
Namun rupanya tanpa sepengetahuan Felli, rupanya ada seseorang yang sejak tadi mengikutinya yaitu sang adik, ketika Felli memarkirkan kendaraannya di halaman rumah, nampak mobil sang adik juga baru saja masuk dan parkir di sebelah kendaraannya.
“Kamu dari mana, Kak?”
“Dari luar, kenapa memangnya?”
“Kamu pergi dengan pemuda itu?”
“Apa masalahmu? Kenapa kamu menanyakan hal tersebut?”
“Aku hanya bertanya saja, kenapa Kakak bersikap berlebihan begini?”
“Berlebihan? Siapa yang bersikap berlebihan? Aku hanya tidak suka kalau kamu bertanya soal Ricky.”
“Namun apa yang tadi aku katakan benar kan? Kamu baru saja pergi dengan pemuda itu?”
“Apa sebenarnya yang kamu inginkan?”
“Aku hanya ingin kamu jujur.”
“Baiklah, aku memang pergi dengan pemuda itu tadi, kami menghabiskan waktu bersama hingga malam, apakah sekarang kamu sudah puas?”
“Sekarang apakah kamu sudah dapat jujur mengenai perasaanmu pada pemuda itu?”
“Azka, kenapa sih kamu selalu menanyakan hal itu?”
“Dia sudah mengatakan kalau dia menyukaimu, apakah Kakak tidak juga menyukainya?”
“Sudahlah, aku malas membahas hal ini denganmu.”
****
Tania merasa bahagia karena Minanti dan Olaf datang ke apartemennya dan membuatkannya makan malam yang lezat, Minanti nampak bahagia karna Tania begitu menyukai masakannya dan Olaf pun juga nampak antusias
mencicipi semua hidangan yang tersedia di meja makan. Setelah mereka semua selesai makan malam, Minanti hendak membereskan meja makan dan mencuci piring yang kotor namun Tania menolaknya, dia mengatakan bahwa Minanti tidak perlu melakukan semua itu karena ia dapat melakukannya sendiri.
“Kamu ini, piring kotor ini banyak sekali, besok kamu juga harus pergi bekerja, kan?”
“Iya tapi Mama tidak perlu repot-repot mencucinya, aku bisa mencucinya sendiri.”
__ADS_1
“Mama dan Tania tidak perlu mencuci piringnya, biar aku saja yang melakukannya,” ujar Olaf.
Kini pria itu yang mencuci semua piring kotor walaupun Tania sudah berusaha mencegah Olaf melakukan itu namun tetap saja pria itu berkeras mencuci semua piring kotor. Sambil menunggu Olaf mencuci semua piring
kotor, Tania dan Minanti duduk di sofa ruang tengah, Minanti pun bertanya kapan Tania dan Olaf akan segera meresmikan hubungan mereka.
“Kalau soal itu, aku sendiri tidak tahu, Mama bisa tanya pada pria yang ada di sana itu,” ujar Tania.
“Tenang saja Ma, tidak lama lagi aku akan segera menikahi Tania,” ujar Olaf yang masih sibuk mencuci piring.
****
Stefani merasa bahwa sikap Juan jadi agak berubah belakangan ini, terutama sejak ia bertemu dengan Felli dan Ricky di restoran pada hari itu, saat ini Stefani sedang ada di lokasi pemotretan, ia tetap harus profesional ketika di depan kamera namun sejujurnya ia benar-benar merasa kesal kalau Juan benar masih memikirkan Felli. Setelah proses pengambilan gambar selesai, Felli kemudian meraih ponselnya dan mencoba menelpon Juan, tidak lama
kemudian pria itu menjawab telepon darinya.
“Halo?”
“Ada di mana kamu sekarang?”
“Tentu saja di kantor, memangnya ada apa?”
“Bisakah kita bertemu nanti ketika jam makan siang?”
“Ya sudah, nanti malam temui aku di apartemen.”
TUT
Stefani menutup sambungan teleponnya dengan kesal, namun kemudian ia mencoba menelpon orang lain di ponselnya.
“Kenapa dia tidak mau menjawab teleponku, ya?”
