Berkah Cinta

Berkah Cinta
Terciduk


__ADS_3

Ester menjelaskan bahwa memang ia mengusir Tania dari rumah ini tanpa menunjukan raut wajah bersalahnya namun sikap Ester itu rupanya memicu kemarahan Handi, bahkan karena saking marahnya Handi sampai menampar wajah Ester, Jihan nampak terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya.


“Berani sekali kamu mengusir Tania dari rumah ini, sudah aku katakan padamu jangan bersikap sewenang-wenang di rumah ini karena aku yang berkuasa!”


“Kenapa kamu selalu saja membela gadis itu?! Dia itu pembawa masalah di rumah ini!”


“Apakah kamu tahu bahwa dia adalah pemilik rumah ini?! Kita hanya tamu yang menumpang di rumah ini namun bersikap seolah-olah ini adalah rumah kita, harusnya kamu tahu diri Ester!”


“Ini memang rumah kita, semua aset milik Bima sudah dibalik nama atas namamu, untuk apa juga aku harus bersikap lemah lembut dan memperlakukannya seperti seorang putri raja?”


“Kamu sudah benar-benar keterlaluan Ester, kamu akan merasakan pembalasan yang menyakitkan, aku pastikan itu!”


Setelah mengatakan hal tersebut Handi pergi lagi dari rumah ini untuk mencari di mana keberadaan Tania, sementara itu Jihan mendekati Ester dan menanyakan apakah sang mama baik-baik saja atau tidak.


****


Handi berusaha menghubungi nomor ponsel Tania, namun ponsel Tania tidak aktif, Handi menghela napasnya panjang, ia tak tahu harus mencari di mana keberadaan Tania saat ini, ia bisa berada di mana saja sementara hari sudah gelap, ia takut kalau sesuatu hal yang buruk terjadi padanya.


“Pak, kita akan pergi ke mana lagi?”


“Antarkan saya ke hotel.”


“Baik.”


Handi memilih untuk menginap di hotel dari pada harus pulang ke rumah dan bertengkar hebat dengan Ester akibat perlakuan sewenang-wenangnya pada Tania hingga membuat Tania tidak diketahui keberadaannya saat ini.


“Ya Tuhan, semoga engkau selalu menjaga Tania,” lirih Handi.


Setelah sampai di hotel, Handi mengatakan pada sopirnya untuk pulang saja dan besok pagi ia harus menjemputnya di hotel ini untuk berangkat kerja, sang sopir pun berpamitan pada Handi untuk kembali ke rumah tanpa Handi. Di rumah rupanya Ester sudah menunggu kedatangan Handi namun ia merasa heran kenapa di dalam mobil itu tidak ada suaminya.


“Di mana suamiku?”


“Tuan Handi ada di suatu tempat, namun saya dimintanya untuk tidak mengatakan apa pun pada Nyonya.”


“Apa maksudmu? Dia mengatakan itu padamu?”


“Iya Nyonya, Tuan Handi mengatakan seperti itu, saya hanya menjalankan perintah yang Tuan Handi berikan pada saya.”


*****


Sementara itu Tania tidak dapat tidur dengan nyenyak walaupun di rumah Olaf, ia diperlakukan dengan baik oleh keluarga pria itu, Tania menjadi merasa tidak enak pada Olaf, pria itu sudah membantunya sampai ia dapat bekerja di rumah ini dan mendapatkan tempat tinggal.

__ADS_1


“Tuan.”


“Kamu tidak perlu memanggilku Tuan, panggil saja namaku.”


“Namun bukankah itu tidak sopan?”


“Sudahlah, kamu tidak perlu sungkan begitu.”


“Namun ....”


“Kenapa kamu memanggilku?”


“Aku ingin berterima kasih karena sudah membuatku dapat bekerja di sini, aku janji akan membuat yang terbaik dan tidak akan mengecewakanmu.”


“Itu pasti, kamu harus melakukan yang terbaik dan jangan sampai membuatku kecewa dengan pekerjaanmu.”


Tania nampak menundukan kepalanya dan hendak pergi ke belakang namun Olaf menahan tangannya dan hal tersebut membuat gadis itu terkejut dengan yang pria ini lakukan.


