Berkah Cinta

Berkah Cinta
Jangan Coba-Coba


__ADS_3

Handi dapat bernapas lega karena lagi-lagi ia masih dilindungi oleh Tuhan, Tania yang mendengar kabar buruk yang hampir saja menimpa Handi tentu saja dibuat khawatir, namun ketika Handi sudah pulang ke rumah, semua perasaan takut dan khawatir itu mendadak sirna, ia begitu bahagia karena rupanya Handi masih selamat dan tidak terluka sedikit pun atas insiden mengerikan tersebut.


“Aku senang sekali karena Om baik-baik saja,” ujar Tania.


“Terima kasih Tania.”


“Om pasti lelah, lebih baik Om masuk ke kamar,” ujar Tania.


“Kamu juga masuklah ke kamarmu, hari sudah malam dan kamu juga butuh istirahat,” ujar Handi.


“Iya Om.”


Maka setelah Handi masuk ke dalam kamarnya, Tania mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang yang tentu saja tidak lain adalah Minanti.


“Halo Nyonya?”


“Apakah kamu sudah bertemu dengan Tuan Handi?”


“Iya Nyonya, Om Handi pulang ke rumah dengan keadaan selamat.”


“Syukurlah kalau begitu.”


“Nyonya, apakah dalang di balik semua ini adalah wanita itu?”


“Sebenarnya saya tidak mau berspekulasi, namun kamu tahu sendiri siapa Ester itu.”


****


Rencananya untuk melenyapkan Handi gagal dan hal tersebut membuat Ester geram bukan main, sudah dua kali percobaan dan dia gagal melenyapkan Handi bahkan kini reputasinya hancur berantakan dan saham perusahaan seketika anjlok. Dewan Direksi perusahaan meminta agar Ester mundur saja dari perusahaan dan tidak lagi mencampuri urusan perusahaan karena kalau mereka membiarkan Ester ada di posisinya, maka bukan tidak mungkin ada sesuatu hal yang buruk akan terjadi dikemudian hari.


“Apakah Mama dalang di balik semua ini?” tanya Jihan saat Ester masuk ke dalam ruangan inapnya.


“Diam, Mama lelah sekali,” ujar Ester.


“Bukankah aku sudah pernah mengatakannya pada Mama untuk tidak mengusik Papa?”


Ester yang lelah dan tertekan pun jadi tidak dapat mengontrol emosinya, ia menumpahkan kekesalannya pada Jihan yang malah memperburuk suasana hatinya. Namun Jihan sama sekali tidak gentar, ia malah mengatakan bahwa harusnya Ester masuk penjara atas semua kejahatan yang sudah sang mama lakukan.


“Apa maksudmu barusan?”

__ADS_1


“Apakah ucapanku tadi masih kurang jelas di telinga Mama?”


“Apakah kamu menyumpahi Mamamu ini masuk penjara, begitu?”


“Kalau memang hal itu dapat membuat Mama menjadi sedikit waras, maka lebih baik Mama mendekam di penjara untuk waktu yang lama.”


“Jihan, Mama melakukan semua ini demi kamu dan kamu malah menginginkan agar Mama masuk penjara?!”


****


Hari ini Jihan sudah diizinkan oleh dokter untuk pulang, nampak para wartawan sudah menunggu di depan lobi rumah sakit untuk meliput kepulangan Jihan dan juga menanyakan pada Ester apa tanggapan wanita itu setelah terjadi kisruh di dalam perusahaan.


“Kita tidak akan lewat depan,” ujar Ester.


“Apakah di depan sudah ada wartawan?” tanya Jihan.


“Kamu dapat mengerti kenapa Mama meminta agar kita turun ke lantai basement, kan?”


Mobil yang akan membawa mereka pulang sudah bersedia di lantai basement gedung rumah sakit, setelah itu mobil pun melaju meninggalkan rumah sakit tanpa diketahui oleh para wartawan. Tidak ada pembicaraan khusus


antara Jihan dan Ester selama dalam perjalanan pulang ke rumah, mereka berdua nampak saling membuang pandang ke luar jendela mobil hingga akhirnya mereka pun tiba di rumah, Jihan tidak mengucapkan sepatah kata pun pada Ester dan masuk ke dalam kamarnya begitu saja.


