
Olaf tidak mengerti kenapa Stefani bersikap seperti itu padanya, namun Olaf tidak mau terlalu memikirkan wanita itu dan memilih untuk kembali fokus pada pekerjaannya yang tadi sempat tertunda akibat gangguan itu, namun mood untuk menyelesaikan pekerjaannya seketika menghilang, dirinya butuh istirahat sejenak sebelum kembali fokus dalam pekerjaan yang harus ia selesaikan. Olaf kemudian meraih ponselnya dan menggulir tangannya di layar, ia
nampak ragu untuk menghubungi Handi, namun sebenarnya saat ini dirinya begitu mengkhawatirkan bagaimana keadaan Tania.
“Apakah yang harus aku lakukan saat ini? Apakah aku harus membiarkan semua ini?”
Olaf akhirnya tidak jadi menelpon Handi walaupun dirinya sangat ingin sekali mengetahui bagaimana kabar Tania terkini namun ia tidak melakukan hal tersebut karena tidak ingin Handi berpikiran yang bukan-bukan padanya.
“Semoga saja Tania bisa segera siuman.”
Olaf pun memilih untuk kembali fokus dengan pekerjaannya dan bertepatan dengan itu sekretarisnya memberitahu bahwa tidak lama lagi ia memiliki agenda pertemuan dengan para anggota dewan direksi perusahaan.
“Baiklah, sepertinya aku memang tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal yang tak perlu, masih banyak hal yang perlu aku lakukan saat ini.”
Maka Olaf pun segera pergi meninggalkan ruangan kerjanya dan pergi menuju rapat dewan direksi yang harus ia hadiri saat ini.
****
Di rumah sakit, Handi masih setia menunggu sampai Tania siuman, sampai saat ini Tania belum melewati masa kritisnya dan hal tersebut membuat Handi sedih, saat Handi masih saja bersedih menunggui Tania di rumah sakit, Minanti dan Bram datang untuk menjenguk Tania.
“Tuan Handi?”
“Tuan Bram?”
“Bagaimana kabar Tania?” tanya Minanti.
“Sampai saat ini dia masih kritis,” jawab Handi.
“Ya Tuhan, semoga saja dia bisa segera siuman,” ujar Bram.
“Terima kasih, aku juga selalu berdoa pada Tuhan agar Tania bisa segera siuman.”
“Kalau aku boleh tahu, apakah Tuan sudah tahu dalang di balik semua ini?”
Bram menyikut istrinya untuk tidak memancing keributan di rumah sakit ini, namun sepertinya Minanti cuek saja, Handi menganggukan kepalanya, tentu saja ia sudah tahu siapa dalang di balik semua ini, ia bersumpah setelah Tania siuman, ia akan membuat Ester mendekam di penjara atas perbuatan jahat yang selama ini ia lakukan.
“Tentu saja aku sudah tahu, aku akan pastikan dia membayar semua kejahatan yang telah ia lakukan.”
__ADS_1
“Baguslah, aku sendiri juga geram sekali, aku harap anda segera menempuh jalur hukum untuk membuat orang itu sadar bahwa perbuatannya sudah sangat keterlaluan.”
****
Jihan datang ke rumah sakit untuk memastikan bahwa papanya baik-baik saja, sampai saat ini Tania belum juga siuman, Handi adalah orang yang selalu berada di rumah sakit untuk melihat bagaimana progres perkembangan kesembuhan Tania sampai saat ini.
“Papa?”
“Jihan, kamu kenapa ke sini?”
“Tentu saja aku ingin menjenguk Papa dan memastikan kalau Papa baik-baik saja.”
“Tentu saja Papa baik-baik saja, harusnya yang kamu khawatirkan itu Tania, sampai saat ini dia belum juga siuman dan belum melalui masa kritisnya.”
“Papa sepertinya sangat khawatir kalau Tania pergi, ya?”
