
🌹🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹🌹
.
.
.
💞💞💞💞💞💞
Rosa akhirnya melahirkan bayi laki - laki, butuh perjuangan selama seharian untuk melahirkan. Setelah melewati perjuangan yang melelahkan dan menyakitkan akhirnya rosa bisa melahirkan juga, bayi laki - laki yang sehat tanpa kurang suatu apa pun.
" Mbak rosa dedek bayi lucu banget, aku boleh kasih nama tidak mbak ?" Tanya tari si gadis remaja yang sudah banyak membantu rosa.
" Husstt... memang nya kamu siapa ? Biar rosa saja yang kasih nama, dia ibu nya dan dia lebih berhak atas nama anak nya. " Ucap ibu menik.
" Ihh.. ibu aku kan cuma mau kasih nama saja, lagi pula nama yang aku berikan itu keren banget. " Ucap tari .
Rosa sendiri justru belum menyiapkan nama untuk anak nya. Dia benar - benar tidak tahu harus di kasih nama siapa anak yang baru dia lahirkan itu. Jangan kan nama , untuk persiapan melahirkan saja dia tidak menyiapkan nya. Beruntung dia melahirkan di puskesmas, jadi tidak mengeluarkan banyak biaya.
" Terserah kamu saja tar, aku belum menyiapkan nama sama sekali. Kamu saja yang memberi dia nama " Ucap rosa membuat tari tersenyum bahagia.
" Aku beri nama Tegar saputra, biar dia tumbuh menjadi anak yang tegar. Bagaimana ? mbak rosa setuju ? " Ucap tari.
" Iya bagus " Jawab rosa singkat.
" Apa kamu tidak mau memberi nama anak mu sendiri Rosa? " Tanya ibu menik heran karena rosa asal setuju saja dengan nama yang di berikan oleh tari.
Rosa hanya menggeleng, dia memang tidak menyiapkan nama untuk anak nya, jadi dia setuju saja dengan nama yang di berikan oleh tari. Lagi pula nama yang di berikan tari tidak jelek - jelek amat.
Saat mereka sedang asik mengobrol tiba - tiba ada seseorang datang dan mengucapkan salam.
" Assalamaualaikum " Seru sepasang suami istri masuk ke dalam kamar perawatan rosa.
" Waalaikumsalam... eh pak Rendi dan mbak rani. Mari masuk pak, mbak " Ucap ibu menik dengan ramah menyambut kedatangan rendi dan rani.
Rosa justru tidak suka dengan kedatangan tamu nya itu, dia membuang muka ke arah lain. Padahal kedatangan rendi dan rani bertujuan baik, untuk menjenguk rosa dan bayi nya. Namun sifat iri dengki rosa mengalahkan ego nya sendiri.
" Kok mbak rani tahu rosa melahirkan ?" Tanya ibu menik.
" Ibu sendirikan yang tadi siang memberitahu saya saat saya datang ke warung ibu. Masak lupa bu, baru tadi siang loh " Bukan rani yang menjawab tetapi rendi lah yang menjawab nya.
" Oh iya lupa saya pak " Ucap ibu menik sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
__ADS_1
Mata rani tertuju ke arah rosa yang sama sekali tidak menegur nya, jangan kan menegur. Rosa justru membuang pandangan ke arah lain.
" Mbak rosa bagaimana kabar nya ?" Tanya rani mendekati rosa.
" Kamu bisa lihat sendiri bagaimana keadaan ku. Sekarang senang kan kamu melihat aku hidup menderita seperti ini, melahirkan tanpa ada suami dan keluarga. Aku sudah seperti orang yang hidup sebatang kara." Ucap rosa tiba - tiba memberondong rani dengan segala tuduhan yang tidak masuk akal.
" Rosa kamu ini apa - apaan sih. Kami datang kesini ini dengan maksud baik, kami ingin menjenguk mu dan anak mu. Kamu dari dulu memang tidak pernah berubah. Kapan sifat iri dengki mu itu bisa hilang. Ingat rosa semua ini itu pilihan hidup mu sendiri tidak ada hubungan nya dengan rani maupun dengan ku " Ucap rendi terlihat kesal karena rosa justru menyalahkan rani atas semua yang sudah terjadi dengan nya.
" Sudah mbak, aku tidak apa - apa kok. Mungkin mbak rosa hanya belum bisa menerima dengan semua yang sudah terjadi. Apalagi saat ini dia baru saja melahirkan jangan sampai dia stress akan mempengaruhi Asi nya, nanti kasihan anak nya juga mas " Seru rani.
Ibu menik dan tari hanya menjadi penonton saja, pasal nya mereka sendiri bingung karena tidak tahu apa - apa antara rendi, rani dan rosa.
" Maaf bu sepertinya kami harus pamit, ini ada sedikit hadiah untuk anak rosa dan ini sedikit bantuan dari kami. Tolong berikan kepada mbak rosa " Seru rani memberikan hadiah yang dia bawa untuk anak rosa dan sedikit rezeki dalam amplop untuk rosa.
" Terimakasih mbak rani. Tapi kalau boleh tahu ini sebenar nya ada apa. Boleh ibu tahu. " Seru ibu menik penuh harap.
