Bukan Istri Parasit

Bukan Istri Parasit
Rani datang menjenguk


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹🌹


.


.


.


💞💞💞💞💞💞


Bertepatan dengan pernikahan mama silvi, mona juga melahirkan bayi perempuan. Jadi mona tidak bisa datang menghadiri acara pernikahan mama silvi, mona sudah mengirimkan kado untuk mama silvi. Begitupun delia dia juga mengucapkan selamat menjadi ibu dan ayah untuk mona dan heri.


[ Terimakasih ya mon, nanti kalau acara di rumah sudah beres aku dan mas juna akan ke rumah mu ]


[ Iya del, salam buat tante ya. ].


[ Iya salam nya pasti aku sampaikan , sudah dulu ya. Aku mau bantu bibik beres - beres ]


[ Ok sayang ku delia ]


Sambungan telepon pun terputus, delia ke dapur untuk membantu bibik membereskan menyuci piring - piring kotor. Saat delia sudah sampai dapur ada bibik, novi dan mama silvi yang sedang bekerja sama membereskan perkakas yang kotor. Walaupun semua nya ketering tetap saja banyak piring gelas sendok yang kotor.


" Kok pengantin malah di dapur sih ma ? Sana istirahat saja temani papa " Seru delia yang sudah memanggil pak hartawan dengan panggilan papa.


" Pengantin nya sudah tadi, sekarang profesi sudah sebagai ibu rumah tangga. Itu papa juga lagi beres - beres sama juna. Beruntung si kembar tidur jadi kita bisa bekerja sama untuk membereskan ini semua " Ucap mama silvi sambil membilas piring-piring kotor.


" Ya sudah sekarang apa yang perlu delia bantu ?" Tanya delia.


" Kamu lap - lap piring gelas yang basah ini saja del. Biar cepat kering, setelah itu baru di simpan biar saat mama pindah ke rumah suami mama, rumah ini sudah beres semua. " Ucap mama silvi.


Semua penghuni rumah saling bekerja sama, dan tepat jam 4 sore semua nya sudah beres. Mereka semua sholat berjamaah dan pak hartawan yang menjadi imam nya. Selesai sholay mereka istirahat di kamar nya masing - masing. Untuk makan malam tidak perlu memasak karena makanan pun masih banyak tinggal di hangatkan saja.


" Mas, mau aku pijitin ?" Tanya delia.


" Tidak sayang, kamu juga pasti capek kan " Seru juna dengan senyum khas nya.


" Iya sih " Jawab delia sambil nyengir kuda.


" Kita istirahat saja sayang, seharian ini kita sudah beraktifitas cukup padat, jangan sampai kita malah sakit karena kurang istirahat. " Ucap juna.


" Iya suami ku sayang " Seru delia lalu berbaring di samping juna.


Juna memeluk delia dengan hangat, tak perlu menunggu waktu lama akhirnya kedua nya sudah terlelap dan mengarungi mimpi nya masing - masing. Rasa lelah dan letih sudah membuat mereka cepat tertidur.

__ADS_1


Sementara itu di kamar nya, mama silvi dan pak hartawan sedang berdiskusi. Mereka berdiksusi soal kepindahan nya ke kota tempat tinggal pak hartawan yang ada di dekat pesantren.


" Pa, bagaimana kalau seminggu ini kita tinggal di sini dulu.? " Tanya mama silvi meminta persetujuan.


" Iya tidak apa - apa ma, aku setuju. " Jawab pak hartawan menyetujui saran istri nya.


" Emm... tapi apa papa tidak mengajar ? " Ucap mama silvi.


" Sebenar nya papa itu sudah jarang mengajar ma, karena sudah ada guru yang menggantikan papa. Papa mengajar hanya untuk mengisi waktu luang saja, sambil menghabiskan waktu jadi papa tidak ada salah nya untuk berbagi ilmu dengan para santri. Walaupun papa pemilik pesantren , papa tidak terjun langsung untuk mengurus nya. Ada para ustadz yang mengurus semua nya, ilmu agama papa juga hanya seujung kuku. Papa juga masih banyak belajar ma " Ucap pak hartawan serius.


