Berkah Cinta

Berkah Cinta
Letupan Kembali Terjadi


__ADS_3

Hilda sudah berada di depan rumah Ricky, wanita itu dengan keras menggedor pintu rumah Ricky sambil memanggil-manggil nama pemuda itu, namun alih-alih Ricky yang membukakan pintu justru malah adiknya yang


membukakan pintu untuk Hilda.


“Di mana Ricky?”


“Kakakku tidak ada di dalam.”


“Jangan bohong kamu!”


“Saya tidak bohong, Kak Ricky memang tidak ada di dalam.”


Namun tentu saja Hilda tak percaya begitu saja dengan yang dikatakan oleh adiknya Ricky ini, dengan tidak sopannya wanita itu masuk dan mencari keberadaan Ricky walaupun adiknya Ricky sudah bilang bahwa orang


yang dicari oleh Hilda tidak ada di sini.


“Nyonya, saya sudah katakan kalau Kak Ricky tidak ada di dalam.”


“Kalau begitu katakan di mana dia sekarang!”


“Saya tidak tahu Nyonya.”


“Apakah kamu ingin mencoba menipuku?!”


“Saya tidak menipu Nyonya, saya hanya mengatakan yang sebenarnya.”


Ketika kericuhan terjadi, Ricky muncul namun tentu saja dia tidak sendiri karena ada Felli juga yang datang bersamanya.


*****


Hilda yang melihat putrinya datang dengan Ricky pun geram bukan main, ia memarahi Felli yang menemui pemuda ini padahal dirinya sudah melarangnya untuk menemui Ricky lagi.


“Felli, kenapa kamu begitu sulit untuk Mama beritahu?! Bukankah Mama sudah mengatakan bahwa kamu tidak perlu bertemu lagi dengan pemuda ini!”


“Ma, tolong hormati keputusanku.”


“Apa katamu? Jadi kamu lebih memilih pemuda ini dari pada Mamamu sendiri begitu?!”


“Nyonya, ada apa ini? Kenapa anda membuat keributan di rumah saya?”


“Kenapa?! Kamu masih bertanya kenapa?! Hei pemuda miskin, semua ini karena kamu! Kamu yang mempengaruhi anak saya sampai dia bisa jatuh cinta pada orang sepertimu, saya sudah berbaik hati memberikan kamu sejumlah uang namun kamu dengan angkuhnya menolak pemberian saya!”


“Saya memang tidak butuh uang Nyonya, saya bisa bekerja sendiri tanpa mengharapkan belas kasih dari orang lain.”


“Mama, tolong jangan keterlaluan begini.”


“Diam kamu Felli! Semua ini karena pemuda ini, kamu jadi membantah Mama dan memilih pemuda ini!”

__ADS_1


“Ma, tolong jangan buat keributan di sini.”


“Pokoknya sekarang juga kamu ikut pulang bersama Mama.”


“Namun Ma.”


“Mama tdak menerima penolakan, sekarang juga kamu ikut dengan Mama!”


Hilda menarik tangan Felli untuk ikut pulang bersamanya, Felli nampak tidak dapat melawan dan akhirnya menuruti saja apa yang diinginkan oleh Hilda ini.


*****


Rupanya drama yang terjadi di rumah Ricky itu dilihat oleh Stefani, wanita itu nampak menyeringai karena sepertinya dia memiliki sekutu untuk menghancurkan Felli. Ia pun turun dari dalam mobilnya selepas mobil yang membawa Hilda dan Felli pergi dari sana, kini Stefani berjalan menuju rumah kontrakan Ricky dan kemudian ia mengetuk pintu itu, Ricky membukakan pintu untuk tamunya namun ia terkejut ketika tahu yang datang saat ini adalah Stefani.


“Mau apa anda datang ke sini?”


“Ternyata kamu ini memang tidak tahu malu, ya.”


“Apa maksud anda?”


“Kamu tidak malu barusan mamanya Felli datang dan memarahimu, dia mengatakan yang sesungguhnya Ricky, kamu harusnya sadar bahwa kamu dan Felli tidak ada harapan.”


“Kalau anda datang ke sini hanya untuk membuat masalah, lebih baik anda pergi saja dari sini.”


