
🌹🌹🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹🌹
.
.
.
💞💞💞💞💞💞
Tidak banyak barang yang amar kemasi karena memang dia tidak membawa banyak barang saat ke rumah ibu mertua nya. Hanya satu tas kecil saja yang amar bawa , berisi beberapa potong pakaian nya. Sebelum meninggalkan rumah ibu mertua nya amar pun berpamitan secara baik - baik.
" Buk, maaf amar tidak bermaksud untuk mengakhiri semua ini. Amar kembalikan asti kepada ibu secara baik-baik , biar pun sekarang status suami istri amar dan asti sudah hilang tapi antara amar dan ibu dan keluarga insya allah masih terjalin silahturahmi. " Ucap amar.
" Iya nak amar insya allah kita tetap jalin silahturahmi. Ibu serahkan semua proses perceraian sama kamu, semoga kelak kamu bahagia ya nak. " Ucap ibu jujuk dengan mata berkaca - kaca.
Amar mengangguk lalu mencium tangan mantan ibu mertua nya itu dengan lembut. Lalu pandangan nya beralih ke arah diki dan ajeng yang duduk tidak jauh dari ibu jujuk.
" Dik, Ajeng aku permisi ya. Kalau perlu bantuan jangan sungkan hubungi saya " Ucap amar.
" Iya mas, maafkan mbak asti ya mas " Seru ajeng meminta maaf.
" Kamu yang sabar, kamu pasti bisa melewati semua ujian ini. " Seru diki menepuk punggung amar.
Seteleha berpamitan amar pun keluar dari rumah ibu mertua nya , dia ingin berpamutan kepada asti namun asti sudah masuk kamar dan amar tidak mau memanggil nya. Barang - barang asti yang ada di kontrakan amar akan amar antarkan ke rumah ibu jujuk secepat nya.
* Bismillah semoga ini memang pilihan yang terbaik. * Gumam amar sebelum menyalakan mesin motor nya.
Amar kembali mengendarai motor nya di malam hari yang dingin menuju rumah kontrakan nya. Rumah kontrakan yang dulu terasa hangat kini kembali sepi dengan tidak ada nya asti dalam sisi amar. Hampir satu jam perjalanan amar sudah sampai di rumah kontrakan nya.
" Kontrakan ini kembali sepi, aku sendiri lagi. Pernikahan ku hanya bertahan kurang lebih 3 bulan. Ya Allah kenapa jalan hidup ku jadi seperti ini ? Apa memang aku di takdirkan untuk tidak bahagia " Seru amar dalam tangis nya.
Tidak dapat di pungkiri kini air mata amar mengalir tanpa bisa di bendung lagi. Walaupun seorang lelaki amar tetap punya rasa sedih dan bisa kapan saja akan menangis.
__ADS_1
" Besok aku harus membereskan barang - barang asti dan akan aku antar ke rumah orang tua nya. " Seru amar sambil mengamati sekeliling isi dalam kontrakan nya.
Barang - barang asti cukup banyak, ada pakaian, tas sepatu dan acecoris yang lain nya. Bahkan peralatan dapur yang asti bawa dari rumah saat pindahan pun akan dia bereskan, dan semua barang - barang baru yang asti beli semua amar bereskan.
********
Amar sudah berada di rumah sakit melihat kondisi ibu nya, kebetulan hari ini memang libur jadi amar bisa datang dari pagi. Sudah satu jam lebih amar di rumah sakit, namun wajah amar terlihat sedih dan murung. Semua itu membuat tini curiga dan langsung menanyakan kepada amar apa dia sedang ada masalah.
" Mar, kamu kenapa ? Kok mbak perhatikan dari tadi murung terus ?" Tanya tini.
" Tidak apa - apa mbak. Mungkin aku hanya kelelahan saja mbak" Jawab amar berbohong.
Tini bukan anak kecil yang semudah itu bisa amar bohongi, tapi tini tidak mau memaksa amar untuk bercerita.
" Oh iya.. kok istri mu tidak pernah kelihatan menjenguk ibu sih mar ? Memang nya dia lagi sibuk banget ya sampai menjenguk mertua yang sakit saja tidak sempat?" Tanya tini menanyakan soal asti.
" Asti lagi tidak enak badan mbak " Jawab amar tetap berbohong.
Tini hanya mengangguk kan kepala saja, saat tini dan amar sedang berbincang tiba - tiba pintu terbuka dan masuklah delia dan mertua nya. Amar salah tingkah saat bertemu delia, bukan soal hati tapi dia malu dan merasa tidak enak atas kejadian beberapa hari yang lalu di toko nya.
" Amar apa kabar?" Tanya mama silvi tersenyum hangat kepada amar.
