Bukan Istri Parasit

Bukan Istri Parasit
Biaya rumah sakit


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹🌹


.


.


.


💞💞💞💞💞💞


Kesalah pahaman selama bertahun - tahun kini sudah selesai dan sudah di jelaskan semua nya. Hubungan antara silvi dan siti pun berangsur membaik namun justru kesehatan siti yang semakin memburuk. Setelah pulang dari luar kota, ibu siti akhir nya di larikan ke rumah sakit. Nafas nya semakin sesak, dan dada nya nyeri serta sakit kepala yang luar biasa.


" Mas terus biaya rumah sakit ibu ini bagaimana ? Apa mas lagi yang akan menanggung nya ?" Tanya asti saat menjenguk ibu siti.


" Siapa lagi kalau bukan mas dek? Mbak tini dan harun pun tidak mempunyai pekerjaan tetap, ya mau tidak mau tetap mas yang menanggung nya. Lagi pula mas ikhlas dek, semua demi ibu. Seburuk apa pun ibu memperlakukan mas terdahulu , ibu tetap wanita yang sudah melahirkan mas dek dan sudah sewajar nya mas sebagai anak harus berbakti " Ucap amar bicara panjang kepada Asti.


" Tapi tabungan mas lama - lama juga pasti habis mas. Kapan kita bisa beli rumah impian, masak iya kita mau mengontrak selamanya. Apa ibu tidak ada warisan yang bisa di jual mas ?" Tanya asti membuat amar mengernyitkan kening nya.


Amar heran kenapa sang istri jadi perhitungan soal uang, padahal dulu sebelum menikah dia sangat perduli dengan ibu mertua nya.


" Tidak ada dek " Jawab amar singkat.


" Hufft... seharus nya tante silvi tuh yang biayai rumah sakit ibu, karena dia kan yang mengajak menemui pak hartawan ke luar kota. Kalau ibu tidak pergi pasti ibu tidak akan kecapean seperti ini. " Gerutu asti membuat amar semakin heran dengan sikap istri nya yang benar - benar sudah berubah.


" Dek kok kamu bisa berfikiran seperti itu? Semua ini bukan karena tante silvi , jangan sampai ucapan mu itu di dengar oleh tante silvi nanti bisa menimbulkan kesalah pahaman lagi. Kenapa kamu bisa berubah seperti ini sih dek ?" Tanya amar dengan heran.


Asti langsung terdiam, seperti nya tadi dia kelepasan saat berbicara. Sebenar nya asti hanya ingin suami nya tidak terbebani dengan biaya rumah sakit, asti ingin segera punya rumah sendiri tanpa harus mengontrak terus. Apalagi saat mengetahui delia punya rumah yang bagus dan mobil juga bagus, penyakit iri asti kembali muncul.


" Maaf mas aku tidak bermaksut seperti itu " Jawab asti sambil menundukkan kepala nya. Dia sadar dia memang sakah, tidak seharus nya dia bicara seperti tadi.


" Iya mas maafkan, tapi tolong jangan di ulangi lagi ya dek. Kamu temani ibu sebentar, mas mau kebagian administrasi untuk menyelesaikan pembayaran rumah sakit. Karena nanti sore ibu sudah di perbolehkan pulang " Seru amar memberitahu.


" Loh kata dokter ibu masih harus di rawat beberapa hari lagi mas. Ini baru 3 hari di rawat kenapa harus di bawa pulang ?" Tanya asti sedikit bingung.


" Ibu yang memaksa pulang, dia tidak mau di rumah sakit " Jawab amar.


Amar pun langsung menuju tempat administrasi untuk membayar biaya rumah sakit.

__ADS_1


" Sus biaya atas nama ibu siti rahayu kamar dahlia nomor 14 " Ucap amar saat sudah sampai di tempat administrasi.


" Sebentar ya pak saya cek dulu" Ucap suster dengan ramah.


Amar pun mengangguk dan menunggu suster sedang memeriksa tagihan untuk ibu siti.


" Maaf tagihan atas nama ibu siti rahayu sudah lunas." Ucap suster dengan ramah.


" Hah.. Lunas ? Siapa yang membayar nya sus ?" Tanya amar dengan heran.


" Maaf pak saya tidak tahu pasti siapa orang nya, beliau datang hanya bilang ingin melunasi biaya ibu siti tanpa memberitahu siapa nama nya " Ucap suster lagi.


Amar pun pergi meninggalkan suster dan kembali ke ruangan ibu siti. Saat jalan menuju ruang perawatan ibu nya,Amar bertemu dengan tante silvi.


" Tante silvi sama siapa ?" Tanya amar.


" Ehh... Amar ngagetin aja. Tante tadi di antar juna, tapi juna tidak bisa ikut turun dia ada pekerjaan yang mendesak. Oh iya kamu darimana ?" Tanya tante silvi.


" Amar dari ruang administrasi tante , mau membayar biaya rumah sakit ibu tapi ternyata sudah ada yang melunasi nya. Emmhh amar tahu pasti tante yang melunasi nya ?" Seru amar.


