Berkah Cinta

Berkah Cinta
Jangan Pandang Sebelah Mata


__ADS_3

Hari ini Ferdian memaksa agar Tania mau ikut dengannya ke suatu tempat, Tania sudah mengatakan bahwa ia harus pergi bekerja saat ini namun pria itu tetap saja memaksanya untuk ikut dengannya. Maka di sinilah mereka berada, di sebuah rumah yang sudah Ferdian siapkan menjadi tempat tinggal mereka, pria itu nampak begitu antusias ketika memperlihatkan setiap detail rumah ini pada Tania.


“Bagaimana menurutmu?”


“Bagus.”


“Jadi kamu tidak keberatan kalau kita akan segera pindah ke sini, bukan?”


“Apa?”


“Tentu saja aku membeli rumah ini untuk ditempati kita.”


“Terserah kamu sajalah.”


Tania malas berdebat dengan Ferdian karena percuma saja kalau ia menolak maka pria itu pasti terus saja mendesaknya untuk mengikuti permintaannya. Ferdian sendiri merasa senang karena kali ini Tania sama sekali tidak menolak permintaannya agar mereka segera dapat pindah ke rumah ini.


“Baguslah kalau begitu, aku akan memerintahkan orang membereskan semua barang-barang kita di apartemen dan mulai malam ini kita akan tinggal di sini.”


Tania tidak menanggapi ucapan Ferdian itu dan bergegas segera pergi karena ia harus menghadiri rapat dengan dewan direksi perusahaan, namun rupanya dari salah satu sudut jalan, seseorang memperhatikan mobil Tania


melaju meninggalkan rumah itu.


“Rupanya kamu pindah ke rumah ini.”


****


Maya mendatangi ruangan kerja Ferdian ketika anaknya itu sudah berada di kantor, Maya memperingatkan pada Ferdian untuk menjaga sikapnya karena pernikahannya dengan Tania sudah membuat buruk citra keluarga


mereka.


“Mama mendatangiku untuk mengatakan hal itu?”


“Apakah menurutmu yang kamu lakukan itu sopan pada awak media? Mereka bisa saja menulis hal yang buruk tentangmu, terbukti bahwa sudah mulai bermunculan artikel miring tentang keluarga kita.”

__ADS_1


“Mama terlalu berlebihan soal itu.”


“Berlebihan? Mama tidak mau perusahaan ini bangkrut karena apa yang kamu lakukan Ferdian!”


“Ma, aku bukan orang bodoh yang tidak tahu apa-apa, aku bisa melakukan apa pun kalau hanya untuk membungkam mereka itu bukanlah perkara yang sulit.”


“Lalu bagaimana kamu meyakinkan pemegang saham yang mulai menjual sahamnya karena perusahaan ini terus membukukan keuangan negatif? Papamu sudah bekerja keras untuk mempertahankan perusahaan ini tetap berjalan jadi Mama harap jangan buat masalah lagi, cukup sampai di sini atau Mama tidak akan segan mendepakmu dari keluarga kita.”


“Jadi Mama sedang mengancamku begitu?”


“Iya, ikuti perintahku Ferdian!”


“Aku sudah mengikuti perintah Mama untuk menikah dengan wanita yang tidak aku cintai dan kali ini aku tidak akan menuruti apa yang Mama perintahkan, aku akan memperjuangkan cintaku pada Tania, jadi kalau Mama ingin aku berpisah dengan Tania maka lebih baik Mama lupakan saja hal itu karena sampai mati pun aku tidak akan pernah bercerai dengan Tania.”


****


Rupanya pernikahan Tania dengan Ferdian berdampak kurang baik pada perusahaan yang ia pimpin saat ini, terbukti adanya pergerakan negatif saham mereka di bursa saham pada hari ini akibat ulah Ferdian yang


melontarkan kalimat tidak pantas saat melakukan wawancara dengan wartawan karena wartawan itu menanyakan perihal perselingkuhan Ferdian dan Tania ketika pria itu masih berstatus sebagai suami Jihan. Untuk saat ini Tania masih bisa mengendalikan itu semua, dan juga meyakinkan dewan direksi untuk tidak menarik dukungan mereka padanya namun kalau Ferdian membuat ulah lagi maka bukan tidak mungkin perusahaan yang sudah susah payah Tania dapatkan ini akan karam dan tentu saja ia tidak akan mau hal tersebut terjadi.