“Anak itu memang benar-benar,” geram Ester.


“Kalian pikir aku akan hancur dengan mudah? Kalian salah, aku akan memperlihatkan siapa aku yang sebenarnya,” geram Ester seraya mengepalkan kedua tangannya geram.


****


Handi begitu terkejut ketika mendapati putrinya berdiri di depan pintu rumah, ia tentu saja senang karena Jihan sudah diizinkan pulang ke rumah, ia mempersilakan Jihan untuk masuk ke dalam rumah dan kini mereka tengah duduk di sofa ruang tengah.


“Kapan kamu diizinkan pulang ke rumah? Kenapa tidak memberitahu Papa sebelumnya?”


“Aku ingin membuat kejutan untuk Papa, maka dari itu aku sengaja tidak memberitahunya.”


“Begitu rupanya.”


“Pa… sebenarnya kedatanganku ke sini juga karena aku ingin mengatakan sesuatu.”


“Ada apa, Nak?”

__ADS_1


“Mama, dia sepertinya sudah tidak waras, dia sangat ingin menyingkirkan Papa padahal aku sudah berusaha untuk menghalanginya namun tetap saja dia berniat untuk membunuh Papa.”


Handi nampak menghela napasnya berat, ia sudah menduga bahwa semenjak ia buka suara mengenai kejahatan Ester, maka sudah pasti mantan istrinya itu tidak akan terima dan akan melakukan apa pun untuk membuat Handi


lenyap selamanya dari muka bumi.


“Terima kasih karena kamu sudah mengkhawatirkan Papa.”


“Tentu saja aku mengkhawatirkan Papa, walau bagaimanapun juga Papa tetaplah Papaku.”


Mereka berpelukan beberapa saat sampai akhirnya Tania muncul dengan pakaian bagusnya, Jihan memicingkan matanya menatap Tania yang ia duga sepertinya hendak bertemu dengan Ferdian, Jihan melerai pelukannya dengan Handi dan berjalan menghampiri Tania.


“Mau pergi ke mana kamu?”


“Itu bukan urusanmu.”


****


Jihan rupanya mengikuti Tania sampai ke depan rumah di mana Ferdian sudah menunggu di depan pagar, pria itu nampak tidak terkejut ketika melihat Jihan ikut keluar dari dalam rumah karena sebelumnya ia sudah melihat mobil wanita itu terparkir di depan rumah.


“Kalian benar-benar tidak tahu malu rupanya,” sindir Jihan.


“Tania, lebih baik kita tidak perlu membuang waktu kita yang berharga hanya untuk mendengarkan celotehan orang yang iri pada kita,” ujar Ferdian.


“Apa katamu?!”


“Sudahlah, ayo kita pergi saja,” ujar Ferdian membukakan pintu mobilnya untuk Tania namun Jihan menutup pintu mobil itu sebelum Tania sempat masuk ke dalam mobil, rupanya tindakan Jihan itu membuat Ferdian naik pitam.


“Apa yang kamu inginkan, hah?!” seru Ferdian berang.


“Ferdian, kamu sudah dibutakan oleh wanita iblis ini, dia sama sekali tidak mencintai kamu, dia hanya ingin membuat kamu menderita saja!” seru Jihan.


“Cukup Jihan! Aku sudah sangat sabar menghadapi kelakuanmu, kamu lupa bahwa aku ini manusia biasa yang memiliki batas kesabaran dan kelakuan serta tuduhan tidak bersadarmu membuatku sangat marah!”


“Lalu apa yang ingin kamu lakukan? Kamu ingin memukulku?! Pukul saja aku!” seru Jihan.


Ferdian sudah sangat terprovokasi oleh Jihan dan hendak melayangkan tamparan namun tangannya ditahan oleh Tania, Ferdian seketika menoleh pada Tania.


“Jangan kotori tanganmu untuk wanita seperti dia.”

__ADS_1


Ucapan Tania itu membuat Jihan berang, ia menatap Tania tajam dan hendak menyerang Tania namun dengan sigap Ferdian menghalangi Jihan.


“Jangan pernah kamu coba menyentuh kekasihku seujung kuku pun, karena aku akan pastikan kalau kamu mencobanya aku akan membuatmu membayarnya dengan harga yang sangat mahal!”


__ADS_2