Stefani masih mencoba beberapa kali menelpon orang itu namun jawaban yang ia terima sama saja, suara operator yang mengatakan bahwa nomor yang dituju sedang sibuk atau tidak dapat menjawab panggilan.
“Aduh, untuk apa juga aku harus kesal karena masalah ini, lagi pula aku tidak mencintainya, ingat Stefani apa tujuanmu mendekati Juan,” gumam Stefani yang berusaha menyadarkan dirinya untuk tidak bersikap berlebihan kalau Juan masih memiliki perasaan dengan Felli.
*****
Di tempat lain, Felli saat ini sedang berada di café Nanda, ia seperti biasa akan duduk di sana selama berjam-jam sembari melihat Ricky bekerja, ketika ia sedang memperhatikan pemuda itu melayani pelanggan, ia melihat ada sebuah nama yang tertera di layar ponselnya, nama orang yang tidak ingin ia jawab teleponnya, maka Felli pun sengaja menolak telepon dari orang tersebut. Namun orang itu kembali menelponnya dan Felli kembali menolaknya
__ADS_1
karena memang ia tidak ingin menjawab telepon dari orang tersebut, Nanda menghampiri Felli dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Felli saat ini.
“Kenapa kamu tidak menjawab telepon itu?”
“Untuk apa juga aku harus menjawab telepon dari orang itu? Buang-buang waktu saja.”
“Ngomong-ngomong, sampai mana proses perceraianmu dengan Juan?”
“Aku tidak mengikutinya, pengacaraku yang mengurus semuanya.”
“Ini pasti berat untukmu, ya?”
“Bohong kalau aku mengatakan bahwa ini tidak berat, Juan adalah cinta pertamaku, kami sudah melalui masa-masa yang indah ketika masih pacaran sebelum kami memutuskan untuk menikah, aku pikir kehidupan pernikahanku akan langgeng sampai kami meninggal dunia, namun ternyata hal tersebut tidak terjadi.”
“Aku dapat mengerti perasaanmu yang sedang hancur saat ini, namun aku yakin bahwa kamu akan mendapatkan pengganti yang lebih baik dari Juan, contohnya pemuda yang sedang melayani pelanggan itu.”
“Nanda, kamu ini bicara apa, sih?”
*****
Tania berkunjung ke rumah sakit jiwa untuk menjenguk Ester sekaligus ia ingin bicara dengan dokter yang merawat Ester selama wanita itu dirawat di tempat ini. Dokter mengatakan bahwa kondisi kesehatan mental Ester sudah perlahan membaik, ia tidak lagi berteriak dan bersikap agresif asalkan ia dijauhkan dari sumber yang membuat ia bersikap seperti itu.
“Syukurlah kalau begitu, saya senang mendengarnya, saya mohon berikan perawatan terbaik pada Tante saya, dokter.”
“Tentu saja Nyonya Tania, anda tidak perlu khawatir soal itu, kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Nyonya Ester,” ujar sang dokter.
Kemudian setelah bercengkrama dengan dokter, Tania sebenarnya ingin melihat bagaimana kondisi Ester terkini, namun sekretarisnya menelpon dan mengatakan bahwa ada masalah di perusahaan yang membuat Tania harus segera kembali ke perusahaan saat ini.
“Baiklah, aku akan segera ke sana sekarang.”
Tania pun mengurungkan niatnya untuk pergi menjenguk Ester di ruangan inap wanita itu, Tania segera pergi dari rumah sakit jiwa itu namun tanpa ia ketahui ada seseorang yang memperhatikannya sejak tadi ketika ia keluar dari rumah sakit jiwa itu.
“Ini akan menjadi pembalasan yang menyakitkan untukmu
Tania, kamu lihat saja nanti.”
Orang itu pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit jiwa itu, ia berjalan menuju ruang inap Ester namun ketika ada petugas keamanan yang patroli di sekitaran sana, ia dicegat olehnya.
“Anda mau ke mana?”
__ADS_1
“Saya mau bertemu dengan pasien yang bernama Ester di sini.”
“Maaf, namun dia tidak boleh sembarangan ditemui oleh seseorang.”