Berkah Cinta

Berkah Cinta
Bangunlah


__ADS_3

Felli merasa heran karena sudah satu jam berlalu dan Ricky belum juga menemuinya di mobil, Felli turun dari mobilnya dan berusaha kembali masuk ke dalam taman hiburan itu namun seorang petugas yang berjaga di


sana melarangnya.


“Maaf namun kami sudah tutup.”


“Tapi teman saya masih ada di dalam.”


“Saya sudah memastikan kalau tidak ada orang lagi di dalam, silakan pergi.”


“Tidak, aku yakin kalau temanku masih ada di dalam.”


Seorang petugas yang lain menghampiri petugas itu, mereka nampak berbisik satu sama lain hingga akhirnya petugas itu memberikan izin bagi Felli masuk ke dalam taman hiburan itu.


“Apakah anda yakin kalau masih ada orang di dalam sini?”


“Tentu saja, saya yakin kalau masih ada orang di dalam sini.”


Ketika Felli sedang mencari di mana keberadaan Ricky, tiba-tiba saja seseorang dari belakangnya membekap mulutnya hingga ia tak sadarkan diri, sementara itu di sebelahnya nampak petugas keamanan yang ikut bersamanya pun tak sadarkan diri setelah dipukul menggunakan kayu.


“Kamu tidak akan pernah dapat menemukan pemuda itu!”


*****


Felli terbangun ketika ia berada di rumah sakit, nampak keluarganya begitu lega karena Felli sudah siuman, sang mama kemudian bertanya pada Felli mengenai apa yang sebenarnya terjadi tadi.


“Kenapa aku ada di rumah sakit?”


“Kamu tadi pingsan dan petugas keamanan menemukanmu.”


“Benarkah? Lalu bagaimana dengan Ricky?”


“Ricky? Siapa dia?”


“Dia temanku, sewaktu aku dan dia hendak pulang dari sana, dia bilang ingin pergi ke toilet, aku menunggunya selama satu jam di dalam mobil namun dia tidak kunjung datang maka dari itu aku turun dari mobil dan mencarinya.”


“Maksudmu seorang pemuda yang ditemukan di dalam toilet?” tanya adik Felli.


“Iya, bagaimana keadaannya?”


“Dia masih tak sadarkan diri setelah menghirup terlalu banyak asap.”


“Asap?”


“Iya, dokter bilang seperti itu.”


Namun rupanya sikap dan pertanyaan dari Felli itu malah membuat keluarganya bertanya ada hubungan apa antara putri mereka dengan pemuda yang tak sadarkan diri itu.


“Apakah kamu memiliki hubungan dengan pemuda itu?”


“Mama ini bicara apa sih?”


“Mama hanya takut kalau kamu dan pemuda itu memiliki hubungan khusus lebih dari pada teman seperti yang tadi kamu katakan.”


“Sudahlah, Mama tidak perlu bicara omong kosong begitu.”


Felli tentu saja kesal dengan tuduhan yang dialamatkan padanya itu, karena jelas-jelas di antara dirinya dan Ricky memang tidak ada hubungan apa pun.

__ADS_1


*****


Minanti yang mendengar kabar bahwa Felli masuk rumah sakit tentu saja langsung menjenguk menantunya itu, ia begitu khawatir ketika mendapatkan kabar bahwa Felli masuk rumah sakit walaupun kondisinya sudah membaik saat ini.


“Felli.”


“Mama?”


“Mama khawatir sekali mengenai keadaanmu.”


“Seperti yang Mama lihat, aku sudah baik-baik saja.”


“Sebenarnya apa yang terjadi tadi?”


Felli pun menceritakan apa yang terjadi padanya tadi sebelum ia tak sadarkan diri, Minanti yang mendengar cerita itu tentu saja langsung berpikir bahwa jangan-jangan ini adalah ulah Juan.


“Mama?”


“Iya, Nak?”


“Mama kenapa?”


“Oh tidak, Mama bersyukur karena kamu baik-baik saja.”


“Terima kasih, namun Mama seharusnya tidak perlu repot-repot datang ke sini.”


“Kamu ini bicara apa? Kamu ini menantuku, mana mungkin ketika menantuku mengalami musibah maka aku tidak datang menjenguk?”


“Terima kasih kalau begitu.”


