Berkah Cinta

Berkah Cinta
Optimis dan Rasa Takut


__ADS_3

Sementara itu di rumah orang tuanya Ferdian bicara dengan sang papa mengenai apa yang ia lakukan pada Gubernur, sang papa nampak tidak setuju dengan yang dilakukan oleh Ferdian karena saat ini keuangan


perusahaan sedang tidak baik dan Ferdian malah ingin menghamburkan kas perusahaan untuk menyuap Gubernur agar lelang proyek itu menjadi milik mereka.


“Papa selalu saja berbicara seperti itu, aku paham betul bagaimana kas keuangan perusahaan, kita masih memiliki cadangan dana yang dapat kita gunakan.”


“Namun bagaimana kalau aksimu itu ketahuan? Belakangan ini Kejaksaan kerap kali melakukan OTT pada pengusaha dan kepala daerah.”


“Bukankah Papa sudah bergelut di dunia ini selama puluhan tahun? Kenapa Papa takut sekali kalau kita akan terjaring OTT?”


“Zaman sudah berubah, dan keuangan kita semakin menipis karena kehilangan beberapa proyek dan investor, belum lagi dengan utang jatuh tempo yang harus kita bayarkan pada Bank.”


“Sudahlah Pa, aku tahu apa yang aku lakukan, dan Papa tidak perlu menjadi orang yang sok suci padahal Papa pun pernah melakukan itu bukan?”


“Apa maksudmu?”


“Papa pikir saat aku kuliah di Amerika aku tidak tahu kasus apa yang tengah menjerat Papa dulu? Papa nyaris saja dipenjara karena terlibat kasus suap menyuap kepala daerah namun nyatanya sampai saat ini Papa selamat dan tidak dipenjara, bukan?”


“Ferdian!”


“Maka dari itu Papa jangan coba menghalangiku, aku tahu apa yang aku lakukan dan harus aku tegaskan pada Papa bahwa aku tidak akan kalah dari Olaf!”


****


Sementara itu Olaf dan Tania masih saja berbincang di ruang tamu hingga akhirnya hari sudah malam dan Olaf pun berpamitan pada Tania, Olaf berpesan pada Tania bahwa jangan sungkan untuk meminta bantuannya.


“Ngomong-ngomong soal proyek itu.”


“Ada apa memangnya?”


“Apakah kamu yakin kalau kamu yang akan memenangkan proyek itu?”


“Tentu saja.”


“Namun Ferdian sudah mencuri start.”


“Kamu tidak perlu memikirkan hal itu Tania, kamu hanya perlu lihat nanti.”


Olaf pun bergegas masuk ke dalam mobilnya dan ia pun melajukan kendaraannya itu meninggalkan pekarangan rumah ini, tidak lama setelah Olaf pergi kini Ferdian sampai di rumah. Tania nampak lega karena untung saja setelah Olaf pergi barulah Ferdian kembali ke rumah.


“Apa yang kamu lakukan malam-malam begini di luar rumah?”


“Aku hanya ingin mencari udara segar, kenapa jam segini baru pulang?”


“Ada beberapa hal yang aku bicarakan dengan papa, udara malam tidak baik untukmu ayo masuk ke dalam.”


****

__ADS_1


Stefani kembali datang ke kantor Olaf dan ia ingin mengajak pria itu makan siang namun Olaf menolaknya dan mengatakan bahwa ia sedang sibuk saat ini, namun Stefani tentu saja tidak menyerah begitu saja, ia masih terus membujuk agar Olaf mau ikut makan siang bersamanya.


“Stefani, apakah kamu tidak dapat melihat bahwa saat ini aku sedang sibuk? Kalau kamu masih saja mengganguku maka keluar dari ruangan ini!”


“Olaf, tega sekali kamu mengusirku dari sini.”


“Keluar sekarang atau aku akan memanggilkan satpam!”


“Olaf aku tidak akan keluar dari sini.”


“Baiklah, kamu tidak memberikanku pilihan lain.”


Olaf pun memanggil satpam dan menyuruh satpam untuk mengeluarkan Stefani dari dalam ruangan kerjanya, Stefani tentu saja berusaha menolak dan melepaskan diri dari satpam yang hendak membawanya keluar dari


ruangan kerja Olaf.


“Olaf, kamu tidak bisa melakukan ini padaku, lepaskan aku!”


