Bukan Istri Parasit

Bukan Istri Parasit
Pov. Amar


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹🌹


.


.


.


💞💞💞💞💞💞


Pov. Amar.


Melihat mantan istri ku delia hidup bahagia dengan pasangan baru nya membuat hati ku sakit bagaikan di tusuk - tusuk dengan ribuan jarum. Tapi aku tidak perlu egois, delia memang pantas untuk bahagia. Dulu saat hidup bersama ku dia hanya menjadi hinaan keluarga ku dan aku tidak bisa membela nya.


Hari ini aku ke rumah sakit karena ingin memeriksakan kesehatan ku yang memang akhir - akhir ini kurang fit. Namun siapa sangka saat di parkiran aku melihat mantan istri ku delia tertawa bahagia dengan suami nya, dengan sang suami yang memeluk pinggang nya sambil sesekali mengusap perut delia yang terlihat membuncit.


" Apa saat ini delia hamil ?" Tanya ku pada diriku sendiri.


" Seandainya pria itu adalah aku yang ada disamping nya, pasti hidup ku akan bahagia. Semua ini memang salahku, aku yang sudah menghancurkan rumah tangga ku dengan delia. Sehingga allah membalas semua uang sudah aku lakukan. " Gumam ku dalam hati.


Aku akhirnya mengurungkan niat ku untuk masuk ke rumah sakit. Aku mengikuti kemana mobil suami delia pergi. Setelah aku mengikuti nya ternyata mobil delia berhenti di salah satu toko kue.


Sepertinya aku tidak sanggup lagi mengikuti delia dan suami nya, akhir nya aku memutuskan untuk pulang. Motor pun aku laju kan kembali membelah jalanan yang sangat terik.


Saat aku sampai di rumah kontrakan aku melihat ibu ku duduk di teras rumah dengan membawa tas yang cukup besar. Apa ibu akan menginap ? Tapi kenapa membawa baju segitu banyak, padahal jarak rumah tidak lah terlalu jauh.


" Bu kok tumben duduk disini ?" Tanya ku menghampiri ibu sambil ku cium tangan nya.


" Ibu mau tinggal dengan kamu saja mar, ibu malas tinggal dengan dua orang parasit itu" Ucap ibu ku dengan wajah masam nya.

__ADS_1


Kenapa lagi - lagi ibu menyebut kata parasit ? Kata - kata yang dulu sering dia ucapkan kepada delia. Sekaranf kata itu dia ucapkan untuk rosa dan harun. Sebenarnya apa yang terjadi?.


" Masuk bu , biar amar yang membawa tas nya " Ucap ku membuka pintu rumah kontrakan ku.


" Iya " Jawab ibu singkat.


Ibu masuk ke rumah dan aku pun ikut masuk dengan membawakan tas ibu yang berisi barang - barang milik ibu.


" Tas nya amar letakkan di kamar bu. Maaf amar tidak tahu kalau ibu ada disini jadi amar tidak beli makanan" Ucap ku kepada ibu.


" Ibu sudah makan mar. Tumben kamu pulang jam segini ? Apa kamu di pecat ?" Pertanyaan ibu membuat aku terkejut.


" Amar tidak enak badan bu, jadi amar izin pulang cepat " Ucapku kepada ibu.


Ibu hanya mengangguk lalu mengambil remot Tv dan menghidupkan Tv. Aku memilih masuk ke kamar dan beristirahat, badan ku akhir- akhir ini sering merasa capek dan kepala ku juga pusing.


Belum juga aku sempat memejamkan mata pintu kamar ku sudah di ketuk. Siapa lagi yang mengetuk kalau bukan ibu ku.


" Ada apa buk ? Amar mau istirahat " Ucap ku kepada ibu.


" Keluar mar, ibu mau bicara sama kamu. Ini penting " Seru ibu bicara dari depan pintu kamar.


Aku pun keluar kamar dan duduk di sofa ruang Tv bersama ibu. Ibu pun mulai membuka pembicaraan nya.


" Mar, kakak mu sudah seminggu ini tidak pulang ? Bisa tidak kamu mencari nya ?" Ucap ibu memintaku untuk mencari keberadaan mbak tini.