" Sudah tidak apa - apa. Ya sudah ayok kita temui ibu mu, bukan nya hari ini ibu mu mau pulang ?" Ajak tante silvi.


Amar dan tante silvi pun berjalan bersamaan menuju ruang perawatab ibu siti. Amar sebenar nya tidak enak saat tante silvi membayar biaya rumah sakit ibu nya, dia mau mengembalikan uang nya tapi takut tante silvi tersinggung.


********


Tini melamar kerja dimana - mana belum juga membuahkan hasil. Dari perusahaan, cafe dan toko - toko yang dia datangi pun tidak ada yang menerima nya. Dia sudah lelah dan seakan menyerah untuk mencari pekerjaan.


" Kenapa tidak ada satu pun perusahaan atau toko yang menerima aku bekerja ? Sudah puluhan perusahaan dan toko aku datangi tapi satu pun tidak ada yang menerima ku, bahkan restoran dan cafe pun tidak mau menerima ku " Ucap tini sambil duduk di pinggir jalan.


Wajah tini terlihat memerah karena kepanasan, bahkan kaki nya pun sudah terasa pegal - pegal. Tini duduk di kursi yang ada di pinggir jalan untuk menghilangkan penah dan melepas dahaga. Satu botol air mineral dalam genggaman nya .


Tiba - tiba ada sebuah motor yang berhenti tepat di hadapan tini. Tini tidak mengenali orang di atas motor karena helm full tertutup.


" Onah " Seru tini saat sang pengendara motor membuka helm nya. Orang itu adalah mpok onah, si tetangga bar - bar yang pernah menjadi tetangga nya dan teman sekolah nya.


" Kamu ngapain di pinggir jalan begini tin ? Cari pelanggan ? Jangan siang - siang begini dong tin, kan nanti malam bisa " Ucap mpok onah tanpa memfilter ucapan nya.

__ADS_1


Huftt...


Tini hanya menghela nafas dengan berat, mpok onah tidak salah karena memang dulu nya tini adalah wanita yang menjajakan tubuh nya untuk para hidung belang, bahkan mpok onah sudah tahu semua itu dari dulu.


" Tidak nah,aku lagi cari pekerjaan. Tapi sudah seharian ini aku cari pekerjaan tidak ada yang mau menerima ku juga, padahal ijazah ku juga sarjana. Puluhan perusahaan, toko bahkan cafe sudah aku datangi tapi tidak ada yang menerima ku " Jawab tini dengan senyum ramah.


* Idihhh... ini anak kesambet apa ya ? tumben dia bicara nya bener, biasa nya kan pasti marah - marah. Ini juga dia tersenyum, biasa nya dia pasti akan teriak - terik seperti orang kesurupan * Gumam mpok onah dalam hati nya.


Tini tahu apa yang sedang di fikirkan oleh mpok onah,pasti dia heran karena melihat perubahan sikap tini yang menjadi lebih baik.


" Kamu serius cari kerja ?" Tanya mpok onah.


" Iya nah,kerja apa saja aku mau " Jawab tini serius.


" Kalau kamu serius mau kerja, di tempat aku kerja sedang membutuh kan karyawan baru tapi sebagai OB. Aku juga cuma seorang OB kok tin" Seru mpok onah.


Deg..


OB ?


Tini seakan ingat sesuatu soal OB, iya tini ingat mantan suami nya joko yang saat itu bekerja sebagai seorang OB di salah satu rumah sakit. Bahkan tini pernah menentang pekerjaan joko yang hanya sebagai OB. Namun sekarang justru dia yang di tawari pekerjaan sebagai OB atau bahkan dia juga akan menjadi OB, ternyata dunia memang berputar.


" Aku mau nah " Jawab tini dengan yakin.


" Kamu serius mau ? Ini sebagai OB loh tin bukan seorang menejer atau pun sekertaris ?" Seru mpok onah seakan tidak percaya dengan tini.


" Aku benar - benar serius nah, apa sekarang kamu mau berangkat bekerja ? kalau iya aku ikut kamu ya" Seru tini.


" Iya aku memang mau berangkat kerja karena aku dapat sif ke dua, jam dua siang mulai masuk. Ya sudah ayuk kalau kamu mau ikut, sekalian aku kenalkan sama pihak HRD nya. " Ucap mpok onah.


" Iya nah " Jawab tini bersemangat.


Tini pun naik ke atas motor mpok onah, dengan kecepatan yang lumayan ngebut mpok onah melajukan motor nya. Setelah tiga puluh menit akhir nya mpok onah dan tini sudah sampai di depan gedung rumah sakit tempat mpok onah bekerja.


*******


Semoga tini bisa bekerja dengan serius ❤

__ADS_1


Like, komentar, vote, favorite, serta berikan hadiah nya dan rate bintang 5 nya ya kak 🙏❤


TERIMAKASIH 🙏❤


__ADS_2