
Ester dibuat kesal oleh pemberitaan yang menyudutkan dirinya saat dipanggil oleh polisi, ia sudah berusaha membungkam suara sumbang para wartawan dengan kekuasaannya namun entah kenapa semua itu tidak berhasil, ia pun jadi teringat bahwa ada campur tangan Minanti di balik semua ini.
“Wanita itu benar-benar sudah melampaui batas,” geram Ester.
Ester kembali ke rumah sakit untuk menemui Jihan, ketika ia sampai di sana, nampak Jihan sedang menatap ke luar jendela kamarnya, Ester perlahan menghampiri Jihan yang posisinya tengah memunggunginya saat ini.
“Jihan.”
“Aku tidak akan membiarkan Ferdian dan Tania bahagia.”
“Tentu saja, Mama pun tidak akan membiarkan mereka hidup bahagia.”
Jihan berbalik badan dan menatap tajam Ester, ia mengatakan bahwa saat ini ia tidak akan membiarkan Ester melakukan sesuatu hal yang buruk pada Handi, karena saat ini dirinya yang akan membuat Ferdian dan Tania membayar atas apa yang sudah mereka lakukan pada dirinya.
“Kamu ini benar-benar, ya!”
“Ma, tolong biarkan aku yang kali ini bertindak, aku akan membuat mereka semua membayar dosa mereka pada kita.”
Walaupun tidak setuju dengan apa yang Jihan inginkan, namun akhirnya Ester pun mengiyakan juga karena ia ingin lihat Ferdian dan Tania menderita atas semua yang mereka lakukan pada putrinya ini.
****
Tidak disangka bahwa Jihan menelpon Olaf saat ini, pria itu begitu terkejut saat Jihan menelponnya dan perlahan pria itu menjawab panggilan telepon dari Jihan ini dengan gugup.
“Halo?”
“Halo, apakah kamu ada waktu saat ini?”
“Kenapa memangnya?”
“Aku ingin bertemu denganmu sebentar.”
“Untuk apa memangnya kamu ingin bertemu denganku?”
“Sudahlah, aku yakin bahwa kamu pasti tahu apa yang ingin aku katakan padamu, jadi kamu harus datang saat ini juga, ya.”
TUT
Jihan memutuskan sambungan telepon sepihak, Olaf nampak menghela napasnya berat dan kemudian ia pun bergegas pergi menuju rumah sakit untuk menemui Jihan, ia sudah memiliki firasat bahwa Jihan pasti akan
menekannya saat ini. Saat ia sudah berdiri tepat di depan ruang inap Jihan, ia nampak sedang mengumpulkan segenap keberaniannya untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan inap wanita ini, perlahan namun pasti Olaf pun membuka pintu ruangan inap tersebut.
“Apa yang ingin kamu katakan padaku?” tanya Olaf saat dia sudah ada di dalam ruangan inap itu.
__ADS_1
“Olaf, apakah kamu pikir aku melupakan kejadian sebelum aku mengalami kecelakaan itu?” tanya Jihan tenang.
“Lantas apa?” tanya Olaf yang berusaha nampak tenang saat ini.
“Aku ingin kamu bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi padaku,” jawab Jihan.
****
Galang mengunjungi Jihan di rumah sakit karena ia mendengar kabar bahwa saat ini Jihan sudah siuman, Jihan tentu saja tidak menyangka kalau mantan kekasihnya itu datang ke sini, ia meminta pria itu untuk pergi saja dari sini sebelum ia memanggil satpam untuk membuat Galang pergi.
“Mau apa lagi kamu datang ke sini?”
“Aku mendengar kalau kamu sudah siuman.”
“Pergi atau aku akan panggilkan satpam saat ini!”
“Jihan, aku benar-benar mencemaskanmu ketika aku mendengar kabar bahwa kamu mengalami kecelakaan.”
“Galang, sudah aku katakan padamu, pergi sekarang juga!”
Ester masuk ke dalam ruangan inap Jihan dan terkejut menemukan sosok Galang di sana, ia bertanya pada Jihan siapa pria ini, namun Jihan tidak mau menjawab pertanyaan dari Ester.
“Apakah anda tidak mengenaliku?”
“Saya Galang.”
