Berkah Cinta

Berkah Cinta
Serangan yang Gagal


__ADS_3

Handi nampak terkejut ketika Olaf mendorongnya agar tidak terkena peluru yang tadi melesat ke arahnya, Olaf memastikan bahwa Handi baik-baik saja pun dengan Handi yang memastikan bahwa Olaf saat ini baik-baik


saja dan tidak mengalami luka sama sekali.


“Tuan baik-baik saja?”


“Saya baik-baik saja, bagaimana dengan kamu?”


“Saya juga baik.”


“Syukurlah, terima kasih karena kamu telah menyelamatkan saya tadi.”


“Itu bukan masalah Tuan.”


Pasca penembakan itu, polisi diturunkan untuk melakukan olah TKP, Olaf dan Handi serta beberapa orang dimintai keterangan oleh polisi untuk penyelidikan lebih lanjut, setelah mereka memberikan keterangan pada polisi tentang kejadian yang barusan terjadi, kini Handi mengajak Olaf untuk masuk ke dalam rumah sakit agar mereka dapat melihat bagaimana keadaan Tania saat ini.


“Bagaimana keadaan Tania saat ini, Tuan?”


“Seperti yang kemarin-kemarin, dia masih belum juga siuman, dokter bilang tadi ia masih belum keluar dari masa kritisnya.”


Ketika Handi mengatakan itu, pria tua itu nampak begitu sedih, ia seperti sangat takut akan kehilangan Tania untuk


selama-lamanya, Olaf nampak ragu untuk menanyakan sesuatu pada Handi dan rupanya Handi tahu bahwa saat ini Olaf tengah ragu untuk menanyakan sesuatu padanya.


“Kalau ada sesuatu yang hendak kamu tanyakan, kamu bisa tanyakan sekarang juga.”


“Apa?”


****


Ester menggeram kesal karena rencananya untuk membunuh Handi kembali gagal, dan kali ini Olaf adalah batu sandungannya, Jihan yang baru saja melihat sang mama pulang ke rumah nampak acuh, ia melanjutkan aktivitasnya membaca majalah yang saat ini ada di tangannya.


“Orang itu benar-benar.”


“Kali ini rencana jahat apalagi yang Mama lakukan?”


“Orang itu sudah keterlaluan, dia menghalangiku!”


“Siapa target Mama kali ini? Apakah Mama sudah bisa menerobos masuk ke ruang ICU dan membunuh Tania?”


“Papamu, namun dia selamat.”


Mendengar bahwa Ester hendak membunuh Handi membuat seketika Jihan menghentikan aktivitasnya dan menatap Ester tajam, Ester sendiri nampak acuh, ia terus saja mengeluarkan keluh kesah serta kekesalannya karena rencananya kali ini tidak berhasil dengan sempurna.


“Kenapa dia harus datang dan menyelamatkan Handi?! Kenapa rencanaku tidak bisa berjalan dengan sempurna?!”

__ADS_1


“Apakah Mama sudah kehilangan akal sehat Mama? Bagaimana mungkin Mama tega hendak membunuh Papa?!”


“Kenapa kamu ini? Kenapa kamu malah marah pada Mama?”


“Kenapa aku marah pada Mama? Mama masih tanya kenapa aku marah pada Mama? Jelas sekali jawabanku bahwa aku tidak habis pikir dengan Mama, bagaimana mungkin Mama melakukan tindakan keji itu pada Papa?!”


“Sebenarnya kamu ini ada di pihak siapa, sih?”


****


Keesokan harinya Stefani datang ke rumah keluarga Olaf, seperti biasa wanita itu menemui Minanti dan menceritakan beberapa aktivitasnya di dunia modeling, Minanti nampak menyimak apa yang Stefani katakan dengan antusias, namun ada sesuatu yang mengganjal pikirannya, tentu saja hal yang mengganggu pikirannya itu adalah apa yang Juan katakan padanya semalam, apakah mungkin Stefani melakukan itu?


“Tante, apakah ada sesuatu yang salah?”


“Apa? Tidak ada kok.”


“Benarkah? Namun sepertinya Tante sedang memikirkan sesuatu.”


“Tante baik-baik saja sayang.”


