Berkah Cinta

Berkah Cinta
Sang Mantan yang Datang


__ADS_3

Handi tidak mempercayai apa yang Jihan katakan saat ini, ia tak menyangka kalau Jihan malah menuduh Tania melakukan sesuatu yang bukan-bukan.


“Hentikan omong kosongmu, Jihan.”


“Apa? Apa kata Papa? Aku bicara omong kosong? Aku bicara yang sebenarnya dan Papa mengatakan kalau aku bicara omong kosong?”


“Sudahlah Jihan, Papa tidak memiliki waktu untuk memperdebatkan masalah ini.”


“Tidak, Papa harus mendengarkanku, karena apa yang aku sampaikan ini adalah sebuah kejujuran.”


“Jihan, Papa tidak percaya padamu, kalau kamu masih saja ingin mengatakan sesuatu yang tidak benar, maka Papa minta kamu keluar dari rumah ini.”


Jihan nampak terkejut ketika mendengar Handi malah memintanya untuk keluar dari rumah, di saat Jihan terkejut itulah sosok Tania muncul dari dalam rumah, tatapan kebencian dari Jihan langsung menusuk pada Tania, namun Tania nampak begitu tenang dan sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapan penuh kebencian dari Jihan itu.


“Kamu ini memang benar-benar menguji kesabaranku!”


Jihan hendak menyerang Tania namun Handi langsung menahan Jihan agar anaknya ini tidak sampai melukai Tania, Jihan meminta agar Handi melepaskannya karena ia ingin membuat perhitungan dengan Tania.


“Lepaskan aku, Pa!”


“Papa sudah mengatakan padamu, kalau kamu masih saja bersikap kurang ajar, maka lebih baik kamu keluar dari rumah ini!”


****


Pasca Jihan pergi dari rumah, Handi meminta maaf pada Tania karena Jihan lagi-lagi membuat masalah, namun Tania sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut, ia mengatakan bahwa ia paham kenapa Jihan melakukan hal tersebut.


“Sudahlah Om tidak perlu meminta maaf terus padaku, hal tersebut malah membuatku tidak enak.”


“Namun kelakuan Jihan sejak dulu sampai saat ini membuat Om tidak enak padamu, Tania.”


“Sudahlah Om, karakter Jihan memang seperti itu.”


“Om sendiri tidak tahu lagi, bagaimana caranya agar dapat merubah cara pandanganya padamu.”


“Aku pergi ke kamar dulu, ya?”


“Baiklah.”


Tania kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar, di dalam kamar ia duduk di tepi ranjang dan kemudian meraih ponselnya, tertera ada beberapa pesan dari Ferdian, Tania pun membuka apa isi pesan dari suaminya Jihan itu, Tania nampak mengulas senyum ketika melihat isi pesan yang Ferdian kirimkan padanya.


“Ferdian, sepertinya pria itu memang benar-benar jatuh dalam pesonaku.”


Tania pun kemudian mengetikan balasan pada pesan yang dikirimkan oleh pria itu, kemudian mereka pun berbalas pesan, Tania dengan sengaja menceritakan pada Ferdian bahwa tadi Jihan datang ke rumah untuk melabraknya, tidak lama setelah Tania menuliskan pesan itu, Ferdian menelponnya.


“Halo?”


“Apakah tadi itu benar?”

__ADS_1


“Memangnya aku terdengar seperti orang yang sedang bermain-main?”


“Aku minta maaf Tania, aku tidak tahu kalau Jihan akan bertindak senekat itu.”


“Tidak masalah, kok.”


****


Ferdian pulang ke rumah dengan geram, ia berusaha mencari di mana Jihan namun ia tidak menemukan wanita itu di setiap sudut rumah, ia pun kemudian mencoba menelpon Jihan namun pada percobaan awal, Jihan tidak meresponnya, Ferdian terus saja menelpon Jihan hingga akhirnya Jihan mau menjawab teleponnya di panggilan yang kedelapan.


“Halo?”


“Di mana kamu sekarang?”


“Apakah itu begitu penting bagimu?”


“Katakan saja kamu ada di mana sekarang!”


“Aku ada di rumah mama, apakah kamu puas?”


“Baiklah, aku akan datang ke sana, awas saja kalau ketika aku datang, kamu tidak ada di sana!”


