Berkah Cinta

Berkah Cinta
Berani Melawan


__ADS_3

Walau tidak mengatakan apa pun pada Ferdian, namun Jihan cukup puas dapat tertawa bersama dengan pria ini, seperti dugaannya bahwa Ferdian pasti bisa membuat perasaannya kembali membaik setelah sebelumnya


perasaannya benar-benar buruk sekali.


“Terima kasih karena kamu sudah membuat hatiku lebih baik.”


“Apakah aku tidak salah dengar?”


“Apa maksudmu?”


“Kamu bilang terima kasih padaku?”


“Kenapa memangnya? Apakah terima kasih adalah kata yang terlarang?”


‘Tidak, hanya saja... aku tidak menyangka kalau kamu tahu mengucapkan kata terima kasih pada orang lain.”


“Kamu ini benar-benar, ya.”


Mereka berdua nampak tertawa bersama lagi untuk beberapa saat hingga akhirnya, Ferdian mengatakan sesuatu pada Jihan yang membuat tawanya berhenti seketika.


“Jihan, apakah kamu siap untuk hari pertunangan kita?”


“Apa?”


“Kamu tidak lupa bahwa kita sudah setuju untuk bertunangan di depan orang tua kita masing-masing bukan?”


“Kamu benar, aku sampai lupa soal itu.”


“Jadi bagaimana? Kamu siap bertukar cincin denganku?”


“Sejujurnya aku tidak siap, namun mau bagaimana lagi kan?”


“Tenang saja, walau kita sudah menikah pun, aku tidak akan melarangmu untuk menemui Olaf, seperti kesepakatan kita di awal.”


“Apakah menurutmu pria itu akan dapat melirikku?”


“Kalau kamu tidak mencobanya maka kamu tidak akan tahu jawabannya.”


****


Handi mengalami masa-masa sulit saat ini, posisinya sebagai Komisaris sekaligus Direktur Utama perusahaan terancam karena para dewan direksi dan pemegang saham mayoritas tidak puas dengan kinerja Handi yang


dinilai membebankan perusahaan pada wakilnya, kini sang wakil Direktur Utama memiliki peluang menggantikan posisi Handi saat ini, Handi sudah memberitahu dewan direksi dan pemegang saham namun mereka semua seperti menolak apa yang Handi paparkan, bahkan mereka sudah berencana mengadakan pemungutan suara untuk


memilih siapa yang layak memimpin perusahaan ini setelah Handi dipecat dari posisinya.


“Bagaimana rasanya dipecat dari posisimu?”

__ADS_1


Handi yang sebelumnya tertunduk lesu kini mengadahkan kepalanya menatap sosok yang bertanya padanya ini, siapa lagi kalau bukan Ester, wanita licik itu nampak tersenyum pada Handi saat ini.


“Apakah kamu dalang di balik semua ini?”


“Kenapa kamu bertanya begitu?”


“Sudah aku duga kalau kamu pasti dalangnya, kamu ingin menguasai perusahaan dan mendepakku dari posisi ini untuk memuluskan ambisimu.”


“Iya, kamu benar, aku ingin merebut semua yang dimiliki oleh keluarga Pratama dan sepertinya kali ini sudah saatnya yang tepat untukku mengambil alih bisnis keluarga ini.”


“Kamu benar-benar iblis Ester.”


“Sebutlah aku sesuka hatimu Handi, karena aku tidak peduli akan hal tersebut, ngomong-ngomong dengan kamu yang tidak memiliki posisi apa pun di perusahaan maka kamu tidak akan memiliki kekuatan seperti dulu lagi, kali ini aku yang akan memegang kendali permainan ini secara langsung.


****


Olaf terkejut ketika mendengar bahwa perusahaan Handi mengalami gejolak dan Handi sudah dipecat dari posisinya dan saat ini perusahaan tengah mengadakan pembahasan mengenai siapa orang yang akan mereka


tunjuk memimpin perusahaan itu.


“Apakah kamu sudah dengar apa yang terjadi di Pratama Group?”


“Iya, aku sudah dengar.”


“Ini agak berbahaya untuk reputasi bisnis kita ke depan kalau kita memaksakan diri terus bekerja sama dengan perusahaan mereka, saham Pratama Group juga langsung terjun bebas akibat pergolakan ini.”


“Namun kalau sebaliknya?”


