Berkah Cinta

Berkah Cinta
Kamu Tak Dapat Kembali Padanya


__ADS_3

Azka memaksa agar Ricky masuk ke dalam ruangan inap Felli, nampak Felli dan kedua orang tuanya menatap kedatangan Ricky yang memang tidak mereka duga sebelumnya, Ricky sendiri nampak salah tingkah ketika mereka semua menatapnya seperti itu.


“Selamat sore,” sapa Ricky.


“Sore,” ujar Hilda.


Azka memberikan kode pada kedua orang tuanya lewat matanya, seolah tahu apa kode yang diberikan oleh Azka kini kedua orang tua Felli pun keluar dari ruangan inap itu bersama dengan Azka. Kini hanya ada Ricky dan Felli saja di dalam ruangan ini, Ricky secara perlahan menghampiri Felli dan duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur wanita itu.


“Bagaimana keadaanmu?”


“Seperti yang kamu lihat.”


“Kamu tahu betapa cemasnya aku ketika adikmu menelponku untuk menanyakanmu yang tidak pulang ke rumah hari itu?”


“Kamu mencemaskanku?”


“Iya, aku mencemaskanmu, karena saking mencemaskanmu aku jadi tidak bisa tidur nyenyak dan juga tidak bisa fokus dalam bekerja.”


“Kamu berlebihan.”


“Tidak, aku mengatakan yang sejujurnya Felli, aku memang mengkhawatirkanmu.”


“Namun saat ini aku sudah baik-baik saja, jadi kamu tidak perlu khawatir lagi.”


*****


Stefani menatap pantulan dirinya di cermin, saat ini dia sedang menyisir rambutnya sementara Juan nampak sedang sibuk dengan laptopnya di atas tempat tidur, Stefani berdecak kesal karena Juan sibuk dengan laptopnya


sejak semalam, alih-alih menghabiskan malam pertama mereka, Juan malah tidur duluan dan pagi ini pria itu langsung mengambil laptopnya untuk bekerja.


“Apakah kamu harus bekerja hari ini?”


“Kenapa memangnya? Aku bosan tidak melakukan apa pun,” ujar Juan acuh masih tanpa menatap Stefani dan fokus menatap layar laptopnya.


Stefani berdecak kesal dengan sikap Juan itu, namun ia tidak mau memperpanjang masalah tersebut karena rencananya untuk menikah dengan Juan sudah terlaksana dan kini masuk pada tahapan berikutnya. Stefani pun


beranjak keluar dari dalam kamar mereka dan menuju lantai bawah, di sana ia tidak menemukan seorang pun hingga ketika ia secara tidak sengaja melintas di jendela, ia melihat Olaf sedang berolahraga di halaman rumah, dengan semangat wanita itu keluar dari rumah dan menghampiri Olaf yang sedang melakukan pemanasan. Olaf nampak terkejut ketika seseorang memeluknya dari belakang dan ia sudah tahu siapa orang yang berani melakukan tindakan kurang ajar ini.


“Apa-apaan kamu ini?!” seru Olaf berang ketika ia melepaskan pelukan Stefani itu.

__ADS_1


“Aku merindukanmu, sayang,” bisik Stefani.


“Menjijikan! Kamu sudah menikah dengan adikku dan kamu menggoda pria lain?!” seru Olaf.


“Sejujurnya, aku masih tertarik padamu,” ujar Stefani.


“Sudah aku duga, ini pasti bagian dari rencana licikmu.”


“Kita akan lihat nanti Olaf, kamu pasti akan bertekuk lutut padaku seperti Juan.”


*****


Minanti keluar dari dalam kamarnya dan nampak heran ketika melihat Olaf masuk ke dalam rumah dengan raut wajah kesal, ia sempat bertanya pada Olaf namun anaknya itu hanya menjawab singkat saja dan tidak menjelaskan secara rinci apa yang membuatnya kesal. Dan tidak lama kemudian ia melihat Stefani ikut masuk ke dalam rumah dan ia sudah mengetahui apa yang sudah membuat Olaf kesal tadi.


“Apa yang kamu lakukan tadi?” tanya Minanti dingin.