“Galang? Tunggu dulu, maksudmu pria miskin kurang ajar yang sudah berani membuat putriku sengsara di masa lalu itu?!” seru Ester berang.
“Saya minta maaf.”
“Maaf katamu?!” seru Ester berang, Ester memukul Galang dan pria itu sama sekali nampak tidak melawan ketika Ester memukulnya.
“Kamu itu pria kurang ajar! Bagaimana bisa kamu membuat putriku menderita begitu!” seru Ester.
“Saya minta maaf,” ujar Galang lemah.
“Maaf katamu?! Apakah maafmu itu dapat membuat putriku seperti dulu lagi?!”
****
Sementara itu saat ini Olaf sedang terduduk di ruangan kerjanya memikirkan apa yang Jihan katakan padanya barusan yang menginginkan agar dirinya untuk menikah dengannya kalau tidak tentu saja Jihan mengancam
akan melaporkan Olaf pada polisi dan membuat pria itu dipenjara karena telah membuat Jihan mengalami kecelakaan. Olaf nampak menatap bukti yang ia miliki untuk menjerat Jihan pada polisi, ia bisa saja menyerahkan bukti ini pada polisi dan membuat Jihan masuk penjara karena sudah berniat buruk pada Tania, namun mengingat kondisi Jihan yang saat ini sedang tidak dalam posisi baik-baik saja, membuat Olaf jadi ragu apakah ia harus melakukan ini atau tidak.
__ADS_1
“Olaf.”
Olaf terkejut ketika Minanti masuk ke dalam ruangan kerjanya saat ini, karena saking asyiknya melamun ia jadi tidak menyadari bahwa Minanti datang ke ruangan kerjanya saat ini.
“Mama? Kenapa Mama ke sini?”
“Mama kebetulan tengah jalan-jalan tadi dan secara tidak sengaja lewat depan kantor, makanya Mama mampir.”
“Begitu rupanya.”
“Sepertinya tadi kamu sedang melamun, ya? Kamu sedang melamunkan tentang apa?”
“Bukan apa-apa.”
“Baiklah kalau memang kamu tidak ingin membicarakannya dengan Mama, maka Mama tidak akan memaksa kamu untuk bicara.”
Olaf nampak ragu saat ini, apakah ia harus mengatakan semuanya pada Minanti atau tidak, namun setelah melalui proses pemikiran yang panjang, pada akhirnya Olaf memutuskan untuk memberitahu Minanti apa yang saat
ini ia rasakan.
****
Handi saat ini sedang mengemudikan mobilnya seorang diri, tiba-tiba saja sebuah mobil menghadang laju mobilnya, perasaan Handi sudah tidak enak saat ini, ia yakin bahwa sesaat lagi sesuatu hal yang buruk akan menimpanya, tidak lama kemudian, beberapa orang muncul dari dalam mobil itu dan merangsek menuju mobilnya, Handi langsung memutarkan kemudi mobilnya menjauh dari mereka, rupanya saat ini mobil Handi diikuti oleh orang-orang itu.
“Mereka pasti akan membunuhku saat ini.”
Handi kemudian memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, ia harap bisa segera sampai di kantor polisi terdekat untuk meminta bantuan, ketika di tengah perjalanan, mobil itu kembali berhasil menghadang laju mobil
Handi. Kali ini mereka melepaskan tembakan ke arah kaca depan mobil Handi hingga mau tidak mau Handi menghentikan laju kendaraannya dan turun dari mobil.
“Kamu pikir dapat menang?”
Salah satu dari mereka langsung menarik Handi dan melayangkan pukulan hingga membuat Handi tersungkur di aspal jalanan.
“Kita jangan habisi dia di sini, nanti bos akan marah.”
“Kamu benar juga, ayo kita segera bawa dia masuk ke dalam mobil.”
“Kalian akan membawaku ke mana?”
“Jangan banyak bicara kamu! Masuk ke dalam!”
Namun sebelum Handi dimasukan ke dalam mobil mereka, sirine mobil polisi terdengar dan membuat mereka kalang kabut panik, tidak lama kemudian polisi datang dan menyergap mereka semua.
__ADS_1
“Berhenti semua, jangan bergerak dan angkat tangan!”