“Kamu berani mengusirku? Apakah kamu tidak tahu siapa aku? Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau.”


“Baiklah, namun ingat Ricky, aku akan buat hidupmu menderita, aku akan memisahkanmu dengan Felli dan membuat kalian berdua menderita selama-lamanya.”


“Saya bilang pergi!”


Setelah itu Stefani pun pergi dari rumah kontrakan Ricky, rupanya keributan itu memancing perhatian para tetangga sekitar rumah Ricky, mereka nampak bergunjing mengenai apa yang baru saja terjadi.


*****


Stefani baru saja kembali ke rumah dan ia mendapati Minanti sudah melipat kedua tangannya dan menatap tajam padanya, Stefani berusaha bersikap ramah pada mertuanya itu namun Minanti nampak tidak suka dengan sikap Stefani yang membangkang.


“Stefani, bukankah aku sudah mengatakan bahwa kamu tidak boleh pergi, kenapa kamu masih saja pergi?!”


“Aku hanya pergi sebentar, Ma.”


“Iya, kamu memang hanya pergi sebentar, namun masalahnya adalah kamu tidak berpamitan padaku.”


“Apakah itu jadi masalah?”


“Tentu saja! Kamu tidak pamit padaku!”


“Aku minta maaf, lain kali aku pasti akan pamit kalau aku akan pergi.”

__ADS_1


“Kalau begitu sekarang juga kamu pergi ke dapur dan bantu Bibi memasak sana.”


“Apa? Membantu Bibi memasak?”


“Kenapa? Apakah kamu keberatan?”


“Baiklah.”


Stefani kemudian dengan berat hati pergi ke dapur, namun tentu saja mulutnya terus saja berkomat-kamit karena kesal dengan Minanti, ia pun sudah sampai di dapur dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini.


“Ada apa Nona Stefani datang ke sini?”


“Bibi sedang masak apa?”


“Bibi sedang masak sup untuk makan malam, Nona.”


“Begitu rupanya.”


Terdengar suara bel dari pintu, Stefani menyuruh Bibi untuk membukakan pintu sementara dirinya di sini untuk melanjutkan masakan Bibi, namun tentu saja sepertinya asisten rumah tangga itu ragu kalau menyerahkan pekerjaannya pada Stefani.


“Kenapa Bibi masih di sini? Nanti dimarahi Mama kalau kelamaan membukakan pintu.”


*****


Tania sudah menduga bahwa akan terjadi kisruh ketika dirinya mengumumkan akan melebur perusahaannya dengan Olaf, kritikan pedas dari dewan direksi dan pemegang saham mayoritas diterimanya, namun Tania sudah


terlanjur menandatangani perjanjian dengan suaminya dan tentu saja perusahaan mereka kini sudah resmi berada di bawah kendali Olaf. Tania sudah menjelaskan semuanya dan ia pun juga meminta maaf karena telah membuat keputusan mendadak tanpa dikoordinasikan dengan yang lain, namun dirinya mengatakan bahwa ini adalah


jalan untuk membuat perusahaan mereka menjadi lebih besar dan mampu bersaing dengan perusahaan lainnya.


“Kamu sepertinya sedang ada masalah,” ujar Olaf ketika ia menjemput Tania di kantornya.


“Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, terjadi kericuhan di ruang rapat, memang sih ini salahku karena tidak memberitahu mereka dulu,” ujar Tania.


“Sudahlah, kamu tidak perlu terlalu memikirkan itu, yang penting sekarang kita pulang saja,” ujar Olaf.


“Baiklah.”


Kini Olaf dan Tania bersama-sama menuju mobil Olaf, namun ternyata dari balik sebuah pohon ada seseorang yang tengah mengarahkan senjata apinya pada mereka berdua, ia sudah membidik dengan baik Olaf dan


Tania, ia hanya tinggal melepas pelatuk dan peluru pun akan terlontar keluar dari senjata api ini, namun tiba-tiba saja.


“Siapa kamu?”


DOR


Olaf dan Tania terkejut karena mendengar suara letupan senjata api, mereka berdua nampak saling berpandangan bingung sekaligus waspada, mungkinkah ada seseorang yang berniat jahat pada mereka saat ini?

__ADS_1


__ADS_2