Bukan Istri Parasit

Bukan Istri Parasit
Kepergian ibu siti


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹🌹


.


.


.


💞💞💞💞💞💞💞


Dokter dan suster berlarian masuk ke dalam ruang perawatan ibu siti. Semua keluarga yang ada di dalam di suruh menunggu di luar. Tini menangis dalam pelukan mama silvi, delia dan rani duduk di kursi tunggu sambil terus berdoa yang terbaik untuk ibu siti.


" Mbak, jangan menangis seperti ini. Sekarang ibu butuh doa dari kita semua." Seru amar lembut mengusap punggung kakak nya yang masih memeluk mama silvi.


" Iya tini, doa kan ibu mu semoga ibu mu bisa melewati ini semua " Tambah mama silvi.


Harun terdiam sendirian dia masih terus merenung bagaimana jika ibu nya benar - benar pergi meninggalkan nya, apa dia sanggup hidup tanpa bantuan dari ibu nya. Tiba - tiba dokter keluar dari ruang perawatan, amar dan harun langsung memberondong pertanyaan.


" Bagaimana keadaan ibu saya dokter ?" Tanya amar dan harun bersamaan.


Dokter menggelengkan kepala nya membuat semua nya bingung.


" Maaf.. kami sudah berusaha sekuat kami tapi memang sang pencipta berkehendak lain. Saya dan tim dokter mengucapkan bela sungkawa yang sebesar - besar nya " Ucap dokter.


" Innalillahi wainnaillahi rajiun " Seru semua yang ada bersamaan.


" Ibu ...." Tangis harun pecah, seperti anak kecil yang di tinggal pergi orang tua nya.


Amar sama sekali tidak mengeluarkan air mata, bukan dia tidak sedih. Sedih... sudah pasti sedih, namun air mata amar seakan sudah habis karena hampir tiap hari dia menangisi ibu nya. Amar sudah ikhlas , mungkin memang ini yang terbaik.


" Ikhlaskan run... Allah tahu yang terbaik untuk ibu, kita sayang dengan ibu namun allah lebih sayang dengan ibu. Sekarang ibu sudah tidak merasakan sakit lagi. Ayok kita urus kepulangan jenazah ibu " Ucap amar sambil memeluk adik nya.


* Siti selamat jalan, semoga kamu tenang di sana. Maaf jika semasa hidup aku belum bisa jadi sahabat yang baik untuk mu. * Gumam mama silvi dalam hati nya.


Semua urusan rumah sakit sudah selesai dan prosedur pemulangan jenazah pun juga sudah beres. Jenazah ibu siti akan di antarkan oleh ambulance dan akan di bawa ke rumah kontrakan ibu siti.

__ADS_1


" Mbak tini dan harun lebih baik pulang duluan, untuk menyiapkan semua nya. Ini mbak bawa motor amar dan harun bawa motor dia, amar biar ikut mobil ambulance saja. " Seru amar sambil menyerahkan kunci motor nya kepada tini.


" Emm... iya mar. Run yuk kita pulang duluan, kita siapkan semua keperluan untuk pemakaman ibu. " Ajak tini kepada harun.


Harun hanya mengangguk pelan, dia masih sedih dan terpukul dengan kepergian ibu nya yang secara tiba - tiba. Mama silvi, delia, rendi dan rani pun ikut pulang dengan mengendarai mobil nya masing - masing. Mereka tidak langsung pulang, tetapi mereka langsung menuju rumah kontrakan ibu siti.


" Apa semua nya sudah beres pak ?" Tanya amar kepada supir ambulance.


" Sudah mas, ayuk naik . Kita berangkat sekarang ya mas " Ucap sopir mobil ambulance.


" Iya pak " Jawab amar singkat lalu membuka pintu mobil bagian depan dan duduk di samping kemudi.


Mobil ambulance mulai melaju menuju rumah kontrakan ibu siti , setelah menempuh perjalanan 40 menit mobil ambulance sudah sampai di depan rumah kontrakan ibu siti. Jenazah langsung di turunkan dari mobil , sebelum nya jenazah sudah di mandikan di rumah sakit, sampai rumah tinggal di sholatkan dan di makam kan.


**********


Proses pemakaman langsung di lakukan malam itu juga, amar tidak mau menunda - nunda pemakaman karena memang tidak ada saudara atau kerabat yang di tunggu. Suami mama silvi sudah datang dari sebelum pemakaman, karena memang mama silvi sudah mengabari jika siti siuman dari siang saat dia menuju rumah sakit, sayang belum sempat hartawan bertemu siti, siti sudah pergi lebih dulu. Juna pun sudah datang sebelum pemakaman.


" Mar, aku dan rani pulang dulu ya. Sudah hampir jam sebelas malam juga. Insya Allah besok kami datang lagi untuk ikut tahlilan. " Seru rendi berpamitan.