Setelah itu tidak ada lagi perbincangan di antara mereka, Minanti merasa bahwa ini adalah kesempatannya yang baik untuk mengetahui secara langsung dari mulut Stefani mengenai kebenaran cerita yang diceritakan oleh Juan semalam.


“Stefani, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu.”


“Benarkah? Kalau begitu Tante tanyakan saja apa yang ingin Tante tanyakan, aku akan menjawabnya dengan senang hati.”


“Apa yang Juan ceritakan pada Tante memangnya?”


“Ini tentang kamu yang kemarin datang ke kantor Olaf dan membuat keributan di sana, apakah yang dikatakan oleh Juan itu benar, Nak?”


“Oh ternyata soal itu.”


“Iya, Juan kemarin mengatakan hal tersebut padaku, apakah yang Juan katakan itu benar?”


*****


Jihan mendatangi rumah sakit dan mencari tahu bagaimana kabar sang papa setelah Ester berusaha membunuhnya kemarin, saat ini Jihan mendapatkan kabar bahwa Tania sudah melalui masa kritisnya dan saat ini


gadis itu sudah dipindahkan ke ruang inap biasa dan Jihan segera pergi ke sana, ketika ia tiba di sana nampak Handi sedang menunggui sampai Tania siuman.


“Jihan? Apa yang membawamu ke sini lagi, Nak?”


“Aku ingin mengetahui bagaimana kabar Papa.”


“Sepertin yang kamu lihat saat ini, Papa baik-baik saja.”

__ADS_1


“Aku dengar kalau sebelumnya Papa sempat menjadi target pembunuhan orang tak dikenal.”


“Begitulah, namun untungnya Papa selamat karena Tuan Olaf.”


“Olaf?”


“Iya, dia menyelamatkan nyawa Papa dari maut, andai saja dia tidak mendorong Papa mungkin saja Papa sudah meninggalkan dunia ini.”


“Pa, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku katakan pada Papa.”


“Apa yang sebenarnya hendak kamu katakan, Nak?”


“Aku... sebenarnya tahu siapa dalang di balik rencana pembunuhan Papa kemarin.”


“Apakah kamu ingin mengatakan bahwa dalang di balik semua ini adalah Ester?”


Jihan memang berat harus mengatakan itu pada Handi, namun memang faktanya bahwa Ester adalah dalang di balik penyerangan terhadap Handi, Handi sama sekali tidak terkejut dengan pengakuan Jihan, ia justru berterima kasih pada Jihan karena sudah mau jujur padanya.


“Terima kasih karena kamu sudah mau jujur pada Papa.”


*****


Jihan mengajak Ferdian untuk bertemu sore ini di rumah sakit, sepulang bekerja Ferdian langsung pergi menemui Jihan di rumah sakit ini dan mereka pun berbicara mengenai apa yang Ester lakukan pada Handi semalam,


Jihan nampak berkeluh kesah pada pria ini tanpa merasa sungkan karena ia sudah menganggap Ferdian sebagai temannya dan pria itu pun nampak sama sekali tidak keberatan kalau dijadikan tempat Jihan untuk curhat.


“Bagaimana menurutmu?”


“Apa yang mamamu lakukan sungguh sangat mengerikan.”


“Aku tahu, aku saja benci pada apa yang sudah ia lakukan pada papa, bagaimana mungkin dia tega hendak membunuh papa? Padahal papa adalah suaminya.”


“Ini pasti tidak mudah bagimu.”


“Jelas ini tidak mudah bagiku, menerima kenyataan bahwa mamaku begitu terobsesi pada harta kekayaan keluarga dan berambisi menguasai semuanya untuk dirinya sendiri, dia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.”


“Semoga kamu bisa mendapatkan jalan keluar atas masalah yang saat ini sedang kamu hadapi.”


“Terima kasih karena kamu sudah mau mendengarkan semua keluh kesahku.”


“Tidak masalah, aku senang kalau kamu mempercayakanku sebagai temanmu.”


Ketika ia dan Ferdian masih mengobrol membahas tentang kejadian kemarin, mata Jihan terfokus pada sosok Olaf yang baru saja memasuki rumah sakit ini, seketika tangannya mengepal kuat dan Ferdian dapat melihat ekspresi


berbeda yang ditunjukan oleh Jihan saat ini.

__ADS_1


“Jihan, ada apa?”


__ADS_2