
Ferdian dan Tania baru saja keluar dari rumah sakit
setelah mereka memeriksakan kondisi Tania saat ini, dokter bilang Tania terlalu
stres belakangan ini dan itu tidak baik untuk perkembangan anak di dalam
perutnya. Ketika mereka berdua baru saja keluar dari rumah sakit, mereka dibuat
terkejut karena berpapasan dengan sosok Olaf di sana. Seketika emosi Ferdian
pun naik.
“Mau apa kamu ke sini?”
“Jangan buat keributan, ini rumah sakit,” ujar Tania
pada Ferdian.
“Aku dengar kamu dibawa ke rumah sakit maka dari itu
aku datang ke sini,” ujar Olaf.
“Aku tidak apa-apa,” ujar Tania.
“Benarkah? Apakah kamu benar-benar tidak apa-apa?”
“Olaf, berhentilah mengkhawatirkan Tania, aku adalah
suaminya yang bertanggung jawab penuh padanya, kamu hanya orang asing yang
tidak perlu begitu peduli pada istriku!”
“Apa katamu?”
“Hentikan, jangan buat keributan apa pun, ini rumah
sakit,” ujar Tania berusaha menegahi kedua pria yang kembali bertengkar ini.
“Sudahlah, ayo kita kembali,” ujar Ferdian membawa
Tania masuk ke dalam mobil namun Olaf tidak membiarkan itu dengan mudah.
“Tania, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu,”
ujar Olaf.
“Aku tidak mengizinkannya, pergi dari sini sekarang!”
seru Ferdian.
*****
Tania tidak diizinkan untuk pergi ke kantor oleh
Ferdian padahal Tania mengatakan kalau dia baik-baik saja, namun Ferdian tidak
mempercayai hal tersebut. Ia sudah menelpon sekretaris Tania dan mengatakan
bahwa hari ini Tania berhalangan hadir, maka dari itu Ferdian minta pada
sekretaris Tania untuk tidak mengganggunya seharian ini.
“Kamu bersikap berlebihan.”
“Berlebihan? Aku tidak mau sesuatu hal yang buruk
terjadi pada anak kita, sekarang ikuti saja apa yang aku katakan, ok? Jangan
membantahnya.”
Setelah mengatakan itu, Ferdian pun pergi dari rumah
karena ia harus rapat dengan dewan direksi perusahaan, Tania merasa bosan jika
ia seharian di rumah apalagi ini bukanlah akhir pekan atau tanggal merah.
Tiba-tiba saja ponsel Tania berdering dan tertera sebuah nomor asing di sana,
Tania nampak heran siapa gerangan yang menelponnya? Karena penasaran akhirnya
Tania menjawab panggilan telepon dari nomor asing ini.
“Siapa ini?”
“Ini aku.”
“Olaf? Kamu ganti nomor?”
“Nomorku yang satunya diblokir oleh Ferdian.”
“Benarkah? Nanti aku cek.”
“Bagaimana keadaanmu? Kamu baik-baik saja, kan?”
__ADS_1
“Iya, aku baik-baik saja.”
“Syukurlah kalau begitu, kamu ada di mana sekarang?”
“Aku ada di rumah, Ferdian tidak mengizinkanku pergi
ke kantor.”
“Begitu rupanya, nanti sebelum suamimu pulang boleh
aku datang ke sana?”
“Memangnya kamu tahu di mana rumahku yang baru?”
*****
Ferdian mendapatkan peringatan dari sang papa karena
dia mengambil keputusan tanpa persetujuannya, namun Ferdian beralasan bahwa ia
terpaksa melakukan hal itu demi perusahaan.
“Tahu apa kamu soal perusahaan? Keuangan perusahaan
kita sedang tidak baik saat ini, mana mungkin kita dapat bersaing dengan
perusahaan lain yang mengikuti lelang pemerintah?”
“Tentu saja kita dapat bersaing dengan perusahaan
lain, kalau kita memenangkan proyek itu maka kita mendapatkan kucuran dana
segar yang dapat melunasi beberapa utang jatuh tempo perusahaan.”
“Kalau kita berhasil, lalu bagaimana kalau kita gagal?
Kenapa kamu begitu naif Ferdian? Kamu pikir kita tidak akan mengeluarkan biaya
yang besar untuk memberikan upeti kepada para pejabat daerah?!”
“Itu bukanlah perkara yang sulit.”
