Berkah Cinta

Berkah Cinta
Pencari Perhatian


__ADS_3

Sebelum Tania menjawab pertanyaan pria itu, sosok Jihan keluar dari dalam rumah dan ia nampak begitu terkejut melihat sosok pria yang ditemuinya di cafe saat itu, pria itu pun tidak kalah terkejutnya dari Jihan, ia tak menyangka kalau akan bertemu lagi dengan wanita menyebalkan ini di tempat ini.


“Dunia memang sempit sekali, ya?”


“Apa yang kamu lakukan di rumah ini?”


“Apa maksud pertanyaanmu? Ini adalah rumahku.”


“Rumahmu? Bukankah ini rumah dia?” tanya Olaf menunjuk


Tania.


“Apakah kamu sedang bercanda atau bagaimana? Ini adalah rumahku, dan dia adalah pembantu di rumah ini.”


“Apakah yang dia katakan itu benar?” tanya Olaf pada Tania.


“Aku... iya ....”


“Nah, kamu sudah dengar sendiri apa yang dia katakan barusan bukan?”


“Kalau begitu, aku permisi dulu,” ujar Olaf yang langsung pergi.


“Kamu mengenal pria itu?” tanya Jihan pada Tania sinis.


“Tidak, aku tidak mengenalnya,” jawab Tania.


“Benarkah? Namun sepertinya kalian dekat sekali, apakah kamu sedang mencoba menyembunyikan sesuatu dariku?”


“Saya tidak menyembunyikan apa pun dari anda, Nona.”


“Bagus, karena kalau sampai aku tahu kalau kamu berbohong maka aku tidak akan mengampunimu, apakah kamu mengerti?”


“Saya mengerti, saya minta maaf.”


****


Jihan masih tak percaya dengan yang dikatakan oleh Tania barusan, namun dilihat dari raut wajahnya sepertinya Tania memang mengatakan yang sejujurnya, Ester yang melihat Jihan baru saja masuk rumah langsung bertanya pada putrinya itu.


“Apa yang kamu lakukan di luar sana?”


“Hanya menghirup udara segar.”


“Benarkah?”

__ADS_1


“Ma, sebenarnya ada seseorang yang aku sukai.”


“Bicara apa kamu ini? Mama tidak mau mendengarkannya.”


“Tidak, Mama harus mau mendengarkannya, barusan dia lewat depan rumah ini, itu kemungkinan besar dia juga penghuni komplek perumahan ini bukan?”


“Kalau dia hanya seorang satpam atau tukang kebun yang sedang berolahraga bagaimana?”


“Bagaimana mungkin Mama tega mengatakan hal itu padaku? Jelas sekali itu tidak mungkin, maksudku...aku sangat yakin kalau dia pasti penghuni komplek ini, dia mengenakan pakaian yang lumayan bermerk walaupun sedang berolahraga.”


“Sudahlah, Mama tidak mau mendengarkan semua omong kosongmu ini, Jihan.”


Maka kemudian Ester pergi meninggalkan Jihan yang sedang merengut kesal karena lagi-lagi dirinya diacuhkan oleh sang mama, namun Jihan bertekad akan membuktikan bahwa pria itu adalah penghuni komplek perumahan ini dan radarnya pasti tidak akan salah.


“Aku yakin dia adalah penghuni komplek perumahan ini, lihat saja aku pasti akan mendapatkan informasi tentang pria itu.”


****


Di lain sisi nampak Olaf sedang ada di dalam kamarnya memikirkan pertemuannya dengan Tania dan Jihan tadi ketika dirinya sedang berolahraga, sungguh sebuah kebetulan yang tidak terduga kalau ia dan Tania bisa kembali bertemu, namun ada sebuah fakta mengejutkan bahwa Tania rupanya adalah asisten rumah tangga di rumah Jihan.


“Jadi dia hanya seorang pembantu,” lirih Olaf.


Pintu kamar Olaf terbuka dan seorang asisten rumah tangga mengatakan bahwa makan malam sudah siap di bawah.


Pria itu kemudian keluar dari kamarnya dan menuju lantai bawah di mana di meja makan sudah ada adik dan adik iparnya yang sudah duduk di meja makan dan hanya tinggal menunggu Olaf saja.


“Kak, apakah kamu tahu kalau besok papa dan mama akan kembali?” tanya Juan.