" Kita sama - sama belajar ya pa " Ucap mama silvi.


Pak hartawan mengangguk dan tersenyum bahagia karena silvi yang kini ada di hadapan nya tetaplan silvi yang dulu dia kenal. Baik, penuh kasih sayang dan ramah serta sopan kepada siapa pun.


*********


" Mbak bagaimana keadaan ibu?" Tanya amar yang baru saja datang.


Keadaan ibu siti kini semakin memburuk, bahkan banyak peralatan medis yang terpasang di tubuh nya. Seperti hanya mukzizat Allah yang bisa menyembuhkan nya. Sedari tadi tini tak henti - henti nya berdoa.


" Kamu bisa lihat sendiri keadaan ibu mar, sudah dua hari ini di rawat tapi tidak menunjukan kemajuan sama sekali. Mar, jika ibu pergi meninggalkan kita apa kamu masih mau menganggap mbak dan harun saudara mu ?" Pertanyaan tini membuat amar terkejut.


Tini dan harun memang saudara sekandung, tapi tidak dengan amar. Amar memang anak kandung ibu siti dengan lelaki lain. Menurut kabar terakhir yang amar tahu jika ayah kandung amar juga sudah meninggal 3 tahun yang lalu karena sakit yang di derita nya.


" Kenapa mbak bicara seperti itu ?" Tanya amar .


" Apa pun yang terjadi nanti, kalian tetaplah saudara ku. Sampai kapan pun kita ini saudara, kakak beradik. " Ucap amar sambil memeluk harun dan tini bersamaan.


Suasana hening, hanya suara alat - alat medis saja yang terdengar. Amar memandangi tubuh ibu nya yang semakin lemah dan kurus, sudah dua hari ibu nya belum siuman juga.


" Bu,bangun bu... lihatlah disini ada mbak tini, ada amar dan juga ada harun. Kami ingin berbincang - bincang dengan ibu. Apa ibu tidak mau sembuh dan berkumpul lagi dengan kita ?" Tanya amar sambil menggenggam tangan ibu siti.


" Mas, apa ibu bisa di sembuh kan ? Bahkan dokter saja sudah tidak bisa berkomentar dan menjanjikan kesembuhan untuk ibu. Saat ini ibu hanya bergantung dengan alat - alat medis ini mas. Mas,aku takut ibu pergi meninggalkan kita. Aku belum sanggup hidup tanpa ibu mas, aku belum sempat berbakti dan membahagiakan ibu mas " Ucap harun bersimpuh di lantai dengan isak tangis yang sudah tidak bisa dia tahan lagi. Harun memanglah anak yang paling cengeng.


Tini ikut meneteskan air mata melihat harun yang terpuruk, selama ini harun memang anak yang paling di manja bahkan paling di sayang oleh ibu siti. Apa pun yang harun minta selalu akan di penuhi bagaimana pun itu cara nya. Makanya harun tumbuh menjadi anak yang manja dan bersikap semau nya sendiri. Beruntung sekarang harun sudah berubah menjadi pria yang mandiri dan pemikiran nya juga sudah semakin dewasa. Hanya kebahagiaan lah yang memang belum berpihak kepada nya.


" Jangan seperti ni run, saat ini yang bisa kita lakukan hanya berdoa. Apa pun nanti hasil nya tetaplah berdoa untuk ibu. " Ucap amar sambil mengangkat harun untuk berdiri.


" Iya run, kita doa kan yang terbaik untuk ibu. Jodoh, rezeki, maut semua rahasia sang pencipta. Kapan pun sang pencipta mengambil ibu , kita harus ikhlas. Karena itu sudah yang terbaik untuk ibu. " Ucap tini mencoba memberi pengertian kepada harun.


Suasana kembali hening, amar tini dan harun sibuk dengan fikiran nya masing - masing. Namun tiba - tiba mereka di kagetkan dengan suara ketukan pintu dari luar kamar rawat inap ibu siti.


