Berkah Cinta

Berkah Cinta
Cerita Masa Lalu


__ADS_3

Minanti merubah mimik wajahnya dan ia tersenyum pada mereka berdua, ia mengatakan bahwa ia mendukung kalau mereka berdua hendak melanjutkan hubungan ke arah yang lebih serius, Olaf dan Tania pun nampak


begitu bahagia sekaligus lega karena rupanya Minanti sama sekali tidak menentang hubungan mereka.


“Terima kasih, Ma.”


“Sama-sama sayang.”


Tania pun juga ikut berterima kasih pada Minanti yang mengizinkan hubungan mereka terus berlanjut, namun untuk saat ini Minanti mengatakan bahwa Tania harus fokus pada proses perceraian yang sedang ia jalani.


“Setelah kamu resmi bercerai, barulah kita akan membahas masalah yang lainnya.”


“Iya Nyonya, saya mengerti.”


Olaf dan Minanti sampai malam di apartemen Tania hingga akhirnya mereka berdua berpamitan pulang.


“Terima kasih karena kalian sudah mau mengantarkanku sampai ke apartemen ini.”


“Tidak masalah sayang, kalau sesuatu hal yang buruk terjadi padamu, kamu bisa hubungi kami.”


“Tentu saja Nyonya.”


“Kami pamit dulu.”


“Hati-hati di jalan.”


Minanti dan Olaf pun pergi dari apartemen Tania sementara wanita itu mengantarkan mereka sampai ke depan lift.


****


Minanti baru saja masuk ke dalam kamarnya dan menemukan Bram sedang duduk di tepi tempat tidur menatap layar ponselnya, Minanti sama sekali tidak menyapa suaminya dan ia hendak masuk ke dalam kamar


mandi.


“Kamu baru pulang?”


“Begitulah.”


“Kenapa sampai malam begini?”


“Aku harus memastikan kalau Tania baik-baik saja, dia itu tinggal sendirian di apartemen itu, aku khawatir kalau sesuatu hal yang buruk menimpanya.”


“Begitu rupanya.”


Saat Minanti hendak masuk ke dalam kamar mandi, lagi-lagi Bram menahan langkah kakinya dan mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin ia katakan pada istrinya itu.


“Ada apa lagi? Cepat katakan karena aku mau mandi.”


“Apakah tidak ada yang ingin kamu katakan padaku?”


“Apa maksudmu?”


“Mau sampai kapan kamu menyembunyikan semua ini?”


“Kamu ini sedang membicarakan apa, sih?”

__ADS_1


“Aku bicara soal hubunganmu dan Bima.”


“Bukankah sudah pernah aku katakan bahwa kami hanya


sebatas teman saja?”


“Iya, kalian memang teman namun kamu tidak jujur padaku kalau kamu menyukai Bima.”


“Aku tidak menyukainya!”


“Sampai kapan kamu mau berkelit Minanti? Aku sudah tahu semua masa lalu yang sengaja tidak kamu ceritakan padaku.”


Raut wajah Minanti nampak gelisah saat ini, ia tak menyangka bahwa akhirnya Bram akan mengetahui masa lalunya dengan Bima dan kini Bram tengah menanti kejujuran darinya.


“Katakan padaku yang sebenarnya.”


*****


Tania tidak bisa memejamkan matanya semalaman, ia sudah berusaha untuk mengubah posisi tidur namun hal tersebut tidak berhasil, ia tetap saja terjaga sampai pagi ini. Ia masih tidak dapat pergi ke kantor dan meminta sekretarisnya mengurus semua jadwalnya yang tertunda akibat kecelakaan itu, saat Tania sedang menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri, suara bel di pintu apartemennya membuat dirinya bergegas melihat siapa orang yang datang pagi-pagi seperti ini dan rupanya orang yang datang pagi ini adalah Minanti.


“Nyonya, kenapa pagi-pagi sudah datang?”


“Tidak apa, kamu sudah bangun rupanya, aku pikir kamu belum bangun.”


“Aku sudah bangun sejak tadi, silakan masuk.”


Minanti sama sekali tidak mengatakan apa maksud dan tujuannya datang ke apartemen Tania, namun ia membawakan Tania sarapan dari rumah dan menyiapkannya di meja makan.


