Berkah Cinta

Berkah Cinta
Habis Kesabaran


__ADS_3

Ester yang mendengar suara ribut dari kamar Tania nampak penasaran dan ia pun masuk ke dalam kamar, dan nampaklah ketika Tania mendorong Jihan sampai kepala Jihan menabrak ujung tempat tidur.


“Jihan!”


Tania dan Jihan nampak terkejut ketika Ester berteriak dan ia langsung menghampiri Jihan untuk memastikan bahwa saat ini putrinya itu baik-baik saja.


“Kamu baik-baik saja, kan, Nak?”


“Aku baik-baik saja, Ma, Mama tak perlu khawatir,” ujar Jihan memegangi kepalanya.


Kini Ester menatap bengis Tania yang nampak menundukan kepalanya, ia tak menyangka bahwa Ester akan memergoki dirinya ketika mendorong Jihan tadi. Dan benar saja Ester melayangkan sebuah tamparan hingga Tania


terhuyung saking kerasnya tamparan Ester barusan.


“Aku sudah memperingatkanmu untuk menjaga sikapmu di rumah ini, namun semakin hari aku perhatikan kamu semakin saja melunjak!” seru Ester.


“Saya minta maaf,” lirih Tania.


“Maaf katamu?! Kamu baru meminta maaf setelah membuat anakku hampir celaka?!”


“Saya minta maaf Nyonya.”


“Ingat Tania, kamu akan membayar semua yang sudah kamu lakukan pada anakku, ingat itu baik-baik!”


Setelah mengatakan itu, Ester menarik tangan Jihan untuk keluar dari dalam kamar Tania, sepeninggal mereka berdua, Tania bersimpuh dan memeluk foto papa dan mamanya yang sudah dirusak oleh Jihan.


****


Rupanya keributan tadi didengar juga oleh Handi, ia bertanya pada Ester dan Jihan apa yang terjadi, Ester menunjukan luka di kepala Jihan, ia mengatakan bahwa Tania yang melakukan hal tersebut.


“Kamu lihat? Anak itu sudah menjadi liar, aku benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa dia melakukan hal sekeji ini pada anak kita?”


“Jihan, apakah Tania yang melakukan itu padamu?”


“Iya Pa, ini memang Tania yang melakukannya.”


“Kalau dia melakukannya, bukankah pasti kamu melakukan sesuatu yang memancing amarahnya?”


“Handi, bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu pada anak kita? Jelas-jelas Jihan adalah korban di sini.”


“Tania tidak akan mungkin menyerang seseorang begitu saja, dia memiliki alasan kuat dan aku yakin Jihan pasti telah melakukan sesuatu yang buruk padanya terlebih dahulu.”


“Kenapa Papa membelanya?”


“Papa bukan membelanya, Papa hanya mencari tahu fakta yang sebenarnya, kamu pikir Papa tidak kenal siapa kamu dan Tania?”


“Kamu selalu saja membela anak itu, sebenarnya siapa sih anakmu itu? Tania atau Jihan?!”


Ester membawa Jihan pergi menjauhi suaminya, ia benar-benar kesal dengan Handi yang masih saja membela gadis itu dibandingkan anaknya sendiri.


“Tania tidak akan mungkin melakukan itu,” lirih Handi yang kemudian pergi menemui Tania di kamarnya.


****


Walaupun kepalanya harus sakit karena terbentur ujung tempat tidur, namun Jihan merasa puas karena sudah mendapatkan nomor telepon Olaf, ia sudah tidak sabar untuk menelpon pria itu dan mengajaknya kencan.


“Halo? Siapa ini?”

__ADS_1


“Hai, apakah kamu tidak mengenali suaraku?”


“Maaf ini siapa? Kalau anda hanya ingin iseng akan saya matikan.”


“Tunggu dulu, aku adalah majikannya Tania, apakah kamu ingat?”


“Majikannya Tania? Oh, gadis itu, bagaimana bisa kamu mendapatkan nomorku?”


“Itu tidak penting, apakah kamu sedang sibuk sekarang? Bisakah kita berjumpa saat ini?”


“Maaf saat ini aku sedang sibuk.”


“Kalau begitu, besok? Bisakah kita berjumpa?”


“Besok pun aku sibuk.”


“Lusa? Bagaimana dengan Lusa?”


“Aku juga sibuk.”


“Kamu bilang sibuk karena ingin mencoba menghindariku bukan?”


