
🌹🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹🌹
.
.
.
💞💞💞💞💞💞
Mama silvi datang menemui siti di rumah kontrakan nya ,kali ini mama silvi hanya datang di antar oleh sopir nya saja. Delia tidak bisa ikut karena di toko sedang banyak pekerjaan. Mama silvi semakin pihatin dengan keadaan ibu siti yang semakin hari semakin buruk. Bahkan kini rambut ibu siti sudah semakin rontok.
" Siti apa tidak lebih baik kamu ikuti saja saran saya untuk berobat ke luar negeri? Hidup mati manusia itu memang sudah ada yang mengatur nya, tapi tidak ada salah nya kita untuk berusaha menyembuhkan penyakit kamu. Untuk hasil nya kita serahkan semua nya sama Allah " Ucap mama silvi dengan lembut.
Mama silvi ingin sahabat nya itu sembuh dan hidup lebih baik lagi. Banyak hal yang ingin mama silvi sampai kan kepada ibu siti tapi melihat ibu siti yang semakin lemah membuat dia tak sampai hati untuk mengajak nya bicara terlalu lama.
" Tte.. terimakaasih silvi. Tapi aku tidak mau berobat ke luar negeri. " Jawab ibu siti terbata - bata.
" Kami semakin bingung tante, jantung ibu juga semakin parah. Kami ingin ibu kemoterapi tapi takut membahayakan jantung ibu. Jadi dokter hanya memberikan obatan - obatan saja. Kami juga tetap mencoba pengobatan secara medis maupun non medis. Semoga Allah berkhendak untuk ibu sembuh. " Ucap tini.
Hari ini tini dapat kerja shif siang jadi dia bisa menemani ibu nya di rumah. Sedangkan harun pergi mengojek.
" Siti kamu harus sembuh , yakin untuk sembuh. Apa kamu tidak ingin menghadiri pernikahan ku dengan mas hartawan ? " Seru mama silvi.
" Kalian mau menikah ?" Tanya ibu siti dengan senyum terlihat bahagia.
Dia bahagia akhirnya teman yang dulu kebahagiaan nya pernah dia hancurkan kini akan bersatu dalam ikatan pernikahan.
" Iya siti. Dua minggu lagi aku dan mas hartawan akan melangsungkan pernikahan di rumah ku. Aku datang kesini khusus untuk mengundang mu, kamu pokok nya harus datang menyaksikan pernikahan ku. " Ucap mama silvi sambil menggenggam tangan ibu siti.
" Alhandulillah akhirnya kakian menikah, maafkan aku silvi karena aku kalian harus terpisah. Aku pasti akan datang, aku ingin menyaksikan kalian hidup bahagia " Ucap ibu siti .
" Jangan membahas masalalu lagi. Sekarang yang penting kamu harus sehat agar bisa menyaksikan prosesi akad nikah kami nanti. " Ucap mama silvi lagi.
Ibu siti tersenyum dan sambil menganggukkan kepala nya dengan pelan. Namun tiba - tiba nafas nya tersengal - sengal dan ibu siti langsung memegangi dadanya yang sesak dan sakit.
" Ibu.. ibu kenapa ?" Tanya tini panik.
" Siti.. siti kamu kenapa ? Tini ayok bawa ibu kamu ke rumah sakit. Sepertinya jantung ibu kamu kumat, tante panggil sopir tante dulu.." Ucap mama silvi lalu keluar kamar memanggil sopir nya yang duduk di bawah pohon sambil meminum kopi.
__ADS_1
Pak sopir pun masuk dan langsung membantu menganggkat ibu siti ke dalam mobil. Tini dan mama silvi juga langsung masuk ke mobil.
" Pak cepat antar ke rumah sakit terdekat " Perintah mama silvi.
" Baik bu " Jawab sopir singkat.
Mobil mama silvi meninggalkan halaman kontrakan, di dalam mobil tini mencoba menghubungi harun dan amar namun mereka tidak mengangkat panggilan telepon dari tini. Tini pun hanya meninggalkan pesan singkat dan mengirimnya kepada amar dan harun.
[ Ibu di bawa ke rumah sakit, jantung ibu kumat lagi ]
Hanya pesan singkat itu yang tini kirimkan kepada kedua adik nya.
********
Amar dan keluarga asti hari ini juga membawa asti ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Amar belum tahu jika ibu nya hari ini juga masuk rumah sakit. Dia, dan ibu jujuk benar - benar serius mendengar penjelasan dari dokter, sedangkan diki dan ajeng menunggu di luar.
" Jadi istri saya tidak akan mengamuk jika keinginan nya selalu di turuti atau di kabulkan ?" Tanya amar mengambil kesimpulan apa yang di jelaskan oleh dokter.
" Bisa di bilang seperti itu pak. Dari pemeriksaan dan tanya jawab saya dengan ibu asti tadi , sebenar nya dia merespon dan menjawab dengan baik. Ibu asti ini seperti nya mempunyai sifat selalu ingin lebih dari orang lain, apa yang orang punya dia juga harus punya. Hal itulah yang memicu dia marah yang tidak bisa terkendali. " Ucap dokter.
