
🌹🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹🌹
.
.
.
💞💞💞💞💞💞
Tini sudah resmi bekerja di salah satu rumah sakit sebagai OB seperti mpok onah. Tini sementara satu sif dengan mpok onah jadi dia bisa berangkat bersama - sama mpok onah, sedang kan motor tini sendiri sudah di jual untuk memenuhi kebutuhan nya sehari - hari.
Mengetahui tini sudah bekerja membuat asti juga ingin bekerja, sebenar nya alasan nya ingin bekerja karena dia tidak mau kalau setiap hari harus merawat dan menemani ibu mertua nya.
" Mas, aku boleh tidak bekerja ? Aku jenuh mas kalau setiap hari di dalam rumah terus, aku juga ingin mempunyai penghasilan. Uang nya bisa aku tabung untuk tambah - tambah beli rumah mas ." Ucap asti saat mereka bersantai di kamar.
" Kalau kamu bekerja siapa yang mau membantu merawat ibu dek. Sedangkan mbak tini juga bekerja, harun juga harus mengojek. Lagi pula kamu menjaga ibu juga tidak seharian full. Hanya di saat mbak tini kerja saja kan ?." Seru amar mencoba menasehati istri nya.
" Iya mas tapi aku jenuh loh mas, pagi jam 7 mbak tini berangkat kerja. Jam 8 aku harus sudah disana karena harun juga mau ngojek, jam 3 mbak tini baru pulang dan aku juga baru bisa pulang. Tapi aku jenuh mas, maaf bukan nya aku tidak mau merawat ibu tapi aku benar - benar jenuh. Karena aku sudah terbiasa bekerja mas " Ucap asti tetap tidak mau kalah.
Haaahhh...
Amar hanya bisa membuang nafas dengan kasar, dia tidak tahu bagaimana jalan fikiran istri nya. Kenapa sang istri semakin memaksa ingin bekerja, saat ini yang amar fikirkan adalah ibu nya. Siapa yang akan merawat dan menemani ibu nya. Kalau harus menyewa orang untuk merawat ibu nya amar tidak sanggup, biaya nya jelas sudah setengah gaji nya .
" Nanti mas coba bicarakan dulu sama mbak tini dan harun ya dek, tapi mas minta kamu untuk sabar ya dek. " Ucap amar.
" Iya mas, aku sabar kok " Jawab asti sambil memeluk amar.
Amar hanya membalas dengan mengusap kepala asti dengan pelan.
* Kenapa istri ku memaksa ingin bekerja seperti ini. Apa ini hanya alasan nya saja karena dia tidak mau merawat ibu. Ahh tidak mungkin, asti itu kan menyayangi ibu bahkan dulu dia ingin mendekatkan diri sama ibu , sampai rela dia di hina oleh ibu * Gumsm amar dalam hati nya sendiri.
" Memang nya kamu sudah ada pandangan mau bekerja dimana dek ?" Tanya amar bersuara kembali.
__ADS_1
" Belum mas, rencana nya besok lagi mau cari pekerjaan. Mbak tini kan besok berangkat kerja jam 1 siang jadi pagi aku gunakan untuk mencari kerja. Sebelum jam satu aku datang ke kontrakan ibu " Seru asti sudah mengatur jadwal sedemikian rupa.
" Oh begitu" Seru amar singkat.
" Kok cuman oh sih mas, doa kan dong besok itu aku segera mendapat pekerjaan agar aku bisa secepat nya bekerja." Seru asti dengan cemberut.
" Iya mas doa kan semoga besok segera dapat pekerjaan, sudah malam kita istirahat yuk. Besok kan masih banyak jadwal yang harus kita kerjakan " Seru amar lalu merebahkan tubuh nya.
Asti pun hanya mengangguk dan ikut merebahkan tubuh nya di samping suami nya. Dalam hati asti dia sangat senang karena suami nya mengizinkan untuk bekerja, dengan begitu dia tidak perlu repot - repot merawat ibu mertuanya lagi.
*******
" Apa mar ? asti ingin bekerja ?" Tanya tini dengan wajah bingung nya.
Pagi ini amar sengaja mendatangi rumah kontrakan ibu nya, dia sudah izin ke kantor jika akan datang terlambat beralasan ada urusan keluarga. Alhamdulillah pihak kantor pun mengizinkan nya. Amar menceritakan keinginan asti untuk bekerja kepada harun dan tini.
" Iya mbak, makanya amar bingung. Kalau asti juga bekerja terus yang jaga ibu siapa ?" Seru amar bingung.
" Mbak juga bingung mar, mau menyuruh orang juga kita tidak punya uang untuk membayar nya. Mbak tidak menyalahkan istri mu sih mar, dia memang tidak berkewajiban merawat ibu. Mbak menghargai keinginan asti, mungkin memang jenuh jika seharian harus menjaga ibu. " Ucap tini menerima keinginan asti untuk bekerja dengan lapang dada.