TUT


Ferdian segera bergegas masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraannya itu menuju rumah Ester, sesampainya di sana, ia langsung menerobos masuk ke dalam rumah dan menemukan sosok Jihan dan Ester yang tengah duduk santai di ruang tengah.


“Aku butuh bicara dengan Jihan,” jawab Ferdian.


“Tidak, Jihan sudah mengatakan semuanya padaku, Jihan mengatakan bahwa kamu tertarik pada Tania, apakah yang dia katakan itu benar?” tanya Ester.


“Jadi Jihan sudah mengatakannya padamu? Baiklah, aku mengakuinya kalau aku menyukai Tania, apakah kamu puas?!” seru Ferdian.


****


Keesokan harinya, Tania menemui Ferdian di sebuah restoran, kali ini wajah pria itu nampak murung tidak seperti biasanya, Tania pun bertanya apa gerangan yang membuat wajah Ferdian nampak tidak seperti biasanya ketika mereka bertemu.


“Ferdian, apakah kamu baik-baik saja?”


“Apa? Oh, semalam aku bertengkar dengan Jihan.”


“Apakah kalian bertengkar karena aku?”


“Iya, kami bertengkar karena kamu, namun kamu tidak perlu khawatir akan hal itu.”


“Sejujurnya aku merasa bersalah padamu, gara-gara kehadiranku, rumah tanggamu jadi berantakan.”


“Hei, jangan menyalahkan dirimu, lagi pula dengan adanya kamu atau tidak, toh rumah tanggaku dan Jihan tidak akan dapat terselamatkan.”

__ADS_1


“Namun kamu bukan orang sembarangan Ferdian, bagaimana kalau media tahu dan mereka meliput kasus ini? Reputasi keluargamu akan hancur dan bisnis keluargamu juga mungkin saja terkena imbasnya.”


“Tania, kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu, aku dapat mengendalikan semuanya, ok?”


“Bukannya aku mau berpikiran buruk, namun… apakah kamu yakin kalau Jihan tidak akan membawa masalah ini ke ranah publik?”


“Maksudnya?”


“Iya, kamu tahu sendiri bagaimana sifatnya yang tempramental itu, dia sangat membenciku karena memiliki hubungan denganmu, dia pasti akan melakukan segala cara untuk melakukan pembalasan padaku.”


“Tania, kamu tidak perlu khawatir soal dia, aku akan melindungimu, ok? Percayalah.”


****


Jihan sedang termenung sendirian di kursi taman, ia merasa jengkel dengan Ferdian yang jatuh cinta pada Tania, kenapa harus Tania? Dulu Olaf kini Ferdian, kenapa semua harus Tania?


“Tania, kenapa harus selalu kamu? Kenapa?!” raung Jihan.


“Jihan?”


Jihan terkejut ketika mendengar suara itu lagi, ia sudah tahu siapa pemilik suara itu dan ia sudah bersiap untuk pergi dari tempat ini, namun pria itu menahan tangan Jihan agar tidak beranjak dari tempat duduknya.


“Jihan, kenapa kamu mau pergi?”


“Lepaskan tanganmu.”


“Sepertinya kamu tidak baik-baik saja.”


“Itu bukan urusanmu, sekarang juga lepaskan tanganmu ini!”


“Aku bisa untuk diajak bicara kok.”


“Kamu ini memang benar-benar, ya! Aku sudah mengatakannya padamu bahwa aku baik-baik saja dan tidak butuh seseorang untuk diajak bicara, apakah kamu tidak dapat mengerti apa yang aku katakan?!”


“Benarkah? Namun sepertinya wajahmu mengatakan hal yang lain.”


“Berhentilah untuk sok peduli padaku, Galang, lepaskan tanganku!”


Namun pria bernama Galang itu tidak mau melepaskan tangannya pada tangan Jihan, ia justru memeluk tubuh Jihan, Jihan berusaha meronta namun pada akhirnya ia tidak lagi meronta dan malah menangis sesegukan


dalam pelukan bersama Galang itu.


“Hiks.”


“Kamu bisa menceritakan semuanya padaku, Jihan,” ujar Galang ketika ia mengusap punggung Jihan untuk membuat wanita ini tenang.


Jihan nampak ragu apakah ia harus bercerita pada pria ini atau tidak, namun karena memang ia membutuhkan teman untuk berkeluh kesah maka akhirnya Jihan mau membagi kisahnya pada pria ini.

__ADS_1


__ADS_2