“Aku tidak melakukan apa pun, aku tadi hanya berjalan-jalan menghirup udara segar,” ujar Stefani.


“Di mana Juan?”


“Dia ada di kamar, dia bekerja dengan laptopnya dan mengacuhkanku.”


“Ingat Stefani, aku akan terus mengawasimu kalau kamu berani melakukan tindakan konyol maka kamu akan tanggung akibatnya.”


“Aku tidak peduli, kita lihat saja nanti, pokoknya aku tidak akan mundur sedikit pun.”


*****


Juan baru saja selesai bekerja dan ia keluar dari dalam kamarnya bertepatan dengan Olaf yang baru saja naik ke lantai dua, Olaf yang melihat Juan baru saja keluar dari dalam kamar langsung menghampiri Juan dan mengatakan apa yang telah Stefani lakukan tadi padanya.


“Juan, apakah kamu tahu yang dilakukan oleh wanita itu tadi?”


“Apa?”


“Dia memelukku dan mengatakan sayang padaku, bukankah itu adalah hal yang menjijikan?”


Juan hanya diam saja, sementara itu Olaf meraih kedua bahu adiknya dan menatapnya tajam, Olaf mengatakan bahwa wanita itu tidak mencintainya.


“Aku tahu Kak, dia tidak mencintaiku.”

__ADS_1


“Kalau kamu tahu dia tidak mencintaimu harusnya kamu tidak perlu melakukan ini, Juan.”


“Apakah kamu ingin aku menjadi seorang pria yang tidak bertanggung jawab, Kak? Aku sudah membuat Stefani hamil dan aku tidak ingin melarikan diri dari hal itu.”


Olaf menghela napasnya berat dan mengusak rambutnya frustasi, ia benar-benar kesal dengan Stefani yang saat ini sudah masuk ke dalam rumah mereka, ia kemudian mengatakan pada Juan bahwa secepatnya dia akan


pindah dari rumah ini karena setelah ia dan Tania menikah, ia tidak ingin satu rumah dengan Stefani.


“Apa pun itu, aku tidak akan mencampuri urusanmu, Kak.”


“Baguslah.”


Namun rupanya diam-diam Stefani menguping pembicaraan Olaf dan Juan barusan, tentu saja Stefani tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi.


“Jadi kamu ingin melarikan diri dariku, hm?”


*****


Stefani kembali ke kamar mereka dan Juan menatapnya tajam, Stefani nampak acuh dan ia hendak masuk ke dalam kamar mandi namun Juan menahannya agar ia tidak pergi ke mana pun dulu karena saat ini ia hendak


membicarakan sesuatu dengan istrinya itu.


“Stefani, jangan pergi ke mana pun dulu, aku ingin bicara.”


“Kamu ingin bicara apa memangnya?”


“Ini menyangkut soal kakakku, apakah benar kalau kamu masih menyukai kakakku?”


Stefani nampak menyeringai atas pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Juan barusan, wanita itu kemudian melipat kedua tangannya dan menatap ke arah Juan dengan tatapan yang menyebalkan.


“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”


“Aku peringatkan padamu jangan bermain api dengan kakakku, karena aku tidak akan mengampunimu kalau sampai kamu melakukan itu.”


Stefani nampak tertawa dengan ancaman yang barusan dikeluarkan oleh Juan, wanita itu seolah menyepelekan apa yang baru saja dikatakan oleh Juan barusan, tentu saja Juan merasa tersinggung dengan sikap Stefani yang seolah menyepelekannya ini.


“Aku serius Stefani, jangan tertawa!”


“Apakah kamu pikir aku akan takut dengan ancamanmu Juan? Sayangnya tidak, aku tidak takut dengan ancamanmu,” ujar Stefani dengan tenang.

__ADS_1


“Kalau saja bukan karena anak itu, maka aku tidak akan mau menikah denganmu.”


“Namun nyatanya ini semua sudah terjadi, kan? Kita sudah menikah dan kamu harus menerima takdirmu yang tidak akan pernah bisa bersatu kembali dengan Felli,” seringai Stefani yang membuat Juan kesal.


__ADS_2