“Ini banyak sekali.”


“Kamu harus makan yang banyak agar dapat kembali pulih, ayo makan.”


Mereka makan dalam diam namun Tania merasa kalau saat ini ada sesuatu yang sedang Minanti tutupi darinya namun ia merasa sungkan kalau langsung bertanya pada wanita tersebut.


“Tania ….”


“Iya Nyonya?”


“Aku ingin meminta maaf padamu.”


“Kenapa Nyonya harus meminta maaf padaku?”


“Aku ….”


“Iya, ada apa?”


“Lupakan saja, ayo kita lanjutkan makannya.”


****


Juan sudah siap dengan pakaian kerjanya dan ia pun turun ke bawah untuk sarapan, namun ketika sampai di meja makan ia tidak menemukan sosok Minanti di sana.


“Mama di mana?”


“Dia pergi tadi pagi,” jawab Bram.

__ADS_1


“Pergi? Mama pergi ke mana pagi-pagi begini?” tanya Juan heran.


“Dia tidak bilang mau pergi ke mana.”


Sementara Olaf memilih bungkam dan sama sekali tidak berkomentar dengan apa yang dikatakan oleh papanya barusan pun dengan Felli yang juga memilih diam dan menikmati sarapan pagi mereka. Setelah sarapan Olaf


dan Juan pun berpamitan untuk berangkat kerja pada Bram dan Felli, setelah mereka berdua keluar rumah, Juan bertanya pada Olaf perihal tidak adanya Minanti pagi ini.


“Apakah Mama pergi ke apartemen Tania pagi ini?”


“Iya dia pergi ke sana.”


“Kenapa kamu tidak mengatakan hal itu di meja makan tadi?”


“Sudahlah Juan, lebih baik kita jangan bahas hal itu.”


Olaf masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Juan yang masih terdiam di tempatnya, ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi saat ini, namun ketika ia hendak masuk ke dalam mobilnya, ia melihat Felli juga sudah rapih dan sepertinya ia hendak pergi ke suatu tempat saat ini.


“Mau pergi ke mana kamu?”


“Kamu tidak perlu tahu aku pergi ke mana.”


“Sejujurnya aku jadi curiga padamu, jangan-jangan kamu menemui seorang pria di luar sana, ya?”


*****


Saat Minanti sedang pergi ke supermarket yang ada di lantai dasar apartemen, ponsel Tania berdering dan yang membuat wanita itu terkejut adalah nama yang tertera di layar ponselnya, Bram menelponnya saat ini. Tentu saja Tania bingung kenapa Bram sampai menelponnya saat ini? Namun pada akhirnya Tana pun menjawab telepon dari Bram ini.


“Halo Tuan.”


“Tania, kamu ada di mana sekarang?”


“Saya ada di apartemen.”


“Baguslah, aku sudah ada di lobi dan akan datang ke sana.”


“Apa?”


“Kenapa? Kamu tidak suka kalau aku datang?”


“Tidak bukan begitu, kalau begitu saya tunggu di apartemen saya.”


TUT


Tania menunggu kedatangan Bram di apartemennya dengan penuh tanda tanya, sebenarnya apa maksud dan tujuan Bram mendatangi apartemennya saat ini, tidak lama kemudian terdengar suara bel dari pintu apartemennya, ia bergegas melihat siapa orang yang datang dan ternyata orang yang datang saat ini adalah Bram dan Tania mempersilakan beliau masuk ke dalam.


“Silakan masuk, Tuan.”


“Terima kasih.”


Bram pun masuk ke dalam apartemen Tania dan duduk di sofa, Tania menanyakan apakah Bram ingin minum sesuatu namun Bram mengatakan bahwa ia tidak haus dan ia ingin berbicara dengan Tania saat ini.


“Ada apa Tuan?”


“Baiklah, aku tidak akan basa-basi, aku akan langsung masuk saja pada intinya, apakah kamu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di antara mendiang papamu dan istriku?”

__ADS_1


“Bukankah mereka sahabat?”


“Maafkan aku Tania kalau aku harus mengatakan ini padamu.”


__ADS_2