Berkah Cinta

Berkah Cinta
Rencana yang Terkuak


__ADS_3

Ferdian kembali ke rumah dengan membawa kekesalan yang luar biasa pada Jihan, wanita itu pikir ia akan hancur sendirian? Tentu saja Ferdian tidak akan pernah membiarkan dirinya akan hancur sendirian saat ini. Ketika


ia baru saja tiba di rumah, nampak Jihan sudah pulang dan tengah mengemasi seluruh pakaiannya ke dalam koper, Ferdian sama sekali tidak menghiraukan wanita itu dan malah berlalu menuju kamar mandi.


“Apakah tidak ada satu kata pun yang ingin kamu katakan padaku saat ini?”


Langkah kaki Ferdian terhenti ketika mendengar pertanyaan tersebut keluar dari mulut Jihan, pria itu berbalik badan dan menatap Jihan dengan tatapan merendahkan, tentu saja Jihan merasa terhina diperlakukan seperti ini oleh Ferdian.


“Aku sudah mengatakannya padamu dan mamamu waktu itu, kalau kalian ingin menghancurkanku, maka aku tidak akan hancur sendirian, aku akan menyeret kalian berdua dalam kehancuran yang sama.”


“Kita lihat saja nanti, siapa yang akan hancur.”


“Tentu, aku akan pastikan sendiri bahwa ucapanku itu akan terjadi padamu dan mamamu.”


Jihan kemudian dengan kesal mengemasi pakaiannya yang masih tersisa ke dalam koper sebelum menutup koper itu dan hendak pergi, namun sebelum Jihan benar-benar pergi dari kamar, Ferdian mengatakan sesuatu pada


Jihan.


“Kalau kamu ingin menghancurkanku lewat mamaku, maka usahamu tidak akan berhasil, dia sudah tahu bahwa kamu bukanlah wanita baik-baik.”


****


Jihan tiba di rumah Ester dengan kesal, Ferdian benar-benar membuat kepalanya ingin meledak, sepertinya ia salah bermain-main dengan pria itu karena ia tidak sampai berpikiran Ferdian akan melakukan sesuatu yang akan membahayakan posisinya.


“Ada apa denganmu, Nak?”


“Ma, Ferdian, dia tidak akan hancur sendirian, dia akan menyeret kita berdua dalam jurang kehancuran juga.”


“Nak, tenangkan dirimu dulu.”


“Bagaimana bisa aku tenang, Ma?! Ferdian bukanlah orang yang suka main-main dengan ancamannya, dia akan melakukan itu!”


“Sudahlah Jihan, kamu tidak perlu merisaukan hal tersebut, Mama akan mengurus semua masalah itu, ok?”


“Dan apakah kali ini aku dapat mempercayai Mama?”


“Apa maksudmu mengatakan itu, Jihan?”


“Maksudku adalah… apakah aku dapat mempercayai Mama untuk mengurus semua masalahku? Masalahnya adalah setiap kali Mama yang mengurus masalah, bukannya masalah selesai justru masalahnya semakin bertambah


besar.”


Ester tentu saja merasa tersinggung dengan ucapan Jihan barusan, ia sudah melakukan semua yang ia bisa untuk membuat semua berjalan sesuai dengan rencana, namun yang menyebalkan adalah ketika semua rencana yang sudah disusun itu tidak berjalan sesuai dengan keinginannya.


****

__ADS_1


Sementara itu saat ini Olaf sedang termenung seorang diri di halaman belakang rumah, ia memikirkan tentang kedekatan antara Tania dan Ferdian, ada rasa cemburu di dalam hatinya setiap kali ia memikirkan tentang kedekatan antara kedua orang itu, di saat ia tengah duduk sendiri di taman belakang rumah, Olaf dikejutkan oleh kedatangan Felli, adik iparnya itu tanpa sungkan duduk di sebelahnya.


“Sepertinya ada sesuatu yang mengganggumu, ya?”


“Bukan masalahmu.”


“Ayolah Olaf, jangan bersikap dingin padaku.”


“Apa yang kamu inginkan?”


“Aku? Tidak ada, aku hanya kebetulan sedang jalan-jalan di taman belakang dan tidak sengaja aku melihat kamu tengah duduk seorang diri di sini, dan wajahmu sepertinya mengatakan bahwa aku sedang memiliki banyak masalah saat ini.”