Ponsel yang Tania taruh di atas meja kerjanya berdering, ia melihat sekilas ke arah layar ponselnya untuk mengetahui siapa orang yang menelponnya saat ini, tertera sebuah nomor asing di sana, awalnya Tania ragu untuk menjawab nomor itu namun karena rasa penasaran yang tinggi maka ia pun menjawab telepon tersebut.


“Halo? Siapa ini?”


****


Tania sudah berada di sebuah restoran untuk bertemu dengan seseorang yang tidak lain adalah Maya, wanita itu tadi mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan Tania dan oleh sebab itu Maya memintanya datang ke restoran ini.


“Ada masalah apa sampai anda memanggilku ke sini?”


“Sombong sekali kamu, mentang-mentang kamu sudah menjadi Direktur Utama dan menikah dengan anakku.”


“Aku tidak memiliki waktu untuk menanggapi penghinaan dan omong kosong.”

__ADS_1


“Apa sebenarnya yang kamu incar dari anakku?”


“Aku tidak mengerti apa yang anda bicarakan.”


“Jangan pura-pura tidak tahu Tania, kamu pasti menginginkan perusahaan keluarga kami, bukan?”


“Sepertinya anda terlalu berpikir yang tidak-tidak, aku sama sekali tidak tertarik mengambil perusahaan kalian, bahkan tidak ada dalam pikirkanku untuk menggabungkan kedua perusahaan.”


“Kamu pikir aku akan percaya dengan yang kamu katakan?”


“Terserah, saya tidak memiliki waktu untuk pembicaraan omong kosong seperti ini, saya masih memiliki banyak urusan penting yang harus diselesaikan.”


Tania pun pergi meninggalkan Maya yang nampak tak percaya dengan apa yang Tania lakukan padanya barusan.


“Astaga, sombong sekali dia, mentang-mentang sudah memiliki jabatan dia pikir dapat seenaknya saja melakukan hal ini padaku? Kamu tunggu dan lihat saja Tania, kamu salah kalau mau bermain-main denganku!” seru


Maya dengan kesal namun Tania sama sekali tidak mempedulikan itu dan terus saja melangkahkan kakinya keluar dari restoran.


****


Olaf tengah berdiskusi dengan tim khusus yang ia bentuk untuk mengkaji proyek strategis yang dapat mereka garap untuk menaikkan profit perusahaan, Olaf memberikan usul bahwa perusahaan mereka bisa mengikuti


lelang yang dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah untuk program infrastruktur seperti pembuatan jalan, jembatan, perumahan hingga pusat bisnis dan rumah sakit. Selama ini perusahaan mereka belum pernah memenangkan lelang untuk proyek-proyek besar dengan nilai fantastis seperti itu namun kali ini Olaf yakin bahwa perusahaan mereka pasti akan memenangkan lelang tersebut.


“Namun apakah anda yakin dengan semua ini Tuan?”


“Tentu saja, kita sudah bisa mengembangkan bisnis ke berbagai pelosok pulau ini dan beberapa pulau lain, dengan kita menjadi rekan pemerintah maka nilai jual perusahaan akan naik secara signifikan.”


“Namun Tuan, tentu saja kalau kita menggunakan cara jujur kita pasti akan kalah lelang.”


Olaf nampak tersenyum pada salah satu anggota timnya yang mengutarakan pendapat barusan, Olaf mengatakan bahwa ia sudah memiliki strategi agar mereka bisa memenangkan lelang proyek strategis dengan nilai fantastis tersebut.


“Kalian tidak perlu khawatir, aku tahu apa yang harus aku lakukan dalam situasi seperti ini.”

__ADS_1


“Namun kalau Tuan menggunakan cara seperti itu bukankah risiko ditangkap oleh Kejaksaan akibat tindakan tersebut akan mencoreng citra perusahaan?”


“Sepertinya anda terlalu memandangku sebelah mata, aku yakin bahwa mereka tidak akan berani menyentuh perusahaan ini.”


__ADS_2