
Perdebatan antara Handi dan Ester terus berlanjut, namun Handi memiliuh untuk segera mengakhiri perdebatan mereka karena ia ingin segera kembali ke rumahnya, Ester pun bertanya apa yang tengah Handi bicarakan
ini.
“Apa maksudmu rumahmu?”
“Rumah yang harusnya aku tinggali.”
“Apa?! Kamu akan tinggal di rumah itu dan tidak mau tinggal di rumah kita yang sekarang?”
“Aku merasa tidak berhak tinggal di rumah itu, apalagi Tania tidak ada di sana, kalau kamu merasa nyaman tinggal di rumah itu, maka tinggallah di sana, namun selama Tania belum ditemukan maka aku tidak akan mau menginjakkan kakiku di rumah itu.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Handi masuk ke dalam mobil, Ester berusaha menghalangi Handi untuk pergi namun Handi tetap saja pergi, Ester menghela napasnya kesal, namun ia merasa lega dengan begitu ia
bisa lebih leluasa mengatur rencana jahatnya untuk menguasai semua aset milik keluarga Pratama.
“Keputusan yang bagus Handi, kamu memang lebih baik pergi dari rumah itu karena rumah itu tidak lama lagi akan jatuh ke tanganku.”
Ester masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraannya menuju rumah, nampak senyum bahagia terukir di bibirnya.
****
Handi tiba di rumah lamanya, rumah yang sudah lama tidak ia dan keluarganya tempati namun rumah ini merupakan rumah yang bersejarah karena di rumah ini ia dan Ester memulai menjalani hidup sebagai pasangan suami-istri, walaupun beberapa perabotan sudah dipindahkan ke rumah yang saat ini ditinggali oleh Ester dan Jihan, namun ada beberapa barang yang masih ditinggal di rumah ini. Beberapa barang yang mengingatkan Handi pada mendiang Bima yang sudah berbaik hati melobi ayah mereka untuk membelikan rumah ini untuknya yang saat itu baru saja menikah dengan Ester.
“Ini kunci rumahnya,” ujar Bima menyerahkan kunci rumah itu pada Handi.
“Kak, ini ....”
“Tenang saja, ini bukanlah pemberianku, namun ini pemberian ayah atas pernikahan kamu dengan Ester.”
“Ayah... dia ....”
“Walaupun ayah selalu mengatakan hal kasar padamu dan tidak menganggapmu ada namun percayalah bahwa ayah menyayangimu, dia sangat menyayangimu sama seperti dia yang menyayangiku.”
Mengingat kejadian yang sudah berlangsung lebih dari 20 tahun lalu itu membuat air mata Handi keluar, ia menangis mengingat kejadian itu, setelah menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya kini Handi
bergerak menuju kamar yang dulu pernah ia dan Ester gunakan, ia menyalakan lampu kamar dan memang kamar itu masih bersih dan terawat karena Handi mengupah orang untuk selalu membersihkan rumah ini walaupun sudah jarang untuk dihuni.
“Kamar ini seharusnya tempat aku tidur,” lirih Handi.
__ADS_1
*****
Keesokan harinya, Jihan merasa heran karena lagi-lagi hanya ada sang mama yang berada di meja makan, Ester menyapa Jihan yang baru saja turun dari lantai dua, nampak Jihan melihat sekeliling dan seolah tahu apa yang saat ini Jihan cari, Ester mengatakan sesuatu.
“Kamu mencari papamu? Dia tidak akan kembali ke rumah ini.”
“Apa maksud Mama mengatakan itu? Apakah Mama mengusir Papa dari rumah ini?”
“Sama sekali tidak, namun dia yang memilih untuk tidak tinggal di rumah ini.”
“Apakah Mama pikir aku akan percaya begitu saja dengan yang Mama katakan ini?”
“Terserah kamu saja, namun Mama hanya mengatakan yang sejujurnya, sudahlah lebih baik sekarang kita sarapan, nanti keburu makanannya dingin.”