“Maaf, tadi reflek saja,” ujar pria itu yang baru menyadari bahwa tangannya memegangi tangan Tania hingga gadis itu tidak dapat pergi menjalankan tugasnya.


“Tidak apa, saya permisi dulu,” ujar Tania yang kemudian pergi meninggalkan Olaf di sana.


Juan yang melihat itu mendatangi Olaf dan bertanya pada kakaknya itu, apakah ia memiliki perasaan spesial pada Tania, namun Olaf menampik itu dan mengatakan pada Juan untuk tidak memikirkan hal konyol seperti itu.


*****


Ester mendatangi kantor Handi, ia menerobos masuk ke dalam ruangan kerja Handi padahal sekretaris Handi sudah melarang Ester untuk menerobos masuk ke dalam ruangan kerja bosnya namun karena Ester memaksa maka ia tidak dapat melakukan sesuatu untuk mencegah wanita ini masuk ke dalam ruangan kerja Handi.


“Maaf Tuan, saya tidak bisa mencegahnya.”


“Tidak apa, kamu sudah melakukan yang terbaik, kamu boleh pergi sekarang.”


“Baiklah, saya permisi dulu.”


Sekretaris itu pun pergi meninggalkan ruangan kerja Handi, setelah sekretaris itu pergi barulah Ester menumpahkan kekesalannya pada Handi, ia marah sekali karena semalaman Handi tidak pulang dan ponselnya tidak aktif hingga saat ini.


“Dari mana saja semalaman kamu? Kenapa tidak pulang?”


“Apakah itu menjadi masalah untukmu?”


“Katakan padaku, kamu pergi ke mana semalam!”

__ADS_1


“Aku tidak akan mengatakannya padamu karena itu bukanlah hal yang penting untuk dibahas.”


“Apa katamu? Tidak penting?! Berani sekali kamu mengatakan bahwa apa yang aku katakan ini tidak penting, aku mencemaskanmu semalaman karena kamu tidak pulang ke rumah!”


“Sudahlah Ester, jangan berlebihan begitu, aku masih banyak pekerjaan sekarang, kalau kamu memang sudah tidak memiliki kepentingan di sini, lebih baik kamu keluar saja dari sini.”


“Apa? Apakah kamu baru saja mengusirku?!”


*****


Hari ini Ferdian mengajak Jihan makan siang bersama, Jihan tidak menolak ajakan Ferdian itu dan kini mereka ada di sebuah restoran pilihan Ferdian, ini merupakan kali pertama Jihan mau diajak keluar oleh pria itu setelah selama beberapa hari belakangan Jihan tidak mau diajaknya pergi ke luar rumah.


“Boleh aku bertanya sesuatu padamu?”


“Apa yang ingin kamu tahu?”


“Waktu itu mamamu menelponku dan beliau mengatakan bahwa setelah kita pergi makan siang dan aku mengantarkanmu ke mall, sikapmu jadi aneh.”


“Kenapa kamu harus membahas hal itu, sih?”


“Karena aku hanya ingin memastikan bahwa yang membuatmu menjadi seperti itu bukanlah aku.”


“Tentu saja bukan kamu.”


“Syukurlah kalau begitu, namun siapa dia?”


“Jangan terlalu ikut campur urusan orang, ya!”


“Kamu galak sekali, sih.”


Lagi-lagi tatapan Jihan bersitatap dengan orang itu, Jihan nampak gelisah dan buru-buru meraih tasnya, sikap Jihan itu membuat Ferdian heran, baru saja mereka datang ke sini dan Jihan sudah mau pergi saja? Memangnya apa yang saat ini sedang terjadi?


“Jihan, kamu mau pergi ke mana? Kita bahkan belum memesan makanan.”


“Lepaskan tanganmu, Ferdian!”


“Aku tidak akan melepaskan tanganmu sebelum kamu mengatakan apa yang sebenarnya terjadi saat ini.”


Tiba-tiba saja seorang pria mendatangi mereka dan raut wajah Jihan berubah saat melihat pria itu, pria itu nampak senang karena akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan Jihan namun sepertinya hal tersebut terjadi sebaliknya pada Jihan.


“Jihan, senang bertemu denganmu di tempat ini.”

__ADS_1


“Kenapa kamu ada di tempat ini?”


__ADS_2