" Sama - sama mar " Jawab rendi.


Rendi dan rani pun pulang duluan, masih ada keluarga delia yang tertinggal dan beberapa tetangga sekitar kontrakan yang mengobrol di teras.


" Ma, juna sama delia pulang dulu ya. Kasihan si kembar di tinggal seharian, delia juga sepertinya sudah kelelahan. Mama nanti bisa pulang sama papa " Seru juna.


" Oh ... ya sudah tidak apa - apa. Kalau begitu kita pulang sama - sama saja, lagi pula ini sudah malam. Amar dan yang lain nya juga perlu istirahat, besok kita bisa datang lagi " Ucap mama silvi lembut.


Juna mengangguk dan menyetujui ucapan sang mama. Juna dan keluarga nya pun berpamitan pulang, sebelum nya delia dan mama silvi menyelipkan amplop saat bersalaman dengan tini. Tini ingin menolak nya tapi tidak enak, mungkin ini rezeki untuk ibu nya jadi uang itu bisa di pergunakan untuk acara kirim doa malam - malam berikut nya.


" Terimakasih tante, delia. Kalau tidak ada kalian aku tidak tahu bagaimana repot nya kami. Tante, terimakasih selama ibu di rumah sakit tante sudah membiayai semua nya. Kami tidak tahu harus mengganti nya dengan apa " Ucap tini tidak enak hati.


" Cukup kalian bertiga hidup rukun, itu balasan yang tante minta " Seru mama silvi sambil mengusap punggung tini lembut.


" Terimakasih tante " Jawab tini lalu memeluk mama silvi erat.

__ADS_1


Sebelum mereka meninggalkan rumah kontrakan itu, juna terlebih dahulu menghampiri harun.


" Jika kamu membutuhkan pekerjaan datanglah ke showroom " Ucap juna sambil menepul pundak harun.


" Beneran pak ?" Tanya harun tidak percaya.


" Iya.. tapi asal jangan kau ulangi kesalahan mu yang sama. Maaf mungkin saat nya tidak tepat karena kalian masih masa berkabung, kamu bisa datang ke showroom kapan pun kamu mau. " Seru juna ramah.


Harun mengangguk dengan semangat, dia akan membuktikan jika dia memang sudah berubah dan layak untuk bekerja di showroom itu kembali.


* Bu.. aku akan buktikan sama ibu jika aku bisa menjadi anak yang membanggakan * Gumam harun dalam batin nya.


Setelah tamu dan para tetangga semuanya pulang, waktu memang sudah tengah malam jadi amar memutuskan untuk menginap saja. Lagi pula besok dia juga sudah izin tidak masuk bekerja, amar sampai lupa tidak mengabari diki jika ibu nya meninggal.


" Aku melupakan diki dan ibu jujuk, bagaimana pun mereka pernah jadi bagian keluarga ku. Apalagi diki yang memang sahabat ku dari dulu, besok saja aku mengabari diki. Sekarang lebih baik aku mengistirahatkan tubuh ku agar besok pagi bangun lebih segar " Ucap amar pada diri nya sendiri.


Sedari tadi amar tidak mengecek ponsel nya, sengaja dia silent. Sambil rebahan di atas karpet amar membuka beberapa pesan yang masuk ke ponsel nya. Ada pesan dari diki dari jam 5 sore tadi, berarti saat amar masih mengurus kepulangan ibu nya tadi.


[ Mar, apa kamu tidak mau menjenguk mbak asti ? Sekarang mbak asti ada di rumah sakit mar, dia benar - benar gila. Beruntung kamu sudah tidak bersama mbak asti lagi. ]


[ Mbak asti di rawat di Rumah sakit jiwa daerah XX mar. Kamu sibuk ya mar sampai chatt dan telepon juga tidak kamu balas.]


Dua pesan dari diki masuk ke ponsel amar, kening amar berkerut saat membaca pesan ke dua diki. Pesan dimana diki mengatakan asti di rawat di rumah sakit jiwa.


" Asti di rawat di RSJ ? Asti beneran gila ? Ya Tuhan... semoga Asti baik - baik saja " Ucap amar .


Dalam lubuk hati amar masih tersimpan rasa untuk asti, namun amar menepis nya karena dia tidak mau mempunyai masalah lagi dengan asti. Hidup dengan asti 4 bulan bagaikan 3 tahun dalam penjara, sifat asti yang pencemburu dan iri dengki membuat amar tersiksa.


* Bismillah... semoga ada kebahagian untuk ku dan ke dua saudara ku. Aamiin * Gumam amar dalam batin nya.


********


LIKE, KOMENTAR, VOTE, FAVORITE, HADIAH NYA DAN RATE BINTANG NYA KAK 🙏❤❤


TERIMAKASIH 🙏❤❤

__ADS_1


__ADS_2