Amar dan tini pun menyetujui pendapat harun, mereka akan saling bergantian untuk menjaga ibu nya.
" Tumben otak kamu cerdas run " Seru tini.
" Sebenarnya dari dulu aku ini cerdas mbak, tapi karena malas saja aku jadi seperti orang bodoh. " Jawab harun mengakui jika dirinya malas.
" Kalau begitu aku mau ke kantor dulu ya mbak, run tidaj enak kalau masuk terlalu siang. Tadi amar hanya izin terlambat 2 jam saja. Padahal kontrakan amar ke kantor itu dekat banget 10 menit sampai, jadi amar ini harus muter lagi " Seru amar sambil memakai sepatu nya .
" Iya mar hati - hati " Seru tini
Setelah berpamitan amar pun langsung mengendarai motor nya menuju perusahaan tempat dia bekerja. Sepertinya amar ingin menanyakan sesuatu kepada diki, karena diki pasti tahu tentang asti.
Motor amar sudah memasuki halaman gedung perusahaan nya, dia pun langsung memarkirkan motor nya dan masuk ke dalam gedung perusahaan dan langsung menuju meja kerja nya.
__ADS_1
" Kemana aja mar kok baru sampai ?" Tanya diki yang baru saja selesai memfoto copy berkas - berkas yang dia kerjakan.
" Tadi ke kontrakan ibu dulu. Maaf , aku lagi banyak pekerjaan ini. Nanti jam makan siang ada yang ingin aku bicarakan pada mu dik " Seru amar tetap fokus pada komputer nya.
" Ok " Jawab diki singkat.
Diki kembali ke meja kerja nya dan menyiapkan semua pekerjaan nya begitupun dengan amar dia juga di sibukkan dengan pekerjaan nya yang sudah menumpuk.
Jam istrahat pun tiba, kini amar dan diki sudah ada di kantin kantor. Mereka memilih tempat yang tidak terlalu ramai agar mereka lebih leluasa untuk berbicara.
" Apa yang ingin kamu bicarakan mar ? bikin aku penasaran saja " Ucap diki.
" Hemm... aku mau tanya soal Asti. " Ucap amar sambil meletakkan sendok di piring.
" Kenapa dengan mbak asti ?" Tanya diki heran karena amar tumben menanyakan soal asti.
" Akhir - akhir ini aku merasakan asti itu berubah. Dia seperti menghindari ibu ku, padahal sebelum menikah dia sangat ingin dekat dengan ibu, bahkan sekarang dia ingin bekerja. Dia berambisi ingin mempunyai rumah baru dan mobil dik. Aku merasa asti ingin seperti mantan istri ku, delia. " Ucap amar menceritakan apa yang dia rasakan kepada diki.
Diki mencoba mendengar semua curhatan amar, seperti biasa diki akan mendengarkan dulu dan menunggu amar selesai berbicara baru dia akan memberikan saran atau menanggapi curhatan amar.
" Masak mbak asti seperti itu mar ? Yang aku tahu dia itu baik dan perduli sama siapa pun. Tapi kalau kenyataan nya seperti itu aku benar - benar tidak tahu mar. Karena aku memang tidak begitu mengenal mbak asti, karena dia terlalu lama di luar negeri. Maaf ya mar " Ucap diki merasa tidak enak dengan amar karena dulu dia yang bersemangat menjdohkan amar dan asti.
" Iya tidak apa - apa. Aku tidak menyalahkan mu, aku hanya ingin mengeluarkan keluh kesah ku saja dik. " Ucap amar sambil menepuk pundak diki.
" Nanti coba aku cari tahu tentang mbak asti " Seru diki.
" Tidak perlu dik, mungkin asti hanya jenuh saja karena beberapa hari ini dia sudah merawat ibu ku. Dia hanya ingin suasana baru. " Ucapan amar sama sekali tidak singkron dengan apa yang ada di fikiran nya.
Amar mencoba menutupi nya dari diki, dia tidak enak dengan diki apalagi istri diki adik kandung nya asti. Setelah makan selesai dan acara curhat selesai, amar dan diki kembali masuk ke dalam kantor dan kembali bekerja menyelesaikan setumpuk pekerjaan yang sudah menggunung,biasa akhir bulan banyak sekali pekerjaan yang harus segera di selesaikan.
*******
SUDAH UP 3 BAB YA KAK. 😘😘
__ADS_1
LIKE, KOMEN,VOTE, FAVORITE SERTA BERIKAN HADIAH NYA DAN RATE BINTANG 5 NYA KAK 🙏❤❤
TERIMAKASIH 🙏❤❤