
🌹🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹🌹
.
.
.
💞💞💞💞💞💞💞
Ibu siti menjerit saat mengetahui ke dua kaki nya tidak bisa di gerakan. Apalagi saat mengetahui kenyataan baru bahwa dirinya lumpuh. Bukan nya menyadari kesalahan nya dan meminta ampun, ibu siti justru menyalahkan mama silvi dalam imsiden kecelakaan yang menimpa nya.
" Aku tidak terima !! Pokok nya aku harus memberi wanita itu perhitungan !! Gara - gara dia aku lumpuh seperti ini. Tak akan aku biarkan wanita itu hidup dengan bahagia " Teriak ibu siti.
" Tenang bu jangan emosi seperti ini dan jangan menyalahkan orang lain dengan apa yang sudah menimpa ibu. Tante silvi itu orang baik bu , ibu lah yang selama ini jahat dan dzolim. Bahkan saat itu tak sadarkan diri tante silvi lah yang menunggui ibu sampai amar datang dia juga yang sudah membayar biaya pendaftaran rumah sakit ini " Ucap amar menjelaskan kepasa ibu siti agar kebencian nya ibu nya bisa berkurang.
" Itu hanya akal - akalan silvi saja. Padahal dia senang melihat aku menderita seperti ini. Sampai kapan pun aku tidak akan sudi memaafkan dia" Ucap ibu siti .
" Bukannya ibu yang sudah membuat hidup tante silvi menderita, sampai kedua orang tua nya meninggalpun itu juga ada kaitan nya dengan ibu. Sebenar nya apalagi yang ibu sembunyikan dari tante slivi. Apa ibu belum puas menghancurkan tante silvi ?" Sentak amar dengan kesal. Amar benar - benar sudah hilang kesabaran nya menghadapi sang mama.
Ibu siti langsung menatap tajam ke arah amar, dia juga terkejut ternyata amar sudah mengetahui cerita masalalu nya dengan silvi. Ibu siti tetap mencoba tenang dia tidak mau terlihat lemah di depan amar, sebisa mungkin dia menunjukan ketidak sukaan nya saat amar membela mama silvi.
" Kenapa kamu membela wanita itu ?" Sentak ibu siti dengan tatapan nyalang.
" Aku tidak membela siapa pun buk. Karena memang ibu lah yang salah. Sudahlah sekarang tidak perlu membahas nya lagi, cepat ibu makan dan minum obat. Amar mau balik ke kantor lagi, capek amar bu sudah tiga hari ini harus bolak - balik kontrakan , rumah sakit, kantor. Sedangkan anal kesayangan ibu dia justru berleha - leha di rumah." Ucap amar yang memang terlihat sangat lelah.
Selama tiga hari ini amar harus mengurus ibu nya dan menyelesaikan pekerjaan - pekerjaan nya yang sudah di kejar waktu. Bahkan tak jarang amar membawa pekerjaan kantor pulang dan di kerjakan nya di rumah sakit sambil menunggu ibu nya di rumah sakit.
" Begitu saja perhitungan !!" Bentak ibu siti.
" Terus saja ibu bilang amar perhitungan, selama ini yang membiayai hidup ibu siapa lagi kalau bukan amar ? Ibu sakit ibu masuk rumah sakit semua amar bu, amar ! Ibu memang tanggung jawab amar sebagai anak laki - laki, tapi anak ibu masih ada dua lagi. Ada mbak tini dan harun, setidak nya jika mereka tidak bisa menolong dengan materi cobalah luangkan waktu untuk menemani ibu di rumah sakit. Amar itu lelah bu, pekerjaan kantor menumpuk. Amar juga butuh istirahat. " Seru amar terlihat frustasi.
Tanpa menghiraukan ibu nya lagi, amar keluar dari kamar rawat ibu siti. Amar menuju parkiran dan langsung mengendarai motor nya menuju ke ksntor lagi , karena jan istirahat sudah habis.
__ADS_1
******
Delia di temani juna dan mama mertua nya sedang memeriksakan kandungan nya di rumah sakit. Delia di tangani oleh dokter Farah. Kandungan dan janin delia semua baik dan sehat - sehat saja. HPL nya pun masih sekitar 6 minggu lagi.
" Setelah ini mama mau menjenguk siti ya ?" Ucap mama silvi saat baru saja keluar dari ruangan dokter farah.
Delia dan juna saling melempar pandang, mereka khawatir sang mama akan di salahkan oleh ibu siti. Baik delia maupun juna tidak bisa melarang keinginan mama nya, mereka pun akan ikut menemani mama silvi menjenguk ibu siti.
" Baiklah ma kita jenguk sama - sama saja. Mama dan kamu sayang, tunggu di kursi tunggu ini saja. Aku keluar ke mini market samping rumah sakit dulu, mas beli bawaan nya. Tidak enak menjenguk orang sakit tanpa membawa apa - apa " Ucap juna sambil membimbing sang istri ke kursi tunggu.
" Iya mas, aku dan mama tunggu di sini " Jawab delia dengan patuh.
