Berkah Cinta

Berkah Cinta
Kebahagiaan Sirna


__ADS_3

Akhir pekan pun tiba, dan kini Ester dan Jihan sudah bersiap untuk pergi bertemu dengan keluarga Ferdian, namun sebelumnya Jihan sudah bertanya pada Ester untuk memastikan apakah Handi akan datang ke acara makan malam keluarga ini atau tidak, lagi-lagi Ester berusaha meyakinkan pada Jihan pasti Handi akan datang dan Jihan tidak perlu memikirkan hal tersebut.


“Bagaimana bisa Mama yakin kalau Papa akan datang?”


“Nak, sudah Mama katakan sebelumnya pokoknya Mama yakin kalau dia akan datang, pokoknya sekarang kita harus segera pergi ke sana, jangan biarkan mereka menunggu terlalu lama, ok?”


Maka tidak ada pilihan lain bagi Jihan untuk menolak


ajakan Ester itu, mereka berdua masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka


menuju tempat makan malam berlangsung, sepanjang perjalanan tidak tercipta


obrolan di antara mereka berdua, baik Ester maupun Jihan sama-sama diam dan


menatap keluar jendela hingga akhirnya mereka tiba juga di lokasi tempat makan


malam.


“Kita sudah tiba Nyonya.”


Ester dan Jihan turun dari dalam mobil dan memasuki restoran mewah yang sudah disewa oleh keluarga calon besannya itu, Jihan masih menatap sekeliling untuk memastikan bahwa Handi akan datang ke restoran ini,


sementara Ester menarik tangan Jihan untuk masuk ke dalam restoran karena saat ini keluarga Ferdian pasti sudah menunggu mereka.


*****


Makan malam berlangsung lancar, kedua keluarga bertemu dan sudah membicarakan rencana pertunangan antara Ferdian dan Jihan, keduanya tidak banyak bicara dan tidak ada penolakan apa pun yang keluar dari mulut mereka,


Jihan cukup lega karena Handi akhirnya datang juga untuk acara makan malam ini, karena walau bagaimanapun juga Handi adalah ayahnya dan rasanya acara makan malam ini tidak akan lengkap kalau Handi tidak hadir.


“Terima kasih atas makan malamnya,” ujar Ester.


“Kalian tidak perlu berterima kasih pada kami, justru kami yang berterima kasih karena kalian sudah mau memenuhi undangan makan malam kami.”


“Kalau begitu, kami permisi dulu.”


“Hati-hati di jalan.”


Selepas mereka bertiga keluar dari restoran, Ester mengatakan pada Jihan bahwa apa yang ia katakan itu benar, Handi pasti datang dan Jihan tidak perlu mengkhawatirkan itu.


“Papa akan pulang ke rumah bersama kami?” tanya Jihan yang sama sekali tidak menanggapi apa yang Ester katakan barusan.


“Tidak sayang, Papa tidak akan kembali ke rumah itu,” jawab Handi.


“Kenapa memangnya? Lalu sekarang Papa tinggal di mana?”


“Jihan, lebih baik kamu tidak perlu banyak tanya, sekarang juga kita harus pulang.”


*****

__ADS_1


Sementara itu hari ini Jihan kembali bertanya pada sang mama di mana Handi berada, namun Ester tetap tidak mau memberitahu di mana Handi berada saat ini, Jihan pun mengancam pada Ester kalau ia tidak mau memberitahunya maka Jihan tidak akan mau pulang lagi ke rumah ini.


“Kenapa kamu jadi mengancamku seperti ini?”


“Karena Mama tidak mau jujur dengan mengatakan di mana Papa tinggal saat ini.”


“Sudah Mama katakan kamu tidak perlu tahu dia ada di mana, dia sudah memilih untuk meninggalkan kita.”


“Sepertinya Mama sudah memberikan keputusan,” ujar Jihan yang kemudian pergi ke kamarnya, Ester menyusul Jihan ke kamar dan ketika ia sampai di sana, nampak Jihan sedang mengeluarkan kopernya dan mengemasi


pakaiannya.


“Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu mengemasi pakaianmu?”


“Aku akan keluar dari rumah ini.”


“Apa? Kenapa kamu ingin keluar dari rumah ini, Nak?”


