Berkah Cinta

Berkah Cinta
Sorot Lampu Kamera


__ADS_3

Minanti baru saja tiba di rumah dan ia menemukan sosok Ester di sana, ketika Minanti datang, Ester tidak dapat menyembunyikan raut kekesalannya, ia tahu bahwa semua masalah yang terjadi pada hari ini adalah campur tangan wanita ini.


“Aku katakan padamu bahwa rencanamu untuk menghancurkanku tidak akan pernah berhasil!”


“Apa yang saat ini tengah kamu bicarakan?”


“Sudahlah, kamu tidak perlu berpura-pura tidak tahu apa yang saat ini tengah aku maksudkan, aku tahu bahwa kamu adalah dalang di balik kejadian hari ini.”


“Apa maksudmu?”


“Sudahlah! Aku sudah tahu semuanya!”


Karena mendengar keributan Bram mendatangi mereka berdua, pria itu menanyakan apa yang terjadi saat ini, Ester kemudian mengatakan pada Bram bahwa istrinya ini telah mencoba melakukan hal yang buruk padanya.


“Tolong katakan pada istrimu ini untuk berhenti melakukan rencananya, karena pada akhirnya itu semua akan percuma saja.”


“Apa yang sedang anda bicarakan ini? Memangnya istri saya sudah melakukan apa pada anda?”


“Bram, lebih baik kamu tidak perlu mendengarkan apa yang wanita ini katakan.”


“Kenapa? Apakah kamu takut kalau suamimu tahu bahwa kamu mencoba mencuri semua asetku?!”


****


Tidak mudah untuk mengusir Ester dari rumah ini, namun pada akhirnya Minanti berhasil juga mengusir Ester dari rumah ini walaupun ada sedikit drama tadi, setelah wanita itu pergi kini giliran Bram yang menanyakan pada Minanti apa yang sebenarnya tadi Ester katakan.


“Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi.”


Minanti nampak tidak langsung menjawab pertanyaan dari Bram, namun suaminya itu mengatakan bahwa ia harus mengatakan apa yang saat ini tengah direncanakan olehnya.


“Kamu tidak dapat menyembunyikan rencanamu dariku, Minanti.”


Minanti menghela napasnya, akhirnya ia pun menceritakan apa maksud dan tujuannya melakukan semua ini.


“Aku ingin Tania mendapatkan keadilan.”


“Apa maksudmu Tania mendapatkan keadilan?”


“Apakah kamu tidak tahu bahwa wanita itu telah mencuri semua aset milik keluarga Tania?”


“Apa?”


“Wanita itu juga yang telah membunuh kedua orang tua Tania.”


Bram nampak terkejut dengan yang dikatakan oleh Minanti, nampak Minanti begitu kesal saat membayangkan betapa kejamnya Ester yang tega melakukan tindakan mengerikan seperti itu.

__ADS_1


“Apakah kamu dapat membayangkan betapa mengerikannya perbuatan wanita itu? Aku hanya berusaha membantu Tania mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan.”


“Namun Minanti, itu terlalu berbahaya, wanita itu akan melakukan apa pun untuk mempertahankan apa yang sudah ia miliki.”


“Tentu saja dia akan melakukan itu, namun kita akan lihat nanti, siapa yang kelak akan menang.”


****


Tania baru saja menelpon Minanti untuk menanyakan apa saja yang sudah Ester lakukan di rumahnya, setelah Minanti mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan semua aman terkendali kini Tania menjadi lega, ia berharap


bahwa kejadian seperti itu tidak akan pernah terulang lagi. Baru saja Tania meletakan ponselnya, ia mendapatkan telepon dari Ferdian, ia segera menjawab panggilan dari pria itu.


“Halo?”


“Halo Tania.”


“Kenapa kamu menelponku?”


“Apakah salah kalau aku menelponmu?”


“Bukankah saat ini kamu sedang bekerja?”


“Tidak, saat ini aku sedang istirahat, sayangnya kamu tidak bisa menemuiku saat ini.”


“Iya, mungkin lain kali, sebelum kamu benar-benar berpisah dari Jihan, mungkin kita harus agak menjaga jarak dulu.”


