Berkah Cinta

Berkah Cinta
Keputusan Sudah Diambil


__ADS_3

Sementara itu Ricky yang tengah bekerja sejak tadi memperhatikan setiap pengunjung yang datang dan ia tidak menemukan Felli di antara banyaknya pengunjung yang datang ini, apakah mungkin karena insiden kemarin maka Felli jadi tidak diizinkan untuk datang ke café ini?


“Ricky.”


“Iya Nona?”


“Saya ingin bicara dengan kamu.”


“Baiklah.”


Maka kemudian Ricky pun masuk ke dalam ruangan kerja Nanda, Ricky penasaran kenapa bosnya ini memanggilnya masuk ke dalam ruangan kerja beliau apalagi saat ini Nanda menatapnya serius.


“Jadi ada apa?”


“Aku dengar semalam terjadi sebuah keributan.”


“Soal itu, iya benar.”


“Apa yang sebenarnya terjadi?”


“Semalam ketika Felli hendak mengantarkanku pulang, suaminya tiba-tiba datang dan melabrak kami.”


“Begitu rupanya, bolehkah kamu jujur padaku.”


“Tentang apa?”


“Sebenarnya kamu dan Felli ini memiliki hubungan apa, sih?”


“Kami tidak memiliki hubungan apa pun, kami hanya berteman saja.”


“Benarkah? Tidak ada yang lebih dari seorang teman?”


“Iya, kenapa memangnya?”


“Sudahlah, kamu boleh kembali bekerja.”


“Baiklah.”


“Tapi tunggu dulu, apakah nanti kamu bisa tolong berikan ini pada Felli? Bilang saja ini dari Nanda dan semoga dia lekas sembuh.”


“Memangnya dia sakit saat ini?”


*****


Felli terkejut ketika Ricky menghubunginya di jam kerja, ia pun segera menjawab telepon dari pemuda itu.


“Halo?”


“Apakah kamu sakit saat ini?”


“Tidak kok, kenapa memangnya?”


“Bos bilang kamu sedang sakit dan aku disuruh mengantarkan sesuatu untukmu.”


“Apa? Aku baik-baik saja, kok.”


“Syukurlah kalau begitu, tapi apakah semalam terjadi sesuatu antara kamu dan suamimu?”


“Sudalah lebih baik jangan bahas dia.”


“Aku minta maaf, namun aku akan pergi ke sana, Bos menyuruhku untuk mengantarkan barang ini padamu.”


“Baiklah, kamu bisa datang, kamu kabari saja kalau sudah di depan.”


“Baiklah.”

__ADS_1


Maka kemudian Felli pun bergegas turun dari tempat tidurnya dan mempersiapkan dirinya agar terlihat baik di depan pemuda itu, entah kenapa dengan Ricky ia ingin terlihat cantik dan menawan padahal dengan suaminya sendiri ia bersikap acuh dan tidak mempedulikan penampilannya.


“Apakah aku kasmaran dengan pemuda itu? Omong kosong, kami baru saja bertemu.”


Maka Felli pun menunggu sampai Ricky datang dan saat Ricky menelpon sudah sampai di depan gerbang, dirinya langsung menghampiri Ricky.


“Hai.”


“Hai, jadi ini rumahmu?”


“Bukan, ini rumah keluarga suamiku, maaf aku tidak bisa mengizinkanmu masuk karena ada mertuaku.”


“Oh tidak masalah, ini dari bos.”


“Terima kasih.”


“Tidak masalah, kalau begitu aku akan kembali bekerja.”


“Ricky tunggu.”


“Ada apa?”


“Bagaimana kalau nanti malam kita makan malam bersama?”


“Apakah kamu akan diizinkan oleh suamimu?”


*****


Olaf merasa heran dengan sikap Juan ini, sejak tadi kalau ia perhatikan Juan nampak senyum-senyum sendiri ketika menatap layar ponselnya, ia jadi berpikir mungkin saja saat ini Juan sedang chatting dengan Stefani.


“Apakah kamu sedang chatting dengan Stefani?”


“Bukan urusanmu.”


“Sudahlah Kak, bisakah kamu tidak perlu mengusik kehidupanku?”


“Aku bukannya mengusik kehidupanmu Juan, namun kamu sudah memiliki Felli, ingat itu.”


“Ngomong-ngomong soal Felli, apakah Kakak sudah tahu kalau dia berselingkuh dengan pemuda yang usianya di bawahnya?”


“Bicara apa kamu ini?”


