Berkah Cinta

Berkah Cinta
Kenapa Dia Lagi?


__ADS_3

Ferdian nampak menatap Jihan dan pria ini secara bergiliran, ia tidak tahu menahu apa yang sebenarnya terjadi saat ini, namun dari yang ia lihat saat ini sepertinya Jihan tidak menyukai ketika ia di datangi oleh pria ini.


“Kenapa kamu ada di tempat ini?”


“Apakah itu menjadi urusanmu? Ini adalah tempat umum!”


Pria itu kini menatap Ferdian dengan seksama, ia kemudian menatap Jihan seolah menginginkan penjelasan dari Jihan mengenai siapa orang yang ada di sampingnya ini.


“Kenapa? Kamu ingin tahu siapa dia? Dia adalah calon suamiku!”


Bukan hanya pria itu yang terkejut, namun Ferdian pun juga ikut terkejut mendengar apa yang Jihan katakan, ia bahkan sampai mengerjapkan matanya heran, apakah barusan ia salah dengar? Namun ia merasa bahwa saat ini pendengarannya masih berfungsi dengan baik dan ia yakin bahwa saat ini ia tidak salah dengar ketika mendengar kalau Jihan mengatakan bahwa dia adalah calon suaminya.


“Apa maksudmu? Kamu bercanda, kan?”


“Apa maksudmu kalau aku sedang bercanda? Aku sama sekali tidak bercanda, aku sangat serius dengan ucapanku ini!”


****


Selepas insiden di restoran itu, Jihan diantarkan oleh Ferdian pulang ke rumahnya, namun selama perjalanan pulang menuju rumah, tidak ada pembicaraan yang terjadi di antara mereka berdua hingga akhirnya Ferdian


tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menanyakan perhal relasi antara Jihan dan pria yang mereka temui di restoran.


“Jihan, siapa pria itu?”


“Sejak kapan kamu menjadi ingin tahu urusan pribadiku?”


“Aku minta maaf jika mengusik urusan pribadimu, namun jujur saja aku penasaran sekali dengan siapa dia.”


“Menurutmu siapa dia?”


“Hum, menurutku sepertinya kalian berdua pernah memiliki hubungan di masa lalu?”


Jihan sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Ferdian namun ia memalingkan wajahnya ke luar jendela, Ferdian nampak menunggu apa tanggapan dari Jihan mengenai pertanyaan yang barusan ia lontarkan.


“Kamu benar, kami memang pernah memiliki kisah, namun itu di masa lalu.”


“Kalau aku boleh tahu kenapa kalian sampai bisa putus?”


“Dia memutuskanku, entah apa yang melatar belakanginya, dia meninggalkanku tanpa sebab yang jelas.”


“Begitu rupanya.”


“Namun tunggu dulu, kenapa juga aku harus menceritakan masalah ini padamu?! Sungguh membuatku kesal saja!”

__ADS_1


Akhirnya Ferdian dan Jihan tiba di depan rumah, Jihan membuka sabuk pengaman dan langsung turun dari mobil tanpa mengucapkan terima kasih pada Ferdian, pria itu nampak tidak masalah dengan sikap Jihan barusan,


walau bagaimanapun juga pasti kejadian bertemu dengan pria dari masa lalunya bukanlah sesuatu yang menyenangkan.


*****


Tania nampak sedang membersihkan perabotan rumah tangga di rumah keluarga Olaf, ketika ia tengah melakukan tugasnya itu, Minanti menghampiri Tania dan bertanya perihal hubungan antara Tania dengan putranya.


“Tania, sebenarnya kamu dan Olaf ada hubungan apa?”


“Apa maksud Nyonya? Saya dan Tuan Olaf tidak memiliki hubungan apa pun.”


“Oh benarkah? Namun kenapa di mataku sepertinya Olaf tertarik padamu?”


“Itu pasti hanya perasaan Nyonya saja.”


“Iya mungkin saja itu hanya perasaanku, namun ngomong-ngomong aku belum mengenal kamu lebih jauh, boleh kamu ceritakan bagaimana hidupmu selama ini?”