Setelah menerima persetujuan dari suami nya, rani dan rendi mengajak ibu menik keluar ruangan. Saar di luar ruangan rani menceritakan semua nya kepada ibu menik.
" Jadi rosa itu mantan adik madu mbak rani dari suami pertama mbak rani ? dan dia juga mantan istri pak rendi ?" Tanya ibu menik lagi.
" Benar bu. " Jawab rani.
" Duni ternyata sempit ya. Rosa menikah dengan mantan suami mbak rani, dan mbak rani menikah dengan mantan suami rosa. " Ucap ibu menik.
*******
" Mas kemarin saat mengantar ibu kontrol kami ketemu sama mantan istri mu dan suami nya. Mantan istri mu itu orang nya cantik, baik dan lembut ya mas. " Ucap asti memberitahu amar.
Amar pun langsung menatap asti, dia tidak tahu harus menanggapi bagaimana perkataan sang istri. Amar takut salah bicara sehingga bisa membuat istri nya tersinggung.
" Oh.. Bagaimana perkembangan sakit nya ibu ?" Tanya amar memilih mengalihkan pembicaraan.
" Kalau soal itu mas tanya saja sama mbak tini, soal nya aku tidak ikut masuk ke ruangan. " Jawab asti sambil melipat pakaian.
" Iya nanti mas tanya sama mbak tini. " Seru amar lagi.
" Dek kalau misal mbak tini sudah mulai bekerja bagaimana kalau ibu tinggal dengan kita. Jadi kamu tidak perlu bolak - balik ke kontrakan ibu untuk menjaga ibu. Lagi pula kamar di sini kan ada dua, bagaimana apa kamu setuju ?" Tanya amar meminta persetujuan istri nya.
Asti tidak langsung menjawab, dia berfikir sejenak lalu menggelengkan kepala nya.
" Maaf mas bukan aku menolak ibu tinggal disini. Jujur aku tidak nyaman jika harus tinggal dengan mertua, aku memang ingin ibu menerima ku sebagai menantu nya dan waktu itu aku juga ingin memperbaiki hubungan mas amar dan ibu. Tapi bukan berarti kita harus tinggal dengan ibu, cukup hubungan baik saja dengan ibu. Maaf mas, aku benar - benar tidak nyaman jika harus seatap dengan mertua. Semoga mas bisa mengerti dan tidak marah dengan ku " Jawab asti penuh ke hati - hatian agar amar tidak tersinggung.
" Iya dek mas gak marah kok, mas terima alasan mu. Sebagai suami istri memang kita harus terbuka, makanya tadi mas meminta pendapat mu terlebih dahulu." Ucap amar.
__ADS_1
" Iya mas terimakasih atas pengertian nya. Oh iya mas besok kita jalan - jalan yuk. Selama kita menikah kita belum pernah jalan - jalan berdua loh mas, aku kan ingin jalan - jalan juga mas. " Seru asti dengan manja.
Memang yang di katakan asti benar, selama mereka menikah memang belum pernah jalan - jalan berdua. Walaupun hanya untuk sekedar makan malam di luar.
" Iya dek, memang nya mau jalan kemana ? " Tanya amar .
" Bagaimana kalau kita ke pantai mas ? " Seru asti yang kini sudah duduk di samping amar .
" Baiklah besok kita ke pantai. " Jawab amar sambil mengusap pucuk kepala asti.
" Terimakasih mas " Ucap asti sambil memeluk amar dengan mesra.
Sebenarnya saat ini fikiran amar tidak tenang, dia kefikiran terus dengan ibu nya. Namun dia tidak mau asti mengetahui nya, bagaimana pun amar tidak mau membuat asti tidak nyaman.
Ting...
Ponsel amar berbunyi ada pesan masuk dari tini.
[ Mar, besok bisa kamu anterin ibu dan mbak ke rumah delia ? Ibu ingin meminta maaf sama tante Silvi. ]
Besok ?
* Bagaimana ini ? Sedangkan aku sudah janji sama asti untuk pergi jalan - jalan. Kalau di batalkan pasti asti akan marah. Kenapa jadi rumit begini * Gumam amar dalam hati nya.
" Kenapa mas ?" Tanya asti yang menyadari perubahan raut wajah amar.
Amar langsung menunjukan pesan singkat yang dikirim kan tini kepada Asti.
" Kita bisa pergi kapan - kapan mas " Ucap asti dengan pasrah.
" Kamu tidak marah dek ?" Tanya amar.
" Tidak " Jawab asti singkat.
Amar langsung membalas pesan dari tini dan mengiyakan ajakan tini.
[ Baik mbak ]. Balas amar singkat.
*******
AUTHOR cuma minta dukungan nya kepada para kakak - kakak pembaca semua nya. Agar Author semakin semangat untuk menulis dan Update nya. 🙏🙏❤❤
TINGGALKAN LIKE, KOMEN, VOTE, FAVORITE NYA. DAN JIKA BERKENAN BERIKAN HADIAH NYA DAN RATE BINTANG 5 NYA 🙏🙏❤❤
__ADS_1
TERIMAKASIH 🙏❤❤