
Ferdian merasa saat ini dia sudah di atas angin, dengan cara seperti itu ia sangat yakin bahwa perusahaannya akan memenangkan lelang yang akan diselenggarakan beberapa bulan lagi.
“Kamu pikir dapat menang melawanku Olaf? Dalam mimpimu.”
Setelah ia menyelesaikan pekerjaannya di kantor Ferdian segera pergi ke kantor Tania karena ponsel istrinya itu masih tidak juga dapat dihubungi, tentu saja Ferdian takut kalau sesuatu hal yang buruk terjadi pada Tania.
“Apakah Tania ada di ruangan kerjanya?” tanya Ferdian pada sekretaris Tania.
“Nyonya sudah pulang barusan, Tuan.”
“Apa katamu? Dia sudah pulang?”
“Iya, dia barusan saja pulang.”
“Astaga, kalau begitu terima kasih.”
Ferdian tentu saja merasa kesal dengan yang dilakukan oleh Tania, bagaimana mungkin Tania tidak memberikan kabar padanya kalau dia sudah pulang?
“Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Kenapa dia tidak memberikanku kabar kalau dia sudah pulang?”
****
Ferdian akhirnya tiba juga di rumah, ia langsung mencari keberadaan Tania rupanya memang Tania baru saja mandi, Ferdian langsung menumpahkan kekesalannya pada Tania kenapa istrinya itu tidak memberikan kabar padanya kalau dia sudah pulang tadi.
“Apakah itu sebuah keharusan? Bukankah biasanya kita pulang sendiri-sendiri?”
“Iya, kamu memang benar kalau kita pulang sendiri-sendiri, namun kenapa seharian ini kamu tidak menjawab panggilan telepon dariku?”
“Karena aku sibuk, bukankah sekretarisku sudah mengatakannya padamu?”
“Sibuk katamu? Baiklah kalau saat jam makan siang tadi kamu bilang kamu sibuk aku percaya, namun ketika sudah sore hari? Dan bahkan sesaat sebelum aku keluar dari kantor pun kamu tidak menjawab telepon dariku?”
“Sudahlah Ferdian berhenti membesar-besarkan masalah.”
“Apa katamu?”
“Ferdian, hentikan.”
Ferdian menghela napasnya berat, untung saja suasana hatinya sedang baik dan ia ingin membagi kebahagiaan dengan Tania.
“Baiklah, untung saja perasaanku sedang baik saat ini, aku ingin mengajakmu makan malam romantis.”
“Apa? Kenapa perasaanmu sedang baik?”
“Karena… aku akan mendapatkan keuntungan yang besar sayang.”
“Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan ini.”
“Sudahlah, pokoknya malam ini aku ingin makan malam romantis denganmu.”
__ADS_1
****
Juan tengah termenung seorang diri di kursi taman belakang rumah, ia kembali teringat tentang percakapannya dengan Stefani tadi siang di restoran.
“Kenapa kamu ingin bertemu denganku?”
“Sejujurnya ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu.”
“Benarkah? Apa itu?”
“Felli mengatakan sesuatu hal yang aneh padaku, katanya kamu menyukaiku apakah itu benar?”
Juan nampak terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh Stefani barusan, namun ia berusaha sebisa mungkin mengontrol mimik wajahnya agar tidak terlihat terkejut namun tentu saja Stefani sudah dapat menangkap adanya mimik wajah terkejut tadi ketika ia bertanya pada Juan.
“Sudahlah Stefani, kamu tidak perlu menanggapi serius apa yang dikatakan oleh istriku.”
“Namun aku menganggapnya serius, maksudku… aku tidak bisa mengabaikan hal ini begitu saja, katakan padaku yang sejujurnya Juan.”
“Stefani ….”
“Katakan, apakah yang Felli katakan itu benar atau tidak?”
“Tentu saja tidak, kamu ini kenapa bisa-bisanya percaya dengan yang Felli katakan.”
“Baguslah kalau begitu, aku pikir yang Felli katakan itu benar, karena kalau itu benar… maka aku minta maaf karena aku tidak dapat membalas perasaanmu.”