" Baik tante " Jawab amar.
Delia hanya mengangguk dan tersenyum sekilas saja kepada amar. Dia pun tidak mau menanyakan soal keadaan asti pasca dia mengamuk di toko beberapa hari yang lalu.
" Setiap datang menjenguk pasti banyak banget bawaan yang tante bawa, yang kemarin saja belum habis loh tante. Kalau begini kami jadi tidak enak merepotkan tante terus menerus, mana soal rumah sakit juga di bantu sama tante " Ucap tini merasa tidak enak atas kebaikan yang di berikan mertua delia.
Mama silvi datang tidak dengan tangan kosong, dia selalu membawakan buah - buahan , cemilan dan makanan yang dia masak sendiri untuk tini dan harun.
" Tante tidak repot kok tin,oh iya bagaimana keadaan siti hari ini ?" Tanya mama silvi mengalihkan topik pembicaraan.
" Ibu ya seperti ini tante, tapi tadi dokter bilang detak jantung ibu sudah mulai normal. Tapi... ." Seru tini sambil memandang tubuh ibu nya yang semakin kurus , dia tidak sanggup meneruskan kata - kata nya.
__ADS_1
" Untuk penyakit ibu mu bagaimana ?" Tanya mama silvi pelan. Seperti nya mama silvi tahu kenapa tini menjeda ucapan nya.
Amar dan tini hanya saling beradu pandang dan menggelengkan kepala mereka pelan. Mereka tidak tahu harus menjelaskan bagaimana, tanpa di jelaskan mama silvi sudah tahu bagaimana keadaan ibu siti.
" Penyakit itu semakin menggerogoti tubuh ibu dan daya tahan ibu pun semakin melemah. " Ucap amar.
" Bukan kami mau mendahului atas kehendak Allah, jika memang Allah ingin menjemput ibu. Insya Allah kami ikhlas tante, kami tidak tega melihat ibu seperti ini. Kami kasihan setiap kali ibu merintih kesakitan " Ucap amar dengan mata berkaca - kaca.
Deg..
Delia langsung menatap wajah amar, sebegitu parah kah penyakit ibu siti sampai anak - anak nya sudah mengiklaskan jika memang allah akan menjemput nya. Kenapa delia juga ikut merasa sedih bahkan kasihan dengan mantan suami nya itu.
* Dulu aku pernah menjadi rival ibu siti, bahkan kami sering adu mulut. Tak jarang mulut nya menghina dan merendahkan ku. Bahkan aku pernah berdoa agar semua rasa sakit hati ku di balaskan oleh allah. Ya Allah...maafkan hambu mu ini yang pernah tidak bisa menjaga lisan nya * Gumam delia dari dalam hati nya.
" Mbak, apa tidak ada jalan pengobatan lain agar ibu bisa di sembuhkan ?" Tanya delia akhir nya ikut berbicara setelah sedari tadi diam.
" Sakit ibu tidak hanya satu del, bahkan dokter pun sudah angkat tangan. Kanker otak ibu sudah stadium 4, dan jantung ibu pun semakin parah. Hanya mukzizat Allah saja yang bisa menyelamatkan ibu. Del, kamu mau kan memaafkan ibu?" Seru tini sambil menatap delia serius.
" Kenapa mbak bicara seperti itu, aku sudah memaafkan ibu dari dulu " Jawab delia.
Mama silvi mendekati ranjang ibu siti dan membesikkan sesuatu ke telinga ibu siti.
" Siti, kamu harus sembuh. Kamu harus sehat, bukan nya kamu juga yanf menginginkan aku dan mas hartawan bersatu. Siti sebentar lagi aku dan mas hartawan akan menikah, aku mohon kamu bangun dan bisa menyaksikan akad nikah ku. Kamu harus bangun, kamu harus sehat. Aku sudah menyiapkan pakain kebaya untuk mu siti " Seru mama asti sambil menahan tangisnya.
Delia dan tini tidak bisa membendung air mata nya lagi, amar justru memilih keluar dari kamar rawat ibu nya. Amar duduk di kantin rumah sakit sambil menyalakan rokok nya, mencoba menghilangkan semua penat yang ada dalam dirinya. Terus berada di dalam kamar rawat ibu nya justru akan membuat amar sedih dan terpuruk.
* Ini semua balasan dari Tuhan karena dulu kami sudah mendzolimi anak yatim piatu, Delia * Gumam amar dalam hati nya.
**********
LIKE, KOMEN, VOTE,FAVORITE DAN JANGAN LUPA BERIKAN HADIAH NYA DAN RATE BINTANG 5 NYA KAK 🙏❤❤❤
TERIMAKASIH 🙏❤❤
__ADS_1