
🌹🌹🌹🌹 HAPPY REAFING 🌹🌹🌹🌹
💞💞💞💞💞
" Mana bahan makanan nya Tin ?" Tanya ibu siti saat melihat tini masuk ke dalam rumah.
Tini langsung berjalan menuju ke dapur dan membuka kulkas mengambil sebotol air dingin dan langsung meminum nya tanpa memakai gelas. Air dingin satu botol habis di minum oleh tini.
" Tidak ada " Ucap tini singkat.
" Loh kok tidak ada ? Memang nya kamu tidak mengambil di rumah amar ?" Tanya ibu siti lagi.
" Tadi aku sudah mengambil nya bu, tetapi amar marah dan meminta ku untuk mengembalikan nya. Pasti amar sudah di hasut oleh istri nya, karena biasa nya amar tidak marah jika kita mengambil stok makanan. Bahkan sekarang aku dan harun tidak boleh lagi makan di sana, hanya ibu saja yang boleh. " Ucap tini kesal.
Ibu siti terlihat kesal setelah mendengar penjelasan tini, dia juga menganggap jika amar sudah di racuni pikiran nya oleh delia. Ibu siti duduk di samping tini sambil mengepalkan ke dua tangan nya.
" Ya sudah untuk makan hari ini lebih baik kamu belanja sana biar ibu nanti yang masak, ibu bosan beli makanan di warung bu ambar terus. " Ucap ibu siti.
" Ya sudah, mana uang nya ?" Ucap tini sambil menjulurkan tangan nya di hadapan ibu nya.
" Pakai uang kamu kenapa sih Tin, lagi pula kamu dan joko juga ikut makan. Uang ibu tinggal beberapa lembar lagi, amar masih lama gajian nya. Ini cuma sementara saja pakai uang kamu, kalau amar sudah melupakan kejadian tadi kita bisa seperti dulu lagi, makan dan ambil makanan di rumah amar. Sekarang pakai uang kamu dulu, kalau tidak ibu malas masak terserah kamu dan joko mau makan dimana " Seru ibu siti.
" Gak bisa gitu dong bu, uang ku ya uang ku. Aku pakai untuk keperluan ku dan keperluan mas joko, kalau urusan uang dapur itu kan urusan amar. Ibu jangan menyuruh ku mengeluarkan uang. " Tolak tini tetap mau mengeluarkan uang nya.
Ingin rasa nya ibu siti memukul kepala tini, tini dan harun dari dulu memang sangat perhitungan dan pelit soal uang. Mereka ber dua sama - sama tidak mau merugi, meskipun uang itu tetap untuk membeli makanan untuk mereka.
__ADS_1
" Kalau kamu tidak mau ya sudah, ibu juga tidak akan memasak. Soal ibu gampang tinggal minta makan tempat delia kan bisa. Kamu tadi kan bilang ibu masih bisa makan di sana." Seru ibu siti.
" Jangan gitu dong bu, aku juga bosan makan masakan di warung bu ambar. Kalau makan di restoran kan mahal, ya sudah aku belanja tapi ibu yang masak nya, ibu kan tahu aku tidak bisa masak. Dan ingat nanti uang nya harus di ganti " Ucap tini.
" Iya nanti ibu minta sama amar, lagi pula jatah dapur itu kan memang urusan dia. Ibu tidak rela kalau uang amar di kuasai delia. " Ucap ibu siti.
Tini masuk ke dalam kamar nya dan keluar lagi sambil nembawa dompet, tini akan belanja ke pasar. Karena sekitar tempat tinggal nya tidak ada warung yang menjual sayuran mentah. Ada juga sayuran sudah di olah, beruntung joko tadi bekerja tidak bawa motor jadi motor bisa tini bawa ke pasar.
*******
Harun dan ibu siti mendatangi rumah kontrakan amar, kebetulan memang hari ini weekend. Harun dan ibu nya datang sekitar jam sembilan pagi. Tini tidak ikut karena sedang jalan - jalan dengan teman nya.
Setelah kejadian beberapa hari yang lalu soal amar memarahi kakak nya, ibu siti maupun tini sudah tidak pernah mendatangi rumah amar, semua itu membuat delia semakin merasa nyaman karena tidak ada orang yang mengganggu nya.
" Silahkan di minum bu , run. " Ucap delia sambil meletakkan dua cangkir teh di atas meja.