“Maaf, saat ini aku sedang sibuk.”


“Tunggu dulu, jangan coba kamu matikan teleponnya karena aku ingin mengatakan sesuatu tentang Tania padamu.”


“Tentang Tania? Apa yang ingin kamu katakan tentang gadis itu?”


“Kalau kamu ingin tahu, maka kamu harus menemuiku, bagaimana?”


“Aku jamin, aku tidak akan membuang waktumu.”


“Baiklah, aku tutup teleponnya.”


“Tapi tunggu dulu, kapan kita dapat bertemu?”


“Besok siang, lokasinya akan aku kirimkan besok.”


TUT


Setelah Olaf menutup sambungan teleponnya, Jihan nampak memekik kegirangan karena akhirnya pria itu akan bertemu dengannya besok siang, Jihan sudah sangat tidak sabar untuk itu, ia ingin sekali hari berganti agar sesegera mungkin ia bertemu dengan Olaf.


****


Handi memasuki kamar Tania, kehadiran Handi di kamarnya membuat Tania terkejut, tidak hanya Tania yang terkejut namun Handi pun terkejut dengan yang dilakukan oleh Tania saat ini.


“Tania, apa yang terjadi saat ini?”


“Bukan apa-apa Om.”


“Kenapa dengan foto itu?”


“Apa? Oh, tidak apa-apa.”


“Siapa yang melakukan itu?”


“Bukan siapa-siapa.”

__ADS_1


“Tania, kamu tidak perlu mengelak, Om tahu bahwa Jihan pasti yang melakukan itu kan?”


“Om ....”


“Sudahlah Tania, kamu tidak perlu menutupinya, Om tahu kalau dia yang melakukan itu hingga membuatmu marah.”


Tania menundukan kepalanya, Handi mendekati Tania dan mengusap rambut keponakannya, ia merasa bersalah pada mendiang kakaknya yang ada di foto itu, andai saja Bima masih hidup pasti beliau akan kecewa sekali


pada Handi karena tidak becus dalam menjaga anak kesayangannya.


“Papamu pasti kecewa padaku saat ini Tania,” lirih Handi melirik pada foto mendiang kakaknya yang sedang dipeluk oleh Tania.


“Om jangan menyalahkan dirimu Om begitu,” ujar Tania.


“Om salah Tania, Om tidak bisa menghentikan Ester,” lirih Handi.


Tania nampak ragu menatap Handi, ia sebenarnya ingin mengatakan apa yang sebelumnya ia dengar secara tidak sengaja pembicaraan Ester yang mengatakan bahwa ada campur tangan Ester dalam meninggalnya kedua orang


tuanya.


“Tania, ada apa?”


*****


Tania menghidangkan makan malam di meja makan sebelum Handi dan yang lainnya tiba di meja makan, nampak ketika Tania sedang menghidangkan makan malam, Ester datang ke meja makan dan menatapnya tajam.


“Makan malamnya sudah siap, Nyonya.”


“Tania, maukah kamu mengatakan sesuatu padaku?”


“Maksudnya Nyonya?”


“Katakan padaku, apakah kamu menguping pembicaraanku tadi?”


“Tidak Nyonya!”


“Benarkah? Apakah kamu mengatakan yang sebenarnya?”


“Iya, saya mengatakan yang sebenarnya.”


“Baguslah, karena kalau sampai aku tahu kamu berbohong maka aku pasti tidak akan mengampunimu, sekarang kamu boleh pergi.”


Tania merutuki dirinya sendiri yang berbohong pada Ester, padahal waktu inilah kesempatan yang baik supaya ia bisa bicara dengan wanita itu, namun Tania terlalu takut untuk berkata jujur dan menanyakan apakah Ester adalah dalang di balik kematian kedua orang tuanya.


“Tania, mau ke mana kamu?”


Tania yang hendak kembali ke dapur menghentikan langkah kakinya ketika Handi memanggil namanya, Ester nampak heran kenapa suaminya itu memanggil Tania saat ini.


“Ada apa Om?”


“Kamu duduklah dan ikut makan malam bersama kami.”


Ucapan Handi barusan sontak membuat Ester terkejut bukan main, bagaimana mungkin Handi mengizinkan Tania bergabung di meja makan bersama mereka?


“Handi, sepertinya kita harus bicara sekarang juga.”


“Tidak ada yang perlu kita bicarakan Ester, Tania duduklah kita mulai makan malam,” tegas Handi.

__ADS_1


__ADS_2