
Stefani yang merasa ditantang oleh Olaf membuktikan bahwa ia hamil pun mengambil hasi USG yang diberikan oleh dokter padanya, ia memperlihatkan pada pria itu bahwa ia memang benar-benar hamil.
“Ini, kamu bisa lihat sendiri bahwa aku tidak main-main ketika aku mengatakan sedang hamil.”
Olaf melihat foto hasil USG milik Stefani dan sepertinya apa yang Stefani katakan itu memang benar bahwa wanita ini sedang mengandung anaknya Juan.
“Sudahlah,” ujar Olaf yang hendak pergi dari apartemen wanita itu, namun lagi-lagi Stefani menarik lengan Olaf agar pria itu tidak pergi dulu.
“Mau apa lagi kamu?”
“Aku masih ingin mengobrol denganmu.”
“Menjijikan, singkirkan tanganmu.”
“Kalau aku tidak mau?”
“Kamu sudah merebut Juan dari Felli dan kamu bersikap seperti ini padaku?”
“Apakah kamu pikir aku mencintai Juan?”
“Jadi kamu tidak mencintainya dan membiarkan dirimu hamil anaknya?!”
“Iya, tentu saja kamu tahu siapa orang yang aku cintai.”
“Kamu benar-benar mengerikan Stefani, Juan sepertinya sudah dibutakan oleh tipu rayumu.”
“Jangan salahkan aku Olaf, salahkan Juan kenapa dia bisa jatuh cinta padaku.”
“Sudahlah, aku malas bicara hal ini denganmu!”
Olaf pun pergi meninggalkan Stefani, sementara selepas kepergian Olaf, wanita itu kembali menyeringai.
“Permianan ini semakin menarik saja, bukan?”
****
Juan mendatangi apartemen Stefani beberapa jam setelahnya, Juan memang tinggal di apartemen yang ada di sebelah kamar wanita ini dan Stefani tadi sengaja tidak memberitahu Olaf mengenai di mana keberadaan Juan.
“Hai.”
“Bagaimana? Kamu sudah bisa istirahat?”
“Iya, rasanya badanku lumayan segar.”
“Syukurlah kalau begitu.”
“Juan, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku ceritakan padamu.”
“Cerita? Tentang apa?”
Stefani pun menceritakan bahwa tadi Olaf datang ke apartemennya dan menanyakan di mana keberadaan adiknya, namun tentu saja Stefani tidak mengatakan di mana keberadaan Juan itu.
“Dia juga mempertanyakan apakah aku ini benar-benar hamil atau tidak, ketika aku berikan hasil USG, dia langsung pergi begitu saja.”
__ADS_1
“Tapi dia tidak melakukan hal yang kasar padamu, kan?”
“Tidak, setelah itu dia langsung pergi.”
“Syukurlah kalau memang dia tidak melakukan hal yang kasar padamu.”
“Juan, apakah kamu tetap yakin akan melanjutkan semua ini?”
“Tentu saja Stefani, kenapa kamu kembali bertanya seperti itu?”
“Karena gambaran penolakan Olaf itu pasti adalah gambaran penolakan kedua orang tuamu atas hubungan kita, apalagi kamu sudah mengatakan bahwa aku sedang hamil.”
“Stefani, kamu tidak perlu memikirkan hal itu, pokoknya kamu fokus saja pada anak kita dan tidak perlu memikirkan apa pun selain itu.”
*****
Tania kini menjenguk Ferdian di penjara seperti yang diinginkan oleh pria itu, Ferdian tentu saja merasa bahagia karena Tania menjenguknya saat ini, Tania menatap Ferdian yang tidak terawat selama ia dipenjara, apa yang Maya katakan itu memang ternyata benar.
“Senang sekali akhirnya kamu datang ke sini.”
“Apakah kamu tidak pernah merawat dirimu?”
“Kenapa memangnya?”
“Kamu membiarkan kumis dan jenggot tumbuh di wajahmu, kamu juga nampak kurus sekali.”
“Benarkah?”
“Sejujurnya iya, karena aku tidak bisa bersamamu lagi.”
“Ah sudahlah, lupakan saja.”
“Bagaimana hubunganmu dengan Olaf?”
“Kenapa kamu menanyakan itu?”
“Kapan kalian akan menikah?”
“Ferdian, itu bukan urusanmu.”