Tok Tok Tok

__ADS_1


Ceklekk...Tini membukakan pintu, dan berdirah di hadapan nya sepasang pria dan wanita. Seorang wanita yang tini kenal sebagai mantan adik ipar nya. Dan di samping nya seorang pria tampan dan berpakaian rapi.


" Rani... " Seru tini kaget saat mendapati rani ada di hadapan nya dengan memasang senyum ramah nya.


" Mbak tini apa kabar ? Bolehkah kami menjenguk ibu mbak ?" Tanya rani langsung pada tujuan nya.


" Oh... Boleh,silahkan masuk Ran." Ucap tini mempersilahkan rani dan suami nya masuk.


* Apa ini suami rani ? Karena yang aku tahu rani sudah menikah lagi, semoga harun bisa memguatkan hati nya. Rani pergi dari sisi nya juga karena kesalahan harun. * Gumam tini dalam batin nya.


Rani dan rendi pun masuk ke dalam , di dalam dia melihat ada amar dan harun. Harun mematung melihat kedatangan rani dan suami nya. Amar menyenggol lengan harun agar harun bisa mengindisikan diri nya, tidak enak jika dia terus memandangi rani apalagi di samping rani ada suami nya


" Mas amar, harun " Seru rani canggung.


" Iya ran.. kamu tahu darimana ibu di rawat disini ?" Tanya amar mencoba mencairkan suasana.


" Dari mbak delia mas, kemarin saat ketemu mbak delia Dia bercerita jika ibu sakit dan di rawat di rumah sakit ini, dan kebetulan tadi aku juga habis periksa kandungan di sini jadi sekalian menjenguk ibu. " Ucap rani menjelaskan.


Hamil ?


Rani hamil ?


Harun tertegun saat mengetahui rani hamil, tidak tahu kenapa ada rasa sesak di dalam hati nya. Tapi harun sadar diri jika sekarang rani bukanlah siapa - siapa nya lagi. Hubungan mereka sudah kandas dari satu tahun yang lalu, dan sekarang rani sudah menikah dengan pria lain yang lebih baik dan mapan.


" Terimakasih ya pak rendi dan rani sudah menyempatkan menjenguk ibu " Ucap amar. Amar memang sudah mengenal rendi , sudah beberapa kali amar bertemu dengan rendi.


" Iya mar.. sama - sama. Panggil rendi saja tidak usah pakai pak " Ucap rendi.


Amar mengangguk, rani mendekati ranjang tempat ibu siti berbaring. Seburuk apa pun prilaku ibu situ dulu kepada rani, rani tidak menaruh dendam sedikit pun. Bahkan rani juga bukanlah orang yang baik, dia dulu juga tak ubah nya seperti mantan mertuanya yang memandang orang dari segi harta dan pendidikan.


* Semoga ibu lekas sembuh, rani minta maaf ya bu kalau dulu rani pernah buat salah sama ibu. Begitupun ibu, semua kesalahan ibu sudah rani maafkan * Gumam rani dalam batin nya.


Cukup lama rani dan rendi menjenguk ibu siti, kini mereka pun akan berpamitan pulang. Karena rendi masih ada pekerjaan, sebelum pulang rani menyelipkan amplop di tangan tini.


" Terimakasih ya ran, maafin ibu ya ran " Ucap tini dengan ramah.


" Sama - sama mbak. Insya allah amu sudah memaafkan ibu mbak. Semoga ibu lekas sembuh ya mbak, salam untuk ibu. " Ucap rani.


" Iya ran, sekali lagi terimakasih " Seru tini lagi.


Setelah berpamitan rani dan rendi keluar dari kamar perawatan ibu siti. Dan langsung menuju ke parkiran mobil.


********

__ADS_1


KLIK LIKE, KOMENTAR, VOTE,FAVORITE SERTA BERIKAN HADIAH NYA DAN RATE BINTANG 5 NYA YA KAK, AGAR AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT DAN BISA CRAZY UP 🙏🙏❤❤


TERIMAKASIH 🙏❤❤


__ADS_2