Berkah Cinta

Berkah Cinta
Ancaman Sang Wanita


__ADS_3

Stefani berusaha membujuk agar Olaf mau mengantarkannya pulang, namun pria itu nampak berkeras tidak mau


mengantarkannya pulang dengan mengatakan kalau dia harus pergi ke suatu tempat. Olaf pun pergi meninggalkan Stefani begitu saja dan hal tersebut membuat Stefani kesal, ia bersumpah akan mengetahui ke mana perginya Olaf saat ini. Stefani mengikuti ke mana perginya Olaf dan saat ini rupanya pria itu menuju sebuah apartemen yang tidak diketahui oleh Stefani kenapa Olaf pergi ke apartemen ini.


“Apartemen siapa ini? Kenapa dia pergi ke sini?”


Stefani memarkirkan mobilnya di lantai basement dan mengamati Olaf yang masuk ke dalam lift, Stefani nampak penasaran siapa gerangan yang hendak Olaf temui di apartemen ini.


“Ternyata harus memiliki kartu akses?” ujar Stefani saat melihat bahwa ia tidak dapat mengakses lift karena tidak memiliki kartu akses, pun juga Stefani tidak tahu Olaf pergi ke lantai berapa.


“Pokoknya aku harus tahu alasan dia pergi ke tempat ini,” tekad Stefani yang kemudian ia kembali ke mobilnya, ia pun mencoba menelpon seseorang saat ini dan tidak lama kemudian akhirnya sambungan teleponnya pun terhubung.


“Halo Tante ini aku.”


****


Olaf sudah berdiri di depan pintu apartemen Tania, ia menekan bel pintu dan menunggu sampai Tania membukakan pintu untuknya, Olaf merasa heran kenapa Tania lama sekali membukakan pintu untuknya. Olaf kemudian


merogoh saku celananya dan untuk meraih ponsel dan menelpon Tania, namun belum sempat ia menelpon Tania, pintu sudah terbuka dan menampakan seseorang yang bukan Tania di sana.


“Kenapa kamu datang ke sini?”


“Aku ingin bertemu dengan Tania.”


“Kamu sepertinya sudah tidak memiliki urat malu, ya? Bagaimana bisa kamu datang ke sini dan dengan mudahnya mengatakan ingin bertemu dengan wanita yang tidak lain adalah calon istriku?”


“Memangnya salah? Ferdian, apakah Tania sudah pernah mengatakannya padamu bahwa-“


“Bahwa dia tidak mencintaiku begitu? Kamu ingin mengatakan itu padaku?”


Ferdian nampak menyunggingkan seringainya pada Olaf, ia menutup pintu apartemen Tania dan mendorong tubuh Olaf hingga punggung pria itu menabrak dinding, Ferdian nampak mencengkram kerah kemeja Olaf dan menatap


tajam pria tersebut.


“Kamu pikir dengan hal tersebut, aku akan membatalkan rencana pernikahanku dengan Tania? Kamu salah besar Olaf, aku tetap akan menikah dengan Tania!”

__ADS_1


Olaf tidak tinggal diam, kini keadaan berbalik di mana Olaf yang mencengkram kerah kemeja Ferdian dan pria itu mendorong tubuh Ferdian sampai punggung Ferdian menabrak dinding.


“Kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri, kamu sudah tahu kalau Tania tidak mencintaimu namun kamu memaksa ingin tetap menikah dengannya? Kamu menyedihkan Ferdian.”


****


Tania tidak lama kemudian keluar dari apartemennya dan menemukan kedua pria itu sedang saling menyerang satu sama lain, Tania tentu saja panik dan berusaha melerai keduanya.


“Apa yang kalian berdua lakukan?”


“Menyingkir Tania, pria ini sudah kurang ajar! Bagaimana bisa dia mengakui kalau dia jatuh cinta pada wanita yang akan menikah dengan orang lain?”


“Kamu harusnya sadar diri Ferdian, Tania sama sekali tidak mencintaimu, dia hanya mencintaiku.”


“Berani sekali kamu mengatakan ini padaku!”


“Cukup!”


