kemudian melihat
siapa orang yang menelponnya saat ini dan ketika tertera nama sang papa di sana, pria itu nampak menghela napasnya panjang dan kemudian segera menjawab telepon dari sang papa.
“Kenapa menelponku?”
****
Tania merasa seperti ada seseorang yang mengikutinya, namun ketika ia menoleh ke belakang, ia tidak dapat menemukan siapa pun di sana, Tania tentu saja jadi waspada karena bukan tidak mungkin saat ini bahaya
akan mengancamnya. Tania kemudian mempercepat langkah kakinya menuju jalan raya untuk menyetop taksi, namun sebelum ia sempat sampai di jalan raya, seseorang sudah membekap mulutnya dari belakang.
“Hmppph.”
“Kamu tidak akan dapat lolos kali ini!”
Perlahan Tania kehilangan kesadarannya dan ketika Tania sudah kehilangan kesadarannya kini wanita itu dibawa menuju sebuah tempat yang jauh dari kota, setelah cukup lama tidak sadarkan diri akhirnya Tania pun sadar juga dan ia melihat sekeliling adalah sebuah tempat yang cukup asing baginya.
“Akhirnya kamu siuman juga.”
Tania mengenali suara itu, dia adalah Ester, wanita itu nampak menyeringai penuh arti padanya namun Tania sama sekali tidak takut dengan wanita ini.
“Kenapa anda membawaku ke sini?”
__ADS_1
“Sebab ini adalah hari terakhirmu melihat dunia ini.”
“Apakah anda yakin kalau hari ini adalah hari terakhir aku melihat dunia ini? Apakah anda yakin kalau rencana anda untuk melenyapkanku tidak akan gagal lagi?”
Pertanyaan dari Tania itu membuat Ester berang bukan main, wanita itu berjalan cepat menghampiri Tania dan meraih dagu wanita itu, Ester mencengkram dagu Tania dengan kasar dan menatap Tania tajam.
“Kamu jangan mencoba bermain-main denganku Tania, kali ini tidak akan ada yang menolongmu!”
****
Minanti baru saja tiba di rumahnya, ia mendapatkan telepon dari seseorang yang tidak lain adalah anak buahnya, Minanti kemudian menjawab telepon itu karena penasaran apa yang hendak dikatakan oleh anak buahnya saat ini.
“Ada apa kamu menelponku?”
“Nyonya, Tania diculik oleh seseorang saat ini.”
“Apa? Lalu di mana dia sekarang?”
“Kami sudah mendapatkan lokasi di mana dia diculik.”
“Baguslah, pokoknya kalian harus selamatkan dia, dan buat dalang penculikan itu dipenjara, apakah kalian mengerti?”
TUT
Minanti menghela napasnya kesal, ia sudah tahu bahwa dalang di balik penculikan itu adalah Ester, wanita itu pikir bahwa ia akan membiarkan Tania sendirian begitu saja padahal Minanti sudah menyewa seseorang untuk menjaga Tania dari jauh karena dirinya memiliki firasat bahwa Ester akan melakukan hal yang buruk pada Tania lagi, dan rupanya firasatnya itu pun terbukti saat ini.
“Ada apa ini?” tanya Bram yang menghampiri Minanti.
“Wanita itu, lagi-lagi dia membuat masalah,” ujar Minanti.
“Siapa wanita yang kamu maksudkan ini?”
“Tentu saja Ester, siapa lagi.”
“Memangnya apa lagi yang dia lakukan sampai-sampai membuat kamu kesal begini?”
“Dia mencoba menculik Tania, namun aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”
__ADS_1
****
Sementara itu Olaf tengah terduduk di ruangan kerjanya, ia memikirkan percakapan antara dirinya dengan Ferdian tadi, Olaf menghela napasnya berat dan menggelengkan kepalanya. Ia tahu bahwa saat ini hanya menipu dirinya sendiri kalau ia mengatakan tidak mencintai Tania, namun wanita itu tidak memberikan sinyal apa pun padanya, apakah selama ini cinta Olaf pada Tania hanya bertepuk sebelah tangan saja? Olaf jadi teringat dengan pertemuan pertamananya dengan Tania dulu, pertemuan secara tidak sengaja yang justru rupanya merupakan awal dari semua pertemuan beruntun yang melibatkan mereka berdua.
“Dari mana saja kamu?” tanya Juan yang masuk ke dalam ruangan kerja Olaf.
“Kenapa memangnya?” tanya Olaf balik.
Juan memberikan dokumen pada Olaf dan pria itu menerimanya, Olaf membuka dokumen itu dan rupanya dokumen tersebut berisi kesepakatan kerja sama perusahaan mereka dengan salah satu perusahaan asal Jepang.
“Harusnya kamu hadir secara langsung di acara penandatanganan itu, untung saja Tuan Satoshi tetap mau melanjutkan acara penandatanganan kerja sama perusahaan kita dengan perusahaan beliau.”
“Aku sudah menelponnya sebelumnya bahwa aku berhalangan hadir karena ada sesuatu yang penting, beliau mengatakan bahwa itu tidak masalah dan aku boleh diwakilkan oleh siapa pun, jadi aku memilih kamu menjadi
wakilku.”
“Dasar kamu ini!”
Juan kemudian duduk di sebelah Olaf dan adiknya itu nampak mencondongkan wajahnya pada wajah Olaf yang membuat pria itu jadi heran.
“Kenapa?”
****
Kali ini Ester tidak dapat lagi berkutik ketika polisi memergokinya melakukan aksi kejahatan pada Tania, Ester berusaha melawan dan melepaskan dirinya dari polisi, namun tentu saja usahanya sia-sia belaka karena polisi tetap membawanya ke kantor untuk meminta keterangan Ester. Tania sendiri dapat menghela napasnya lega karena lagi-lagi ia lolos dari maut, namun Tania merasa bingung kenapa dirinya bisa dengan mudah lolos dari Ester bahkan di waktu yang lumayan singkat. Tania juga diminta datang ke kantor polisi untuk dijadikan saksi dari kasus yang dilakukan Ester, setelah memberikan keterangan yang panjang pada polisi dan tentu saja dalam keterangannya itu memberatkan Ester, kini Tania sudah diizinkan untuk pulang. Di luar kantor polisi, nampak
Minanti sudah menantinya, Tania kini jadi yakin bahwa ini adalah campur tangan Minanti.
“Syukurlah kalau kamu baik-baik saja.”
“Nyonya, ada sesuatu hal yang ingin saya tanyakan pada Nyonya.”
“Aku tahu apa yang hendak kamu tanyakan padaku, namun sebaiknya kita masuk saja ke dalam mobil dulu.”
Maka saat ini mereka berdua pun masuk ke dalam mobil, di dalam mobil Tania pun bertanya pada Minanti kenapa wanita ini mengetahui bahwa Ester akan berbuat jahat padanya?
“Sejujurnya aku ingin minta maaf padamu Tania karena aku menyuruh orang suruhanku menjagamu dari jauh dan mereka akan melaporkan padaku apa saja yang terjadi padamu, aku melakukan semua ini karena aku takut
__ADS_1
sesuatu hal yang buruk terjadi padamu dan rupanya hal itu langsung terjadi saat ini.”