Jihan pun tidak bertanya lebih lanjut lagi dan duduk di kursi yang biasanya ia gunakan untuk makan di meja makan, saat itulah Ester membuka percakapan dengan Jihan dengan bertanya apa yang sebenarnya terjadi kemarin.
“Hum, Mama sudah menelpon Ferdian dan menanyakan apa yang kemarin terjadi padamu.”
“Lalu apa yang dia katakan pada Mama?”
“Dia mengatakan bahwa kamu bertemu dengan mantan kekasih, apakah itu benar?”
“Apakah dia mengatakan itu pada Mama?”
****
Setelah sarapan selesai, kini Jihan kembal ke kamarnya, ia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Ferdian yang sudah dengan lancangnya memberitahu apa yang terjadi kemarin.
“Kenapa kamu menelponku pagi-pagi begini?”
“Apakah kamu ini memang sengaja, hah?”
“Aku tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan.”
“Aku bicara mengenai kejadian kemarin, kamu memberitahu mamaku perihal yang terjadi kemarin, bukan?”
“Iya, aku memang memberitahu mamamu, apakah itu salah? Dia bertanya padaku dan tentu saja aku menjawabnya.”
“Kamu ini! Siapa yang menyuruhmu melakukan itu?! Aku bahkan tidak pernah memberikanmu izin untuk memberitahu masalah pribadiku pada orang lain!”
__ADS_1
“Kamu kemarin tidak mengatakan apa pun padaku, kenapa kamu jadi marah-marah padaku? Andai saja kamu mengatakan bahwa jangan mengatakan pada siapa pun, pasti aku tidak akan mengatakan hal itu pada mamamu.”
“Sudahlah, kamu in memang pandai sekali bersilat lidah!”
TUT
Jihan membuang ponselnya sebal, ia benar-benar kesal dengan Ferdian yang mulutnya bocor hingga Ester tahu mengenai apa yang terjadi kemarin, Jihan kemudian memutuskan untuk pergi mandi saat ini, ketika ia sedang
mandi nampak Ester mengendap-endap masuk ke dalam kamarnya, wanita itu nampak menatap sekeliling sebelum akhirnya ia meraih ponsel Jihan untuk mencari tahu sesuatu.
****
Olaf diam-diam memperhatikan Tania yang saat ini tengah berada di halaman depan rumah tengah menyapu halaman, Juan yang melihat Olaf tengah fokus memperhatikan Tania pun menghampiri Olaf dan bertanya apakah
Olaf benar-benar tidak menaruh rasa pada Tania.
“Aku perhatikan kamu fokus sekali menatap gadis itu? Aku jadi ragu kalau kamu mengatakan tidak menyukainya.”
“Bukankah sudah pernah aku katakan padamu untuk tidak perlu mencampuri urusan pribadiku?”
“Sudahlah Kak, jangan kaku begitu, andai kata kamu memang menyukainya, aku sama sekali tidak keberatan.”
“Sudahlah, aku tidak mau membahas hal omong kosong denganmu.”
Setelah mengatakan itu, Olaf pergi dari sana, sementara Juan masih berdiri di sana, ia memperhatikan Tania yang sedang fokus mengerjakan pekerjaannya sampai ia tidak menyadari bahwa ia saat ini tengah diperhatikan oleh seseorang.
“Kenapa kamu memperhatikan gadis itu?” tanya Minanti yang membuat Juan terkejut.
“Apa? Siapa yang memperhatikan gadis itu?”
“Sudahlah, kamu tidak perlu mengelaknya karena Mama sendiri melihatnya barusan, ingat kalau kamu saat ini sudah memiliki istri.”
“Tentu saja aku ingat kalau saat ini aku sudah memiliki istri, hanya saja... aku memperhatikannya karena kakak
memperhatikannya.”
“Olaf? Dia bahkan tidak ada di sini.”
“Namun apakah Mama tidak memperhatikan sikapnya pada gadis itu? Aku rasa gadis itu adalah gadis yang spesial untuknya.”
__ADS_1
“Hum, menurut Mama juga begitu namun Olaf tidak mau membahas hal tersebut.”
“Tentu saja ia tidak mau membahasnya karena ia malu, Ma.”