“Itu akan menjadi sulit karena perusahaan lain akan
memberikan royalti yang lebih agar mereka dipilih menjadi pemenang lelang,
kondisi keuangan perusahaan kita sedang tidak baik dan kamu malah mendorong
“Pa, tidak bisakah Papa mempercayakan ini padaku? Kita
pernah mengikuti lelang pemerintah dan kita pernah beberapa kali menang.”
“Namun itu dulu ketika kas keuangan perusahaan masih
baik, sekarang semua berubah karena skandal yang kamu buat, tingkat kepercayaan
investor merosot tajam.”
“Bisakah Papa tidak perlu menyinggung soal itu?”
“Kenapa? Papa hanya mengatakan hal yang sebenarnya,
karena kamu membuat skandal dengan wanita itu hingga membuat harga saham kita
jatuh.”
****
Sementara itu Olaf mendatangi rumah Tania seperti yang
ia katakan lewat telepon setelah sebelumnya ia menelpon Tania terlebih dahulu
untuk memastikan kalau Ferdian belum kembali ke rumah. Tania membukakan pintu
untuk Olaf dan mempersilakan pria itu untuk masuk ke dalam rumahnya.
“Silakan masuk.”
“Terima kasih.”
Mereka berdua duduk di sofa ruang tamu, Tania meminta
asisten rumah tangga membuatkan Olaf minum walaupun pria itu sempat menolaknya
namun pada akhirnya ia pun tidak keberatan ketika asisten rumah tangga
membawakannya minuman.
“Terima kasih.”
Setelah asisten rumah tangga pergi, Tania menanyakan
kenapa Olaf datang ke sini, pria itu nampak tersenyum dan kemudian menggenggam
__ADS_1
tangan Tania.
“Aku mengkhawatirkanmu, aku sudah mencoba untuk
bersikap acuh padamu setiap kali memikirkan bahwa saat ini kamu sudah menikah
dengan orang lain, namun nyatanya aku tidak bisa, aku tetap peduli padamu.”
“Olaf….”
“Aku mencintaimu Tania, dan selamanya akan terus
mencintaimu.”
“Olaf….”
“Apakah kamu bahagia dengan pernikahanmu bersama
Ferdian?”
“Kamu tahu apa jawabannya.”
“Kalau begitu kamu tenang saja, aku memiliki sebuah
cara agar kamu dan dia berpisah.”
“Apa maksudmu?”
“Sudahlah, nanti juga kamu akan tahu sendiri,
sebenarnya aku ingin berlama-lama berada di sini namun hal tersebut akan jadi
masalah kalau sampai pria itu kembali dan menemukanku di sini.”
****
Malam ini Tania tidak bisa memejamkan matanya, ia
ingin makan sesuatu dan ia segera beringsut turun dari tempat tidur, rupanya
gerakan Tania itu membuat Ferdian yang tertidur di sebelahnya ikut juga bangun.
“Tania, kamu mau ke mana malam-malam begini?”
“Aku mau makan.”
“Makan? Makan apa?”
“Aku mau makan sate.”
“Apa?! Jam segini? Mana ada yang masih buka.”
“Kalau kamu tidak mau membelikannya, aku bisa beli
sendiri.”
“Tidak! Itu berbahaya, malam-malam begini kamu pergi
sendirian itu sama saja mengundang bahaya, aku akan pergi denganmu, tunggu
sebentar.”
Tania nampak sudah keluar kamar duluan sembari
menunggu Ferdian bersiap, nampak pria itu masih mengantuk karena Ferdian baru
saja tertidur, Tania mengatakan kalau Ferdian lelah pria itu bisa tidur saja.
“Bagaimana bisa aku tidur sementara kamu pergi
malam-malam begini? Aku tidak akan membiarkan kamu pergi sendirian, Tania.”
“Namun kalau kamu yang mengemudi itu sama juga
mengundang bahaya, kamu mengantuk Ferdian, lihatlah!”
“Tidak, aku sama sekali tidak mengantuk Tania, ayo
kita cari sate untukmu.”
Maka mereka berdua pun pergi untuk mencari apa yang
Tania inginkan, mereka sudah memutari jalan di sekitar komplek perumahan dan
tidak menemukan satu pun warung sate yang masih buka.
“Ini sudah jam 2 dini hari, mana ada yang masih buka,”
ujar Ferdian yang sembari mengemudi matanya ikut menengok ke kanan dan ke kiri
siapa tahu ada warung sate yang masih buka.
“Tunggu dulu!”
__ADS_1