Berkah Cinta

Berkah Cinta
Semua Tak Baik


__ADS_3

Minanti merasa bahwa Bram masih akan menanyakan perihal masa lalunya dengan Bima dan nyatanya memang hal tersebut yang ingin suaminya itu tanyakan padanya.


“Apakah jawabanku kemarin tidak cukup jelas? Aku dan Bima hanya teman dekat, tidak lebih.”


“Benarkah?”


“Apakah kamu meragukanku?”


“Sejujurnya aku tidak mau meragukanmu, namun melihat tingkahmu yang aneh membuatku jadi bertanya-tanya, mungkinkah ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan dariku.”


“Bram, tolong jangan mulai lagi, aku telah mengatakan yang sejujurnya padamu, ok?”


Setelah itu Minanti pun pergi meninggalkan Bram seorang diri di sana, Minanti masuk ke dalam kamar dan kemudian duduk di tepian tempat tidur. Bayang-bayang masa lalu kembali mengusiknya namun Minanti berusaha


untuk tidak terlalu memikirkan hal tersebut.


“Tidak, aku tidak boleh memikirkan hal itu lagi.”


Tidak lama kemudian Bram membuka pintu kamar dan menemukan istrinya itu tengah terduduk di tepian tempat tidur, dengan perlahan Bram mendekati istrinya yang nampak tengah merajuk seperti ini.


“Aku ingin meminta maaf padamu atas sikap dan pertanyaanmu kalau hal tersebut membuatmu tidak nyaman atau bahkan membuatmu tersinggung, aku hanya… takut kalau ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku.”


*****


Semalam Olaf menyuruh sopirnya datang untuk membawakannya pakaian dan kini pria itu sudah mengenakan pakaian santainya dan tengah menyuapi Tania sarapan, Tania sebenarnya sudah mengatakan pada Olaf bahwa ia bisa makan sendiri namun pria itu tidak mengizinkan Tania untuk makan sendiri.


“Aku sudah merasa lebih baik dan tanganku masih bisa digerakan.”


“Bisakah kamu diam dan makan saja?”


Maka Tania pun menuruti apa yang dikatakan oleh Olaf barusan, setelah sarapannya habis Olaf kemudian pergi menemui dokter yang merawat Tania untuk menanyakan apakah Tania sudah dapat diizinkan pulang atau


belum.


“Jadi bagaimana kata dokter?” tanya Tania ketika pria itu kembali ke ruangan inapnya.


“Kamu sudah boleh pulang besok pagi kalau kondisimu sudah baik,” jawab Olaf.


“Syukurlah kalau begitu, aku sudah bosan sekali ada di rumah sakit.”


Olaf tersenyum mendengar ucapan Tania barusan, namun Tania merasa bahwa saat ini Olaf tengah memikirkan sesuatu.


“Olaf, ada apa?”


“Oh, bukan apa-apa kok.”


“Kamu sepertinya ada masalah saat ini, ya?”


“Bukan apa-apa, kamu tak perlu khawatir.”


“Baiklah kalau kamu tidak mau bercerita padaku, aku tidak akan memaksakan kamu untuk bercerita.”


“Ini tentang adikku.”

__ADS_1


“Ada apa dengan adikmu?”


“Dia menyukai Stefani dan kini rumah tangganya dalam masalah akibat rasa sukanya pada wanita itu.”


“Benarkah?”


“Dan apakah kamu tahu hal yang lebih mengerikan dari itu? Adikku membantu wanita iblis itu agar tidak terjerat masalah hukum.”


*****


Ricky nampak terkejut ketika menemukan Felli berdiri di mulut gang tempat ia tinggal, pemuda itu nampak canggung sekaligus gugup ketika kembali berhadapan dengan sosok Felli yang nampak begitu cantik dan


modis.


“Halo.”


“Halo.”


“Jadi kamu tinggal di gang ini?”


“Iya, dari mana anda tahu?”


“Sudahlah, itu tidak penting, kamu mau pergi ke mana?”


“Saya ingin pergi bekerja.”


“Bekerja?”


Felli melihat dengan seksama penampilan pemuda ini, dia membawa sebuah gitar dengan pakaian seadanya namun untuk Felli pemuda itu sudah cukup tampan dan menarik.


“Iya begitulah,” jawab Ricky.