“Belum, kami tidak memberitahu dia soal ini.”


“Begitu rupanya.”


Minanti mengatakan bahwa ia tidak bisa berlama-lama di sini karena masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan, Felli mengucapkan banyak terima kasih karena Minanti sudah mau datang menjenguknya saat ini.


“Sampaikan salamku pada keluargamu, dan aku minta maaf karena tidak bisa berlama-lama di sini.”


“Tentu saja, Ma. Hati-hati di jalan, ya.”


*****


Minanti mau tak mau menaruh curiga pada Juan, ia khawatir kalau anaknya itu yang membuat Felli celaka kemarin, kini Minanti mendatangi apartemen Stefani namun sudah beberapa menit ia berdiri di depan kamar apartemen wanita itu sambil membunyikan bel namun Stefani tidak kunjung keluar juga.


“Dia itu ke mana sebenarnya.”


Minanti kemudian mencoba menelpon Minanti namun ponselnya tidak aktif, kini Minanti berusaha mencoba menelpon Olaf untuk menanyakan apakah Juan ada di kantor saat ini atau tidak.


“Sepertinya dia ada, barusan sekretarisnya menelponku bahwa dia masuk kantor hari ini.”


“Kalau begitu tahan dia di sana, jangan sampai dia pergi sebelum Mama datang.”


“Memangnya ada masalah apa, Ma?”


“Nanti juga kamu akan tahu.”


Minanti kemudian menutup sambungan teleponnya dan bergegas menuju kantor Olaf, ketika ia sampai di kantor anaknya itu ia langsung menuju ruangan kerja Juan.

__ADS_1


“Mama?”


“Katakan pada Mama yang sejujurnya.”


“Aku tidak mengerti apa yang Mama sedang bicarakan ini.”


“Kamu yang membuat Felli celaka kemarin, kan?”


“Kenapa Mama datang-datang langsung menuduhku?”


“Felli itu masih istrimu, Juan, kenapa kamu tega melakukan hal itu padanya?”


“Aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang Mama bicarakan ini.”


Olaf yang mendengar keributan segera pergi ke ruangan kerja Juan, di sana ia menemukan Minanti tengah bertengkar dengan adiknya.


“Ada apa ini, Ma?”


“Juan kemarin mencelakai Felli.”


*****


Felli ada di ruangan inap Ricky, sampai saat ini pemuda itu belum juga sadarkan diri dan hal tersebut membuat Felli sedih dan menyalahkan dirinya sendiri.


“Maafkan aku Ricky.”


Namun ketika ia sedang memeluk tangan Ricky yang belum sadarkan diri itu, seseorang membuka pintu ruangan inap pemuda itu, Felli sontak terkejut dan menoleh ke arah pintu, nampak sang adik berdiri di depan pintu dan


menatap mereka berdua.


“Apa yang kamu lakukan di sini?”


“Kak, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu dan aku harap kamu jujur.”


“Apakah kamu ingin menanyakan hubunganku dengan pemuda ini?”


“Iya, aku rasa di antara kalian ada hubungan yang lebih.”


“Azka, kenapa kamu tidak mempercayai kakakmu sendiri?”


“Kak, aku dapat membedakan sikap orang yang hanya menganggap seseorang hanya sebagai teman dan yang lebih dari pada teman dan aku melihat bahwa kamu sepertinya ada rasa dengan pemuda ini.”


“Sudahlah, kamu tak perlu bicara omong kosong begitu.”


“Kak, hanya ada kita saja di sini, aku tidak akan mengatakan apa pun pada mama dan papa.”


“Sudah aku katakan padamu bahwa antara aku dan Ricky tidak ada hubungan apa pun, kami berdua hanya teman saja.”


“Baiklah, aku akan berusaha mempercayai itu walaupun aku tahu bahwa hatimu tidak mengatakan demikian.”


“Bisakah kamu tidak perlu sok tahu?”


“Semoga dia cepat sadar.”


Kemudian adiknya itu pergi dari ruangan inap Ricky, Felli kini menatap pemuda yang masih memejamkan matanya ini, ia kemudian menggenggam erat tangan Ricky dan berharap kalau pemuda ini bisa segera bangun.


“Ricky, aku mohon bangunlah.”

__ADS_1


__ADS_2