“Maka kita akan menarik diri dari perjanjian itu dan membebankan biaya pembangunan proyek kita pada mereka.”


“Baiklah aku mengerti.”


Juan yang hendak keluar dari ruangan kerja Olaf mengurungkan niatnya ketika ia baru teringat akan suatu hal yang ingin ia katakan pada kakaknya ini.


“Apakah kamu tahu kalau mama dan istriku ada di rumah sakit menemani Tania?”


“Apa? Mama pergi ke rumah sakit?”


“Aku pikir kamu sudah tahu soal itu.”


****


Olaf datang ke rumah sakit setelah ia pulang bekerja untuk melihat apakah benar mamanya ada di sana, namun ketika ia tiba di sana sepertinya mamanya sudah pulang dan hanya ada Handi saja yang tengah menunggui


Tania di kursi di samping kanan ranjang gadis itu, perlahan Olaf membuka pintu ruangan inap itu dan Handi segera melihat ke arahnya, Olaf tersenyum pada Handi sebelum pria itu melangkahkan kakinya menghampiri Handi saat ini.


“Apakah sudah ada tanda-tanda baik darinya?”

__ADS_1


“Sampai saat ini belum ada tanda-tanda kalau Tania akan siuman.”


“Begitu rupanya, hum aku pikir ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengatakannya namun soal kerja sama yang sudah terlanjur kita tanda tangan, aku belum akan membatalkannya, kami masih menunggu sampai perusahaan kalian menunjuk siapa pengganti Tuan.”


“Baiklah, aku mengerti.”


Setelah itu tidak ada perbincangan yang terjadi di antara mereka, Olaf pun pamit undur diri dari sana, ketika Olaf hendak pergi dari ruangan itu, ia melihat sepertinya jari-jari Tania bergerak dan Olaf segera memberitahu Handi mengenai apa yang ia lihat saat ini.


“Tuan sepertinya jari-jari Tania bergerak.”


“Benarkah?”


Handi pun melihat seperti yang Olaf lihat, mereka langsung memanggil dokter untuk memeriksa bagaimana keadaan Tania, ketika menunggu dokter tiba di ruangan ini, perlahan namun pasti kedua mata Tania mulai terbuka.


“Tania, apakah kamu mengenaliku, Nak?”


*****


Ester menuju kamar Jihan untuk membicarakan perihal pertunangan antara Jihan dengan Ferdian, namun ketika Ester membahas perihal pertunangan itu sepertinya Jihan sangat malas untuk membahas hal tersebut, Ester mengatakan bahwa Jihan tidak dapat menolak soal pertunangan ini.


“Kamu sudah tahu bahwa pertunangan ini tidak akan dapat dibatalkan bukan?”


“Aku tahu.”


“Dan juga kalau Mama lihat hubunganmu dengan Ferdian sangat baik belakangan ini, Mama yakin kalau kalian akan menjadi pasangan yang serasi.”


“Dan pastinya bahagia, aku tidak ingin pernikahanku akan bernasib sama seperti pernikahan Mama dan Papa.”


“Nak, kenapa kamu jadi mengungkit soal pernikahan Mama dan Papa?”


“Kenapa memangnya? Apakah ada yang salah dengan ucapanku? Aku hanya mengungkapkan keinginanku agar pernikahanku menjadi pernikahan yang bahagia dan bisa terus bertahan hingga akhir kami berdua menutup mata.”


“Sudahlah, pokoknya Mama mendoakan semuanya bisa berjalan baik.”


“Apakah Mama dan Papa akan bercerai?”


“Kenapa kamu nenanyakan hal itu?”


“Mama sebentar lagi akan mendapatkan apa yang Mama inginkan bukan?”


“Mama tidak akan menjawab pertanyaanmu itu.”


“Kalau Mama sudah mendapatkan apa yang Mama inginkan, maka tidak seharusnya Mama ingin tetap akan membunuh Papa.”


“Jihan ....”


“Aku serius, aku tidak akan membiarkan Mama membunuh Papa, ingat itu baik-baik,” ujar Jihan dengan tatapan tajamnya yang tidak pernah Ester lihat sebelumnya.

__ADS_1


“Nak, Mama pergi dulu, ya,” ujar Ester yang kemudian pergi dari kamar Jihan dengan segera.


__ADS_2