“Ikutlah denganku, kita akan pergi ke suatu tempat.”


“Apa? Tapi kita akan ke mana?”


“Sudahlah, nanti juga kamu akan tahu sendiri.”


Maka Felli pun membawa Ricky ke sebuah café yang biasa mengadakan live music di akhir pekan seperti saat ini, Felli tentu saja sudah kenal baik dengan pemilik café ini yang tidak lain adalah sahabatnya sejak mereka SMA dulu.


“Apa kabar Nanda?”


“Kabarku baik Felli, kamu sendiri bagaimana?”


“Aku juga baik.”


“Ngomong-ngomong siapa pemuda ini? Pacarmu?”


“Sembarangan, Nanda bolehkah aku minta bantuanmu agar dia bisa menjadi salah satu penyanyi di café ini?”


*****


Olaf dan Tania saat ini sedang ada di taman rumah sakit karena Tania bilang ia ingin menghirup udara segar di luar ruangan inapnya, kini mereka tengah duduk bersisian di sebuah kursi taman sambil menikmati pemandangan hijaunya rumput, rindangnya pohon dan aktivitas pasien yang ditemani oleh keluarga atau perawat.

__ADS_1


“Segar bukan udara pagi ini?”


“Iya, udara pagi memang segar.”


“Ada apa Tania?” tanya Olaf karena ia merasa kalau sejak tadi sepertinya Tania seperti ingin mengatakan sesuatu padanya namun wanita itu selalu mengurungkan niatnya.


“Oh bukan apa-apa.”


“Ayolah, kamu tidak perlu sungkan begitu.”


“Begini, sebelumnya aku mengobrol dengan mamamu mengenai kamu dan adikmu, mamamu yang sekarang ternyata bukan mama kandung kalian, ya?”


“Oh soal itu, aku pikir soal apa, iya beliau memang bukan ibu kandung kami namun semenjak kami kecil beliau yang sudah merawat dan membesarkan kami.”


“Begitu rupanya, kalau aku boleh tahu di mana ibu kandung kalian sekarang?”


“Kabar terakhir yang aku dengar dia ada di Austria dan dia sudah memiliki keluarga baru di sana.”


“Maaf kalau aku sudah banyak bertanya soal keluargamu.”


“Tidak apa, lagi pula sebentar lagi kamu akan jadi istriku, wajar kalau kamu ingin tahu siapa diriku dan bagaimana latar belakangku, bukan?”


*****


Ricky tidak menyangka bahwa setiap akhir pekan ia bisa menghibur pengunjung café milik sahabat Felli ini dan bahkan ia mendapatkan gaji yang lumayan besar, selain itu juga di hari biasa ia juga ditawarkan untuk bekerja di café ini karena memang mereka sedang kekurangan karyawan. Ricky tidak menolak akan hal itu, namun ia merasa tidak enak pada Felli karena sudah merepotkan wanita itu.


“Terima kasih karena anda telah mau membantuku.”


“Bisakah kamu tidak perlu bicara formal padaku?”


“Maaf, hanya saja….”


“Apa? Apakah karena aku terlihat sudah berumur begitu?”


“Tidak kamu masih seperti gadis 20 tahun, kok.”


“Benarkah?”


“Iya, aku serius.”


Felli pun nampak tersipu dengan ucapan pemuda tampan ini, namun Ricky melirik ke arah jari Felli yang mana di jari wanita itu tersemat sebuah cincin pernikahan.


“Namun sepertinya kamu sudah menikah, ya?”


Felli pun melirik ke arah cincin pernikahan yang masih ia kenakan sampai saat ini, ia pun melepas cincin tersebut dan memasukannya ke dalam tas.


“Kenapa kamu melepaskan cincin itu?”


“Apakah kamu ingin mendengar ceritaku?”


“Kalau kamu ingin berbagi denganku, aku siap mendengarkan keluh kesahmu.”


Maka Felli pun bercerita pada pemuda ini mengenai rumah tangganya dengan Juan yang mana belakangan ini rumah tangga mereka agak tergganggu dengan kehadiran sosok wanita lain, suaminya menjadi bersikap acuh

__ADS_1


dan kini mereka tidur di kamar yang berbeda.


“Sejujurnya aku ingin sekali berpisah dengannya.”


__ADS_2