Berkah Cinta

Berkah Cinta
Aku Putus


__ADS_3

Ester merengut kesal karena rencananya kali ini untuk melenyapkan Handi tidak berhasil, walaupun ia berhasil lolos dari hukuman saat ini namun ia tidak akan yakin kalau ia akan berhasil lolos untuk kedua kalinya apalagi Handi nampak sangat serius ketika mengatakan akan membuatnya masuk penjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.


“Tidak, ini semua pasti karena gadis itu,” geram Ester.


Maka Ester pun pergi menuju kamar Tania, namun sebelum ia mencapai kamar Tania rupanya Handi sudah tahu apa yang hendak Ester lakukan, maka Handi langsung mencegah Ester untuk masuk ke dalam kamar Tania.


“Apa-apaan kamu ini? Lepaskan aku!”


“Aku tidak akan melepaskanmu, kamu pasti akan melakukan sesuatu hal yang buruk pada Tania, bukan?”


“Itu bukan urusanmu!”


“Jelas itu akan menjadi urusanku, Ester aku sudah tidak akan lagi kamu kendalikan dan kini kamu yang harusnya tunduk padaku.”


“Lepaskan aku!”


“Kalau kamu berani melukai Tania, maka aku tidak akan segan-segan untuk mengirimmu ke penjara, apakah kamu dengar?”


Handi melepaskan cengkraman tangannya pada lengan Ester sebelum ia pergi meninggalkan Ester yang meraung seperti orang yang tidak waras.


“Tania, awas saja kamu, kamu pikir sudah dapat menang dariku?! Tunggu saja pembalasanku!” geram Ester.


*****


Tania merasa terlindungi karena Handi sudah ada sepenuhnya di pihaknya, walau demikian namun Handi tidak akan sepenuhnya ada di rumah karena ia harus pergi bekerja dan di saat itulah Ester yang akan berkuasa


di rumah ini, wanita itu nampak sangat dendam padanya dan Ester pasti akan melakukan hal yang buruk padanya lagi.


“Ke sini kamu!”


Ester memanggil Tania untuk pergi ke arahnya, Tania mau tidak mau harus mematuhi apa yang Ester perintahkan itu, setelah Tania sudah ada di dekatnya maka Ester langsung meluapkan kekesalannya pada gadis ini.


“Kamu pikir dengan suamiku sudah ada di pihakmu maka kamu akan merasa aman dan baik-baik saja?!”


Tania tidak menanggapi ucapan Ester barusan, ia membiarkan wanita ini meluapkan semua emosi yang ia tahan sejak kemarin karena ia tahu bahwa Tania adalah orang yang bertanggung jawab atas tidak terjadinya kecelakaan yang merenggut nyawa Handi.


“Kenapa kamu hanya diam saja?!”


“Saya harus berkata apa?”


“Katakan padaku, apa motifmu melakukan semua ini padaku!”


Tania hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Ester barusan, namun sikap diam Tania itu malah makin membuat Ester murka, ia menarik dagu Tania dan menyuruh Tania untuk buka suara dan mengatakan apa yang

__ADS_1


sebenarnya Tania inginkan darinya saat ini.


“Katakan padaku, katakan apa yang kamu inginkan dariku!”


“Baiklah, aku akan mengatakannya.”


*****


Setelah bersusah payah mencari alamat Olaf, akhirnya Jihan berhasil juga menemukan di mana rumah pria yang menjadi idamannya itu, ternyata dugaan Jihan itu memang benar kalau Olaf tinggal di komplek perumahan


yang sama dengannya dan kenyataan itu membuat Jihan berbunga-bunga, ia akan buktikan semuanya pada Ester bahwa ucapannya kalau Olaf adalah orang kaya adalah benar adanya. Jihan pulang ke rumah dengan hati riang gembira dan sudah tidak sabar untuk menceritakan perihal apa yang ia temukan saat ini.


“Mama.”


“Kebetulan sekali kamu sudah datang, ada sesuatu yang ingin Mama tanyakan padamu.”


“Tanyakan? Mama ingin menanyakan apa?”


“Untuk apa uang sebanyak ini?” tanya Ester memperlihatkan transaksi dari kartu kredit Jihan.


“Itu untuk membayar mata-mata.”