" Jadi kalian ini menganggap aku gila ?" Tanya asti tiba -tiba bersuara.
Amar dan dokter langsung saling pandang, amar lupa tidak meminta ajeng untuk membawa asti keluar agar dia tidak bisa mendengarkan apa yang di katakan dokter.
" Memang nya aku ini anak kecil yang bisa kalian bohongi. !!" Bentak asti lantang.
" Bukan begitu ibu asti, ibu itu sehat - sehat saja kok. Suami ibu ini baik banget loh, dia sayang sama ibu makanya dia ingin yang terbaik buat ibu. " Dokter mencoba menenangkan asti
" Benar begitu mas ?" Tanya asti menatap amar penuh tanda tanya.
" Iya dek" Jawab amar lembut sambil mengusap kepala asti dengan lembut.
Akhirnya asti mau di ajak keluar oleh ibu jujuk dengan alasan amar juga ingin di periksa oleh dokter. Setelah asti berada di luar dokter kembali meneruskan pemicaraan nya dengan amar.
" Jadi bagaimana dok ? Kami tidak mungkin selalu memenuhi apa yang istri saya minta " Seru amar bingung.
" Saya akan memberi obat penenang, tapi harap bijak menggunakan nya. " Seru dokter.
" Apa istri saya bisa di bilang gila dok ?" Tanya amar ingin lebih jelas.
__ADS_1
" Kalau di bilang gila tidak , tapi sifat selalu ingin lebih nya itu yang membuat dia marah - marah dan mengamuk jika terus - terusan begitu ibu asti bisa di bilang gila. Gila masih bisa di sembuhkan, tapi kalau sudah penyakit hati seperti itu susah pak. Kunci nya ada sama diri ibu asti " Jawab dokter.
" Apa suatu hari nanti istri saya bisa benar - benar gila?" Tanya amar.
Dokter hanya mengangguk dengan pelan. Setelah selesai berkonsultasi dengan dokter, amar pun keluar dan langsung menemui keluarga nya.
" Kita pulang " Seru amar singkat.
" Iya, mbak ayok pulang " Jawab ajeng sambil menggandeng asti.
Saat di perjalanan pulang amar duduk di samping kemudi, kali ini diki yang mengemudikan mobil. Amar mengecek ponsel nya yang sedari tadi dia silent. Amar melihat ada beberapa panggilsn tak terjawab dari kakak nya, Tini. Lalu amar membuka pesan yang dikirim oleh tini.
* Ibu masuk rumah sakit lagi karena jantung nya kumat ? Ya Allah... kenapa begitu banyak cobaan yang engkau berikan kepada ku. Dua wanita yang aku cintai harus mengalami hal seperti ini * Gumam amar dalam hati nya.
" Kenapa mar?" Tanya diki yang menyadari perubahan raut wajah amar.
" Ibu jantung nya kambuh dan sekarang dia ada di rumah sakit" Seru amar pelan.
" Mau aku antar ke rumah sakit sekarang ?" Tanya diki.
Amar menggeleng, dia ingin mengantarkan asti terlebih dahulu ke rumah ibu nya. Untuk sementara waktu amar dan asti akan tinggal di rumah ibu jujuk, demi kebaikan asti agar asti ada yang mengawasi.
" Nanti biar aku ke rumah sakit pakai motor saja " Jawab amar terlihat sedih.
" Yang sabar ya mar, insya allah semua ada jalan keluar nya. Aku yakin Allah sudah menyiapkan kebahagiaan untuk mu " Seru diki.
Ibu jujuk mendengar apa yang di bicarakan amar dan diki, dia pun sangat kasihan dengan amar. Apa pun keputusan amar untuk asti nanti ibu jujuk akan menerima nya. Amar mau menceraikan asti pun ibu jujuk tidak akan melarang nya, dia tidak tega melihat amar hidup penuh dengan beban.
* Mudahkanlah segala urusan anak dan menantu ku * Gumam ibu jujuk dalam hati nya.
Mobil yang di kendarai diki sudah sampai di depan rumah , semua yang ada di dalam mobil pun turun. Diki langsung mengembalikan mobil ke rumah pak Rt sekaligus mengambil anak yang dia titipkan.
" Amar titip asti ya bu. Amar mau ke rumah sakit melihat kondisi ibu" Ucap amar berpamitan.
" Iya mar, kamu tenang saja ibu dan ajeng akan menjaga asti. Semoga ibu mu cepat sembuh " Ucap ibu jujuk.
" Aamiin " Jawab amar.
********
__ADS_1
LIKE, KOMEN, VOTE, FAVORITE , SERTA BERIKAN HADIAH NYA DAN RATE BINTANG 5 NYA KAK 🙏❤❤
TERIMAKASIH 🙏❤❤