“Sudah aku duga kalau respon Kakak akan seperti ini.”


“Jangan mengada-ngada Juan.”


“Kak, aku serius, aku memergoki Felli dan berondongnya tadi malam.”


“Sudahlah, aku tidak mau membicarakan hal omong kosong seperti ini, segera selesaikan pekerjaanmu dan jangan hanya chatting saja.”


“Aku tahu itu.”


Olaf pun pergi meninggalkan Juan sendirian, kini Olaf jadi kepikiran soal apa yang Juan katakan barusan, apakah benar Felli berselingkuh juga di belakang Juan?


“Apa yang sebenarnya terjadi pada hubungan mereka? Membuat kepalaku pusing saja.”


Sementara itu Juan terkejut ketika Stefani mengajaknya untuk malam nanti datang ke apartemennya, Stefani bilang bahwa ia ingin mengajak Juan makan malam hanya berdua di apartemennya, tentu saja Juan tidak menolak itu dan segera membalas pesan Stefani tersebut.


*****


Tania mengunjungi Ferdian di penjara, besok adalah sidang pra peradilan pria itu dan besok pula nasib Ferdian akan ditentukan apakah ia dinyatakan bersalah atau tidak oleh hakim. Ferdian nampak begitu kurus dan tidak merawat dirinya dengan baik, Tania agak iba dengan keadaan pria itu namun walau bagaimanapun Ferdian memang layak mendapatkan ini semua karena perbuatannya.


“Tania, lama tidak berjumpa.”


“Kita hanya tidak berjumpa selama 3 pekan.”

__ADS_1


“Aku tahu, namun aku merindukanmu.”


“Sudahlah jangan membual begitu.”


“Apa yang membawamu datang ke sini?”


“Aku hanya ingin memastikan bagaimana keadaanmu saat ini, itu saja.”


“Kamu peduli padaku?”


“Jangan membual kamu!”


“Anak kita ….”


“Iya, dia sudah pergi.”


“Sayang sekali, aku bahkan belum sempat melihatnya lahir ke dunia namun dia sudah pergi.”


“Kamu nampak tidak merawat dirimu dengan baik.”


“Benarkah?”


“Kamu tidak bercukur dan kamu nampak kurusan, sepertinya penjara adalah siksaan batin untukmu.”


“Terima kasih karena kamu telah peduli padaku.”


“Walaupun aku peduli padamu, namun aku tetap ingin kita berpisah dan tidak lama lagi kita akan resm berpisah, ingat itu baik-baik.”


“Aku tahu, semoga hidupmu lebih baik setelah kamu berpisah denganku.”


Akhirnya waktu kunjung di penjara pun sudah habis, Tania segera bergegas pergi dari tempat itu dengan perasaan yang berkecamuk di dalam dirinya.


*****


Juan sudah merapihkan meja kerjanya dan saatnya pulang, ia sudah tidak sabar untuk pergi menemui Stefani saat ini di apartemen wanita itu, ketika ia hendak menunggu lift rupanya ada Olaf di sana dan ia jadi mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam lift yang sama karena pasti Olaf akan menanyainya yang tidak-tidak.


“Kenapa kamu tidak masuk ke dalam lift ini?” tanya Olaf yang menahan pintu lift agar tetap terbuka.


“Tidak, kamu duluan saja.”


“Baiklah.”


Olaf dengan acuh menutup pintu lift dan tidak lama kemudian pintu lift yang lain terbuka dan tanpa membuang waktu lagi, Juan langsung masuk ke dalam lift itu. Ia benar-benar sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Stefani hingga saat pintu lift terbuka, ia terkejut ketika menemukan Olaf di sana.


“Mau ke mana kamu?”


“Kak, kenapa kamu ada di sini?”


“Aku tanya, kamu mau ke mana?”


“Bukan urusanmu.”


“Apakah kamu akan menemui Stefani?”


Namun Juan tidak menjawab pertanyaan Olaf barusan, ia memilih untuk melangkahkan kakinya menuju mobilnya, Olaf masih saja terus bertanya pada Juan hingga mereka sampai ke mobil Juan.


“Kak, bisakah kamu tidak perlu cerewet begini?”


“Juan, kamu sudah menikah!”


“Aku tahu, namun tidak lama lagi aku dan Felli akan berpisah.”


“Apakah kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan barusan?”


“Aku sadar, dan itu memang benar, aku dan Felli akan segera berpisah.”

__ADS_1


__ADS_2