Namun Olaf sama sekali tidak bergeming, ia kembali fokus dengan pekerjaannya dan Stefani pun dibawa keluar dari dalam ruangan kerja Olaf.


“Apa yang terjadi di sini?” tanya Juan yang kebetulan melihat aksi satpam membawa Stefani.


“Juan tolong aku, aku diperlakukan buruk oleh kedua satpam ini,” adu Stefani.


“Apa yang kalian lakukan pada dia?” tanya Juan.


****


Ferdian mendapatkan telepon dari Gubernur bahwa sang Gubernur meminta agar Ferdian segera memberikannya semua uang yang sudah dijanjikan oleh pria tersebut. Ferdian pun menyanggupinya namun tentu saja ia


tidak memberikan semua uang yang sudah ia janjikan untuk memenangkan perusahaannya dalam lelang yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Ia memanggil orang suruhannya untuk masuk ke dalam ruangan kerjanya saat ini.


“Anda memanggil saya Tuan?”


“Iya, berikan tas ini pada ajudan Gubernur, pastikan tidak ada orang Kejaksaan yang melihatnya, kamu mengerti?”


“Saya mengerti Tuan.”


“Baguslah kalau begitu kamu bisa pergi.”


Selepas orang suruhannya pergi, sang sekretaris mengetuk pintu ruangan kerja Ferdian dan kemudian masuk ke dalam, Ferdian nampak tidak mempedulikan sang sekretaris dan sibuk mengetikan sesuatu di laptopnya.


“Tuan ada sesuatu yang perlu saya sampaikan pada anda.”


“Ada apa?” tanya Ferdian tanpa menoleh pada sekretarisnya.


“Pak Direktur Utama mengatakan bahwa rekening perusahaan akan tertutup untuk penarikan uang dalam jumlah besar.”

__ADS_1


“Apa maksudmu?”


“Sepertinya beliau sudah mengetahui bahwa anda berusaha memberikan sejumlah uang dengan jumlah yang besar pada Gubernur agar memenangkan perusahaan kita dalam lelang pemerintah daerah.”


“Baiklah, aku mengerti, kamu boleh pergi.”


“Saya permisi dulu.”


Maka kemudian setelah sang sekretaris keluar dari ruangan kerjanya, Ferdian memikirkan cara agar ia tetap dapat memberikan sejumlah uang agar perusahaannya memenangkan lelang ini.


****


Sementara di ruangan kerjanya Tania mendapatkan kabar burung yang mengatakan bahwa Kejaksaan saat ini tengah menyelidiki adanya kasus dugaan suap kepada salah satu Gubernur oleh oknum pengusaha yang tidak lain


adalah suaminya sendiri. Tania tahu bahwa cepat atau lambat pasti kasus ini akan segera diungkap ke publik dan kalau sampai suaminya terkena OTT Kejaksaan maka pasti Ferdian akan meringkuk di balik jeruji besi untuk waktu yang lama.


“Mungkinkah aku harus memanfaatkan situasi ini?”


Baru saja Tania sedang memikirkan sebuah rencana yang dapat membuat dirinya terbebas dari Ferdian, ponselnya berdering dan tertera nama suaminya di layar ponselnya, Tania awalnya nampak malas menjawab telepon dari Ferdian namun pada akhirnya ia pun menjawab telepon dari Ferdian.


“Mau apa kamu menelponku?”


“Aku ingin bertemu denganmu, apakah kamu ada waktu?”


“Tidak, aku tidak punya waktu.”


“Kalau begitu aku akan datang ke kantormu.”


“Apa?!”


“Tunggu aku ya.”


Tania benar-benar kesal dengan Ferdian, namun ia tidak memiliki cara untuk menghentikan pria itu untuk datang ke kantornya tidak lama kemudian akhirnya Ferdian tiba di kantornya dan disambut dingin oleh Tania.


“Kenapa kamu ingin bertemu denganmu.”


“Karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.”


“Kamu ingin membicarakan apa denganku memangnya?”


“Ini menyangkut tentang perusahaan kita.”


“Apa maksudmu?”


“Aku berpikir bahwa mungkin kita bisa menyatukan perusahaan kita dengan begitu nilai perusahaan kita akan menjual di mata investor, kita dapat mendulang keuntungan yang besar di pasar saham.”


“Kamu pikir aku akan menyetujui idemu itu?!”

__ADS_1


__ADS_2