“Tentu saja Jihan, Papa khawatir karena Tania adalah tanggung jawab Papa sekarang setelah kedua orang tuanya meninggal dunia.”
“Baiklah, aku harap Papa baik-baik saja di sini.”
“Tania, bahkan di saat kamu tidak sadarkan diri pun, kamu masih saja membuat masalah.”
Jihan kembali melanjutkan langkah kakinya yang tadi sempat terhenti, namun ketika ia hendak masuk ke dalam mobilnya, ia seperti melihat sang mama di antara semak belukar parkiran rumah sakit.
“Sepertinya tadi aku melihat mama, namun apakah aku hanya berhalusinasi saja?”
*****
Pada akhirnya Minanti dan Bram tiba juga di rumah, Bram mengingatkan pada Minanti untuk tidak perlu terlalu ikut campur pada urusan dalam keluarga itu, lagi pula Handi juga sudah tahu siapa dalang di balik semua hal buruk yang menimpa Tania.
“Namun aku hanya ingin memastikan kalau dia memang benar-benar akan menghukum istrinya, bagaimana mungkin ada orang sejahat itu di dunia nyata?”
“Sudahlah Minanti, kita bicara lagi nanti.”
Minanti nampak merengut kesal karena suaminya tidak mau mendengarkannya, tidak lama kemudian Juan pulang dan disambut oleh istrinya di depan pintu, mereka berdua pun segera menghampiri Minanti yang sedang duduk
di sofa ruang tengah seorang diri.
__ADS_1
“Mama dari mana?”
“Mama habis dari rumah sakit menjenguk Tania.”
“Oh benarkah? Lalu bagaimana keadaannya saat ini?”
“Sampai saat ini dia belum sadarkan diri.”
“Ya Tuhan, semoga saja dia cepat sadarkan diri, ya?”
“Amiin, semoga saja, Mama juga berdoa begitu.”
Juan nampak berbicara sebentar pada istrinya dan kemudian wanita itu pergi meninggalkan Juan dan Minanti berdua di sini, Minanti nampak heran dengan ini, sepertinya ada sesuatu yang Juan ingin katakan padanya.
“Ada apa? Apakah ada sesuatu yang ingin kamu katakan pada Mama?”
“Iya, memang ada sesuatu yang ingin aku katakan pada Mama dan ini soal kejadian tadi siang di kantor.”
“Apa maksudmu? Memangnya tadi di kantor ada apa?”
****
Olaf tidak dapat menahan dirinya sendiri untuk tidak menjenguk Tania di rumah sakit, pikirannya mengatakan bahwa ia tidak perlu melakukan ini, namun hatinya menolak dan mengatakan bahwa ia harus menjenguk
Tania saat ini. Setelah pertimbangan berat dan pergolakan batin yang luar biasa, akhirnya Olaf pun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Tania di rumah sakit.
“Apakah ini keputusan yang tepat?” lirih Olaf ketika ia sudah berada di parkiran rumah sakit.
Namun kemudian Olaf pun meyakinkan dirinya bahwa ini adalah keputusan yang tepat dan ia harus segera turun dan mencari tahu bagaimana keadaan Tania saat ini, baru saja ia turun dari dalam mobilnya dan hendak masuk ke dalam rumah sakit, ia menemukan sosok Handi tengah berada di parkiran saat ini, sepertinya pria itu sedang menunggu seseorang, hal tersebut dapat terlihat ketika Handi sedang menengok ke kanan dan ke kiri, Olaf awalnya
tidak melihat sesuatu yang aneh namun kemudian ia melihat ada seseorang yang sedang mengarahkan senjata api ke arah Handi, seketika Olaf panik dan tahu bahwa saat ini Handi sedang dalam bahaya.
“Tuan Handi awas!”
DOR
Seketika suara letupan senjata api membuat semua pengunjung rumah sakit panik, mereka yang kebetulan ada di parkiran rumah sakit dan lobi, berhamburan menyelamatkan diri dari serangan orang tidak dikenal itu.
__ADS_1