
Setelah menghadiri acara pelantikan dirinya sebagai Direktur Utama perusahaan yang baru kini Tania pergi menuju rumah sakit, ketika ia tiba di rumah sakit hanya ada Olaf saja yang tengah duduk di tepian ranjangnya, raut wajahnya menyiratkan kebahagiaan ketika melihat pintu ruang inapnya terbuka dan menampakan Tania di sana.
“Kamu hanya sendirian di sini?”
“Tadi Mama ada, hanya saja dia bilang ingin beli makan di luar sebentar.”
“Begitu rupanya.”
Tania berjalan menghampiri Olaf dan kini jarak di antara mereka sudah sangat dekat, pria itu menarik tangan Tania agar ia duduk di sebelahnya, Tania nampak agak canggung ketika ia duduk bersebelahan dengan Olaf padahal sebelumnya mereka sudah sering duduk bersebelahan seperti ini namun ketika mereka berdua sudah saling mengungkapkan perasaan satu sama lain, tentu saja semuanya terasa berbeda.
“Selamat ya, akhirnya kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan.”
“Terima kasih banyak, kalau bukan karena bantuan mamamu, mungkin saja hal ini tidak akan dapat tercapai.”
Tania baru menyadari bahwa sejak tadi Olaf menatapnya tak berkedip dan perlahan pria itu mencondongkan tubuhnya hingga jarak di antara mereka sudah sangat dekat sekali.
****
Ketika terdengar suara pintu terbuka, barulah mereka berdua tersadar apa yang baru saja terjadi, rupanya orang yang datang saat ini adalah Minanti. Wanita itu nampak bahagia saat melihat Tania ada di ruang inap putranya seperti yang ia katakan tadi ketika di acara pelantikannya sebagai Direktur Utama yang baru bahwa ia akan datang ke sini.
“Tania, aku senang karena kamu menepati janjimu.”
“Tentu saja Nyonya, saya tidak akan mungkin mengingkari janji saya pada Nyonya, apalagi Nyonya telah berjasa dalam hidup saya selama ini.”
“Kamu terlalu memuji Tania, aku tidak melakukan apa pun.”
Kedua wanita itu nampak sedang berbincang mengenai banyak hal, sementara Olaf hanya diam dan menyimak apa yang keduanya bicarakan. Hingga akhirnya Tania harus pulang saat ini karena hari sudah larut.
“Sepertinya aku harus pulang saat ini.”
“Kamu benar, hari sudah larut, apakah kamu akan pulang sendiri?”
“Iya, Nyonya tenang saja.”
“Hati-hati di jalan, ya? Kalau kamu sudah sampai di apartemenmu, secepatnya kamu hubungi aku.”
“Tentu saja, aku permisi dulu.”
“Hati-hati di jalan.”
Tania pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan inap Olaf, selepas Tania pergi kini Minanti berjalan menghampiri anaknya, ia duduk tepat di sebelah Olaf sambil menggenggam tangan putranya.
“Apa yang tadi hendak kamu dan Tania lakukan ketika Mama tidak ada?”
__ADS_1
****
Tania yang hendak pulang ke apartemennya mendadak mendengar ponselnya berdering, ia memberhentikan langkah kakinya untuk mengecek siapa yang menelponnya malam-malam begini, ketika ia melihat layar ponselnya tertera nama Ferdian di sana, Tania tentu saja heran kenapa Ferdian menelponnya saat ini.
“Kenapa dia menelponku saat ini?”
Tania pun memutuskan untuk menjawab telepon dari Ferdian karena ia penasaran apa sebenarnya yang hendak dia katakan padanya padahal hari sudah larut saat ini.
“Kenapa menelponku di jam segini?”
“Bisakah kamu datang ke ruang inapku sekarang juga?”
“Kenapa aku harus datang ke sana?”
“Karena aku merindukanmu, dan aku yakin anak kita pun juga merindukanku.”
“Maaf, aku sedang sibuk, aku tidak bisa datang ke sana.”
“Benarkah? Kalau begitu kenapa kamu bisa menemui Olaf sementara kamu tidak bisa menemuiku?”
Tania tentu saja terkejut dengan pertanyaan yang baru saja Ferdian tanyakan padanya, bagaimana mungkin pria itu tahu bahwa tadi dirinya berkunjung ke ruang inap Olaf?