“Mata-mata?! Di mana otakmu? Kenapa menggunakan uang sebanyak itu hanya untuk memata-matai orang?!”


“Asal Mama tahu saja, aku melakukan semua itu demi membuktikan sesuatu pada Mama.”


“Apa maksudmu?”


“Astaga, kamu pasti bercanda, Nak.”


“Tidak, aku menggunakan uang itu dengan menyewa mata-mata untuk mengumpulkan semua informasi penting tentang orang itu dan hasilnya tentu saja seperti dugaanku,” ujar Jihan bangga.


“Apa maksudmu?” tanya Ester heran.


“Mama lihat saja ini,” ujar Jihan memberikan informasi yang berharga itu pada Ester.


****


Sementara itu Ferdian sudah berdiri di depan rumah keluarga Jihan, ia menekan bel pintu sebelum satpam mendatanginya dan mempersilakannya masuk ke dalam rumah itu, ketika melewati taman matanya berkeliling untuk mencari di mana keberadaan Tania, namun sepertinya orang yang ia cari itu tidak ada sepanjang mata memandang.


“Oh Ferdian?”


Ester nampak terkejut ketika menemukan pria itu sudah berdiri di depan pintu rumah, Ester mempersilakan Ferdian untuk masuk ke dalam dan duduk di sofa ruang tamu.

__ADS_1


“Apa yang membawamu ke sini, Nak?”


“Saya ingin bertemu dengan Jihan, ada sesuatu yang perlu kami bicarakan.”


“Oh begitu, tunggu sebentar, Tante akan panggilkan dia.”


Ester pergi ke kamar Jihan untuk memanggil anaknya itu, ketika tengah menunggu Jihan datang, secara tidak sengaja Ferdian melihat kelibat bayangan Tania melintas melalui ruang tamu, Ferdian segera bangkit dari


sofa yang ia duduki untuk melihat apakah yang barusan ia lihat itu sungguhan atau hanya halusinasi semata.


“Apakah yang tadi aku lihat itu benar-benar nyata?” lirih Ferdian.


“Ferdian, kenapa kamu ada di sana?” tanya Ester yang membuat pria itu terkejut karena rupanya saat ini wanita itu sudah sampai lagi di ruang tamu dengan membawa Jihan bersamanya.


“Oh, aku ingin pergi ke kamar mandi sebentar, di mana kira-kira kamar mandinya?”


*****


Sembari menunggu Ferdian kembali dari kamar mandi, Ester dan Jihan membicarakan pria itu, Ester mengatakan pada Jihan bahwa Ferdian pasti baru saja melihat Tania, namun Jihan nampak tidak mempercayai apa yang Ester katakan itu, ia sangat yakin kalau Ferdian tidak akan tergoda oleh Tania.


“Mama pasti tengah bercanda.”


“Mama sama sekali tidak bercanda, Mama sangat yakin kalau dia pasti tertarik pada gadis itu.”


“Sudahlah, lebih baik Mama tidak perlu membicarakan hal-hal omong kosong begitu.”


“Omong kosong bagaimana? Mama sudah melihat dengan kedua mata kepala Mama sendiri dan kamu sebut Mama bicara omong kosong?”


“Ehem.”


Mereka berdua nampak terkejut karena akhirnya Ferdian sudah kembali dari kamar mandi, Ester berpamitan pada Ferdian dan memberikan waktu untuk mereka berdua dapat membicarakan masalah secara pribadi.


“Tante tinggal dulu, ya.”


Setelah Ester pergi, Ferdian duduk di sofa sementara Jihan masih tidak menatap ke arah pria yang sudah dijodohkan dengannya itu, Ferdian meminta agar mereka dapat bicara di luar saja dan hal itu membuat Jihan


heran.


“Kenapa kita harus bicara di luar? Bicara saja di sini.”


“Sudahlah, cepat kita bicara di luar,” ujar Ferdian menarik tangan Jihan pergi dari ruang tamu dan menuju luar rumah.


“Baiklah, sekarang katakan apa yang ingin kamu katakan,” ujar Jihan ketika mereka sudah sampai di luar rumah.

__ADS_1


“Jihan, aku sudah putus dengan pacarku,” ujar Ferdian.


“Apa?!”


__ADS_2