Juan nampak tidak menyadari kalau Felli sudah berdiri tepat di belakangnya dan wanita itu langsung menanyakan sesuatu padanya.
“Astaga kamu ini, mengejutkanku saja.”
****
Hari ini adalah hari libur dan hari ini Tania diajak oleh Ferdian untuk pergi jalan-jalan, namun Tania tentu saja tidak mau karena ia beralasan ia lelah dan ingin di rumah saja.
“Ayolah, kenapa kamu ingin menghabiskan waktu di rumah? Hari libur kamu ingin habiskan di rumah saja apakah kamu tidak merasa bosan?”
“Ferdian, aku sedang hamil asal kamu tahu.”
“Ayolah Tania, aku yakin bahwa anak kita pasti senang kalau diajak oleh kedua orang tuanya jalan-jalan.”
“Tidak terima kasih, aku lebih suka menghabiskan waktuku di rumah saja, kalau kamu mau pergi sana pergi.”
“Tania apakah kamu pikir dengan cara ini maka aku akan menyerah?”
“Terserah sajalah, aku tidak peduli.”
Ferdian menghela napasnya panjang, maka terpaksa ia harus mengalah dan ikut apa yang diinginkan oleh Tania yaitu mereka tidak pergi ke mana pun hari ini. Tania pergi ke dapur untuk melihat ada bahan makanan apa
saja di dalam kulkas dan sepertinya ia tidak menemukan sesuatu yang ia cari di sana.
__ADS_1
“Bibi!”
“Iya Nyonya ada yang dapat saya bantu?”
“Sepertinya bahan makanan kita sudah mulai menipis ya?”
“Iya Nyonya, nanti saya akan pergi belanja.”
“Tidak perlu, biar kami saja yang berbelanja,” ujar Ferdian cepat.
“Apa maksudmu?”
“Ayolah, aku yakin kalau sebenarnya kamu ingin keluar juga bukan?”
****
Maka Tania dan Ferdian pergi berbelanja di supermarket, nampak Tania memilih bahan makanan dan Ferdian mendorong troli berisi belanjaan mereka, sepanjang berbelanja Tania merasa kalau mereka sedang diawasi oleh seseorang dan beberapa kali ia menoleh ke beberapa sudut dan rupanya hal tersebut membuat Ferdian penasaran.
“Tania, apa yang sebenarnya terjadi padamu?”
“Sepertinya ada seseorang yang mengawasi kita.”
“Benarkah?”
Ferdian ikut mengamati sekeliling namun ia tidak menemukan siapa pun di sana begitu pula Tania yang tidak menemukan seseorang yang mencurigakan.
“Mungkin itu hanya perasaanmu saja.”
“Semoga saja begitu.”
Maka kemudian Tania dan Ferdian kembali melanjutkan belanja mereka, hingga akhirnya semua barang yang hendak mereka beli sudah mereka dapatkan semua. Kini saatnya membayar di kasir, setelah membayar semua
belanjaan mereka kini Ferdian mendoron troli sampai ke tempat di mana mobil mereka terparkir dan lagi-lagi Tania merasa ada seseorang yang mengawasi mereka.
“Ada apa Tania?”
“Bukan apa-apa, hanya saja… lagi-lagi sepertinya aku merasa ada seseorang yang mengawasi kita.”
“Lebih baik kita segera pergi.”
Saat Ferdian tengah memasukan barang belanjaan mereka dan Tania masih berdiri di sampingnya, tiba-tiba saja ada sebuah motor yang melaju dengan kencang ke arah mereka awalnya Tania biasa saja namun ia merasa
kalau ada sesuatu yang mencurigakan karena motor itu nampak mengarah pada tempat mereka berdiri.
“Ferdian awas!”
Mereka segera menghindari motor yang berusaha menyerempet mereka, Ferdian dan Tania nampak sama-sama terkejut dengan apa yang barusan mereka alami.
“Kamu baik-baik saja?”
__ADS_1
“Iya, aku baik-baik saja, kamu sendiri?”