Sedangkan harun hanya diam , sedikit pun tak mau bersuara. Kedatangan harun dan ibu nya ke rumah amar masih ada hubungan nya dengan persiapan pernikahan nya dengan Rani. Mereka masih meminta amar untuk membiayai separuh pesta pernikahan harun.
" Jadi mas amar bisa tidak membantu membiayai pesta pernikahan ku ? Cuma setengah nya loh mas tidak full ?" Seru harun masih terus bertanya.
" Iya mar kasihan adik kamu mar. Pihak perempuan sudah menanggung setengah nya" Ucap ibu siti mencoba merayu amar.
Amar masih saja terdiam , tidak mungkin dia membiayai pernikahan harun dengan uang tabungan nya. Dia pun harus meminta persetujuan delia.
" Kamu yang menikah tapi kenapa aku yang harus keluar biaya ? kalau memang tidak ada biaya untuk menikah mendingan kamu jujur saja sama calon mertua kamu, sehingga mereka tidak menuntut mu pesta yang mewah. Menikah itu butuh kesiapan run, kalau tidak ada modal mendingan ijab qabul saja sudah beres " Ucap amar masih sama jawaban nya seperti yang dulu.
__ADS_1
" Mas aku ini adik kandung mu, begitu saja kamu perhutingan sih mas. " Ucap harun.
" Perhitungan bagaimana ? Kamu kira uang ku itu langsung turun dari langit atau aku mrncetak uang sendiri ? Berapa kali kamu memakai uang ku ? Beli motor mu itu setengah nya uang ku, kamu sekolah sampai lulus Kuliah aku yang biayai, bahkan sampai sekarang makan mu saja aku yang biayai. Kalau aku memang perhitungan sudah aku minta semua uang yang aku keluarkan untuk mu " Seru amar sambil menunjuk wajah harun.
Delia hanya mendengarkan perdebatan antara suami dan keluarga nya dari teras belakang. Dia sengaja tidak ikut duduk bersama, dia tidak mau ikut campur dengan urusan suami nya dan adik serta mertuanya.
" Amar, sekali ini saja kamu tolong harun. Ibu tidak ada uang untuk membiayai pernikahan adik mu mar, kasihan adik mu mar. Ayah mu sudah tidak ada jadi kamu sebagai kakak yang menggantikan sosok seorang ayah. Kalau ada ayah mu pasti ibu tidak akan meminta pertolongan mu. Mbak mu tini juga kehidupan nya pas-pasan. " Ucap ibu siti dengan wajah sedih nya.
" Tapi amar tidak ada uang sebanyak itu bu, amar bisa bantu tapi klo sampai 50 juta amar tidak ada uang bu. " Ucap amar.
" Gaji kamu itu lumayan besar mar, kerja bertahun - tahun uang 50 juta saja tidak ada. Kamu kemanakan uang kamu ?" Tanya ibu siti.
" Apa ibu kira sekolah nya harun dari SMA sampai dia lulus kuliah itu gratis ? " Seru amar.
Ibu siti terdiam yang di katakan amar memang benar. Sejak suami nya meninggal 8 tahun yang lalu amar lah yang menjadi tulang punggung keluarga nya. Dari harun masuk SMA sampai lulus kuliah semua biaya amar yang tanggung.
" Sebagai pengganti sosok ayah seharus nya mas amar bisa memenuhi keinginan ku. Atau jangan - jangan mas amar takut dengan mbak delia ?" Seru harun.
" Ini tidak ada hubungan nya dengan delia, seharusnya kamu itu malu sebagai seorang laki - laki menikah mengandalkan orang lain. Keputusan akhir ku, aku akan membantu 10 juta sisanya kamu cari sendiri. Kamu itu punya tabungan sendiri tapi terlalu sayang untuk kau gunakan. " Ucap amar.
Harun dan ibu nya tidak memaksa lagi, sepertinya amar memang sudah tidak mau membantu lebih. Mereka ber dua pun pulang dengan wajah kesal karena hanya 10 juta saja amar membantu nya.
* Kamu memang adik ku , sebagai seorang kakak aku sangat menyayangi mu. Tapi prilaku mu yang membuat aku tidak suka, coba kalau kamu itu adik yang penurut dan bisa menghargai ku dan istri ku dengan senang hati aku akan menolong mu. Mungkin dengan begini keluarga ku tidak akan berlaku semau nya lagi * Gumam amar dalam hati.
******
__ADS_1
SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA ❤❤❤
TERIMAKASIH 🙏🙏