
Felli pergi ke kantor Nanda, ia menceritakan apa yang terjadi dalam rumah tangganya pada sahabatnya itu, Nanda tentu saja merasa iba dan kasihan pada Felli.
“Ya Tuhan, aku tidak menyangka bahwa Juan melakukan itu.”
“Aku pun demikian, aku pikir selama ini dia mencintaiku, namun ternyata selama ini di dalam hatinya ada nama wanita lain.”
“Kamu pasti kuat menghadapi semua ini, aku yakin bahwa di luar sana Tuhan sedang mempersiapkan seseorang yang jauh lebih baik dari pada pria itu.”
“Terima kasih banyak, Nanda.”
Setelah puas bercerita dengan Nanda, Felli pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan sahabatnya itu dan rupanya keadaan café saat ini sudah tidak terlalu ramai dan Ricky langsung menghampirinya.
“Apa yang di dalam kamu ceritakan dengan bos?”
“Kepo.”
“Ayolah, kamu membuatku khawatir karena beberapa hari ini tidak dapat dihubungi, sebenarnya apa yang terjadi padamu?”
Felli dan Ricky kemudian duduk di salah satu kursi, Felli menceritakan apa yang terjadi selama beberapa hari belakangan pada dirinya hingga menyebabkan semua pesan dan telepon Ricky tidak dibalas dan dijawab olehnya.
“Ya Tuhan pria itu benar-benar.”
“Sepertinya memang beginilah akhirnya nasib rumah tanggaku.”
*****
Ketika malam hari setelah ia sudah selesai bekerja, Olaf mendatangi apartemen Stefani lagi, dan wanita itu pun segera membukakan pintu ketika Olaf menggedor pintu kamar apartemennya dengan kasar.
“Hai Olaf, apa yang membuatmu datang ke sini lagi?”
“Tidak usah banyak basa-basi lagi, aku tahu kalau kamu menyembunyikan Juan.”
“Olaf, bukankah aku sudah mengatakan kalau aku tidak tahu di mana Juan.”
“Kamu tidak perlu berbohong, aku tahu kalau Juan ada di apartemen ini! Katakan dia ada di mana sekarang!”
“Aku sudah mengatakannya bahwa dia tidak ada di apartemen ini.”
Olaf pun memperlihatkan bukti bahwa Juan memang tinggal di apartemen ini pada Stefani hingga akhirnya membuat wanita itu tidak dapat lagi mengelak dengan semua bukti yang dimiliki oleh Olaf.
“Baiklah, aku mengaku bahwa memang dia tinggal di apartemen ini.”
“Kalau begitu, katakan dia ada di dalam, kan?”
“Dia tidak tinggal bersamaku di dalam.”
__ADS_1
“Kalau begitu suruh dia datang ke sini, cepat!”
“Bagaimana kalau kita masuk dulu ke dalam?”
“Aku tidak sudi masuk ke dalam apartemenmu, cepat suruh dia datang ke sini!”
“Olaf, apakah kamu ingin aku menjauhi adikmu?”
“Tentu saja! Aku ingin kamu jauhi adikku selama-lamanya!”
“Baiklah, aku akan menjauhi adikmu namun dengan satu syarat.”
“Apa?”
“Kamu menikahlah denganku.”
“Dasar tidak waras! Sampai kapan pun aku tidak akan mau menikah denganmu!”
*****
Olaf baru saja tiba di rumah dan langsung disambut oleh Minanti, ia menanyakan bagaimana keadaan Juan, Olaf mengatakan bahwa ia tidak dapat menemui Juan tadi namun ia sudah tahu di mana dia tinggal.
“Dia tinggal di mana?”
“Apa?”
“Namun mereka tidak tinggal di kamar yang sama, wanita itu tidak mau memberitahuku di mana Juan tinggal.”
“Begitu rupanya, sudahlah lebih baik kamu istirahat, kamu pasti lelah seharian ini bekerja.”
“Baiklah, aku masuk ke kamarku dulu, selamat malam.”
“Selamat malam, Nak, istirahatlah.”