“Ma, aku tidak mau tinggal di rumah ini kalau Papa tidak tinggal di sini juga.”


“Kamu ini benar-benar, bukankah sudah berulang kali Mama


katakan bahwa dia sendiri yang memilih untuk pergi dari rumah ini.”


“Dan Mama tidak berusaha untuk membujuk papa untuk


“Untuk apa Mama harus melakukan itu? Toh dia juga


sudah mengambil keputusannya sendiri.”


*****


Handi saat ini berada di depan rumah keluarga Olaf, ia menelpon Tania untuk menyuruhnya keluar sebentar, tidak lama kemudian Tania keluar untuk menemui Handi, gadis itu nampak bertanya-tanya kenapa Handi ingin bertemu


dengannya saat ini, tidak lama kemudian akhirnya Handi mengatakan alasan kenapa ia ingin bertemu dengan Tania saat ini.


“Tania, kamu bisa ikut dengan Om sekarang?”


“Memangnya kita mau pergi ke mana, Om?”


“Om sekarang sudah tidak lagi tinggal di rumah kamu, Om sudah pindah ke rumah Om yang lama, jadi kamu bisa tinggal bersama Om di sana.”


“Tapi Om ....”


“Tania, Om tidak sanggup kalau kamu menjadi asisten rumah tangga di rumah ini.”


“Namun mereka memperlakukanku dengan baik.”


Ketika Tania dan Handi tengah berbincang di luar pagar, pintu pagar terbuka dan menampakan Olaf yang sepertinya hendak pergi berolahraga, mereka terkejut pun dengan Olaf yang tidak menyangka bahwa saat

__ADS_1


ini Handi ada di depan rumahnya.


“Tuan Handi?”


“Alasan saya datang ke sini untuk membawa Tania ikut dengan saya.”


“Apa maksud Tuan membawa Tania dari sini?”


“Sekarang saya sudah tidak tinggal lagi di rumah mendiang kakak saya, saya sudah pindah ke rumah lama saya, Tania bisa tinggal bersama saya di sana.”


“Namun selama ia tinggal di sini, kami semua memperlakukannya dengan baik, bukan begitu Tania?”


****


Jihan berdiri di depan rumah lamanya yang sudah sangat lama sekali tidak ia kunjungi, perlahan ia membuka pagar rumah itu dan berjalan menuju pintu depan, ia mengetuk pintu rumah beberapa kali namun tidak ada jawaban,


ia sempat melirik ke arah jendela yang mana tirainya tertutup.


“Apakah mungkin Papa sedang pergi?”


Jihan kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan mencoba menghubungi nomor Handi, panggilan pertama dan kedua tidak diangkat oleh Handi hingga akhirnya pada percobaan berikutnya akhirnya Handi menjawab panggilan darinya.


“Papa di mana sekarang?”


“Papa dalam perjalanan pulang, kenapa memangnya?”


“Aku sudah ada di depan pintu rumah, namun Papa tidak ada.”


“Benarkah? Memangnya kamu tahu Papa tinggal di mana?”


“Tentu saja aku tahu Papa tinggal di mana saat ini, pokoknya aku tunggu Papa di rumah ini.”


TUT


Jihan pun memutuskan untuk menunggu sampai Handi pulang dengan duduk di kursi santai yang ada di teras rumah, tidak lama kemudian mobil Handi memasuki halaman rumah dan Jihan menyambut kedatangan sang


papa dengan antusias.


“Papa.”


“Papa tidak menyangka kalau kamu datang ke sini, Nak.”


“Aku merindukan Papa, aku tadi mengancam Mama agar memberitahu di mana Papa tinggal hingga akhirnya Mama mau memberitahuku di mana saat ini Papa berada.”


Namun kebahagiaan Jihan sirna saat melihat adanya sosok Tania bersama dengan Handi, ia sontak saja menatap tajam Tania saat ini, Tania sendiri juga tidak menyangka akan bertemu dengan Jihan di tempat ini, ia nampak menundukan kepalanya.


“Papa datang bersama dengan Tania, mulai sekarang dia akan tinggal bersama Papa di sini.”


“Apa maksud Papa?!”

__ADS_1


__ADS_2