" Jangan lama - lama ya Jun " Ucap mama silvi.
" Iya ma " Jawab juna singkat.
Mertua dan menantu itu pun menunggu di kursi tunggu sambil mengobrol ringan sesekali dua wanita beda uaia itu pun tertawa entah apa yang membuat mereka tertawa seperti itu.
Setelah menunggu lima belas menit, juna sudah kembali dengan membawa tentengan satu plastik yang lumayan besar isi nya. Ada buah dan berbagai kue basah di dalam plastik.
" Tidak terima ya tidak masalah, yang penting kita sudah berusaha baik untuk menjenguk nya. " Jawab mama silvi santai.
" Ya sudah kita kesana sekarang" Ucap juna sambil menggandeng tangan delia dengan mesra.
Mereka bertiga pun langsung menuju ruang perawatan ibu siti , tidak perlu bertanya lagi kepada suster karena mama silvi sudah tahu tempat kamar rawat ibu siti.
Sampai depan kamar ibu siti, mama silvi langsung mengetuk pintu. Tidak ada jawaban dari dalam, mama silvi pun langsung membuka pintu.
" Mau apa kamu datang kesini ? Kamu senang melihat ku sengsara seperti ini ?" Sentak ibu siti saat mama silvi dan yang lain nya masuk.
Sengaja ibu siti tidak menjawab ketukan pintu, dia malas. Karena dia berfikir yang datang kalau bukan dokter , suster pasti amar. Dia tidak menyangka jika mama silvi dan anak menantu nya yang datang menjenguk nya.
" Aku datang dengan baik - baik siti. Aku hanya ingin tahu keadaan mu saja " Ucap mama silvi.
__ADS_1
" Jangan pura - pura , aku tahu kamu datang kesini untuk menertawakan ku kan. Kalian senang melihat aku seperti ini, aku lumpuh !! Ini semua karena mu silvi !! Dan kamu delia, kamu pasti senang kan melihat ku seperti ini?" Ucap ibu siti menatap tajam delia.
" Siti !! Jangan kamu bawa - bawa delia dalam masalah kita. Semua ini tidak akan terjadi jika kamu tidak menghindari ku, aku menemui mu hanya ingin tahu dimama mas Hartawan berada ? Kamu pasti tahu dimana mas hartawan tinggal. Aku hanya ingin meluruskan kesalah pahaman yang pernah terjadi, sehingga suatu saat nanti aku sudah tiada tidak ada lagi beban di masalalu ku " Ucap mama silvi dengan suara terdengar serak.
Delia langsung memeluk mama mertua nya. Juna mendekati ibu siti dan meletakkan barang bawaan nya di atas nakas samping ranjang.
" Jangan pernah menyalahkan ibu dan istri ku atas apa yang sudah menimpa anda. Berkaca sebelum menyalahkan orang lain " Ucap juna penuh penekanan.
" Mas , lebih baik kita pulang saja. Percuma kita datang kesini, niat baik kita justru di anggap racun oleh nya " Seru delia sambil melirik ibu siti.
Ibu siti semakin merasa terpojok dengan kata - kata delia. Saat ini hanya bisa berdiam di atas kasur tanpa ada perlawanan, dia sadar diri saat ini dia sudah tidak bisa banyak bergerak.
" Kalian ngapain ?" Tanya harun yang tiba - tiba datang dan masuk ke ruangan ibu siti.
Semua pasang mata langsung menatap ke arah harun. Harun mengangguk saat mendapati mantan boss nya ada di dalam ruangan ibu nya.
" Pak Juna " Sapa harun kikuk.
" Hemmmm... " Jawab juna hanya dengan berdehem saja.
" Terimakasih pak juna dan keluarga sudah mau menjenguk ibu saya " Ucap harun.
Mata ibu siti langsung melotot ke arah harun, dia tidak suka harun berterimakasih kepada keluarga rival nya itu.
" Buat apa kamu berterimakasih kepada mereka?" Tanya ibu siti tidak suka.
" Bu jangan marah - marah, mereka sudah baik mau menjenguk ibu. " Seru harun yang memang belum mengetahui cerita masalalu antara ibu siti dan mama silvi.
" Sudah run , tidak apa - apa. Biar kami pulang saja, lagi pula tadi kami habis cek kandungan ku dan menyempatkan diri untuk menjenguk ibu mu. Tapi kalau kedatangan kami mengganggu ketenangan ibu mu, kami lebih baik pulang. Mas, ma yuk kita pulang " Seru delia lalu menggandeng tangan mama mertua nya dan mengajak nya keluar dari kamar rawat ibu siti.
Juna, delia dan mama silvi pun tanpa mengucapkan kata - kata lagi, langsung keluar meninggalkan kamar rawat ibu siti. Mereka langsung menuju ke parkiran dan masuk ke dalam mobil.
*********
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, FAVORITE, SERTA BERIKAN RATE BINTANG 5 NYA ❤❤❤🙏🙏
TERIMAKASIH 🙏🙏❤❤