“Iya aku tahu, namun sejujurnya aku khawatir pada orang di sekitarku, Jihan dan mamanya dapat melakukan apa pun yang berbahaya.”


“Hei, kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal tersebut, kalau mereka berani melakukan sesuatu yang jahat pada kamu atau orang terdekatmu, maka kamu tinggal katakan saja padaku, aku akan membereskan mereka


untukmu.”


“Apakah kamu yakin dapat membereskan mereka?”


“Tania, apakah kamu baru saja meragukanku?”


“Bukannya begitu, aku hanya bertanya saja.”


****


Jihan melihat mamanya yang baru saja kembali entah dari mana, namun yang jelas saat ini ia melihat kalau Ester dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, ia pasti sudah menduga bahwa sesuatu hal yang buruk pasti telah terjadi pada sang mama.


“Apa kali ini yang terjadi?”


“Wanita itu mengusir Mama.”

__ADS_1


“Apakah yang Mama maksudkan itu adalah Nyonya Minanti?”


“Tentu saja, memangnya siapa lagi, wanita itu terus saja berkelit bahwa dia tidak tahu apa-apa, namun tentu saja aku lebih pintar darinya.”


“Namun dia memiliki kekuasaan untuk melakukan apa yang dia inginkan, apakah Mama melupakan fakta itu?”


“Sayang, kamu tidak perlu khawatir tentang itu, Mama akan dapat mengatasinya dengan baik.”


“Mama selalu saja sesumbar bahwa Mama dapat mengatasinya dengan baik namun pada kenyataannya lihat sendiri, kan?”


“Jihan, kamu ini sebenarnya ada di pihak siapa, sih?”


“Sudahlah Ma, kepalaku pusing sekali saat ini.”


“Apakah kamu sudah menandatangani surat cerai itu?”


“Iya, aku sudah menandatanganinya.”


“Apa?! Jadi kamu menyerah begitu saja?!”


“Mama, sudah aku katakan bahwa aku sudah tidak mau lagi berhubungan dengan apa pun yang menyangkut dengan Ferdian.”


“Lalu kamu akan biarkan Tania mengambil Ferdian darimu?”


“Aku tidak peduli akan hal itu, kalau memang wanita itu mau mengambil Ferdian, maka silakan saja dia ambil, aku tidak butuh pria itu.”


****


Kabar gonjang-ganjing perpisahan Jihan dan Ferdian mulai berhembus di media massa, setiap hari ada saja wartawan yang menanyakan perihal apakah benar berita tersebut, Ferdian hanya tersenyum dan sama sekali


tidak menanggapi pertanyaan para wartawan, sikap yang sama pun ditunjukan oleh Jihan, wanita itu tidak menanggapi pertanyaan wartawan dan lebih memilih untuk menghindari sorot lampu kamera dan juga mikrofon para wartawan yang ingin sekali tahu perihal kebenaran berita perceraian mereka. Ferdian sudah memiliki


janji bertemu dengan Tania siang ini di sebuah restoran, rupanya Tania melihat cuplikan berita tentang Ferdian yang diserbu oleh wartawan yang menanyakan perihal gonjang-ganjing rumah tangganya yang memang akan berakhir dengan Jihan.


“Maaf aku agak terlambat,” ujar pria itu ketika duduk di kursi yang berhadapan dengan Tania.


“Oh, sama sekali tidak masalah kok, apakah kamu tertahan oleh para wartawan?”


“Kurang lebih seperti itu, apakah kamu melihatnya?”


“Iya, aku melihatnya tadi di internet.”


“Sudahlah, kamu tak perlu memikirkan hal itu.”


“Namun bagaimana kalau sampai kita tersorot oleh kamera wartawan? Bukankah citramu dan citraku akan buruk?”

__ADS_1


“Tania, aku tahu kamu khawatir tentang itu, namun aku mohon padamu untuk mempercayakan semua itu padaku, apakah kamu mengerti?”


Tania kemudian menganggukan kepalanya, Ferdian nampak tersenyum, ia kemudian meminta pelayan untuk datang ke meja mereka dan mencatat apa pesanan makan siang mereka.


__ADS_2