“Apakah kamu baru saja mengejekku?”


“Kamu terlalu sensitif, Olaf.”


Olaf tidak menanggapi ucapan Felli dan ia lebih memilih menatap lurus ke depan, namun Felli nampak begitu penasaran sebenarnya apakah benar bahwa saat ini Olaf tengah memikirkan Tania?


“Olaf, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”


“Apakah kamu ingin bertanya juga tentang perasaanku pada Tania?”


“Soal itu ….”


“Aku katakan padamu, bahwa aku tidak tertarik padanya.”


“Felli, aku mohon hentikan.”


“Kalau pun iya, kamu mencintai Tania, maka aku tidak ada masalah.”


****


Ferdian mengajak Tania untuk pergi bersama saat ini, Tania sama sekali tidak menolak saat Ferdian mengajaknya pergi, ia ikut saja ke mana Ferdian akan membawanya dan rupanya saat ini Ferdian membawanya untuk makan malam di sebuah restoran yang cukup mewah, Ferdian sudah memesan tempat untuk mereka berdua, dan pelayan restoran menunjukkan jalan ke meja mereka.


“Terima kasih.”


“Apakah kalian ingin memesan sesuatu?”


Ferdian dan Tania kemudian membuka buku menu yang ada di atas meja, mereka berdua menyebutkan pesanan mereka dan pelayan itu mencatatnya dengan baik, setelah pelayan tersebut pamit undur diri, Ferdian tanpa sungkan meraih tangan Tania dan menggenggam tangan wanita itu dengan lembut.


“Kalau dari sepengelihatanku, sepertinya kamu tidak baik-baik saja.”


“Iya Tania, kamu memang benar, aku tidak baik-baik saja saat ini.”


“Apakah ini masih ada kaitannya dengan Jihan lagi?”

__ADS_1


“Aku malu mengakuinya padamu, namun apa yang kamu katakan itu memang benar, masalahku ini lagi-lagi ada kaitannya dengan Jihan.”


Tania nampak tersenyum dan menggenggam tangan Ferdian lembut, Ferdian menatap kedua mata Tania yang cantik dan meneduhkan itu, ia begitu damai saat menatap mata Tania.


“Aku mencintaimu.”


“Aku tahu itu.”


“Apakah saat ini kamu tidak dapat mengatakan bahwa kamu mencintaiku juga?”


“Ferdian ….”


“Tidak apa, aku tidak akan memaksakan kamu untuk mengatakan aku mencintaimu.”


****


Sementara itu Ester menemukan sebuah fakta mengejutkan, ia sudah menyelidiki semua hubungan Tania dengan orang-orang di masa lalunya dan yang menarik adalah Tania memiliki hubungan dekat dengan Minanti yang tidak lain adalah ibunya Olaf. Ester pun curiga bahwa semua skenario ini dilakukan oleh Minanti dengan menjadikan Tania sebagai bonekanya.


“Tentu saja, kenapa aku baru memikirkannya sekarang?”


Ester pun keesokan harinya menemui Minanti di rumahnya, Minanti nampak tidak menyangka bahwa Ester akan datang ke rumahnya namun ia tetap menyambut Ester dengan baik dan sopan, ia mempersilakan Ester untuk duduk di ruang tamu saat ini.


“Lama tidak berjumpa.”


“Iya lama sekali kita tidak berjumpa.”


“Bibi, tolong buatkan Nyonya Ester minum, ya?”


“Tidak perlu repot-repot.”


“Sama sekali tidak repot, kok, ngomong-ngomong apa hal yang membawa anda datang ke sini.”


“Soal itu ….”


“Iya, ada apa?”


Ester nampak menghela napasnya dulu sebelum mengatakan apa maksud dan tujuannya datang menemui Minanti di rumah ini.


“Sejujurnya, saya sangat penasaran dengan hubungan anda dengan Tania, keponakanku.”


“Memangnya ada apa?”


“Begini, bukannya saya mau menuduh yang tidak-tidak, namun sikap Tania berubah setelah ia menghilang dan ketika dia kembali, dia seperti orang lain.”


“Bisakah kita masuk pada intinya saja.”

__ADS_1


“Begini Nyonya Minanti, maaf kalau saya harus mengatakan ini pada anda, namun rencana anda untuk menjadikan Tania sebagai boneka anda, tidak akan pernah berhasil."


__ADS_2