Ferdian menceritakan kehidupannya di penjara pada Tania, dan wanita itu hanya menyimak tanpa menanggapi apa pun ucapan yang keluar dari mulut Ferdian, hingga akhirnya waktu kunjung pun sudah habis.
“Terima kasih banyak karena kamu sudah mau mengunjungiku, Tania, aku harap kamu bahagia di luar sana.”
Setelah itu Ferdian kembali digiring masuk ke dalam sel tahanannya, Tania pun melangkahkan kakinya keluar dari penjara seraya membayangkan keadaan Ferdian yang memang begitu menyedihkan selama ia menjalani masa hukuman atas kejahatan yang sudah ia lakukan.
“Dia memang benar, Ferdian begitu menyedihkan.”
*****
Juan tidak masuk bekerja saat ini, Olaf sudah mencoba menelpon Juan namun nomor ponsel Juan tidak aktif hingga hal tersebut membuat Olaf kesal, ia sudah mencoba menghubungi sekretaris Juan untuk menanyakan di mana adiknya itu namun sekretaris Juan pun tidak tahu dia ada di mana.
“Ya Tuhan, kepalaku rasanya mau pecah!”
__ADS_1
Banyak sekali hal yang harus Olaf kerjakan saat ini sendiri karena biasanya ia akan berbagi tugas dengan Juan dan karena adiknya itu tidak masuk kerja hari ini pekerjaannya jadi bertumpuk banyak. Ketika Olaf sedang mengetikan sesuatu di layar laptopnya, ponselnya berdering, ia segera meraih ponsel yang tergeletak di atas meja kerjanya itu.
“Ada apa?”
“Saya sudah mengetahui di mana Tuan Juan berada.”
“Dia ada di mana sekarang?”
“Saya akan kirimkan alamatnya pada anda.”
TUT
Tidak lama kemudian Olaf pun mendapatkan alamat di mana Juan tinggal, namun yang membuat Olaf heran adalah alamat yang dikirimkan oleh orang suruhannya ini adalah apartemen Stefani.
“Ini alamatnya apartemen Stefani, apakah kemarin wanita itu sudah menipuku?! Sudah aku duga bahwa seharusnya aku tidak boleh terlalu percaya dengan dia.”
Olaf menggeram kesal karena ia sudah ditipu oleh Stefani, ia akan membuat pembalasan pada wanita itu karena sudah berani menipunya.
“Awas saja kamu Stefani, tunggu pembalasanku!”
****
Sementara itu Felli beberapa hari ini sudah tinggal kembali di rumah kedua orang tuanya, ia juga sudah menceritakan prahara rumah tangganya dengan Juan. Felli pun juga mengatakan bahwa dirinya dan Juan akan
segera berpisah tidak lama lagi.
“Nak,” ujar sang mama menghampiri Felli.
“Ada apa, Ma?”
“Apakah kamu sudah yakin dengan keputusanmu?”
“Maksud Mama keputusanku untuk berpisah dengan Juan? Ini semua bukan keinginanku, namun keinginannya, dia yang ingin memutuskan hubungan kami.”
“Ini pasti sangat sulit untukmu.”
“Jelas ini sangat sulit untukku, aku harus menerima semua kenyataan pahit ini.”
“Mama mengerti, Nak.”
Untuk beberapa saat mereka berdua saling berpelukan dan menguatkan, hingga akhirnya Felli melerai pelukan mereka dan mengatakan bahwa saat ini ia ingin jalan-jalan mencari udara segar di luar rumah.
“Baiklah Nak, hati-hati di jalan, kalau terjadi sesuatu padamu, segera hubungi kami.”
“Tentu saja, Ma.”
Maka Felli pun pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian dan kemudian ia melangkahkan kakinya keluar rumah untuk menghirup udara segar, selama beberapa hari ini ia sudah mengurung dirinya di dalam rumah dan
hal tersebut malah membuatnya jadi stres. Tujuan Felli adalah café tempat Ricky bekerja, dan ketika ia sampai di café itu, Ricky menyambutnya dan langsung bertanya kenapa beberapa hari belakangan Felli jadi sulit untuk dihubungi.
“Apa yang terjadi padamu?”
“Lebih baik kamu bekerja sekarang, ada kalanya aku akan mengatakan semuanya padamu.”
__ADS_1