" Memang nomor ponsel nya apa tidak bisa di hubungi buk. Lagi pula untuk apa amar mencari mbak tini, mbak tini sudah terjun ke dunia malam nya. Jika pun amar bertemu dengan nya, tidak mungkin amar mau menyeret nya pulang bu. Amar tidak berhak atas kehidupan mbak tini. Coba kalau dari awal ibu melarang apa yang sudah di kerjakan mbak tini , semua nya tidak akan seperti ini. Mbak tini menjadi wanita malam juga atas dukungan dari ibu " Ucap ku panjang lebar bicara dengan ibu.


Ibu terlihat tidak suka dengan perkataan ku. Mau bagaimana lagi aku memang tidak menyukai sikap ibu yang terlalu membebaskan hidup mbak tini. Ibu selalu memanjakan mbak tini dan harun, tapi jika ada masalah akulah yang menjadi tempat keluh kesah nya.

__ADS_1


" Ibu takut terjadi sesuatu dengan tini mar " Suara ibu terdengar lesu.


" Mbak tini sudah dewasa, dia bisa jaga diri. Sebenar nya ada masalah apalagi di rumah, sampai ibu pergi dari rumah dan membiarkan harun tinggal di rumah ibu itu. Bukan nya itu rumah peninggalan bapak, dan ibu tidak akan pernah mau keluar dari rumah itu?" Tanya ku ingin tahu ada masalah apalagi antara ibu dan harun.


Hufttt...


Terdengar ibu menghela nafas dengan berat. Seperti nya memang ada masalah yang sedang ibu alami.


" Rosa sudah membohngi ibu dan harun, mar. Dia ternyata sudah miskin dan tidak punya apa - apa lagi. Bahkan mobil nya pun sudah di tarik. Ibu benar - benar marah dengan rosa, ibu meminta harun untuk menceraikan rosa tapi... rosa sedang hamil " Ucap ibu terlihat begitu pasrah.


Aku tidak habis fikir dengan sikap ibu ku, kenapa hanya memandang seseorang dengan uang. Dulu rosa sangat di puja dan di sanjung nya karena dia banyak uang. Sekarang setelah rosa tidak ada uang dia ingin membuang rosa begitu saja.


" Rosa itu istri nya harun buk. Mau sampai kapan ibu seperti ini? Pernikahan itu hal yang sakral, jangan di buat mainan buk. Hal seperti inilah yang membuat amar enggan untuk menikah lagi, ibu selalu ikut campur dengan rumah tangga anak - anak ibu. " Ucap ku tidak suka dengan perkataan ibu.


" Amar... !! Kenapa kamu bicara seperti ini kepada ibu ? Apa kamu lupa jika akulah orang yang sudah melahirkan mu! Ibu hanya ingin anak - anak ibu hidup bahagia mar. " Ucap ibu dengan membentak ku.


" Apa bahagia bu ? Bahagia darimana bu ? Lihat mbak tini bu, akibat dukungan ibu mbak tini menjadi seorang p3l@cur dan rumah tangga nya juga hancur. Lalu amar, ibu selalu menghina delia dan menganggap delia parasit sampai amar terprovokasi dengan ibu. Akhirnya rumah tangga amar pun hancur, dengan delia hancur dengan rosa pun hancur. Amar mengakui amar juga sah sudah selingkuh dari delia. Lantas ibu lihat rumah tangga dengan ranu pun hancur, sekarang harun dan rosa juga ibu suruh bercerai ?" Ucap ku meluapkan semua kekesalan yang sudah lama aku pendam.


Ibu hanya terdiam, dia menundukan kepala nya sambil menangis. Tapi aku tahu air mata nya bukanlah air mata penyesalan. Tapi air mata yang hanya untuk menarik simpati dan belas kasihan ku saja.


" Sudahlah bu. Amar mau istirahat " Ucap ku lalu pergi meninggalkan ibu yang masih saja pura - pura menangis.


Aku memilih masuk kamar dan tidur , lebih baik aku mengistirahatkan badan ku.


******


LIKE, KOMENTAR, VOTE, FAVORITE, SERTA BERIKAN HADIAH DAN RATE BINTANG 5 NYA ❤❤❤❤


TERIMAKASIH 🙏🙏❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2