Tania akhirnya harus bertindak tegas saat ini, ia tidak ingin Ferdian dan Olaf sama-sama saling melukai satu sama lain apalagi nanti sesuatu hal yang buruk mungkin saja akan terjadi, Tania meminta agar Olaf pulang saja dan tidak membuat masalah saat ini.


“Olaf, lebih baik kamu pulang saja.”


“Tani a….”


“Aku mohon.”


Olaf menghembuskan napasnya kasar, ia pun melangkahkan kakinya menuju lift sementara itu Ferdian membawa Tania kembali masuk ke dalam apartemen, di dalam lift nampak Olaf menatap pantulan dirinya pada pintu lift.


Ia merasa kesal karena Ferdian ada di sana dan ia gagal bertemu dengan Tania, rencana yang sudah ia susun di kepalanya seketika buyar karena rencananya tidak sesuai dengan harapan.


****


Stefani masih bertahan di lantai basement apartemen, ia menunggu sampai Olaf kembali ke tempat ini, sudah hampir satu jam berlalu dan Olaf belum juga terlihat, Stefani sudah mau pulang namun ia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa saat ini ia harus bertahan dan menunggu sampai pria itu kembali. Tidak lama kemudian akhirnya ia melihat Olaf keluar dari dalam lift dan berjalan menuju mobilnya, tanpa membuang waktu, Stefani turun dari mobilnya dan berlari menghampiri Olaf, ia memeluk tubuh pria itu dari belakang hingga membuat Olaf terkejut.


“Kenapa kamu ada di sini? Siapa sebenarnya yang kamu temui?”

__ADS_1


Olaf mengenali suara itu, ia pun melepaskan pelukan Stefani dan berbalik badan, ia sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Stefani dan lebih memilih untuk segera masuk ke dalam mobilnya, namun tentu saja Stefani menahan lengannya agar Olaf tidak masuk ke mobil terlebih dahulu.


“Kamu bahkan belum menjawab pertanyaanku, Olaf.”


“Stefani, bisakah kamu tidak perlu menggangguku sekali saja? Suasana hatiku sedang buruk saat ini, jadi lebih baik jangan ganggu aku!”


“Apakah ini semua karena wanita itu?”


“Siapa yang kamu maksudkan?”


“Siapa? Tentu saja Tania, ini semua pasti karena wanita itu, bukan?!”


****


Tania semalaman tidak dapat memejamkan matanya, ia teringat bagaimana semalam Olaf dan Ferdian berkelahi karena dirinya, sejak tadi dirinya menahan diri untuk tidak menghubungi Olaf karena masih ada Ferdian di apartemennya. Pagi ini Ferdian masuk ke dalam kamar Tania dengan membawakan sarapan untuknya, Ferdian menaruh sarapan itu di nakas dekat tempat tidur kemudian duduk di tepian ranjang menatap Tania yang sedang berbaring memunggunginya.


“Tania, aku bawakan kamu sarapan.”


“Tinggalkan saja di sana, nanti aku akan makan.”


“Ayolah jangan seperti ini, aku suapi, ya?”


“Ferdian, suasana hatiku sedang buruk saat ini, bisakah kamu meninggalkanku sendiri?”


“Apakah kamu memikirkan dia?”


“Kalau aku jawab iya, apakah kamu puas?”


“Tidak apa Tania, mungkin saat ini dia menang namun aku pastikan aku akan membuat kamu jatuh cinta padaku, aku yakin kalau aku yang akan menjadi pemenangnya.”


Ferdian kemudian keluar dari kamar Tania, setelah mendengar suara pintu tertutup, perlahan Tania membalikan tubuhnya menghadap ke pintu dan sepertinya memang Ferdian sudah keluar dari kamarnya. Tania dapat


menghela napasnya lega karena akhirnya pria itu keluar juga dari dalam kamarnya, namun ia masih bingung bagaimana caranya agar ia tidak menikah dengan pria itu.


“Cara ini jelas tidak berhasil, dia tetap saja menggebu-gebu ingin menikah denganku, apa yang harus aku lakukan?”

__ADS_1


Tania beringsut turun dari tempat tidurnya dan kemudian berjalan menuju jendela kamarnya, ia menatap lurus ke depan seperti tengah memikirkan sesuatu saat ini.


“Apakah aku harus menggunakan kekerasan?”


__ADS_2