
Ferdian kembali mengunjungi Tania di apartemennya dan kali ini Ferdian membawa kabar gembira bahwa mereka berdua akan segera melangsungkan pernikahan, Tania nampak sama sekali tidak gembira saat mendengar kabar yang dibawa oleh Ferdian itu hingga membuat pria itu mengerutkan keningnya.
“Tania, apakah kamu baik-baik saja?”
“Iya, aku baik-baik saja.”
“Namun kenapa kamu sepertinya tidak menyukai apa yang aku katakan barusan?”
“Apa yang tengah kamu bicarakan itu? Aku tentu saja menyukainya.”
Ferdian tersenyum pada Tania, pria itu berjalan menghampiri Tania dan membisikan sesuatu di telinga Tania.
“Aku sudah pernah mengatakan bahwa kamu tidak akan dapat melarikan diri dariku, aku menepati janjiku padamu, bukan?”
Tana bergidik ngeri saat mendengar ucapan Ferdian barusan, sementara pria itu tersenyum pada Tania, sebuah senyum yang menurut Tania begitu mengerikan. Ferdian kemudian mengajak Tania untuk makan diluar namun
wanita itu menolaknya, ia mengatakan bahwa saat ini dia tidak ingin pergi ke mana-mana.
“Baiklah kalau memang saat ini kamu tidak ingin kita makan di luar, maka lebih baik kita memesan makanan lewat ojek online saja, ya?”
****
Olaf masih memikirkan apa yang Minanti katakan padanya tadi, apakah benar kalau saat ini Tania positif mengandung anaknya Ferdian? Semakin Olaf memikirkan akan hal tersebut, semakin dibuat penasaran dirinya oleh kenyataannya, ia ingin mencari tahu secara langsung seperti apa sebenarnya kebenarannya. Olaf kemudian memutuskan untuk pergi menemui Tania di apartemennya, Olaf melajukan kendaraannya menuju apartemen di mana Tania tinggal dan saat ini pria itu sudah berdiri di depan lift, ia nampak ragu apakah ia harus menghubungi Tania terlebih dahulu atau tidak.
“Apa yang harus aku lakukan?”
Olaf nampak ragu awalnya sambil menatap layar ponselnya namun pada akhirnya, ia pun memberanikan diri untuk menelpon Tania, beberapa saat tidak ada jawaban dari Tania hingga akhirnya sambungan teleponnya pun tersambung.
“Halo?”
“Halo Tania.”
“Kenapa kamu menelponku?”
“Aku ada di bawah, aku ingin bertemu denganmu.”
“Apa?”
“Iya, aku ada di lobi, aku ingin bertemu denganmu, apakah aku harus naik ke atas?”
“Tunggu sebentar, aku akan turun.”
TUT
__ADS_1
Olaf menghela napasnya berat, ia kemudian menunggu Tania menemuinya di tempat ini, tidak lama kemudian pintu lift terbuka dan menampakan sosok Tania di sana, Olaf segera berjalan menghampiri Tania yang sedang mencari keberadaannya.
“Tania.”
“Ada apa? Kenapa kamu datang ke sini?”
****
Olaf mengajak Tania pergi ke taman yang ada di depan apartemen agar mereka dapat berbicara, saat ini mereka sudah duduk bersisian di kursi taman, tidak ada pembicaraan yang terjadi selama beberapa menit hingga
akhirnya Tania pun bertanya pada Olaf mengenai apa maksud dan tujuan pria itu datang menemuinya di apartemen ini.
“Olaf, apa yang membawamu datang ke sini?”
“Apa? Oh… ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu.”
“Apa? Apa yang ingin kamu tanyakan padaku?”
Olaf menatap Tania dengan lekat, ia nampak ragu apakah ia harus menanyakan hal ini pada Tania? Apakah Tania akan suka dengan pertanyaan yang akan ia ajukan ini? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang berputar
di dalam benak Olaf saat ini.
“Olaf, kenapa kamu hanya diam saja?”
“Apa?”
“Tania… sebelumnya aku ingin minta maaf padamu.”
“Kenapa kamu meminta maaf padaku?”