Tania pun menceritakan bagaimana kisah hidupnya pada Minanti, wanita itu nampak begitu antusias mendengar cerita Tania, ia sama sekali tidak menyela cerita Tania dan membiarkan gadis itu menceritakan kisah masa lalunya yang pahit pasca ditinggalkan oleh kedua orang tuanya.


“Jadi kedua orang tuamu meninggal dunia ketika kamu masih kecil?”


“Begitulah Nyonya.”


“Namun saya yakin bahwa saat ini mereka sudah berada di tempat yang indah di atas sana.”


“Iya, aku juga yakin begitu.”


Minanti memperlakukan Tania jauh lebih baik dari pada Ester memperlakukannya, kalau Ester akan membentaknya dan memarahinya tanpa ampun, Minanti cenderung lemah lembut walaupun sifat ingin tahunya sangat tinggi.


*****


Kepulangan Jihan yang murung setelah makan siang dengan Ferdian membuat Ester bertanya-tanya, jangan-jangan Ferdian berdusta padanya dengan mengatakan bahwa ia sama sekali tidak tahu menahu apa yang


terjadi pada Jihan, Ester pun mendatangi kamar Jihan dan bertanya pada putrinya mengenai apa yang sebenarnya terjadi saat ini.


“Sayang, sebenarnya apa yang terjadi padamu saat ini?”


“Bukan apa-apa.”


“Kamu tidak bisa menipu Mama, Nak, Mama tahu kalau kamu sedang berbohong.”


“Aku tidak ingin membaginya dengan Mama.”

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu, kamu istirahat saja di sini.”


Ester pun keluar dari dalam kamar Jihan dengan tidak mendapatkan apa-apa, namun ia masih ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya, maka Ester pun menelpon Ferdian untuk menanyakan apa yang sebenarnya


terjadi pada Jihan dan ia harap Ferdian mau mengatakan yang sejujurnya padanya.


“Halo, Nak?”


“Tante? Ada apa ya?”


“Begini, apakah kamu tahu apa yang terjadi pada Jihan? Tante perhatikan tadi semenjak ia pulang dari makan siang bersamamu kok dia nampak sedih dan murung? Apakah kamu tahu sesuatu tentang apa yang sebenarnya terjadi padanya?”


“Sebenarnya aku tahu apa yang terjadi padanya Tante.”


“Benarkah? Kalau begitu, maukah kamu memberitahu Tante apa yang sebenarnya terjadi padanya?”


“Tadi ia bertemu dengan mantan kekasihnya.”


*****


Handi mengerahkan orang suruhannya untuk mengumpulkan informasi di mana keberadaan Tania karena ia merasa sangat bersalah sekali kalau sampai Tania tidak dapat ditemukan, ia berdoa pada Tuhan agar Tania bisa


segera ditemukan dan dapat ia bawa kembali pulang ke rumah. Saat ini sudah waktunya pulang kantor namun Handi masih belum beranjak dari kursinya, ia masih saja duduk termenung di sana dan saat melihat nama Ester di layar ponselnya, Handi memilih menolak panggilan itu. Ia masih tidak mau bertemu atau berbicara dengan wanita yang sudah menjadi istrinya selama lebih dari 20 tahun itu, ia masih sangat kecewa dengan apa yang Ester lakukan tanpa sepengetahuan dirinya selama ini.


“Ya Tuhan, semoga saja Tania bisa segera ditemukan.”


Ester kembali menelpon Handi, namun pria itu lagi-lagi menolak panggilan dari Ester, hingga tidak lama kemudian saat Handi hendak pergi dari kantor ini, Ester muncul di depan kantor untuk menemuinya.


“Kenapa kamu tidak menjawab panggilanku?”


“Memangnya kenapa kalau aku menolak untuk menjawab panggilanmu?”


“Aku mengkhawatirkanmu, kenapa sampai selarut ini kamu tidak pulang ke rumah?”


“Karena aku tidak akan pernah pulang ke rumah.”


“Apa maksudmu?”


“Itu bukan rumahku, itu rumah mendiang kakakku.”


“Handi, jangan bicara tentang hal itu lagi, bukankah sebelumnya kita sudah sepakat untuk tidak membahas perihal rumah?! Jelas-jelas sekarang rumah itu statusnya adalah milikmu!”


“Namun aku tidak merasa memiliki rumah itu.”

__ADS_1


__ADS_2