
Minanti tidak kuasa untuk membendung air matanya agar tidak tumpah, mulutnya tidak mengatakan apa pun selain isakan yang keluar dari sana, Tania sendiri dapat merasakan bahwa Minanti nampak begitu tersiksa dengan
semua rahasia yang selama ini ia simpan untuk dirinya sendiri.
“Tidak apa Nyonya, anda dapat keluarkan semuanya.”
Untuk beberapa saat Minanti tidak mengatakan apa pun, namun setelah ia dapat menguasai dirinya maka kini Minanti pun menghapus air mata yang sejak tadi tumpah dari kedua matanya.
“Aku minta maaf Tania karena selama ini tidak pernah jujur padamu.”
“Tidak apa Nyonya.”
“Sejujurnya aku merasa malu bertemu denganmu apalagi beban rahasia dari masa lalu yang membuatku begitu tertekan.”
“Saya mengerti, Nyonya.”
“Tania… aku minta maaf.”
“Nyonya sudah berulang kali mengatakan itu.”
“Aku tahu, aku… aku ….”
“Tidak apa, Nyonya.”
“Sejujurnya aku tidak siap mengatakan kebenaran ini padamu, namun harus aku akui bahwa… kamu memang anakku.”
Tania kini menatap Minanti dalam, ia benar-benar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, bagaimana bisa Minanti adalah ibu kandungnya?
“Maafkan aku Tania, aku tidak bisa jujur padamu dan yang lain sejak awal.”
“Bisakah Nyonya menceritakan dari awal bagaimana peristiwa itu terjadi?”
“Apakah kamu yakin?”
“Iya, katakan padaku yang sejujurnya.”
*****
Kisah bermula lebih dari 30 tahun lalu ketika Bima dan Minanti memang begitu dekat karena mereka kuliah di universitas yang sama dan mereka juga satu program studi, saat itu Bima dekat dengan Hanum dan terdengar
desas-desus bahwa mereka berpcaran namun Minanti yang mendengar itu tentu saja tidak percaya begitu saja, ia pun memberanikan diri pada Bima mengenai desas-desus yang beredar di kalangan mahasiswa seangkatan mereka.
“Bima, apakah benar yang dikatakan oleh mereka semua?”
“Mereka? Apa yang mereka bicarakan tentangku?”
“Mereka bilang kalau kamu dan Hanum berpacaran.”
“Dan kamu percaya?”
“Jadi itu tidak benar?”
Minanti nampak begitu bahagia saat Bima mengatakan itu, ia sudah menduga bahwa seharusnya ia tidak perlu mendengarkan ucapan orang lain, ia tahu bahwa Bima tidak mungkin menyukai Hanum apalagi sampai berpacaran
__ADS_1
dengan perempuan itu.
“Namun Minanti, sejujurnya aku menyukainya.”
Kebahagiaan Minanti pun seketika redup saat Bima mengatakan itu, ia menatap Bima dengan tatapan tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
“Apa?”
“Iya, aku dan Hanum memang belum berpacaran namun… sejujurnya aku menyukai gadis itu.”
“Kenapa?”
“Kalau kamu tanya kenapa, aku tidak tahu dengan pasti apa jawabannya, namun… satu hal yang pasti setiap kali kami berpapasan secara tidak sengaja di koridor, degup jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya.”
****
Minanti yang mendengar pengakuan Bima itu tentu saja kecewa namun ia menahan diri untuk tidak mengatakan hal yang sejujurnya pada pria itu bahwa ia menyukainya sejak mereka masih berstatus sebagai mahasiswa baru. Minanti hanya bisa menahan kekesalannya ketika teman-temannya bergosip mengenai kedekatan Bima dan Hanum hingga akhirnya ketika kelas berakhir pada sore itu, Minanti secara tidak sengaja bertemu dengan Hanum di koridor, gadis itu memang nampak cantik dan membuat Minanti iri padanya.
“Maaf, kamu teman dekatnya Bima, ya?”
Minanti nampak terkejut ketika Hanum menyapanya, mau tidak mau Minanti pun menganggukan kepalanya, Hanum nampak tersenyum dan kemudian berjalan menghampiri Minanti.
“Bima banyak bercerita tentangmu, dia bilang kamu adalah teman yang baik baginya.”