“Karena mungkin saja pertanyaanku ini membuatmu menjadi tidak nyaman.”
“Apa itu?”
“Apakah kamu hamil?”
Tania tidak menjawab pertanyaan yang Olaf ajukan barusan, ia nampak terkejut karena bagaimana mungkin Olaf bisa mengetahui mengenai hal ini?
“Aku minta maaf kalau pertanyaanku-“
“Iya, aku memang hamil.”
“Apa?”
__ADS_1
“Apakah kamu tidak mendengar jawabanku?”
“Tania ….”
“Aku mengandung anaknya Ferdian dan pria itu tidak lama lagi akan menikahiku.”
****
Sementara itu di tempat yang lain nampak Ester memperhatikan Galang yang tengah menunggu order makanan dari salah satu pelanggan di sebuah café, Ester terus memperhatikan pria itu dari dalam mobilnya hingga akhirnya rencananya akan berhasil, ia akan membuat pria itu lenyap dari muka bumi selama-lamanya. Galang sudah selesai mengambil pesanan pelanggan dan ia hendak pergi menuju sepeda motornya yang terparkir di seberang
jalan karena memang parkiran di café ini sudah penuh, Galang memastikan terlebih dahulu apakah jalan di depan café ini aman untuk dilintasi atau tidak, setelah memastikan bahwa jalanan ini aman, ia pun menyebrang jalan ini. Saat ia menyebrang itulah sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju kencang ke arahnya, Galang nampak terkejut dan berusaha menghindar dan rupanya ia pun selamat dari maut karena hanya terserempet saja hingga membuatnya jatuh ke aspal.
“Kurang ajar!” geram Ester saat melihat Galang merintih di pinggir jalan karena terserempet mobilnya tadi.
Ester kemudian melajukan mobilnya menjauh dari lokasi TKP, ia tidak ingin nantinya kalau berlama-lama di sana, malah akan membahayakan dirinya. Saat ini Ester sudah menepikan mobilnya di sebuah jalan yang sepi.
“Kenapa dia tidak mati?!” geram Ester.
Ester kemudian meraih ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang, setelah sambungan telepon tersambung, ia pun segera memerintahkan sesuatu.
****
Olaf rupanya masih berada di taman apartemen seraya memikirkan apa yang tadi Tania katakan bahwa memang ia sedang mengandung anaknya Ferdian, rasanya Olaf ingin menolak semua kenyataan ini, namun setiap kali ia berusaha menolaknya, bayang-bayang ucapan Tania yang mengatakan bahwa saat ini ia tengah mengandung kembali muncul dalam pikirannya.
“Aku butuh istirahat saat ini.”
Saat Olaf hendak kembali ke mobilnya, ia berpapasan dengan Ferdian yang baru saja selesai mengunjungi Tania, pria itu nampak sama sekali tidak terkejut ketika melihat Olaf ada di sekitaran apartemen Tania, Ferdian malah menyapa sambil tersenyum pada Olaf.
“Hai, apa yang kamu lakukan di sekitaran sini?”
Olaf sama sekali tidak menggubris pertanyaan yang diajukan oleh Ferdian barusan, ia malah melangkahkan kakinya menuju mobilnya namun Ferdian mengikuti langkah kakinya sambil terus bertanya.
“Apakah kamu datang ke sini untuk bertemu dengan Tania?”
Olaf masih saja tdak menggubris pertanyaan yang diajukan oleh Ferdian, namun ada sebuah pertanyaan yang membuat langkah kakinya terhenti saat ini.
“Apakah kamu sudah tahu bahwa Tania saat ini sedang hamil?”
Olaf mengepalkan kedua tangannya geram dan berbalik badan menatap Ferdian, ada kilatan kemarahan di kedua matanya namun Ferdian sama sekali tidak takut, ia bahkan terus memanas-manasi Olaf bahwa dirinya sebentar lagi akan menikah dengan Tania dan menjadi seorang ayah.
“Kamu pria kurang ajar, Tania tidak seharusnya menikah dengan pria sepertimu!”
“Namun pada kenyataannya kamu lihat sendiri, kan? Tania akan menikah denganku.”
__ADS_1