“Benarkah? Aku pikir mereka masih akan lebih lama tinggal di Australia,” jawab Olaf cuek.


“Sepertinya kamu sama sekali tidak menyukai berita kepulangan papa dan mama, ya?”


“Kalau papa dan mama pulang, maka mereka pasti akan membawakan pertanyaan yang sama seperti yang sudah-sudah.”


“Memangnya tidak ada wanita yang berhasil memikat hatimu?” tanya Juan.


“Sampai saat ini belum.”


Akhirnya makan malam dimulai dengan khidmat, tidak ada pembicaraan yang terjadi di antara mereka berdua hingga akhirnya Olaf telah menyudahi sesi makan malamnya dan pergi dari meja makan kembali ke kamarnya.


****


Keesokan harinya, Jihan sudah dipaksa oleh Ester untuk mau makan siang dengan calon tunangan dan mamanya, Jihan disuruh bersikap baik dan sopan oleh Ester dan tentu saja Ester melakukan itu dengan penuh ancaman

__ADS_1


dan intimidasi karena kalau Jihan tidak mau melakukan apa yang ia suruh, maka sudah dapat dipastikan kalau kartu kreditnya tidak akan pernah dapat digunakan lagi.


“Senang bisa bertemu denganmu, Jihan.”


“Senang juga dapat bertemu dengan Tante,” ujar Jihan dengan senyum yang dibuat semanis mungkin walaupun ia terpaksa melakukan ini semua.


“Ya ampun dia semakin hari semakin cantik saja.”


“Aduh kamu terlalu memuji, Ferdian juga nampak tampan sejak terakhir kami berjumpa,” ujar Ester.


Pria bernama Ferdian itu hanya tersenyum kecil saja saat dipuji oleh Ester sementara Jihan dan Ferdian sama-sama berkomunikasi dengan kedua mata mereka, sepertinya mereka tengah merencanakan sesuatu saat ini. Ferdian merasakan ponselnya berbunyi, ia melihat ada sebuah pesan masuk di ponselnya dan ternyata itu dari Jihan.


“Maaf semua, aku permisi ke toilet sebentar,” ujar Ferdian.


“Silakan, Nak.”


Maka Ferdian pun pergi ke toilet setelah meminta izin pada sang mama, kini giliran ponsel Jihan yang berdering, ada panggilan telepon, Jihan meminta izin pada Ester dan mamanya Ferdian untuk menjawab telepon ini sebentar.


“Maaf, aku harus menjawab telepon ini sebentar.”


*****


Tania sedang menyirami tanaman lagi pada sore hari ini, lagi-lagi Olaf melintas di depan rumah itu dan nampak menatap pagar tinggi yang menjulang tersebut, karena tingkah lakunya yang mencurigakan seorang satpam berjalan menghampirinya dan bertanya pada Olaf dia ingin mencari siapa.


“Maaf, anda mau cari siapa?”


“Apa? Oh, tidak, aku tidak mencari siapa pun.”


Tania yang memang sedang ada di taman depan rumah, dapat mendengar obrolan antara Olaf dan satpam yang berjaga di gerbang, Tania merasa heran kenapa pria itu kembali lagi ke sini? Apakah dia ingin bertemu dengan Jihan?


“Saya permisi dulu.”


Ketika Olaf pergi, mobil yang ditumpangi oleh Jihan dan Ester tiba, namun ketika satpam membukakan pintu gerbang untuk mobil masuk, Jihan keluar dari dalam mobil dan berteriak pada Olaf yang sudah berjalan agak


menjauh.


“Hei! Tunggu dulu!”


Olaf nampak tidak bergeming dan terus saja berjalan menjauh, Jihan nampak merengut kesal sementara Ester menghampiri putrinya dan menarik tangannya.


“Apakah kamu sudah kehilangan akal sehatmu?! Kenapa berteriak-teriak begitu di jalan raya!”


“Ma, pria itu, pria itu adalah orang yang aku cintai,” tunjuk Jihan pada Olaf yang sudah menjauh.

__ADS_1


“Jangan bicara omong kosong lagi, ayo cepat masuk ke dalam,” ujar Ester yang dengan paksa menarik tangan Jihan agar anaknya itu mau masuk ke dalam rumah.


__ADS_2