“Begitukah?”
“Iya dia mengatakan seperti itu.”
Hanum kemudian meminta agar Minanti ikut dengannya ke sebuah café yang letaknya tidaklah jauh dari kampus mereka, di sini Hanum memesankan Minanti sebuah minuman karena Minanti bilang ia tidak lapar. Minanti
“Hanum, apakah kamu menyukai Bima?”
“Apa?”
“Bima bilang dia menyukaimu.”
Hanum nampak terkejut mendengar ucapan Minanti barusan, ia nampak bingung harus mengatakan apa pada Minanti.
*****
Waktu berlalu dengan cepat, Bima dan Hanum semakin dekat dan Bima mengurangi waktunya untuk curhat dengannya, kehadiran Hanum membuat Minanti merasa tersisihkan dari hidup pemuda itu. Hingga suatu hari,
Minanti pun nekat mendatangi Bima dan menanyakan perihal hubungan pemuda itu dengan Hanum.
“Minanti?”
“Bima, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu, dan aku harap kamu mau jujur padaku.”
“Sebenarnya ada apa? Apa yang ingin kamu tanyakan padaku?”
“Apakah kamu dan Hanum sudah resmi berpacaran?”
“Apa?”
__ADS_1
“Katakan yang sejujurnya Bima!”
“Baiklah, aku akan jujur padamu, aku dan Hanum memang sudah resmi berpacaran, aku minta maaf karena tidak memberitahumu tentang hal itu.”
“Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang? Aku ini sahabatmu, kan?”
“Aku tahu Minanti, aku minta maaf, sebenarnya hari ini aku ingin memberitahumu mengenai kabar bahagia ini, namun ternyata kamu sudah duluan menanyakan hal ini padaku.”
Hati Minanti begitu hancur saat tahu Bima dan Hanum sudah berpacaran, ia masih tetap menjadi teman baik Bima dan Hanum, mereka bertiga nampak kompak dan Minanti selalu memasang wajah bahagianya ketika berada di depan mereka berdua hingga akhirnya Bima dan Hanum sepakat untuk memperkenalkan Minanti pada seseorang.
“Minanti, kami ingin memperkenalkanmu pada seseorang,” ujar Hanum.
“Siapa?”
*****
Minanti nampak tidak menyukai orang yang dikenalkan oleh Hanum padanya, baginya hanya Bima saja seorang yang ia cintai, ia menolak pemuda itu dan kini selepas mereka semua lulus kuliah, Bima sudah berancang-ancang akan melamar Hanum sebagai calon istrinya, tentu saja hati Minanti kembali hancur dan sakit mendengar itu semua, ia tidak bisa menahan dirinya lagi untuk tidak mengatakan yang sebenarnya pada Bima.
“Bima.”
“Minanti? Ada apa kamu mendatangiku malam-malam begini?”
“Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.”
“Sesuatu? Sesuatu apa?”
“Aku menyukaimu.”
“Aku tahu itu, aku juga menyukaimu.”
“Bukan menyukai sebagai sahabat, namun sebagai seorang wanita yang menyukai seorang pria.”
Raut wajah Bima berubah, ia nampak bingung harus mengatakan apa pada Minanti saat ini karena dirinya saat ini sudah memiliki Hanum.
“Minanti, kamu sendiri sudah tahu bahwa aku sudah memiliki Hanum.”
“Aku tahu, dan aku menyesal karena aku tidak mengatakan hal ini sejak awal.”
“Walaupun kamu mengatakan ini sejak awal, namun sepertinya kamu juga akan kecewa padaku karena aku tidak bisa membalas perasaanmu.”
“Apa?”
“Aku minta maaf Minanti, namun aku tidak mau memberikan kamu harapan palsu.”
“Tidak Bima, aku mencintaimu, tolong jangan lakukan ini padaku, aku mohon.”
“Minanti, tolong kamu mengerti bahwa cinta itu tidak dapat untuk dipaksa.”
“Tapi Bima …”
“Hari sudah malam, aku akan mengantarkanmu pulang.”
“Tidak, aku tidak mau.”
__ADS_1
“Namun kalau terjadi sesuatu hal yang buruk padamu bagaimana?”
“Aku bisa menjaga diriku, selamat malam.”