“Kamu pasti terkejut, bukan? Tania, kamu pikir aku tidak punya mata-mata yang memperhatikanmu setiap saat.”
“Baiklah, aku datang ke sana sekarang.”
Tania menghela napasnya kesal, dengan sangat terpaksa ia mendatangi ruangan inap Ferdian padahal saat ini dia sudah berniat untuk pulang dan beristirahat karena tugas besar sudah menantinya besok hari.
****
Ketika Tania tiba di ruangan inap Ferdian, hanya ada pria itu saja di sana, tidak ada tanda-tanda kedua orang tuanya akan menginap di sini, Ferdan tentu saja girang karena Tania mau pergi menemuinya di sini.
“Terima kasih karena kamu sudah mau datang.”
“Kenapa kamu inin bertemu denganku?”
“Bukankah aku sudah bilang kalau aku merindukanmu?”
“Hentikan bicara omong kosongmu.”
“Kenapa kamu begitu ketus padaku? Aku ini sedang terluka lho.”
Tania menghela napasnya kesal dengan tingkah Ferdian ini, ia pun kemudian bertanya pada Ferdian bagaimana bisa ia tahu kalau tadi Tania berkunjung ke ruang inap Olaf.
__ADS_1
“Tania, aku sudah mengatakannya padamu kalau aku memiliki banyak mata-mata, apa pun yang kamu lakukan seharian ini aku mengetahui semuanya.”
“Ferdian ….”
“Jangan pikir aku akan membatalkan rencana pernikahan kita, karena sampai kapan pun, aku tidak akan pernah memiliki niat untuk membatalkan rencana tersebut, malah aku jadi berpikir bahwa sepertinya kita harus segera menikah.”
“APA?!”
“Sepertinya kamu terlihat begitu gembira ketika aku mengatakan itu? Apakah kamu sudah tidak sabar menikah denganku? Sama aku pun demikian, aku sudah tidak sabar menikah denganmu.”
“Ferdian aku ….”
“Aku tahu apa yang hendak kamu katakan padaku, Tania sampai kapan pun aku tidak akan mundur, aku akan membuatmu menjadi milikku, ingat itu baik-baik.”
****
Sidang perdana Jihan sebagai terdakwa kasus percobaan pembunuhan sudah berlangsung kemarin, Jihan nampak begitu tenang selama peradilan berlangsung, dan ia pun sudah bersiap untuk menghadiri sidang berikutnya minggu depan. Hari ini Galang datang menemui Jihan di penjara, ia membawakan makanan untuk Jihan, Jihan nampak tersenyum ketika Galang memberikan makanan untuk dirinya.
“Kamu perhatian sekali padaku, kemarin juga kamu datang di acara sidang perdanaku.”
“Kenapa? Kamu tidak suka kalau aku datang dan memberikan dukungan untukmu?”
“Kenapa kamu mau mendukungku? Aku orang jahat, tempatku memang di penjara ini.”
“Aku mendukung untuk kamu berubah menjadi orang yang lebih baik lagi, aku sama sekali tidak mendukung kamu berbuat jahat.”
“Begitu rupanya.”
“Apakah kamu sudah tahu kalau mamamu kini juga ditahan di sini?”
“Aku sudah mendengarnya, dan bahkan aku sudah pernah melihatnya sebelum aku pergi ke persidangan, dia seperti orang yang stres.”
“Dia pasti begitu tertekan ketika dijebloskan ke dalam penjara dan tidak memiliki kekuasaan apa pun sekarang.”
“Namun aku harap dengan cara seperti ini dia dapat belajar untuk mempertanggung jawabkan perbuatan kejinya di masa lalu.”
“Jihan… apakah kamu tidak keberatan kalau kamu dan mamamu dipenjara?”
“Tentu saja tidak, kami sudah melakukan kejahatan dan kami berhak ada di tempat ini.”
“Sejujurnya, aku jadi kagum padamu, penjara sepertinya membawa banyak perubahan untukmu.”
Setelah itu mereka terdiam cukup lama hingga Galang mengetahui bahwa tidak lama lagi waktu jenguknya akan segera habis, sebelum itu terjadi maka Galang ingin mengatakan sesuatu pada Jihan.
__ADS_1
“Sebelum waktu berkunjung habis, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”
“Apa itu?”