Olaf pun naik ke lantai dua menuju kamarnya dan setelah ia sampai di kamarnya ia duduk di tepian tempat tidur seraya menghela napasnya berat, hari ini sungguh amat sangat melelahkan sekali baginya.
“Lelah sekali.”
Olaf pun segera bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya, setelah ia selesai mandi dan membersihkan diri, kini ia duduk di kursi meja kerjanya sambil meraih ponselnya, saat ini sudah jam 11 malam, ia agak ragu untuk menghubungi Tania, kira-kira wanita itu masih bangun atau sudah tidak tidur, ya?
“Dia sudah tidur belum, ya?”
Olaf nampak menimbang apakah ia harus menelpon Tania saat ini atau tidak, namun pada akhirnya Olaf memilih untuk tidak menelpon Tania karena takut mengganggu wanita itu malam ini.
*****
__ADS_1
Hari ini Felli mengajak Ricky untuk pergi jalan-jalan bersama karena ia tahu hari ini pemuda itu sedang libur bekerja, Ricky sendiri nampak tidak keberatan ketika diajak pergi oleh Felli, lagi pula sebagai teman yang baik Ricky ingin membuat Felli melupakan sejenak kesedihannya akibat perlakuan Juan yang menorehkan luka dalam diri wanita itu.
“Kita mau pergi ke mana?” tanya Ricky.
“Nanti juga kamu akan tahu,” jawab Felli.
Maka kemudian Felli melajukan kendaraannya menuju suatu tempat yang tidak lain adalah taman hiburan, mereka berdua turun dari mobil dan membeli tiket, setelah membeli tiket kini mereka berdua masuk ke dalam arena taman hiburan yang tidak terlalu ramai pengunjung karena memang ini bukanlah libur akhir pekan yang biasanya pengunjung ramai sekali.
“Kita mau mencoba wahana apa saja?”
“Bagaimana kalau kita coba semua wahana yang ada di sini?”
“Siapa takut.”
Maka Ricky dan Felli pun mencoba berbagai wahana yang ada di taman hiburan ini, namun rupanya tanpa mereka sadari saat ini ada seseorang yang terus mengawasi mereka dari jauh. Setelah puas mencoba beberapa wahana, kini mereka memutuskan untuk makan siang di sebuah food court yang terletak masih di dalam area taman bermain ini.
“Menyenangkan sekali, ya?”
“Iya, rasanya perasaanku menjadi lebih bahagia saat ini setelah mencoba beberapa wahana tadi.”
“Apakah setelah ini kamu masih mau mencoba yang lain?”
“Tentu saja aku masih mau, apakah kamu takut?”
“Takut? Tentu saja tidak.”
Setelah menghabiskan makan dan mereka mengambil waktu sejenak akhirnya mereka kembali mencoba beberapa wahana yang tesisa di tempat itu, hari sudah sore dan terdengar pengumuman bahwa taman hiburan akan segera
ditutup tidak lama lagi.
“Aku mau pergi ke toilet sebentar,” ujar Ricky.
“Baiklah, aku tunggu di mobil,” ujar Felli.
Ricky pun pergi ke toilet dan masuk ke dalam salah satu bilik, namun tanpa ia ketahui saat ini ada seseorang yang sengaja menyangga gagang pintu dengan sebuah kayu agar Ricky tidak dapat keluar, selain itu juga ia memberikan tanda bahwa toilet rusak di sana agar tidak ada seorang pun yang menolong pemuda itu. Ricky yang sudah selesai buang air kini hendak keluar dari toilet namun ia merasa heran karena pintunya tidak mau terbuka.
“Kok tidak mau terbuka, ya?”
Ricky masih berusaha mencoba membuka pintu toilet namun tetap saja pintu itu tidak mau terbuka, ia berusaha berteriak meminta tolong namun tetap tidak ada seorang pun yang mendengarnya.
“Aku harus menelpon Felli.”
Ketika Ricky mencoba menelpon Felli, tiba-tiba saja dari bawah pintu toilet itu terlihat ada sebuah kepulan asap, Ricky pun nampak heran dan panik karena asap semakin pekat dan memenuhi toilet yang sempit ini.
“Apa ini? Uhuk… uhuk… tolong… uhuk.”
__ADS_1